Pulchritude Case

Pulchritude Case
Page 10



Lembaran kertas berbahan glossy berserakan diatas meja. Foto cetak berukuran 9×6 cm menampilkan hasil jepretan berbagai kegiatan dari karyawan Hiraet Phloxier. Gambar beberapa orang berkumpul mengelilingi meja, mereka sedang memotong dan memilah daging (beef maybe?). Semenjak kejadian kemarin Val segera melakukan penyelidikan untuk mengungkap kecurigaannya terhadap restoran tersebut. Val  menugaskan salah satu timnya untuk menyelinap diantara pekerja restoran.


Kurang dari 24 jam timnya berhasil mendapatkan beberapa bukti. Tak hanya foto-foto tersebut yang menunjukkan kejanggalan dalam restoran, tetapi rekaman suara yang diambil memberikan bukti kuat bahwa daging yang mereka olah mungkin saja tidak murni 100% daging sapi. Menu seperti Salt Egg & Beef Quiche, Beef Schnitzel dan olahan lain sedang Val selidiki dengan mengujinya di laboratorium. Dari rekaman video tersebut, dia dapat mendengar seseorang mengatakan 'mayat fresh' sebagai bahan campuran. Menjijikkan, jaksa itu mual setelah mendengar dan membayangkan makanan yang telah dia telan malam itu.


Jika penelusurannya benar restoran itu berhubungan dengan hilangnya jasad seseorang, maka tamat sudah masa kejayaannya. Para pihak berwenang tentu akan menutup resto mewah tersebut, dan tentu saja Val akan banjir pujian karena telah mengungkap rahasia besar. Satu amunisi telah terkuak, sekarang saatnya mencari tahu tentang bunga Phlox dan aroma tubuh Carrolyna. Val berencana menemui Dariel dikediamannya untuk menanyakan sesuatu.


Benturan cangkir dengan lapik mengubah suasana canggung menjadi lebih cair. Pria tua dihadapan Dariel tampak serius menatapnya, entah apa yang sedang dipikirkan oleh Reynold. Hari ini jaksa charming itu mengunjungi rumah orang tuanya di ibukota, pertemuan kedua selama bertahun-tahun.


"Aku pikir kau lupa dengan orang tuamu." Reynold membuka percakapan.


"Maaf, saya terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga tidak cukup waktu untuk mengunjungi rumah." ujar nya dengan menunduk.


Reynold menghembuskan napas panjang. "Bulan depan pelantikan gubernur baru dan Ayah adalah calonnya. Ayah harap kau datang dan memberikan dukungan penuh,"


Dariel mengangguk.


"Pelantikan akan diadakan setelah penetapan wakil pimpinan jaksa. Entah bagaimana caranya kau harus mendapat posisi itu," lanjutnya.


Dia mendongak. Apa yang ayahnya katakan jelas membuatnya terkejut. Dariel tidak yakin jika dialah yang akan mendapatkan posisi itu, sedangkan Val juga sebanding dengannya.


"Saya tidak bisa berjanji. Karena Jaksa Val juga-,"


"Pria bodoh itu?" sela nya sambil mengernyitkan dahi. "Riel, kau jauh lebih baik daripada dia. Ayah telah mendengar bahwa bocah itu tersandung kasus pemalsuan identitas mayat, lalu kenapa kau ragu seperti ini? Oh, sungguh-,"


"Itu hanya kesalahpahaman-,"


"Hentikan! Ayah tidak suka jika kau membelanya terus. Sudah cukup kau membantunya bebas dari tuduhan itu, sekarang saatnya fokus pada perintah Ayah."


Inilah alasan kenapa Dariel malas berkunjung ke rumah orangtuanya. Dia dituntut menjadi sempurna, ayahnya yang gila jabatan dan haus akan pujian membuatnya tertekan. Dia akan berusaha dengan caranya sendiri, jadi jangan paksakan kehendak yang tidak mungkin dapat Dariel penuhi. Tentang pemilihan itu, dia menyerahkan semuanya kepada petinggi. Meskipun sekarang poinnya sebagai jaksa kompetitif jauh lebih baik dari Jaksa Val, tapi dia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Poin unggul yang dia miliki saat ini tidak menjamin keberhasilan dalam pemilihan.


"Saya akan memasrahkan semua keputusan di tangan para petinggi. Mereka lah yang berhak menetapkan siapa wakil pimpinan jaksa selanjutnya,"


Reynold menyipitkan mata, dia menghembuskan nafas berat. "Baiklah, kau tidak perlu repot-repot untuk melakukannya. Aku akan memberikan jabatan itu kepadamu secara instan. Lihat nanti, Dariel Bastian."


