Pulchritude Case

Pulchritude Case
Page 24



Deline melempar ponselnya ke lantai. Dia syok setelah melihat video rekaman yang tersimpan didalamnya. Menyaksikan Jasmine berbicara sendiri dengan menyebut dirinya, kemudian anak itu terjatuh dari balkon. Dia mengigit bibir—tidak ingin menontonnya lagi. Tadi sore diam-diam Deline masuk kedalam apartemen Yardan untuk mengambil ponselnya. Entahlah, mendadak obsesinya menuntun untuk mengambil benda itu kembali. Sebenarnya Deline sudah melupakannya dan bersikap acuh. Toh untuk apalagi ponsel tersebut sudah tidak penting baginya.


Seakan firasatnya dituntun untuk mengetahui peristiwa yang sebenarnya terjadi atas kematian anak itu. Saat dimana Deline dinyatakan bebas, polisi tidak mengatakan apa-apa (alasan kebebasannya). Dia hanya tahu jika pihak korban telah mencabut gugatan. Deline berpikir mungkin Yardan berubah pikiran dan mempercayainya, tapi itu salah. Duda itu secara pribadi meminta mediasi dengan pihak polisi berserta Danesh. Di depan polisi Yardan mengatakan bahwa Deline tidak bersalah, dia mengikhlaskan kepergian putrinya. Namun, ketika bersama Danesh—dia menunjukkan peristiwa yang sebenarnya terjadi.


Yardan telah meminta maaf kepada manager itu. Dia berjanji akan meminta maaf juga kepada Deline. Dari itulah Danesh merasa tidak terima—dia naik pitam sejak menonton rekaman dari ponsel tersebut. Sempat ingin menghajar Yardan ditempat, tapi saat itu mereka berada didepan kantor polisi. Akan sangat riskan jika Danesh benar-benar melakukannya, jadi dia menahan mati-matian amarahnya untuk tetap bersikap sabar. Baru keesokannya, dia menemui Yardan dan melayangkan beberapa pukulan keras sebagai bentuk apresiasi.


Dan sekarang, Deline telah melihatnya sendiri bahwa Jasmine meninggal karena sesuatu diluar penglihatan manusia biasa. Gadis itu melamun—kemudian Kevin masuk kedalam kamar dan menepuk pundaknya.


"Hei, ada apa?"


"Tidak."


Komisaris itu menghembuskan nafas panjang. Dia memungut ponsel di samping kakinya. Buru-buru Deline merebutnya, tetapi Kevin jauh lebih cekatan.


"Kak, jangan dilihat."


Terlambat. Dia sudah mengulanginya dari awal video. Kevin mengernyitkan dahi, kemudian menatap Deline.


"Jadi benar, anak itu meninggal karena ulah makhluk gaib."


Deline membuang muka sambil mengangguk pelan. Kevin duduk di samping gadis itu, kemudian dia bercerita semua. Tentang kesehariannya bersama Jasmine, pria misterius, anak wangi dan kekasihnya Kim Yardan. Iya, Kevin sudah tahu semua itu dari Val. Dia tidak keberatan mendengar semua keluh kesahnya. Namun, untuk fakta bahwa Deline memiliki seorang kekasih—sedikit membuatnya sakit. Lebih tepatnya cemburu—hatinya terbakar.


"Oh, ya, Deline. Kamu tahu belum, permintaan terakhir dari kakakmu."


"A-apa Kak?"


Kevin menelan ludahnya. Tiba-tiba merasa gugup. Sial, ini bukan momen yang tepat untuk mengungkapkan permintaan dari Danesh. Namun, bagaimana lagi? Melihat ekspresi wajah Deline—dia terlihat penasaran dan menunggu jawabannya.


"Entah kamu percaya atau tidak, tapi Danesh—dia-," komisaris itu menghentikan ucapannya.


"Apa Kak? Jangan membuatku penasaran," dia memukul pelan laki-laki itu.


Baiklah. Tarik nafas, lalu hembuskan perlahan. "Dia memintaku untuk menikahi mu."


Deline melongo. Dia menatap laki-laki disampingnya sambil berkedip beberapa kali. Mencoba mencerna ucapannya. Hei, benarkah kakaknya meminta Kevin untuk menikahinya? Tidak, Deline tidak bisa. Dia sudah menganggap komisaris itu sebagai kakaknya sendiri.


"I don't believe that-,"


"Kamu tahukan bahwa Danesh tidak menyukai kekasihmu, jadi daripada masa depanmu menyedihkan jika menikah dengannya lebih baik kamu menikah denganku." sela Kevin.


"Aku tidak bisa-," Deline ingin mengalihkan pembicaraan ini. Dia beranjak dari ranjang dan memilih membaca buku untuk mengacuhkannya.


