Pulchritude Case

Pulchritude Case
Page 17



"Pour It again, baby." Danesh meletakkan gelasnya keatas meja bar secara kasar.


"Dan, cukup."


Kevin meminta bartender untuk tidak menuruti keinginan sahabatnya. Sudah cukup mabuk-mabukkan nya, dia tidak boleh minum terlalu banyak. Hari ini Danesh mengajaknya untuk minum tipis-tipis di sebuah bar (bukan tipis-tipis ya angjay, si Danesh minum paling banyak dibanding Kevin). Manager itu mengajak Kevin bertemu dengan tujuan ingin mencurahkan keluh kesahnya. Akhir-akhir ini emosi dan mood nya tidak stabil, Danesh selalu merasa tertekan dan membutuhkan seseorang untuk bercerita.


Sebelum mampir ke bar, Danesh mengajaknya untuk makan malam di restoran Chinese. Dengan senang hati Kevin menyetujuinya, kapan lagi memeras uang sahabatnya itu. Dia juga yang merekomendasikan restoran bintang lima tersebut kepada Danesh. Makan malam mahal sampai kenyang tanpa memikirkan biaya pengeluaran. Ow, sangat menyenangkan bukan?


"Pusing!"


"Sudahlah, Dan. Adikmu itu sudah dewasa, dia juga mengerti baik dan buruk. Jangan bertingkah seperti kakak yang posesif," gerutu Kevin.


Danesh menatap para manusia tengah berjoget sambil berpelukan di depannya, tapi dia tidak benar-benar memperhatikan mereka. Pikiran Danesh sedang berkelana memikirkan sikap sang adik yang akhir-akhir ini berubah. Gadis itu sering pulang terlambat karena menghabiskan waktunya bersama Yardan. Sangat menyebalkan, bahkan anak itu saat ditegur pun tidak menggubrisnya sama sekali. Kedua telinganya seperti ditutup rapat-rapat.


Dia merasa tidak terima dan marah dengan kedekatan mereka berdua. Tidak bisakah mencari orang lain selain kurir ayam goreng itu? Hei, mereka sudah tidak memiliki hubungan bisnis lagi. Seharusnya Deline menjauh dari Yardan. Saat teringat sikap sang adik yang mulai membantah, rasanya Danesh ingin meninju sesuatu. Terlebih lagi mengingat wajah Yardan. Oh, tentu saja emosinya semakin menggebu-gebu untuk melakukan tindakan jahat. Sadar Dan, Lo kesambet apa sih?


"Bagaimana jika kau menikah dengan adikku?" tawarnya tiba-tiba.


"A-apa?" Kevin tersedak. "Kau mabuk, aku tahu itu."


"Aku serius. Kau boleh menikahi adikku, dan tentu saja aku merestui hubungan kalian." dukung Danesh penuh semangat.


Kevin mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Dia menatap Danesh dengan heran, entah apa yang terjadi pada sahabatnya hari ini. Laki-laki itu terlalu posesif kepada adiknya. Lagipula apa salahnya jika Deline menjalin hubungan asmara dengan duda itu? Selanjutnya tidak ada percakapan lagi diantara mereka. Tidak, sebenarnya Danesh ingin terus meyakinkan Kevin agar menikahi adiknya, tetapi dia tidak ingin membuatnya marah jika terus ditekan. Danesh hanya berniat menawarinya, bukan memaksa.


Now I'm running away, my dear


From myself and the truth I fear


My heart is beating I can't see clear


How I'm wishing that you were hеre


Sepenggal lirik lagu mengalun merdu memenuhi seisi mobil. Sepanjang perjalanan mereka saling diam. Danesh memikirkan adiknya, sedangkan Kevin tenggelam dalam pikirannya sendiri. Layar ponsel Danesh menyala, beberapa pesan masuk dari kantor mengalihkan perhatian Kevin. Tak sengaja dia membaca isi pesan tersebut—mereka mengirimkan file dan juga jadwal pertemuan dengan beberapa orang penting. Kevin memutar bola matanya, dia tidak mengerti pesan-pesan seperti itu. Ah~ membosankan sekali dunia perkantoran, tidak seperti dunianya yang sangat-sangat indah itu.


"Siapa wanita di wallpaper mu?" tanyanya membuka percakapan.


"Oh, ini—dia artis KPop, cantik kan?"


Kevin mengangguk.


