Pulchritude Case

Pulchritude Case
Page 22



Dua buah dadu dilemparkan keatas meja. Masing-masing menampilkan angka dua dan tiga. Adrian menendang kaki meja—beberapa orang menertawakannya. Taruhannya raib ditangan lawan. Dia meninggalkan meja judi dan memilih duduk di bangku tinggi depan meja bar. Meminta bartender untuk memberinya segelas whiskey. Adrian menghabiskan banyak uang untuk kegiatan tak bermanfaat seperti itu. Jutaan dollar telah lenyap dan tidak membuahkan hasil. Akhir-akhir ini kesialan menghampirinya.


"Bajingan." umpatnya, lalu menenggak alkohol tersebut. "Benar-benar sial!"


Seorang pria menepuk pundaknya. "Oh, hai pecundang." Dia memamerkan uang hasil kemenangannya.


"Hei, kawan. Coba lihat dia—frustasi karena selalu kalah." lanjutnya sambil tertawa keras.


Adrian menahan amarahnya. Dia mendorong pria itu dan memilih pergi. Sudah cukup mendengar celotehan dari si brengsek. Lebih baik menjauh dan mengacuhkannya. Dia tidak ingin membuat kericuhan di tempat itu, atau jika tidak kejadian memilukan akan terulang kembali. Berandal bayaran itu pernah membuat seseorang sekarat dan merusak klub malam. Dampak dari ulahnya berakhir pada tagihan kerugian dan harus berurusan dengan polisi. Biarkan peristiwa itu menjadi yang terakhir kalinya.


Kehidupannya begitu buruk dan penuh skandal. **** bebas, alkohol, klub malam, perjudian dan narkoba telah menjadi bagian dari hidupnya. Sudah bertahun-tahun Adrian hidup di dunia gelap seperti ini. Niat berhenti sebenarnya sudah terbersit dibenaknya, tapi entah kapan akan memulai. Namun, jika berhenti sekarang lalu darimana dia akan mendapat uang demi kelangsungan hidupnya. Tidak pernah merasakan duduk di bangku sekolah rasanya memang menyedihkan. Mencari uang dengan jalan haram adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup di negara ini.


"Ada apa dengan wajahmu ini, hm? Kamu butuh penyegaran?" Seorang wanita penggoda menghampirinya. Dia mencium bibir Adrian.


"Pergilah. Aku sedang malas untuk menanggapi apa pun." usir nya.


Adrian membelakanginya, tapi wanita tersebut tidak patah semangat. Dia meraih tengkuk lehernya dan terus berusaha merayu Adrian. Duduk dipangkuan nya, lalu tangan kotor itu meraba dada pemuda tersebut. Adrian benar-benar risih, tidak biasanya dia menolak siapapun yang menggodanya seperti ini. Tanpa banyak bicara, dia berdiri dan memutuskan keluar dari bar tersebut.


"Adrian?" panggil seorang perempuan dari ujung gang. Dia semakin mendekat dan sorot lampu menyinari wajahnya.


Adrian mengernyitkan dahi. "Siapa?"


"Kau lupa?"


Dia mencoba mengingat-ingat. Menatapnya dari ujung rambut hingga kaki. "Oh, aku ingat. Kau wanita wangi itu kan?"


Yap, dia Deline. Dari belakang gadis itu muncul seorang laki-laki berjalan mendekat.


"Siapa dia?" Adrian menunjuk orang tersebut. "Mau apa kalian?"


Deline menjelaskan. Kini mereka bertiga berada dalam satu mobil. Menuju rumah berandal itu. Tujuannya mencari Adrian adalah karena ingin tahu tentang apa itu 'anak wangi'. Gadis itu sempat teringat bahwa dia pernah menyebutkan sesuatu mengenai hal tersebut. Sekarang mereka benar-benar membutuhkan Adrian untuk menjelaskan segala hal yang berkaitan tentang anak wangi, pria misterius dan malam putih. Berandal itu mengatakan bukan dia yang mengerti, tapi ibunya. Dia hanya tahu karena sang ibu adalah seorang cenayang, jadi hal seperti itu sudah tidak asing baginya.