Pupil matanya melebar, dia mengerti maksud sang ayah. Pria itu ingin melakukan tindakan kotor demi meraih posisi tersebut. Reynold sendiri mampu dilantik sebagai gubernur berkat tindakan kotornya dengan menyogok beberapa pihak. Dari awal Dariel sudah menyadari hal itu, tetapi dia memilih diam karena tidak ingin ikut campur. Sebenarnya bisa saja dia mengungkap kelicikan sang ayah dengan mempermalukannya di depan pubilk, tapi bagaimana dengan nasib keluarganya nanti? Oh, tidak. Dariel belum siap untuk menerima segala hujatan. Topeng untuk menutupi urat malunya sedang diproses oleh pengrajin kayu (hahaha).


"Sebelumnya saya minta maaf, Ayah. Jangan lakukan apa pun jika berhubungan dengan uang demi meraih jabatan, terlebih lagi untuk saya. Lebih baik kalah dengan kejujuran, daripada menang dengan kebohongan."


"Kau menyindirku?"


"..."


"Apa kau tidak mengerti? Sudah cukup keluarga kita dipandang sebelah mata oleh manusia-manusia sombong itu. Sekarang kita punya kekuasaan dan uang untuk membuktikannya kepada mereka," geram Reynold.


"Seharusnya kau bangga karena ku, keluarga ini mendapat popularitas dan martabat baik di mata masyarakat. Bayangkan suatu hari nanti Ayah menjadi presiden dan kau menjadi gubernur, pikirkan itu—keluarga ini akan dipandang hebat." Obsesi nya terdengar menggebu-gebu.


"Saya tidak menginginkan semua itu, Ayah. Popularitas dan elektabilitas akan bertahan sementara. Saat ini saya hanya ingin hidup damai dan berjalan sesuai ketentuan Tuhan,"


Reynold diam, dia mengepalkan tangannya.


"Saya pamit dulu. Ada banyak kasus yang belum terselesaikan, sampai jumpa. Dan tolong sampaikan salam saya kepada Ibu, terimakasih." lugasnya dan segera beranjak pergi.


Cukup sampai disini saja menuruti keinginan ayahnya. Semenjak masuk ke Firma Hukum Ethereal, dia mendapat banyak pelajaran dari setiap kasus yang ditanganinya. Terkadang Dariel merasa paling kotor diantara koleganya. Dia mampu menjadi jaksa senior yang dihormati banyak orang karena ulah ayahnya. Dengan mudah dia mampu menggeser jaksa lain yang mungkin saja jauh lebih baik dibandingkan dirinya. Dariel merasa telah menusuk mereka dari belakang. Tindakan kotor seperti itu dia sudahi sampai di sini saja. Dan jangan pernah mengulangi kesalahan yang sama.


Memikirkan sifat sang ayah terkadang membuatnya frustasi. Awalnya Dariel santai-santai saja Reynold melakukan hal itu. Namun, semakin dewasa dan cara berpikirnya semakin matang. Semua itu tidak benar dan menyimpang. Dia bersyukur telah disadarkan, tetapi ketakutannya akan karma di masa depan membuat Dariel khawatir. Semua tindakan buruk pasti akan mendapatkan balasan bukan? Pusing, kepalanya terasa berat. Dia tidak sabar untuk segera sampai di apartemen dan tidur.


Memasuki koridor apartemennya, seorang laki-laki tengah bersandar pada dinding sambil sesekali melirik jam tangan. Yap, dia adalah Val. Entah berapa lama berada di sana menunggu kedatangan Dariel.


"Hei, ini kejutan. Apa kau menungguku?"


Val tersenyum miring. "Jangan percaya diri. Aku datang ke sini untuk menanyakan sesuatu yang kau ketahui,"


Dariel membuka pintu, dia mempersilahkan rivalnya untuk masuk. "Kau ingin minum apa?"


"Tidak perlu. Air di rumahmu terlalu keruh untuk tenggorokanku yang suci ini."


"Ya, ya terserah. Sekarang cepat katakan, apa yang ingin kau tanyakan—kau tahu? Entah kenapa aku merasa yakin untuk mendapat posisi itu, jadi aku sedang menyiapkan pesta untuk pelantikan ku bulan depan. Oh, ini membuatku sibuk." Dariel meletakkan kakinya di atas meja, dia sengaja melakukan itu agar Val merasa panas.