Yap, wallpaper lockscreen menampilkan fotonya tengah berdampingan dengan Irene Red Velvet. Foto tersebut diambil sewaktu press conference beberapa Minggu yang lalu. Sepertinya manager itu menyukai momen kebersamaannya dengan sang idola Reveluv. Danesh berniat menjadi fanboy dari Nyai Irene (emot sungkem). Oke, next»


"Dan, bagaimana dengan penyakit mu? Kau sudah memeriksakannya ke dokter kan?" Kevin mengubah topik pembicaraan.


"Tidak."


"Jangan keras kepala, sahabat. Bukankah aku sudah menegur mu, apa kau tidak mendengarkan ku?" jengkel Kevin.


"Saya tidak sakit, Pak." sahut Danesh terdengar dongkol. "Kenapa kau terobsesi dengan kesehatan ku—apa kau menyukaiku?"


Danesh meliriknya, lalu kembali fokus untuk menyetir. Apa yang ditanyakan Kevin memang seharusnya dilakukan, tapi dia tidak cukup berani untuk menemui dokter. Padahal akhir-akhir ini batuk dan muntah darahnya sering kambuh. Danesh juga berhenti merokok beberapa hari ini, mengingat kesehatannya semakin memburuk. Huh~ satu masalah lagi membebani pikirannya. Pusing memikirkan Deline justru sekarang? Sial, penyakit yang dideritanya meminta perhatian.


"Bukannya aku takut jarum suntik. Aku hanya takut mereka (keluarga) mengkhawatirkan ku, terlebih lagi Deline." kesah yang selama ini tertahan akhirnya keluar dari mulut Danesh.


"Entah kenapa aku punya firasat buruk tentang penyakit ku. Kurasa ini sangat kronis, aku takut meninggalkan Deline sendirian di dunia ini." lanjutnya terdengar mengerikan.


"Hei! Apa yang kau bicarakan, bodoh? Kau harus sembuh bagaimanapun itu." gerutu Kevin.


"Tapi jika sampai terjadi-,"


"Cukup! Atau aku akan melempar mu keluar." sela nya, tidak ingin mendengar ucapan dramatis dari Danesh lagi.


Kevin seperti tercekat setelah mendengar ucapan sialan seperti itu. Danesh semakin melantur dan kemana-mana, mungkin karena terlalu banyak minum. Oh, gila, ucapannya menyesakkan dada. Kevin dipaksa overthingking memikirkan sahabatnya itu. Sekarang dia lebih mencemaskan kesehatan Danesh. Dalam hati berniat menculiknya, kemudian di bawa ke dokter agar mendapat penanganan yang terbaik. Dia sendiri sangat penasaran dengan penyakit yang diderita Danesh, tapi semakin kesini Kevin ikut takut jika dokter mengatakan hal yang tidak ingin didengarnya.


"Vin?" panggil Danesh ketika intelijen itu sudah keluar dari mobil.


"Apa?"


"Tentang tawaranku-," ucapnya menggantung.


"Akan kupikirkan. Lebih baik sekarang segera pulanglah dan istirahat," dia mengacungkan jempolnya, kemudian bergegas masuk ke halaman gedung tempat tinggalnya.


"Kau yang terbaik! Aku percaya padamu, Kevin Noah." teriak Danesh dari ujung sana. Dia tampak bahagia setelah mendengar jawaban dari sahabatnya.


Kevin melangkahkan kakinya menaiki tangga. Sekarang dia merasa terbebani, jujur saat dia berucap seperti tadi hanya ingin menghibur Danesh. Bagaimana jika laki-laki itu menagihnya? Hahaha, sialan. Kevin harus mencari cara agar bisa mengulur waktu. Bukan karena dia memiliki seorang kekasih, tapi Kevin tidak yakin dengan usianya. Hidup dengan satu ginjal memang dapat dilakukan. Namun, hal tersebut tentu tidak terlepas dari risiko yang menyertainya. Ketika tubuh hanya memiliki satu ginjal, maka organ tubuh tersebut perlu bekerja ekstra untuk menyaring darah. Bukan tidak mungkin jika sewaktu-waktu penyakit menyerang dirinya.


For Your Information—tempat tinggal Kevin satu gedung dengan Yardan. Mereka sama-sama berada dilantai sepuluh, hanya berjarak 5 pintu dari apartemen duda itu. Selama berhari-hari Kevin tidak pulang ke apartemen, dia menginap di rumah orangtuanya. Ketika Kevin berjalan menyusuri koridor, dia mendengar seseorang sedang bertengkar. Itu dari rumah Yardan. Sebenarnya dia tidak berniat untuk mendengarkan, tapi ucapan laki-laki di dalam sana berhasil membuatnya penasaran.