Seorang wanita tengah duduk anggun di kursi. Bersenandung kecil sambil merajut sebuah syal. Kegiatannya berhenti ketika merasakan sesuatu tak biasa yang menembus indra keenamnya. Disusul beberapa orang bergumam dari depan rumah. Dia adalah Mona, ibu Adrian. Wanita itu kembali melanjutkan pekerjaannya—kemudian sang anak masuk bersama dua manusia berbeda gender. Mona menatap tajam keduanya. Dia terlihat menyeramkan bak sosok hantu wanita.


"Kenapa kau membawanya kesini?" Pertanyaan Mona menghentikan langkah ketiga orang itu.


"Me-mereka meminta bantuan dari Ibu, jadi aku-,"


"Pergilah. Aku tidak bisa membantu." Mona beranjak dari kursinya dan berjalan menuju kamar.


"Ibu, saya mohon." Deline berusaha menghentikannya. "Saya hanya ingin mendengar penjelasan tentang apa itu anak wangi. Tolong, beritahu kami."


Mona mengabaikannya. Dia masuk kedalam kamar dan mengunci pintu. Sebelumnya dia sudah merasakan energi negatif yang mengusik kenyamanannya. Mona tahu Deline adalah anak wangi, dia begitu disukai oleh makhluk astral. Dan jelas tujuannya datang bukan sekedar untuk menanyakan hal itu. Dia tidak mau berurusan dengan masalah mereka. Mona merasa bahwa permasalahan ini sudah terlalu gelap untuk dijelaskan. Mereka tidak perlu tahu atau suatu hal buruk akan dialami oleh anak-anak itu.


Adrian menggedor pintu kamar sang ibu. Berusaha merayunya—begitupun dengan Deline. Permohonannya terdengar mendayu-dayu dan menyedihkan. Karena meras risih dan terganggu dengan segala rintihan permohonan dari gadis itu, akhirnya Mona memutuskan keluar kamar. Oke, dia akan menjelaskan, tapi untuk risikonya Deline dan pria dibelakangnya yang harus menanggung sendiri. Gadis itu berterimakasih atas kepedulian Mona terhadap dirinya. Penjelasan itu akan sangat membantu dalam penyelidikan ini.


"Anak wangi adalah sebuah istilah bagi mereka yang lahir di malam putih—malam putih sendiri berarti ketika seorang bayi lahir di malam bersamaan dengan mekarnya bunga Epiphyllum Anguliger."


Mereka menyimak. Epiphyllum Anguliger atau dalam bahasa Indonesia berarti bunga Wijayakusuma. Dalam mitos di negara mereka, masyarakat percaya bahwa bunga tersebut memiliki aura magis dan selalu dikaitkan dengan hal mistis. Anak yang lahir di malam tersebut menjadi idaman para makhluk gaib karena dianggap memiliki kekuatan spiritual yang kuat. Dan juga seseorang yang lahir di malam putih akan senantiasa mendapat keberuntungan dalam hidupnya. Hari atau malam di mana mereka lahir adalah waktu yang tepat untuk melakukan ritual pemujaan setan.


Sedangkan wanita yang mencekiknya adalah perwujudan lain dari makhluk yang sebenarnya. Ada sosok makhluk mengerikan yang belum memperlihatkan wujud aslinya. Dia bersembunyi, dan mungkin akan menemui Deline saat hari ulangtahunnya nanti. Tentang pria misterius itu adalah 'manusia', mereka utusan dari seseorang untuk melakukan pencurian mayat dan meneror Yardan. Sekelompok manusia yang memiliki ilmu supranatural—salah satu syarat penting untuk pemanggilan arwah dari sosok yang belum menunjukkan dirinya.


Bunga Phlox berkaitan dengan hal mistis, sama seperti Epiphyllum Anguliger. Namun, aura magis nya tidak sekuat bunga tersebut. Tanaman itu hanya sebagai bentuk syarat untuk melakukan pemujaan. Apa yang ingin mereka ketahui berkaitan tentang seseorang yang melakukan pesugihan, sedangkan Jasmine—dia dijadikan tumbal oleh pelaku. Anak itu tidak lahir di malam putih, dugaan Yardan adalah salah. Sang pelaku mengenal mereka dan menjadikan putrinya sebagai korban.


"Bawalah ini." Mona memberikan gelang berbahan benang tiga warna.