"Berikan salinan kasus kematian Carrolyna. Dan katakan padaku apa saja yang telah kau temukan dalam kasus ini,"


Dariel mengernyitkan dahinya. "Kau masih memburu pelakunya? Jaksa Val, sebaiknya lupakan saja. Masih banyak kasus lain yang lebih besar dari ini,"


"Jangan menceramahi ku. Cepat berikan,"


"Tidak. Aku tidak bisa memberikannya kepadamu,"


"Kenapa kau begitu egois? Hei bung, masalah ini bukan lagi menjadi tanggungjawab mu. Lagipula kau tidak akan rugi saat memberikannya kepadaku—oh, aku tahu. Kau ingin ku bayar kan? Baiklah." Val mengeluarkan dompetnya.


"Pulanglah. Aku tidak tertarik dengan uang," Dariel berdiri dan membukakan pintu untuk pria itu. Val merasa dihina, secara kasar Dariel mengusirnya.


Dia mencengkeram kerah Dariel, kemudian mendorongnya. "Jika aku bukan seorang jaksa sudah ku pastikan wajah sialan mu ini akan remuk dan tidak berbentuk."


"Terserah apa katamu, tapi pesanku jangan lanjutkan penyelidikan ini. Sebuah ancaman besar dan mengerikan mungkin sedang mengintai mu, Jaksa Val." imbau Dariel.


Dering telepon memecahkan suasana. Val mengangkat panggilan tersebut, seseorang mengabarkan jika penyidik yang dia kirimkan untuk menguak restoran tersebut mengalami kecelakaan dan meninggal ditempat kejadian. Dia menatap Dariel sebentar, kemudian berbalik badan dan segera bergegas menuju pemakaman. Laki-laki itu tidak main-main dengan apa yang telah diucapkannya. Namun, Val masih tidak percaya dengan semua keanehan ini. Terserah saja, Dariel sudah berulangkali memperingatkannya, tetapi jaksa keras kepala itu tidak mau mendengarkan.


°°°


Cuaca akhir-akhir ini sulit ditebak, terkadang seharian panas atau bahkan hujan sepanjang hari. Dampak dari cuaca yang berubah-ubah mempengaruhi imunitas tubuh. Semenjak bertemu dengan ibu kandungnya, penyakit epilepsi Jasmine sering kambuh. Dan sekarang anak itu demam, Yardan tertidur disampingnya sambil memeluk sang anak. Setiap bangun tidur Jasmine seperti orang ketakutan, hal ini membuatnya cemas. Entah apa yang terjadi pada  anak itu.


Gigitan nyamuk membangunkan tidurnya, tak sadar sore berganti malam. Dia lupa harus memasak untuk makan malam. Berjalan menuju dapur dan mulai menyalakan kompor. Menu makan malam hari ini adalah ayam goreng kesukaan putrinya. Untuk kemampuan memasaknya tidak perlu diragukan lagi, Yardan sudah cukup lihai mengolah beberapa menu makanan. Keahlian seperti itu jelas karena sudah terbiasa dengan kegiatan sehari-harinya di dapur.


"Aku lupa harus membuang sampah-sampah ini," Yardan mematikan kompor, dia meraih kresek hitam berisikan limbah dapur.


Sebelum melangkahkan kakinya menuruni tangga, duda itu berhenti ketika mendengar tangisan seseorang dari salah satu apartemen. Terdengar begitu pilu disertai suara dentuman keras. Yardan penasaran, dia berbelok arah menuju sumber suara. Menaiki lantai 11 dan berhenti pada apartemen nomor 45. Semakin didengarkan dia semakin menangis tersedu-sedu. Seakan kondisinya dalam keadaan tertekan.


"Permisi?" Dia mengetuk pintu. Tidak ada jawaban, tapi suara tangisan itu berhenti.


Pintu terbuka secara perlahan, lampu ruangan tiba-tiba menyala dengan sendirinya. Yardan memegang kenop dan membukanya lebih lebar lagi. Suasana sepi serta berantakan, kemudian disusul suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Langkah kakinya semakin lebar untuk melihat siapa didalamnya. Yardan hanya khawatir jika seseorang ingin melakukan percobaan bunuh diri, jadi tujuannya adalah ingin menghentikan tindakan bodoh itu.


