Pulchritude Case

Pulchritude Case
Page 13



"Oh, halo Pangeran Dilbara. Sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?" Arnold menjabat tangan Danesh. Wajahnya tampak berseri-seri.


"Baik dan sehat."


Mereka duduk berhadapan. Danesh datang ke kantor PPAT (Pejabat Pembuat Akta Tanah) untuk mengurus balik nama sertifikat tanah. Dia berencana memberikan rumahnya kepada sang adik. Mengingat ayahnya sekarang sudah hidup bahagia bersama istri baru. Dan sikapnya mulai acuh kepada gadis itu. Dia tidak yakin jika Deline akan mendapat hibah atau warisan dari Natha, jadi dia memberinya sedikit hadiah untuk sang adik.


"Apa ini untuk calon istrimu?"


"Bukan. Ini untuk adikku,"


"Kenapa bukan ayahmu yang melakukannya?" Arnold heran.


Danesh memutar bola matanya, lalu menghembuskan nafas panjang.


"Oh, baiklah. Aku paham—Natha memang aneh." Dia memijat pelipisnya.


Sepertinya pria tua itu mengerti sesuatu karena Arnold sendiri adalah temannya, jadi dia cukup paham mengenai sifat-sifat dari presdir itu.


"Kau adalah pria keren. Adikmu pasti bangga," pujinya.


Laki-laki dewasa yang memikirkan masa depan secara matang. Menginginkan hidup makmur di masa tua dengan melakukan investasi sebagai jaminan masa depan. Danesh juga seorang shareholder atas kepemilikan saham di sebuah perusahaan tambang. Dengan memanfaatkan tabungannya selama ini, dia mampu membeli blue chip dari sebuah perusahaan.


Tujuannya membeli saham itu karena stabilitas. Maksudnya, saham tersebut relatif tidak fluktuatif atau tidak mudah naik dan turun dalam waktu yang singkat. Hal ini terjadi karena perusahaan blue chip biasanya memiliki kapitalisasi pasar yang besar. Blue chip adalah sebuah istilah dalam pasar modal yang mengacu pada saham dari perusahaan besar. Dan memiliki pendapatan stabil serta liabilitas dalam jumlah yang tidak terlalu banyak. So, begitulah cara Danesh merencanakan masa tuanya. Uang akan terus mengalir ke dalam rekeningnya selama bisnis itu berjalan lancar.


Menjabat sebagai manager di perusahaan milik sang ayah hanya sebuah pekerjaan sampingan di mata teman-temannya. Danesh lebih terkenal sebagai pemilik perusahaan tambang. Kelak perempuan yang akan menjadi istrinya pasti sangat beruntung memiliki suami seperti Danesh. Sudah mapan, kaya dan dewasa pula. Namun, sayangnya dia belum memikirkan pernikahan.


"Sebelumnya aku minta maaf. Mungkin proses ini akan membutuhkan waktu cukup lama sekitar 14 hari sampai 3 bulan," ujar Arnold.


"Tidak apa-apa. Saya mengerti kesibukan dan prosesnya, Pak."


"Baiklah, terimakasih atas pengertiannya."


Danesh mengangguk diselingi senyuman lebar, kemudian dia berpamitan untuk kembali ke kantor melanjutkan pekerjaannya. Keluar dari gedung—dikejutkan dengan hadirnya seorang perempuan yang tak lain adalah Olivia. Mereka saling mematung karena pertemuan mendadak ini. Gadis itu mengenakan seragam yang sama dengan Arnold. Mungkin dia bekerja di sini juga? Oh, tentu.


"Dan?" gumamnya memecah kecanggungan. Entahlah, hati Danesh rasanya seperti tercekat setelah sekian lama suara itu memanggilnya kembali.


"Ha-hai, apa kabar?" gagap Olivia.


Kilatan matanya menunjukkan bahwa Olivia bahagia melihat kehadiran Danesh. Sejujurnya dia sangat merindukan laki-laki itu.


"Aku baik—dan kamu?"


"Sama, aku juga baik." Senyuman kecil menghiasi wajahnya. "Aku tersiksa karena malu." Lanjutnya dalam hati.


Olivia sangat berharap jika Danesh akan mengajaknya basa-basi, tetapi melihat sikap datar yang ditunjukkannya membuat gadis itu ragu. Baiklah, dia mengerti mungkin Danesh masih menaruh rasa kecewa kepadanya. Kejadian waktu itu telah menghancurkan perasaannya. Mereka telah asing, tidak perlu mengharapkan apa pun lagi. Respon dan sikap Danesh mungkin telah berubah kepadanya. Jika diperhatikan pun penampilannya juga tampak berbeda, tidak seperti 3 tahun yang lalu.


"Kamu mau pulang?" Gadis itu mengangguk. "Kalau kamu mau-,"


"Iya, aku mau." sela nya. Olivia tahu apa yang ingin Danesh tawarkan.