Deline menerimanya. "Ibu, ada satu hal lagi yang ingin saya tanyakan."


"Apa?"


"Ada makhluk lain yang mengenakan gaun pengantin. Dia-,"


"Kau tidak perlu takut soal dia. Makhluk itu adalah pengagum mu. Meskipun kekuatannya tidak sehebat iblis itu, tapi dia akan berusaha untuk melindungi mu dari mereka." sela Mona.


"Apa kau kekasihnya?" tanya Mona kepada Val.


Iya, yang bersama Deline bukan Kevin. Namun, Val Destavin. Laki-laki itu berubah pikiran dan mau bekerjasama untuk memecahkan kasus tersebut. Sementara Kevin, dia tidak bisa ikut karena ada urusan penting tentang keluarganya, jadi Val lah yang mewakili. Toh sekarang mereka telah bekerjasama dan apa pun pasti akan dirundingkan bersama.


"Jaga dia. Sesuatu yang buruk sedang mengintainya semenjak kalian datang kesini. Aku bisa merasakan bahwa diluar sana ada energi jahat yang berusaha mencelakai kalian."


Val mengangguk saja. Dia ikut merasa cemas dengan keselamatannya setelah mendengar penjelasan dari Mona. Semua itu diluar logikanya—dia tidak menyangka jika kasus tersebut ternyata berbuntut panjang dan berkaitan dengan hal gaib. Dan satu hal lagi yang membuat Val terkejut, Mona bilang mengenai kasus Carrolyna—itu diluar kesanggupannya. Masalah gadis itu jauh lebih kelam dibanding kematian Jasmine. Tidak bisa dilihat dengan kemampuan khusus yang dimilikinya. Terlalu gelap dan dalam—sangat dalam.


22.45


Tino ditugaskan oleh Kevin untuk mengulas balik hasil penelusuran Val. Dia mengobrak-abrik kardus kecil berisikan kertas, dokumen, detail kasus dan flashdisk. Val masih menyimpannya dengan baik, sehingga mungkin akan memudahkan satreskrim itu untuk merangkum seluruh kejadian. Tino mengarahkan kursor nya pada sebuah file bertuliskan nama 'Dariel'. Dia mengernyitkan dahi—kenapa isi flashdisk ini menampilkan nama orang lain? Bukan Val sendiri.


"Ini?"


Apa yang ditemukan oleh Tino sungguh mengejutkan. Penelusuran atas nama Dariel menunjukkan hasil masalah lain. Dia memiliki bukti berupa salinan hasil visum dari Dokter Ryo (dokter pertama yang menangani kasus Carrolyna). Ini jauh dari perkiraan semua orang. Hasil penemuan Dariel berbanding terbalik dengan dugaan yang selama ini menjadi perspektif penyelidik. Kalian masih ingat di mana Dariel pernah masuk kedalam ruang kerja Val? Yap, dia yang menaruh benda tersebut diantara alat kerjanya. Tujuan Dariel karena benda tersebut pasti akan dicari oleh pelaku karena menunjukkan bukti kuat atas kelakuannya.


"Aku harus menemui Jaksa Val," Tino berbalik badan seraya meraih jaketnya. Namun, tiba-tiba seorang pria bertopeng menusuk perutnya.


Dia merintih kesakitan. Darah mengucur deras menembus kemeja yang dikenakannya. Pria itu ingin menghabisi Tino, mengangkat pisaunya dan berusaha menusuk leher satreskrim itu. Tino bukan orang lemah—dengan sigap dia menghindar, kemudian menjegal kakinya. Dia berusaha kabur, tapi pria itu berhasil menghentikan langkahnya dengan melempar pisau hingga menusuk punggung Tino.


Dia berdiri dan menghampirinya. Meraih pisau yang tergeletak di samping Tino—berusaha melakukan pembunuhan untuk yang ketiga kalinya. Menahan rasa sakit diperut dan punggung, dia berusaha menendangnya sekuat tenaga. Pria itu terkulai kebelakang, Tino berdiri dan segera lari dari nya. Membuka pintu rumah dan berjalan keluar dari gedung. Pria itu terus mengejarnya sambil berteriak. Sial, dia lupa membawa kunci mobil, sedangkan orang itu semakin dekat.