Yardan berteriak mengucapkan kata tumbal dan perjanjian gaib. Karena ulah seseorang anaknya tewas. Mendengar itu, Kevin segera berdiri di pembatas balkon. Dia menatap kebawah, alisnya terangkat sebelah. Di bawah sana ada bekas cairan merah yang mulai pudar. Dan juga ... garis polisi? Tunggu—apa yang baru saja terjadi di gedung tempat tinggalnya? Sial, sepertinya dia ketinggalan banyak hal karena tidak pulang beberapa hari ini. Namun, Kevin belum tahu siapa laki-laki itu dan korbannya. Jika dia tahu pasti sangat terkejut. Tak sadar bertetangga dengan Yardan—pria yang yang dimaksud Danesh.


Membuka pintu apartemen, lalu merebahkan diri diatas ranjang. Mengerang keras untuk melemaskan otot-ototnya yang kaku. Mata mulai terpejam—untuk sementara lupakan dulu beban pikiran yang bersemayam di dalam kepala. Sekarang waktunya tidur—suara gemericik air terdengar samar-samar ke telinga Kevin. Mencoba mengabaikannya dan berpikir mungkin tetangga sebelah, tapi itu salah. Shower kamar mandinya menyala. Suara langkah seseorang tengah bermain air mengganggu tidurnya. Kevin berteriak karena merasa terganggu.


Wangi bunga menembus indra penciumannya. Kevin membelalakkan mata ketika melihat bayangan seseorang berjalan menuju kamar mandi. Dia baru sadar jika suara gemericik itu berasal dari sana. Berjalan perlahan menuju tempat tersebut, kemudian membuka pintu. Tidak ada siapapun, tapi shower nya menyala. Dan wangi tadi ... berasal dari air yang menggenang di lantai kamar mandi. Sangat aneh dan ganjil. Sudah jelas ini teror makhluk halus, tapi Kevin menyikapinya dengan santai. Hal-hal seperti ini sudah berkali-kali dia alami.


"Siapapun kau, aku minta jangan ganggu ketenangan ku. Jangan membuat ulah lagi paham?"


"Ada-ada saja," Kevin menutup pintu kamar mandi dan mematikan lampu.


"Kakak ... kamu adalah orang jahat." bisikkan itu menyusup masuk ke telinganya. Kevin bergidik— bulu kuduknya berdiri. Dia segera bergegas ke kamar dan mengabaikan suara itu.


Sementara di apartemen lain—Yardan merebahkan tubuhnya di kasur sambil memikirkan ucapan Danesh. Ya, tadi siang dia dihajar oleh manager itu. Berkunjung ke rumahnya, lalu tanpa basa-basi dia memukulinya hingga babak belur. Oke, dia salah karena sempat tidak memercayai Deline, tapi bukankah dia telah meminta maaf dan mencabut gugatan? Tapi Danesh ... laki-laki itu menepati janjinya untuk menghajar Yardan jika adiknya terbukti tidak bersalah.


Luka memar dan lebam menghiasi wajahnya. Terasa nyeri dan panas pada bagian yang terluka, tapi tidak apa-apa. Lagipula tadi Deline sudah membantu mengobatinya. Sentuhan dari gadis itu mampu mengobrak-abrik hatinya. Perasaan seperti itu sudah terjadi sejak pertama kali Deline menggenggam tangannya ketika di rumah sakit. Semakin sering menghabiskan waktu bersama, rasa nyaman mulai tumbuh pada diri masing-masing. Mereka juga telah bertukar cerita satu sama lain tentang kisah kehidupannya.


Tujuan Deline sering berkunjung ke rumah Yardan adalah hanya ingin menemaninya agar tidak merasa kesepian. Namun, sekarang benih-benih asmara mulai tumbuh. Menghabiskan waktu bersama untuk sekedar bercanda dan berbasa-basi. Saking seringnya Deline berkunjung ke rumah Yardan, sampai-sampai dia memberikan kunci apartemennya supaya gadis itu bisa menunggu di dalam jika Yardan belum pulang bekerja. Tak ayal Deline sering menyiapkan makan malam untuk Yardan. Manis sekali layaknya seorang sepasang suami istri.


Hehehe, dasar kalian berdua. Gak takut sama Danesh?ʘ⁠‿⁠ʘ