
"Kenapa bukti-bukti yang kumiliki berubah—dan rekamannya—ah, gila!"
Pagi ini Val dikejutkan dengan keanehan pada bukti yang dia miliki mengenai kecurigaannya terhadap Hiraet Phloxier. Sebelum berangkat bekerja dia memeriksa dan memastikan bahwa bukti yang dikantonginya masih aman seperti bentuk awal. Namun, ketika mengeceknya kembali foto-foto tersebut berubah menjadi gambar anak anjing. Serta rekaman suara pun ikut berubah menjadi kicauan burung. Sangat konyol dan aneh. Entah siapa yang menyelinap ke dalam apartemennya dan mengganti bukti-bukti tersebut.
Sejak kematian Liam (tim nya) kemarin Val sudah menaruh rasa curiga yang teramat besar. Seharusnya dia juga memiliki bukti lain berupa hasil lab makanan yang dibawa Liam, tetapi bukti tersebut hilang bersamaan kecelakaan yang menimpa pria itu. Seakan semua bukti dilenyapkan agar jejak kejahatannya tidak terungkap. Hiraet Phloxier memiliki rahasia besar dibalik suksesnya usaha tersebut. Sudah jelas mereka melakukan penipuan dan pencurian demi melancarkan kesuksesan usahanya. Val sendiri sudah tahu siapa pemilik restoran terkenal itu. Dia berencana untuk melayangkan surat penahanan, tapi sayangnya bukti yang dia miliki berubah total.
"Apa? Ke-kenapa nyonya, tapi-,"
Sekali lagi kejutan untuk Val Destavin. Dia mendapat telepon dari keluarga Carrolyna. Secara mendadak mereka memintanya untuk menghentikan penyelidikan. Dengan berasalan jika keluarga sudah ikhlas. Lagipula penyelidikan ini memakan banyak waktu, tidak ada gunanya berharap bahwa kasus yang menimpa sang anak akan mendapat keadilan. Mungkin mereka terlalu bodoh mengharapkan secercah harapan. Padahal sudah jelas jika Carrolyna meninggal karena membakar dirinya sendiri.
Ada yang tidak beres dengan pembatalan kasus tersebut, dan ini sudah menjadi yang kedua kalinya. Pihak keluarga korban memang mengambil tindakan ini secara diam-diam karena mungkin saja mereka sudah tahu bahwa putrinya dibunuh oleh seseorang. Namun, mereka takut untuk membuka suara, maka dari itu pihaknya meminta seorang jaksa untuk mengungkap kasus tersebut. Sebelum ibu korban mematikan telepon, Val mendengar suara bisikan seseorang. Apakah pelaku sedang bersama mereka, lalu mengancamnya?
Suksesnya Hiraet Phloxier kemungkinan berhubungan dengan meninggalnya gadis itu. Bunga Phlox dan aroma tubuh Carrolyna memiliki wangi yang sama. Jika benar mereka melakukan pesugihan, apakah dia dijadikan sebagai (tumbal?). Bisa saja di masa lalu hubungan antara keluarga Carrolyna dengan pemilik restoran pernah bermasalah sehingga mendorong mereka untuk menjadikan gadis itu sebagai tumbal (sebagai wujud balas dendam). Pemikiran seperti itu terbersit di benak Val, dia mengaitkan segala teori yang masuk ke dalam pikirannya. Ya, itu bisa saja, tapi sebelum memutuskan sesuatu sebaiknya memastikan fakta yang sebenarnya terlebih dahulu.
Tujuan Val mendahulukan masalah ini karena dia yakin bahwa keduanya saling berhubungan. Dan untuk pencurian mayat—mungkinkah tindakan itu sebagai bentuk syarat pesugihan yang mereka lakukan? Perjanjian gaib dengan iblis membutakan hati dan pikiran. Mereka mengharamkan segala cara demi uang dan popularitas. Kasus yang cukup sulit, tetapi sekarang tujuannya malah dikacaukan seseorang.
"Aku harus menemui keluarga korban—bisikkan yang kudengar tadi membuktikan bahwa ada orang lain di balik pembatalan ini."
Val bergegas menuju ruang kerjanya untuk mengambil jas yang tertinggal. Ketika membuka pintu dia mendapati Dariel tengah berdiri kaku menghadapnya. Mereka sama-sama terkejut, ditambah lagi gelagat Dariel terlihat mencurigakan. Buru-buru laki-laki itu memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana.
