
Pagi yang dingin. Cuaca hari ini mendung disertai gerimis ringan, tapi itu bukan masalah bagi Kevin. Dia tetap bersemangat untuk menemui Val dikediamannya. Sekarang, mantan jaksa itu tinggal bersama ibunya di sebuah kota yang berbatasan langsung dengan provinsi lain. Perjalanan yang cukup panjang untuk sampai ke sana. Kevin mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia tidak ingin mengambil risiko. Sambil menyetir tangannya meraih sandwich dari dalam kotak makan—sarapan yang dibuatkan oleh Deline tadi pagi.
Kemarin malam dia menginap di rumah gadis itu. Sesuai janjinya, Kevin akan terus menemaninya sampai kasus tersebut tuntas. Dan sekarang dia melakukan perjalanan menuju rumah Val, sebagai bentuk kerja kerasnya untuk menguak kasus tersebut. Sebelumnya dia sempat berdebat kecil dengan Deline, gadis itu memaksa ikut karena mungkin saja Kevin akan sangat lama. Kepulangannya tidak bisa dipastikan, bagaimana jika besok dia baru pulang? Oh, tidak, lalu nanti malam jika wanita itu mendatanginya lagi bagaimana? Itu menyeramkan. Deline hanya butuh teman di rumah sebesar itu.
Ditengah asyiknya melahap sarapan, Kevin tidak sempat melambatkan laju mobilnya. Alat transportasi beroda empat itu melaju bebas dan akhirnya terguncang karena melewati polisi tidur setebal batang pohon. Disusul suara benturan keras dari jok belakang. Dia menoleh—terdengar sesuatu bergerak-gerak dari sana. Kevin menghentikan kendaraannya, dan mengecek kejanggalan tersebut. Dia melihat benda besar tertutup terpal—seingatnya dia tidak pernah menaruh apa pun di jok mobilnya, lalu benda apa itu? Dia membukanya secara kasar dan surprise ... seorang gadis muda menatapnya dengan memasang senyuman lebar.
"Deline ... astaga!"
Kevin memasang raut wajah dongkol, sesekali melirik gadis yang menunduk disampingnya. Oh, dia benar-benar merepotkan. Diam-diam Deline ikut dengannya dengan bersembunyi di jok mobil, itu tindakan ilegal. Dia penumpang gelap. Selama diperjalanan intelijen itu tidak berniat mengajaknya basa-basi, mungkin dia marah? Tidak, mana bisa Kevin marah dengan calon istrinya, eh? Bercanda. Iya, dia tidak marah cuma dongkol saja. Alasannya melarang Deline untuk ikut karena mungkin saja penelusuran ini akan berbahaya. Dia tidak ingin gadis itu kenapa-kenapa.
"Aku minta maaf." Dia menatap Kevin. "Aku takut di rumah sendiri, dan aku tidak tahu kapan-,"
"Dimaafkan." Sepatah kata dari laki-laki itu berhasil mengatupkan bibir Deline rapat-rapat.
"Tulus?"
"Tidak-," Deline muram. Melihat ekspresi dari gadis itu, Kevin pun tertawa. "Iya, tulus. Sudah jangan banyak bicara,"
Raut wajah Deline kembali berseri-seri. Entahlah, dia merasa aman saat bersama laki-laki itu. Kemarin malam saja, wanita menyeramkan itu tidak muncul. Mungkinkah dia takut dengan Kevin? Bukan takut, tapi terpesona dengan ketampanannya (hahaha). Ah~ sekarang saatnya bersantai sambil menikmati pemandangan. Kota yang akan mereka datangi adalah wilayah yang masih asri, suasana sejuk dan dikelilingi dengan pegunungan. Tidak banyak gedung-gedung besar yang menjulang seperti di tempat tinggalnya.
Jauh dari kedekatan mereka berdua. Kim Yardan tengah merenung di depan makam sang anak. Dalam kepalanya memikirkan banyak hal yang harus diselesaikan secepat mungkin. Masalah ini akan terus merambah luas dan merugikan banyak orang. Duda itu mencemaskan keselamatan kekasihnya. Dia tidak berniat bersikap kasar seperti kemarin terhadap Deline, tapi mau bagaimana lagi, emosi dan kesabarannya sudah tidak bisa dibendung. Yardan berharap semoga gadis itu mengerti dan tidak melakukan hal nekat. Peringatannya tidak main-main, dia sangat mengenal siapa orang dibalik semua ini.