Setelah mengintip dari celah pintu, seorang anak kecil tengah melakukan tindakan konyol dengan membenturkan kepalanya pada bathtub. Buru-buru Yardan masuk untuk menghentikannya. Namun, saat anak itu berbalik ternyata adalah Jasmine. Tatapan kosong dengan kondisi kepalanya berdarah. Dia berteriak keras sambil memeluknya. Yardan sangat panik dan bingung, kenapa anaknya ada di sini. Bukannya dia sedang tidur di dalam kamar?


"Jasmine apa yang kamu lakukan?" Yardan menangis, dia menggendongnya untuk kembali ke rumah.


Jasmine kejang dan mulutnya mengeluarkan busa. "Sayang bertahan ya? Kamu kenapa ada di sana."


"Ya Tuhan, apa yang terjadi pada putriku."


Suara teriakan perempuan terdengar dari dalam apartemennya ketika Yardan berada di depan pintu. Jelas itu suara Jasmine, tapi bukankah anaknya sedang dia gendong? Laki-laki itu menoleh, matanya melebar ketika melihat siapa sebenarnya yang berada di pelukannya. Yap, dia bukan Jasmine melainkan sosok setan yang menyerupai putrinya. Tanpa pikir panjang Yardan melemparnya jauh dari jangkauan. Dia berteriak masuk ke dalam rumah kemudian mengunci pintu. Berlari menuju kamar sang anak untuk memastikan jika Jasmine masih ada di sana.


Kengerian semakin terasa ketika pintu apartemennya diketuk seseorang. Ditambah lagi Jasmine berteriak-teriak tidak jelas dengan kondisi mata terpejam. Aroma wangi dari bunga yang dia kenal mulai menguasai ruangan. Yardan mencoba menenangkan anaknya. Tiba-tiba terdengar suara beberapa orang sedang membaca mantra-mantra aneh, sekumpulan manusia berjubah hitam berada di depan pintu kamarnya. Membawa rangkaian bunga putih yang dikalungkan di leher masing-masing. Tak ayal mereka menaburkannya di depan kamar itu.


"Pergi! Menjauh dari putriku! Pergi!!" teriak Yardan. Namun, semua itu sia-sia. Mereka menerobos masuk dan berusaha membawa Jasmine pergi.


"Jasmine!" pekiknya.


"Ayah?" panggil Jasmine yang berdiri dibelakangnya.


Dia tersentak saat melihat kehadiran putrinya dalam keadaan baik-baik saja. Tangan kanannya memegang spatula. Minyak panas dibelakangnya mendidih hingga muncrat menembus kaos tipis yang dia kenakan. Yardan berbalik badan untuk mematikan kompor tersebut.


"Ayah kenapa diam saja dari tadi? Jasmine memanggil Ayah, tapi tidak merespon. Justru berdiam diri seperti patung," komentar Jasmine.


Benarkah itu? Tunggu, apa yang baru saja terjadi? Ada apa dengannya? Ini aneh dan Yardan tidak bisa berkata-kata. Sungguh, dia tadi hendak membuang sampah dan kemudian mendengar suara tangisan. Menggendong seorang anak kecil dengan kondisi wajah yang ... Ah, cukup. Yardan tidak kuat membayangkannya. Dan juga orang-orang tadi kemana perginya?


"Ayah!" tegur Jasmine, lagi-lagi ayahnya bengong.


"E-e—Jasmine—kamu baik-baik saja kan? Tidak ada yang terluka kan?" Dia memutar tubuh Jasmine untuk memastikan kondisinya.


"Jasmine baik-baik saja. Ayah kenapa sih?"


"Tidak. Ayah tidak apa-apa—oh, ya, ayam goreng sebentar lagi matang. Kamu pasti lapar kan?" Waktunya mengalihkan kebingungan ini. Entah apa yang terjadi pada dirinya, sungguh diluar pemikiran. Cukup mengerikan ketika bayangan itu melintas di pikirannya.


Peristiwa yang baru saja Yardan alami memang benar terjadi. Hanya saja posisi Jasmine tetap berada di kamar dan sedang tidur. Anak itu terbangun ketika ayahnya berteriak keras memanggil namanya. Karena terkejut dia memutuskan untuk keluar dari kamar dan memastikan apa yang terjadi. Jasmine mendapati ayahnya sedang mematung di depan kompor dengan tatapan kosong. Selama kurang lebih 5 menit pria itu tidak merespon, seolah jiwanya sedang berkelana di suatu tempat. Sebuah peristiwa menyeramkan baru saja dia alami.