Dia berdiri didepan rak buku—mendadak Kevin memeluknya dari belakang. Deline sangat terkejut, dia berusaha melepaskan pelukannya. Laki-laki itu menyandarkan kepalanya pada punggung Deline sambil mengutarakan perasaannya. Oh, ini sangat gila. Sikapnya sungguh mengejutkan.


"Kak, lepas."


"Tidak mau. Aku akan tetap menikahi mu sesuai keinginan Danesh,"


Gadis itu terus meronta untuk lepas. Kevin tidak terima diperlakukan seperti ini. Kenapa Deline menolaknya? Apa yang kurang darinya? Uang, pangkat, popularitas dan kecerdasan semua dimilikinya. Lantas apalagi yang perlu dipermasalahkan. Hei, dia seorang laki-laki mendekati kata sempurna kau tahu?


Kevin membalikkan tubuh gadis itu. Dia memojokkannya pada rak buku, kemudian membelai pipinya dengan lembut. Mengunci kedua tangannya, lalu mencium aroma tubuh dari Deline. Dia mendesah panjang merasakan betapa wanginya gadis itu.


"Bagaimana jika kita bermain sebentar, sayangku?" Kevin memasukkan telunjuknya ke mulut gadis itu, lalu mengusap pelan bibirnya.


"Tidak! Kau brengsek! Menyingkir lah!" teriaknya. Berusaha mendorong pria mesum itu.


°°°


Sang pemilik restoran telah melakukan tindakan biadab dengan mengolah makanan dengan mencampurkan daging manusia. Secara tidak sadar mereka menggiring para pengunjung menjadi manusia kanibal. Sebagai orang yang pernah menjadi korban, Val tentu merasa jijik dan marah. Setiap mengingatnya selalu merasa mual—karena dia pernah menelan makanan dari sana. Untuk masalah kematian Jasmine—mereka mungkin akan meminta kedua belah pihak untuk berdiskusi sendiri dan mendengar apa tujuan, motif dan masalahnya. Jika itu permasalahan internal, tentu pihak berwajib tidak ingin ikut campur.


Dering telepon mengalihkan perhatian Val—itu dari Tino. "Hm, ada apa?"


"Jaksa Val, putar balik lah. Seseorang yang ingin Anda temui bukan pemilik asli restoran itu-,"


"Apa?" Val menepikan mobilnya.


"Aku sedang diperjalanan menuju pemilik asli Hiraet Phloxier. Kau dijebak oleh seseorang—tempat yang ingin kau kunjungi adalah bangunan kosong."


"Hei, ceritakan secara perlahan. Kau menjelaskannya seperti orang beatbox." gerutunya.


"Tidak ada waktu. Pergilah ke rumah Nona Dilbara, dia dalam bahaya."


"Ha?"


Val memberengut. Layar ponselnya menyala—menampilkan isi pesan masuk. Dia membuka dan membacanya. Kedua mata Val melotot—terkejut dengan isi pesan yang dikirimkan oleh Tino. Tanpa banyak berpikir panjang lagi, dia segera menyalakan lampu sein dan berbalik arah. Ini sungguh gila dan lagi-lagi sebuah kejutan. Val tidak menyangka jika Kevin ... tunggu, jadi pertemuannya di area pemakaman adalah? Dia bersama pria misterius itu sedang mencari jasad fresh untuk kepentingan pesugihannya bersama sang istri.


Lalu apakah tuduhan palsu terhadapnya tentang pencurian mayat itu adalah sebuah drama? Sekarang Val mengerti. Kevin sengaja melakukan itu karena ingin menjadikannya sebagai korban. Dia ingin menutupi tindakannya dengan mengatasnamakan orang lain. Sungguh, brengsek sekali ternyata. Kevin dan Emma adalah sepasang suami istri. Pelaku pencurian mayat, pelaku pesugihan dan pemilik asli Hiraet Phloxier.


Tino mampu menguak itu dari Yardan. Duda itu datang ke kantor polisi untuk mengakui tindak kejahatannya yang selama ini dia tutupi, jadi Yardan adalah pelaku pembunuhan terhadap Luna. Berawal dari rasa sakit hati karena anak itu selalu menindas Jasmine di sekolah, kemudian Yardan menculiknya dan mengintimidasi Luna. Karena dalam keadaan marah, dia melakukan tindakan konyol dengan memukul kepalanya menggunakan batu. Seketika anak itu tak sadarkan diri. Dia tewas.


Yardan panik. Dia bingung harus bagaimana. Sejujurnya dia tidak berniat melakukan pembunuhan, tetapi amarahnya terlanjur lepas kendali. Selanjutnya dia terbersit kan sebuah gagasan untuk memalsukan kematian Luna dengan membuat alibi seolah-olah anak itu tewas karena tumbal yang dilakukan oleh Emma. Dia membakar Luna dengan tujuan agar sidik jarinya tidak ketahui, kemudian menuangkan sebotol parfum beraroma almond (Clematis) pada tubuh korban. Karena Yardan tahu jika setiap korban yang dijadikan sebagai tumbal akan mengeluarkan aroma wangi sepperti almond, jadi dia memanfaatkan hal tersebut untuk menipu orang-orang.