Yardan mengusap batu nisan putrinya, tak lupa meletakkan sebuket bunga di atas makam. Dia berpamitan kepada Jasmine, karena harus segera bekerja. Lagipula hujan semakin deras membasahi tubuhnya. Perlahan langkah Yardan mulai menjauh dari peristirahatan terakhir sang anak—kakinya berhenti menatap makam seseorang yang dikenalnya. Danesh Dilbara ... laki-laki itu berjongkok di samping makam tersebut. Tanah masih basah dan bunga-bunga diatasnya belum layu seutuhnya. Dia tersenyum tipis—mengingat perselisihan yang pernah terjadi diantara mereka.
FLASHBACK🍂
"Anjing, jarum sialan." gerutu Yardan. Dia tertusuk jarum saat menjahit kaosnya.
Pintu depan mendadak diketuk kasar oleh seseorang. Dia beranjak dari tempatnya dan membuka kayu persegi panjang tersebut. Yardan tertegun mendapati Danesh tiba-tiba hadir dihadapannya. Manager itu memasang raut wajah memerah disertai dada terlihat naik turun. Oh, jelas sesuatu yang buruk pasti akan diterima Yardan. Dan benar, tanpa basa-basi dia melayangkan sebuah tinjuan keras pada wajah duda itu.
"Sesuai ucapan ku. Aku akan meremukkan-," satu pukulan lagi.
"Wajah sialan mu ini, Kim Yardan." lanjutnya.
Yardan berjalan mundur sambil meminta maaf.
Danesh mengabaikannya. Dia akan menghajar laki-laki itu sampai hatinya puas. Setelah selesai bermediasi dengan duda itu, dia merasa tidak terima. Menetapkan dan mencabut gugatan sesuka hatinya sendiri. Dia pikir Deline siapa? Oh, cukup sudah jangan bermain-main dengan Danesh lagi. Jika memang sang anak meninggal atas kecerobohannya sendiri, lantas kenapa dari awal dia tidak menjelaskan? Mengabaikan adiknya, menjawab iya dan benar atas pertanyaan yang polisi lontarkan. Jika mempercayai Deline, seharusnya Yardan mengatakan tidak dan salah. Bukan malah mengacuhkannya seolah dia pelaku pembunuhan Jasmine.
Sekarang saatnya memberi duda itu pelajaran, agar otaknya dapat berpikir lebih luas lagi sebelum menuduh seseorang. Sudah jelas bukti yang dia tunjukkan kepada Danesh bukan ulah Deline. Di dalam rekaman tersebut tidak menunjukkan sosok sang adik, kematian bocah itu karena ulah makhluk gaib. Ya, rahasia di dalam ponsel tersebut hanya mereka berdua yang mengetahui. Yardan secara pribadi menunjukkannya kepada Danesh, kemudian meminta maaf sebesar-besarnya. Namun, manager itu tidak bisa memaafkannya begitu saja. Sikap Yardan telah mengecewakan hatinya dengan menuduh mentah-mentah sang adik, tanpa mendengarkan sedikitpun penjelasan dari nya.
"Aku sudah meminta maaf, apa itu kurang bagimu?" bela Yardan pada diri sendiri.
"Kurang!" Danesh berjalan maju dan memojokkannya. "Pukulan ini bukan hanya tentang sikap mu yang seenaknya dengan adikku, tapi juga sebagai peringatan agar kau menjauh dari nya."
Yardan terkekeh. Ini menggelikan baginya. Andai laki-laki angkuh didepannya mengerti bahwa bukan dia yang mendekati Deline, tapi gadis itu yang memulai.
"Aku bisa menjauh darinya, tapi adikmu itu tidak." sahut Yardan. "Hakimi dia, jangan aku."