Inilah yang diinginkannya. Dalam hati berteriak bahagia karena Danesh menawari tumpangan untuknya. Tidak perlu berpikir panjang lagi dia langsung mengiyakannya—tapi saat di dalam mobil, Danesh lebih banyak diam. Laki-laki di sampingnya itu juga tidak berniat membuka percakapan, jadi Olivia ikut diam dan sesekali mencuri pandang. Sebenarnya gadis itu ingin mengutarakan rasa bahagia, sesal dan semua perasaan yang terpendam selama ini. Dia menggigit bibirnya antara ingin membuka suara atau tidak. Sungguh, Olivia tidak tahan.


"Aku merindukanmu." Dua patah kata melesat keluar dari mulutnya. Danesh tertegun, tapi dia tidak meliriknya sedikitpun.


"Iya Dan, aku merindukanmu—mungkin terdengar tidak tahu diri, tapi aku tidak bisa untuk menahannya." Gadis itu menatapnya, kemudian menunduk.


"Aku juga minta maaf atas sikapku waktu itu. Aku yang bodoh telah menyia-nyiakan orang sepertimu."


Danesh masih diam. Raut wajahnya tidak bisa ditebak.


"Jika ada kesempatan-,"


"Aku menerima permintaan maaf mu, tapi jika kamu meminta untuk kembali—aku tidak bisa." sela Danesh, dia mengerti gadis itu akan membahas apa.


Seketika Olivia diam. Dia menahan air mata yang ingin keluar dari pelupuknya. Memang seharusnya dia tidak boleh berharap, tetapi obsesi nya mendorong untuk meminta kembali. Seseorang yang telah disakiti tidak mungkin akan seperti dulu lagi. Perlakuan kasar kepada Danesh waktu itu menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya.


"Kita sudah sampai," ucap Danesh. Kendaraannya berhenti di depan rumah besar bercat biru muda.


Gadis itu mendongak, kemudian membuka pintu mobil. Tak lupa dia mengucap terimakasih kepada mantan kekasihnya. Jujur bagi Danesh hal ini juga menyakitkan. Apa kalian pikir dia tidak ingin menangis? Dia menahannya semenjak gadis itu mengucapkan kata rindu. Danesh juga ingin membalasnya, tetapi rasa sakit yang membekas seolah menahannya untuk tetap diam. Ditambah lagi cincin yang melingkar di jari manis gadis itu semakin membuatnya perih.


Tidak salah lagi Olivia pasti sudah bertunangan atau mungkin telah menikah, tapi kenapa dia masih merindukannya? Seharusnya gadis itu fokus pada calon suaminya, bukan dia. Danesh menunduk dengan menyandarkan kepala pada kemudi mobil. Olivia berbalik arah dan kembali masuk kedalam mobilnya lagi. Gadis itu memeluk Danesh tanpa permisi sambil meluapkan penyesalannya.


"Maaf," tangis gadis itu.


°°°


Bertemu untuk membahas hobi, melontarkan candaan dan membahas jurusan masing-masing terasa menyenangkan. Arlo memilih jurusan teknik komputer, di mana jurusan tersebut mempelajari tentang proses kerja komputer. Mulai dari prinsip-prinsip komputasi, Matematika, hingga rekayasa komputer. Sedangkan jurusan yang Deline ambil adalah jurusan sastra. Bidang ilmu yang mempelajari puisi, prosa, cerita, novel, naskah dan karya sastra lainnya. Dan terakhir Arlo merekomendasikan film horor (thriller) yang menurutnya seru.


"Oh, ya? Film itu bercerita tentang apa?" Deline penasaran.


"Menceritakan tentang detektif dan profesor yang memburu seorang pembunuh. Dalam film itu pembunuh memutilasi korban untuk motif kejahatan lain." jelas Arlo, sedikit memberi sinopsis.


"Gosh, I don't like films that smell of murder. Especially about mutilation," Deline bergidik ngeri.


Arlo terkekeh, kemudian terdiam sejenak menatap wajah cantik dari gadis itu. Selain mengajaknya bertemu untuk sekedar basa-basi, Arlo berniat mengungkapkan perasaannya kepada Deline. Akhir-akhir ini dia menaruh rasa pada gadis itu. Setiap hari selalu merasa rindu dan menginginkan kehadirannya. Dan mungkin sekarang waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaan.


"Deline, boleh aku mengatakan sesuatu?"


"Silahkan,"


Perlahan tangannya meraih jemari Deline. Dia menggenggamnya. "Aku menyukaimu, Del."


Sontak matanya melebar. Dia tidak menyangka jika Arlo akan mengatakan hal ini kepadanya. Deline melepaskan genggaman tangan pemuda itu. Dia tidak bisa menerimanya, jujur Deline hanya menganggap Arlo sebagai teman biasa.


"Ma-maaf ya sebelumnya, tapi aku-,"


Arlo kembali meraih tangan gadis itu, tetapi secara kasar. "Why? I love you, Del. Do you want to be my girlfriend?"


"Maaf, tapi aku menganggap mu sebagai teman—tidak lebih." tegasnya dengan lirih.