Dan untuk pembunuhan terhadap Dokter Ryo—mereka belum tahu siapa yang membunuhnya. Namun, pihak kepolisian menduga bahwa pelaku adalah orang ketiga dari kasus kematian Carrolyna. Karena dari awal kasus tersebut mengatasnamakan gadis itu, bukan Luna. Memang benar kasus kematiannya berbeda, entah itu dari segi motif dan tujuan serta pelaku lain masih menjadi tanda tanya besar. Sekarang semua sudah jelas—Kevin adalah pelaku pesugihan berserta kasus-kasus yang bersangkutan dengan semua masalah ini. Sementara Yardan dia pelaku pembunuhan terhadap Luna. Untuk masalah Carrolyna, mereka sepakat untuk menutupnya.


°°°


"Tidak. Aku tidak mau-," Deline menangis. Dia benar-benar ketakutan saat Kevin mulai meraba tubuhnya.


Laki-laki itu memaksanya untuk berhubungan intim. Dia menyeret Deline menuju sofa, kemudian mendorongnya hingga gadis itu terbaring di atas sana. Kevin melepas kaosnya, lalu membungkuk menghadap gadis itu. Tujuan Kevin ingin melakukan hal bejat itu sebagai syarat untuk meraih kesuksesan yang lebih besar lagi. Sang iblis memintanya untuk berhubungan badan dengan anak wangi—jika dia hamil, maka anaknya akan diambil sebagai persembahan untuknya. Dan tentu saja, imbalan yang akan diterimanya begitu berlimpah ruah. Melebihi kekayaannya yang sekarang.


Sementara wujud asli dari makhluk itu belum menunjukkan dirinya sampai sekarang. Dia masih bersembunyi jauh dari pandangan manusia. Dan untuk sosok wanita berpakaian pengantin yang selama ini menyelamatkan Deline—dia telah dikalahkan oleh energi jahat yang luar biasa dari wanita yang pernah mencekik gadis itu. Kedua makhluk itu bertarung hebat di alam mereka untuk memperebutkan Deline. Dan gelang pemberian dari Mona—itu hanyalah batuan kecil bagi Kevin, dia telah membakarnya. Lenyap sudah pagar pelindung gadis itu, jadi dia dengan mudah mendekatinya seperti ini.


Kevin merobek kaos dan menarik paksa bra yang dikenakan Deline, kemudian dia segera menciuminya secara brutal dan penuh nafsu.


"Kamu benar-benar enak—wangi dan mulus."


Sebuah tangan besar terulur, kemudian menarik lengan Kevin dan terakhir menendangnya hingga tersungkur. Dada Val terlihat naik turun, menahan amarah yang akan dia luapkan kepada pria bajingan didepannya itu. Menghampirinya—melayangkan tinjuan keras secara berkala. Tidak peduli jika dia sekarat atau bahkan mati. Menghajarnya tanpa ampun dengan mengeluarkan seluruh tenaganya.


"Jadi ini kelakuanmu, huh?" Satu pukulan lagi.


"Kau menjijikkan, bahkan lebih menjijikkan dari sebuah kotoran."


Lagi tinjuan keras mengarah ke hidungnya. "Pantaskah kau hidup, hm?"


Untuk yang terakhir. Tendangan keras mengenai kepala laki-laki itu dan seketika Kevin tak sadarkan diri. Dia tidak sempat melawan karena Val tidak memberi jeda atau celah sedikitpun.


"Mati saja kau bajingan!" teriaknya.


Mission Accomplished. Kevin di seret menuju ruang tahanan. Dia bersama Yardan dijatuhkan hukuman seumur hidup. Semua tindakan bejatnya sangat pantas diberi ganjaran yang setimpal. Jangan biarkan orang-orang seperti mereka bebas. Atau jika tidak akan terus meresahkan masyarakat. Sementara itu nasib Emma berserta putranya—mereka tewas karena rumah besar tersebut mengalami kebakaran hebat. Api yang semula membakar satu ruangan kemudian merambah kemana-mana. Wanita itu tidak ingin meninggalkan harta benda serta Revan sendirian, jadi dia terbakar hidup-hidup di dalam sana bersama harta dan orang yang dicintainya.


...END. TERIMAKASIH UNTUK SEMUANYA. TERIMAKASIH PADA PEMBACA YANG SUDAH MARATON CERITA INI SAMPAI SELESAI 😭🙏🏻 TERIMAKASIH BANYAK ATAS DUKUNGANNYA. JANGAN LUPA VOTE DAN KOMEN YA♥️...