"Cukup! Jangan bersikap seolah-olah dia yang paling bersalah atas kedekatan kalian. Hei, brengsek. Apa kau pikir aku tidak tahu siapa dirimu, huh?"
Kemudian Danesh melanjutkan ucapannya dengan mengungkapkan segala hal yang diketahui tentang laki-laki itu. Dia tahu kasus dimana Yardan pernah menghamili kekasihnya, bagaimana dia dulu dan terakhir Danesh menghinanya masalah kasta dan kekayaan. Sontak duda itu menutup mulut—dia tidak bisa berkata-kata setelah laki-laki itu membandingkan dirinya dengan kekayaan mereka. Seolah harapannya untuk bersanding dengan Deline pupus seketika. Dia merasa rendah diri—sadar dengan kondisi dan keadaannya. Benar, apa yang dikatakan Danesh.
Cukup sakit, tapi begitulah kenyataannya. Yardan juga tidak menyangka jika dia akan terbawa perasaan dan mencintai Deline. Hari demi hari rasa sayangnya terhadap gadis itu semakin bertambah. Untuk yang kedua kalinya, dia jatuh cinta lagi. Yardan akui dia tidak ingin kehilangan Deline. Dia berjanji akan menjaganya sampai akhir hayat. Namun, setelah Danesh berkata seperti itu—justru meracuni pikirannya untuk menjauhi dia.
Seulas senyum tersungging di bibir Yardan setelah mengingat hal itu. Seseorang yang melarangnya untuk dekat dengan Deline telah pergi. Tidak, Yardan tidak bermaksud menertawakannya, tapi dia merasa seolah Tuhan memang mentakdirkan nya untuk bersanding dengan gadis itu. Memang begitulah jika Sang Maha Kuasa telah menetapkan keputusannya, meskipun dihalang-halangi oleh apa pun yang berusaha memisahkan mereka. Semua itu sia-sia.
"Danesh, kini kau telah pergi. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan setelah semua ini. Maaf ya jika aku bersikeras mendekati adikmu." Yardan mengusap batu nisannya.
"Iya, aku memang laki-laki brengsek di masa lalu, tapi semua itu telah berubah. Aku tidak seperti dulu. Aku paham maksud mu menghinaku seperti itu, kau tidak ingin dia dekat dengan pria brengsek yang akan menghancurkan masa depannya."
Yardan berdiri. "Kau tenang saja. Dan lihat dari sana bahwa aku tidak main-main dengan ucapan ku." Dia beranjak pergi. Duda itu telah mengucap janji di depan makam Danesh. Yang menandakan bahwa dia serius dengan niatnya.
°°°
Nyonya Diva memukul lengan putranya. Dia sudah berteriak-teriak sedari tadi, tapi laki-laki itu tidak berniat untuk bangun dari mimpinya. Val mengerang keras—dia merasa terganggu karena sang ibu mengacaukan tidurnya. Dia terduduk sambil memejamkan mata. Rasa kantuk yang menyerangnya tidak tertahankan hingga tengah hari seperti ini. Begitulah kegiatan Val semenjak berhenti dari pekerjaannya. Dia menghabiskan waktunya untuk tidur sepanjang hari. Tidak ingin diganggu oleh siapapun. Menjadi beban orang tua di usia 30 tahunan. Heh, dasar aneh.
"Desta, bangun. Ada tamu yang mencari mu."
Val mendengkus panjang. "Ibu jangan memanggilku dengan nama itu—aku benci dengan Desta. Ganti saja nama belakang ku, oh, ini menyebalkan."
"Bangun, dan cuci mukamu. Lihat didepan sana ada sepasang kekasih sedang menunggumu,"
"Siapa?" tanyanya dengan nada malas.
"Ibu tidak tahu. Kau lihat saja sendiri," Nyonya Diva memukulnya lagi. "Buruan."
"Iya-iya!"
Val merasa heran dengan ucapan ibunya. Dia berpikir keras, siapa yang mencarinya. Apakah mereka temannya? Itu mustahil, dia bahkan tidak ingat jika punya teman. Laki-laki itu berjalan menuju depan rumah, saat pintu terbuka alangkah terkejutnya ketika melihat siapa orang dihadapannya. Hei, ini kejutan. Untuk apa polisi sialan ini datang menemuinya? Dan darimana Kevin tahu bahwa dia tinggal di sini? Val tidak menyuruhnya untuk masuk.