"Wah-wah rupanya ada seekor ular masuk kedalam ruangan ku," Val bertepuk tangan. "Apa yang kau lakukan di sini?"
Dariel diam. Pelipisnya sedikit berkeringat.
"Kau bisu?" Val mengecek semua barang-barangnya, dia khawatir jika pria aneh ini mencuri atau mengacaukan pekerjaannya.
"Aku hanya mencari mu,"
Semua masih aman tidak ada yang berubah atau berpindah tempat. Val meraih jasnya dan mengabaikan laki-laki itu. Tidak ada waktu untuk mengurusi Dariel, dia harus bergegas menuju kekediaman Nyonya Winter. Pekerjaannya jauh lebih penting daripada menanggapi ular yang masuk secara lancang ke dalam ruang kerjanya.
"Kau mau kemana?" tanya Dariel.
"Bukan urusanmu."
"Jaksa Val tunggu." Dia mengikutinya. Jaksa sombong itu sudah masuk ke dalam lift. Dariel terlambat, semua lift sedang dipakai. Terpaksa dia harus menuruni tangga untuk mengejar Val.
"Tunggu!" cegah Dariel sambil menahan pintu mobil Val.
"Apa sih mau mu?"
"Hentikan penyelidikan ini—aku tahu kau menemukan hal besar, tapi Jaksa Val apa yang akan kau ungkap adalah petaka bagi dirimu sendiri. Aku minta-,"
Val tertawa. "Kekonyolan apalagi ini?" Dia menyeringai. Seolah apa yang dikatakan Dariel hanya omong kosong. "Aku bukan kau. We are not the same, only one of me."
"Jaksa Val, tolong dengarkan aku sekali saja—aku tidak main-main dengan apa yang kukatakan. Kasus Carrolyna bukan hanya kasus kematian biasa, ini semua berhubungan-,"
"Cukup! Sekarang pergilah. Meskipun kau mengemis kepadaku untuk menyudahi kasus ini aku tidak akan berbelas kasih kepadamu." sela Val sambil menunjuk wajah jaksa itu.
Dariel sudah tidak tahan dengan kesabarannya. Berulangkali dia sudah memperingatkan jaksa sombong itu, tetapi dia tidak mau mendengarnya. Apa pria itu tidak melihat jika rekannya mati karena mengetahui fakta yang sebenarnya? Perlukah dia mengeluarkan bola matanya agar bisa melihat dengan jelas? Oh, cukup. Dariel sudah tidak tahan lagi, dia melayangkan tinjuan keras menghantam wajah Val.
"Apa maksud-,"
Dariel meninjunya lagi. "Sudah berapa kali kubilang, hentikan Val Destavin. Kenapa kau begitu keras kepala. Aku peduli karena kita adalah teman—dengan cara apalagi aku harus menyadarkan mu? Jika kau tetap bersikukuh melanjutkan penyelidikan ini, kau bisa mati!" Dia berteriak diakhir kalimat.
Val tertegun mendengar dan mendapat pukulan dari Dariel. Ucapan jaksa itu mengejutkan dirinya. Bukan tentang kematian, tetapi Dariel menyebutnya teman. Hei, sejak kapan mereka berteman? Penekanan ucapannya terdengar serius, tetapi Val masih ragu. Dia beranggapan jika Dariel mungkin saja sedang berakting untuk mencari keuntungan. Bisa saja Dariel berlagak seperti pahlawan untuk menyelamatkan nyawa seseorang dari marabahaya.
Oke, dialah orang pertama yang menangani kasus tersebut, jadi tentu saja Dariel yang tahu lebih banyak tentang kasus kematian Carrolyna. Dari segi motif, resiko dan fakta-fakta besar yang telah diselidikinya. Namun, semenjak Dariel mencampuri urusannya saat terjerat kasus pencurian mayat, bukankah dia memanfaatkan kesempatan itu untuk mencari perhatian? Oh, tunggu. Val tidak akan tertipu lagi.
"Jika aku mati bukankah bagus untukmu mendapat posisi wakil pimpinan? Hei bung, kau tahu apa yang lebih bagus dari itu? Jawabannya adalah-," Val balas meninju wajah Dariel.