"Tapi kenapa Del?" Arlo semakin mempererat cengkeramannya. Gadis itu sedikit meringis karena pergelangan tangannya seperti dipelintir dengan kuat.


"Arlo, sakit." Dia meronta dan menepis perlakuan kasar dari pemuda itu. Raut wajah Deline berubah kesal. Dia merasa diperlakukan secara kasar olehnya.


"Aku mohon terimalah perasaanku." Tanpa ada rasa bersalah Arlo berusaha meraih tangan gadis itu lagi. "Del, I'm sincere."


"Sorry I can not."


Deline meraih tas tangannya dan bergegas pergi.   Tindakan yang Arlo lakukan sedikit membuatnya takut. Entah sengaja atau tidak, tapi yang jelas mencengkeram tangan perempuan secara kasar adalah tindakan kurang ajar. Arlo mengejarnya, dia bersikeras untuk mengemis perhatian dari gadis itu.


"Deline—tunggu." Gadis itu berjalan cepat menyusuri trotoar sambil menunggu taksi yang lewat.


"Deline!" teriak Arlo. Dia berlari cepat dan berhasil menyusulnya. Pemuda itu menarik tangan Deline dan membawanya ke sebuah gang buntu. Dia memojokkannya sehingga membuat Deline ketakutan.


"Apa susahnya menerimaku, hm?" Arlo mendorongnya hingga terbentur dinding. Kedua lengan Deline dicengkeram sampai kulitnya memerah.


"Why are you being rude like this—please, let me go. This hurts,"


"Diam!" bentaknya. Sisi gelap Arlo mulai terlihat. Dia tidak peduli gadis dihadapannya merintih kesakitan. Arlo merasa terhina ketika seseorang telah mengecewakan ketulusannya.


"Arlo, lepas!" Deline berusaha mendorongnya, tetapi pemuda itu justru mencengkeram dagunya dengan kasar.


"Ar-lo, lep-,"


"Love and torment are the perfect combination in this life. Kau tahu? Dark romance adalah hal yang paling kuinginkan ketika aku menjalin sebuah-,"


Seseorang tiba-tiba memukul kepala Arlo. Laki-laki berpakaian T-shirt merah dengan logo paha ayam menyelamatkan Deline dari perlakuan tak senonoh yang Arlo lakukan. Ya, dia adalah Yardan. Secara kebetulan dia melihat keduanya keluar dari kafe, kemudian membuntutinya karena merasa ada yang tidak beres saat melihat tingkah pemuda itu.


"Nona, apa yang sakit?" cemas Yardan.


Arlo menyeringai. Dia menggelengkan kepalanya yang sedikit sakit akibat pukulan Yardan. Deline terlihat ketakutan, secara inisiatif Yardan memposisikan dirinya berdiri di depan gadis itu. Tanpa aba-aba, Arlo berusaha melayangkan pukulan. Kini mereka saling adu jotos di gang buntu tersebut. Dan pada akhirnya Yardan berhasil membuat Arlo lengah. Dia segera membawa Deline kabur supaya laki-laki aneh itu tidak menggila dan membuat kericuhan. Arlo sangat mengerikan, entah apa yang terjadi padanya.


"Pak Kim, terimakasih ya telah menyelamatkan saya dari laki-laki kasar itu."


Yardan mengangguk. Dia mengoleskan salep dingin pada lengan Deline yang memerah. Lukanya tidak parah, tapi pasti terasa panas dan nyeri. Mereka duduk di kursi yang tersedia di depan apotek.


"Apa dia kekasihmu?"


"Bukan. Saya tidak-,"


"Pesanku jangan berpacaran dengan orang seperti dia. Laki-laki kasar dan kurang ajar. Jika kau sampai menjalin hubungan dengannya, kehidupan mu pasti sengsara." imbau Yardan.


Deline sendiri terkejut melihat sifat Arlo. Orang yang dianggapnya baik ternyata seorang laki-laki kasar tidak bermoral. Cukup mengecewakan baginya. Dan apa yang dikatakan Yardan adalah benar. Jika Deline sampai menjalin hubungan dengannya, maka dia akan menjalani toxic relationship. Oh, itu mengerikan. Dari ucapan Arlo tadi sudah cukup jelas bahwa dia menginginkan hubungan cinta yang sedikit dibumbui dengan perlakuan kasar.


"Aku juga terkejut melihat perlakuannya. Saya pikir dia laki-laki baik, tapi kenyataannya-,"


"Jangan terlalu dipikirkan. Lebih baik mulai sekarang menjauh lah darinya."


Deline mengangguk. Jika kalian bertanya kenapa Yardan berada di wilayah yang sama dengan mereka. Karena sekarang dia mendapat pekerjaan sebagai kurir pengantar makanan (chicken delivery). Yardan sangat bersyukur mendapat pekerjaan lagi setelah berminggu-minggu menjadi pengangguran. Kini profesinya beralih dari mengendarai mobil berubah menjadi pengendara motor. Tidak masalah, kendaraan roda dua itu jauh lebih cekatan untuk menerobos kemacetan.