"Siapa?"
"Kau lupa?"
"Maaf, aku buta. Aku tidak tahu wajah dan bentukan tubuh mu."
Kevin mendesis. Tanpa membuang-buang waktu lagi, komisaris itu langsung meminta penjelasan dari Val. Tentu mantan jaksa itu terkejut saat Kevin menanyainya. Dia menolak mentah-mentah permintaan dari laki-laki itu. Val sudah tidak mau lagi berhubungan atau membahas masalah Carrolyna dan segala embel-embelnya. Sudah cukup sampai disini saja. Dia sudah kehilangan seorang teman, dan itu tidak akan pernah dia lupakan. Bahkan sampai sekarang saat bayangan Dariel berputar-putar di kepalanya, Val merasa frustasi dan ingin mengamuk kepada siapapun itu yang telah merenggut nyawa temannya.
"Pergilah. Aku tidak ingin berurusan dengan hal itu lagi." usir nya. Val menutup pintu, tapi Deline menahan pintu tersebut.
"Maaf jika saya ikut campur, tapi tuan ini bukan keuntungan yang kita inginkan melainkan tentang rasa simpati pada keluarga korban."
Val diam. Deline meraih tangannya. "Saya tahu Anda juga kehilangan seseorang dalam hidup Anda. Begitupun dengan saya, jadi kami minta tolong atas bantuannya."
Laki-laki itu menepis tangan Deline yang memegang jemarinya. Dia tetap bersikukuh untuk tidak peduli dan acuh, meskipun gadis itu telah mengemis bantuan dari nya. Ucapan Deline memang menyentuh perasaannya, tapi Val tetap berdiri pada pendiriannya untuk tidak ikut campur lagi atas masalah yang mereka alami. Lagipula dia juga tidak ingat tentang kasus tersebut. Hasil penelurusan nya mungkin telah berdebu dan rusak.
"Dia tidak buta." ujar Kevin. Sekarang mereka berada didalam mobil.
"Ha?"
"Jika dia buta, tidak mungkin saat pertama kali melihat ku kilatan dimatanya menunjukkan keterkejutan."
Itu benar. Val berpura-pura jika dirinya masih dalam kondisi tidak bisa melihat. Dia telah melakukan operasi kornea agar bisa melihat kembali. Orang seperti Val tidak bisa hidup tanpa kekurangan. Dia akan mencari jalan keluar demi terlihat sempurna lagi. Sifatnya masih tidak berubah hingga sekarang. Tetap seperti Val yang dulu. Dia berjalan menuju kamar, lagi-lagi ingin mengurung diri. Sekarang yang dipikirkannya adalah ucapan gadis itu.
"Desta, maaf jika Ibu menguping." Diva menghentikan langkahnya.
"Tidak apa-apa jika kau ingin kembali mengungkap kasus itu. Ibu tahu, sebenarnya kau sendiri tersiksa dengan menghukum dirimu seperti ini. Mereka juga merasakan apa yang kau alami-," lanjutnya.
Val tidak bergeming.
"Takdirmu adalah mengungkap kejahatan bukan lari dari tanggung jawab. Ibu tidak memaksa, hanya mengingatkan mu." lugas nya.
Ibunya benar. Dia tidak bisa terus seperti ini. Menjadi seorang jaksa yang mengungkap kejahatan adalah impiannya dari kecil. Namun, bagaimana dengan pesan Dariel untuk tidak melanjutkan penyelidikan ini? Val ingin menurutinya, tapi jalan takdir memintanya untuk kembali menelusuri masalah tersebut. Apakah dia harus menyingkirkan ego terlebih dahulu dan bekerja sama dengan polisi sialan itu? Ah, sebenarnya dia suka bekerja sendiri, tapi mungkin saja dengan kolaborasi mereka kasus tersebut bisa terungkap. Val berteriak keras sambil meninju dinding. Dia bimbang antara ingin kembali atau tidak.