"Jangan pernah ikut campur dalam urusanku lagi, bangsat!" Dia berteriak, kemudian bergegas masuk ke dalam mobil. Val menginjak gas dan meninggalkan Dariel di parkiran.
Val meraih tisu, dia mengelap darah yang keluar dari mulutnya. Tinjuan dari Dariel sangat keras sehingga rahangnya terasa ngilu, bahkan gusinya ikut berdarah. Sialan memang. Kekuatan tangannya seperti telah terlatih menghancurkan sesuatu. Val mengakui tenaga Dariel, dia kuat.
°°°
Ketikan papan keyboard mengisi keheningan di dalam ruang kerja Kevin. Dia disibukkan mengedit video dengan mengompresnya ke kualitas HD. Sebelumnya Kevin sudah menelusuri ulang tempat kejadian. Dia menemukan bekas tanah yang tergores karena benda tumpul (gagang cangkul yang diseret). Dan kondisi makam yang ambles karena isinya telah dicuri. Namun, anehnya tidak ada bekas jejak kaki atau sepatu di sekeliling kuburan. Padahal dalam rekaman video menunjukkan orang-orang misterius kemarin berjalan diatas tanah dengan menyeret kakinya.
Kevin mengetuk-ngetukkan kakinya ke lantai sambil menunggu hasil video selesai. Berselang 15 menit akhirnya video tersebut rampung. Dia segera memutar dan memperhatikan detail-detail kecil dari orang-orang itu. Wajahnya terlihat pucat, tetapi mereka bekerja dengan serius. Dan juga kakinya ... hei, itu mengambang? Kevin memperbesar bagian kaki. Jubah yang mereka kenakan menutupi seluruh kaki. Menggeser keatas—pergelangan tangannya mengenakan—tunggu, apa itu? Rangkaian bunga berwarna putih.
Dia membuka browser dan mengetikkan kata kunci bunga berwarna putih. Halaman penelusuran telah menampilkan berbagai jenis bunga berwarna putih. Secara telaten Kevin menelusurinya untuk dicocokkan dengan bunga yang berada di dalam video.
"Bunga Phlox?" gumamnya.
°°°
Dariel memencet klakson sambil mendongakkan kepala ke luar jendela. "Hei, Jaksa Val. Hentikan-,"
"Dia lagi-," gerutunya. Val semakin mempercepat laju mobilnya. Sementara Dariel terus berteriak-teriak.
Mobil Dariel mencoba mengejar, dia berhasil menyamai kecepatan Corolla Altis milik Val.
"Jaksa Val, berhenti!"
"Apa? Kau menantang ku untuk balapan? Oke," goda Val setelah menurunkan kaca mobilnya dan membalas ucapan Dariel. Mereka saling kejar-kejaran dengan kecepatan tinggi. Melenggak-lenggok mendahului mobil lain yang berada didepannya.
Sampai di perempatan, Val melihat sebuah truk Fuso dari arah berlawanan tampak oleng disertai lajunya tak terkendali. Dia melirik spion menatap mobil Dariel yang berusaha mengejarnya. Perlahan Val mengerem karena dia tahu truk tersebut pasti akan mengalami oversteer yang menyebabkan kecelakaan. Dia memberi kode kepada Dariel untuk menepi ke sisi kanan karena dari samping kirinya truk itu semakin tak terkendali.
Sepertinya Dariel tidak mengerti apa yang dimaksud Val. Dia terus melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi tanpa memperhatikan kanan-kiri. Dan BOOM! Benturan keras pun terjadi. Mobilnya dan truk itu bertabrakan ditengah-tengah perempatan. Kecelakaan beruntun pun terjadi. Tak hanya itu, mobil Val ikut menjadi korban karena berada tak jauh dari pusat perempatan. Mobil Dariel terjepit kepala truk, sedangkan mobil Val bertubrukan dengan sisi belakang kendaraan Dariel. Dia berteriak ketika sang rival merintih kesakitan sambil menyebut namanya. Pecahan kaca depan mobil Val ambyar dan masuk ke dalam matanya. Setelah itu Val tidak sadarkan diri karena badannya pun ikut terjepit kerangka mobil.
Hayo, siapa kira-kira yang meninggal?