Dengan berlari sambil menyeret-nyeret, dia meminta bantuan dari siapapun yang lewat di jalan raya. Sepertinya si pelaku tidak takut dengan siapapun. Dia berani mengejarnya hingga ke jalanan seperti sekarang. Tidak takut jika sewaktu-waktu tertangkap basah oleh petugas atau diamuk massa. Sebuah mobil berplat merah menepi—sepertinya pengemudi tahu bahwa Tino dalam keadaan bahaya. Tanpa basa-basi dia masuk dan meminta si pemilik mobil untuk melajukan kendaraannya secepat mungkin.


Dia menoleh kebelakang. Pria tadi hilang—Tino menyandarkan kepalanya pada kursi mobil sambil memegangi perutnya yang terus mengeluarkan darah.


"Apa seseorang berusaha melakukan pembunuhan terhadapmu?" tanya wanita itu.


Tino menoleh. "Ya, itu benar."


Wanita itu adalah Floryn—Tino bercerita tentang kejadian yang baru saja terjadi. Ditengah-tengah seriusnya berbincang, mendadak sebuah mobil dari belakang menyeruduk kendaraan mereka. Floryn berteriak, mobilnya oleng ditengah jalan raya.


"Sialan! Dia mengejar kita," mereka sama-sama terguncang dan hilang keseimbangan. "Apa kau bisa mengemudi lebih cepat lagi?"


Floryn mengangguk. Dia menginjak gas mobilnya dan berusaha menjauh dari sang pelaku. Melenggak-lenggok mendahului beberapa truk besar dan melakukan drifting sehingga si pelaku tidak cukup waktu untuk mengejarnya—dia kehilangan jejak. Tino terkejut dengan kemampuannya mengemudi, dia seperti seorang pembalap. Laki-laki itu bernafas lega, kemudian meminta Floryn untuk mengantarnya ke apartemen Val. Namun, dia tidak menyebutkan nama jaksa tersebut.


"Kenapa tidak ke rumah sakit dulu? Lupakan temanmu, aku akan membawamu ke-,"


"Nona, aku baik-baik saja. Dan nanti akan ku obati setelah sampai di sana. Ini darurat—aku seorang polisi, menyelesaikan tugasku jauh lebih penting daripada luka tidak seberapa ini."


"Tidak seberapa apanya? Darahmu mengucur deras di kursi mobil ku, kamu bisa mati jika terus memaksa."


Tino mengabaikannya. Dia melepas kemeja dan merobeknya dengan bentuk memanjang, kemudian melilitkannya pada luka tusuk di perut. Dia melakukan pencegahan agar pendarahan tidak semakin parah. Floryn melongo melihat dada bidang dan perut kotak-kotak dari satreskrim itu. Tino meliriknya—dia sadar dan menutupi dadanya dengan menyilangkan kedua tangan.


"Terimakasih atas bantuan mu," Tino keluar dari mobil. "Dan terimakasih juga untuk kartu namanya."


Floryn terkejut. Hei, sejak kapan dia memiliki kertas tersebut? Secara diam-diam satreskrim itu merogoh dompet Floryn dan mencuri kartu namanya.


"Aku akan menghubungimu," laki-laki itu mengedipkan sebelah mata. "Cepat pulanglah dan hati-hati dijalan."


Kemudian Tino berangsur menjauh. Dia berniat membalas bantuannya jika masalah ini telah rampung. Polisi itu berjalan cepat menuju lift dan menekan tombol angka untuk menuju apartemen Val. Setelah sampai, dia mengetuk pintu dan menekan bel berkali-kali. Sang pemilik rumah tidak kunjung keluar, apakah dia tidur? Oh, sial. Tino melirik jam tangannya, ini sudah pukul satu malam. Jelas jaksa itu sedang bermimpi di dalam alam tidurnya.


Mendadak seseorang memegang pundaknya. "Hei, apa-,"


Dia berbalik badan. "Jaksa Val?"


"Hei, kau. Ada apa denganmu?" Val terkejut melihat kondisi laki-laki dihadapannya. Seluruh tubuhnya dipenuhi darah yang masih basah.


"Akan saya ceritakan, bisakah kita masuk sekarang?" pintanya terdengar panik.