Bunyi beep pada mesin elektrokardiogram memenuhi seisi ruangan. Detak jantung dalam kondisi normal, sementara tangan diinfus dan mata ditutupi perban berwarna putih. Di ruangan lain (ICU) dokter dan para perawat nya tengah panik karena korban kecelakaan berada diambang kematian. Alat pacu jantung ditempelkan pada dada Dariel, separuh tubuhnya terangkat keatas karena tekanan listrik dari alat itu. Mesin EKG terus melacak detakan jantungnya, nyawa Dariel berada diujung tanduk. Dokter telah berusaha semaksimal mungkin, tetapi Tuhan jauh lebih sayang kepada jaksa itu. Ya ... Dariel dinyatakan meninggal.
"Apa ini—perban?"
"Siapapun katakan dimana aku berada. Hei!" pekiknya sambil memukul-mukul ranjang.
"Jaksa Val?" Leo (senior Val). Ketika mendengar kecelakaan yang menimpa kedua koleganya, dia segera bergegas menuju rumah sakit dimana mereka dirujuk.
"Apa kau Leo?"
"Ya, ini aku."
"Apa yang terjadi, cepat katakan. Kenapa mataku-,"
"Pecahan kaca yang masuk kedalam matamu merusak kornea, jadi kau mengalami kebutaan permanen, Jaksa Val." sela Leo.
"Apa? Hei, kenapa-," Val terkejut bukan main. Dia menyentuh kedua matanya secara perlahan. Dan berteriak keras meluapkan kesedihannya.
"Lalu dimana Dariel?" Val ingat bahwa dia dan pria itu mengalami kecelakaan beruntun. Dan juga, terakhir dia melihat Dariel dalam kondisi...
"Jaksa Dariel-,"" jawab Leo menggantung.
"Katakan!" bentak Val, firasat buruk meracuni pikirannya. Jangan bilang jika Dariel...
"Dia meninggal."
Seketika tubuhnya terasa dingin dan membeku. Val mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Perban yang menutupi kedua matanya perlahan basah karena air mata yang tidak diinginkan keluar secara alami. Sekarang kepalanya terasa ringan, bayangan kejadian tadi berputar-putar didalam pikirannya. Benarkah itu? Tolong katakan jika dia cuma bermimpi.
Tidak.
Tidak mungkin.
Dariel kau—
Semoga ini hanya mimpi.
"Tidak!" Val berteriak sekencang mungkin. Tangisnya semakin pecah. Dia dihantui rasa bersalah atas kematian laki-laki itu. Jika saja Val mau mendengarkannya mungkin peristiwa ini tidak akan terjadi.
Rasa perih dan nyeri menusuk hatinya. Dia terbayangkan wajah takut Dariel setelah truk itu menjepit badannya. Val tak kuasa lagi untuk berpura-pura tidak peduli. Dia menangis karena kehilangan orang yang peduli dengannya. Val benar-benar tidak pantas untuk dimaafkan. Dia selalu bersikap kasar dan sarkas kepada Dariel selama ini. Namun, laki-laki itu lebih banyak sabar menghadapinya. Sekarang Val sadar bahwa dia adalah puncak dari masalah yang terjadi. Penyesalan dan rasa kehilangan akan membekas selamanya pada diri Val.
"Dimana dia sekarang? Katakan, dimana dia!"
"Jaksa Val, tenanglah. Dokter sedang-,"
"Antarkan aku kepadanya. Aku ingin bertemu dengan Dariel untuk yang terakhir kali," sela Val. Dia sangat terpukul.
"Meskipun aku sudah tidak bisa melihat lagi, tapi jemariku masih bisa menggenggam tangan Dariel untuk mengutarakan penyesalan ku." lugasnya diiringi tangisan kesedihan.
Andai saja dia mendengar Dariel.
Andai saja dia—
Andai! Andai! Andai!
Andai adalah kata paling menyakitkan. Salah satu kalimat kemustahilan untuk terwujud. Pada akhirnya hanya penyesalan yang tersisa. Dariel sudah pergi untuk selamanya. Tidak ada lagi orang yang akan mencampuri urusan Val Destavin. Dia yang menyebutnya sebagai teman telah berpulang terlebih dahulu. Kematiannya menyadarkan jaksa sombong itu untuk bersikap lebih dewasa dan mau mendengarkan orang. Sekarang Val telah dipukul oleh keadaan yang mampu menyadarkan sifat keras kepalanya.
Rest in Peace Dariel Bastian🥀