
"Del, aku tunggu di depan."
Deline mengiyakannya dengan berteriak. Sungguh kakaknya begitu cerewet, berulang kali Danesh meneriakinya seperti anak kecil padahal berdandan bagi seorang wanita membutuhkan waktu lama. Hari ini mereka akan menghadiri acara makan malam keluarga. Sebenarnya Deline begitu malas menghadiri acara itu, tapi sang kakak merayunya dengan iming-iming hadiah. Oke, baiklah si manager manis itu akan menuruti apa pun yang Deline inginkan, jadi dia setuju untuk ikut dengannya.
Acara makan malam bersama kerabat jauh. Yah ... sepertinya tidak terlalu buruk, tapi apakah mereka akan menyambutnya dengan baik? Sedangkan ini pengalaman pertamanya berkumpul dengan anggota keluarga dari sang ayah. Dia tidak tahu orang seperti apa yang akan dia temui hari ini, Deline takut jika mereka tidak menyukai kehadirannya.
Dia membayangkan apakah makan malam hari ini berjalan dengan nyaman dan hangat, oh itu pasti menyenangkan dan berkesan baginya. Namun, itu salah. Perkumpulan keluarga ini lebih tertuju pada event pamer kekayaan, pangkat dan kemewahan. Kalian tahu keluarga dari ayah Deline adalah orang-orang yang memiliki gengsi tinggi, mereka terlalu materialis. Baik didepan belum tentu baik dibelakang, seperti itulah 'kerabat' (tidak semua).
Restoran Hiraet Phloxier adalah tempat mereka berkumpul, rumah makan nomor satu di pusat kota. Menyajikan makanan berkualitas tinggi dengan bahan-bahan premium, tempat dimana orang kaya berkumpul untuk mengenyangkan perut mereka. Bangunan bergaya retro klasik didominasi warna coklat tua dan merah maroon, restoran yang cukup luas dan bertingkat.
Danesh dan Deline telah sampai di tempat tujuan, mereka disambut oleh waiters perempuan berpakaian rapi yang siap mengantarkan keduanya. Ayah dan ibu tiri mereka juga telah hadir, mereka tengah bercanda dengan beberapa anggota keluarga lainnya. Deline merasa gugup dan canggung karena ini pengalaman pertamanya.
"Oh, itu Danesh." lontar Natha, menyadari kehadiran anaknya.
Kakak beradik itu memberi sapaan kepada kerabat mereka. Natha meminta Deline untuk menyapa ibu tirinya, dengan sopan gadis itu tersenyum lebar kepadanya, tetapi wanita itu membalasnya dengan senyuman yang dipaksakan. Begitupun dengan bibi atau paman Deline, mereka menatapnya sinis.
"Perkenalkan dia putriku, Deline." lanjut Natha.
"Oh, anakmu yang tinggal di Canada itu ya? Hm, kenapa putrimu kembali? Apa dia sudah bosan hidup bersama ibu kandungnya?" timpal Freddy, paman Deline.
Deline cukup terkejut mendengar ucapan dari pria tua itu, terdengar kurang sopan. Andai kalian tahu bahwa ibunya telah meninggal, lalu dengan siapa lagi jika dia tidak ikut dengan sang ayah?
"De son visage ne ressemble pas à une fille intelligente," gumam seorang wanita berambut pendek. Sedari tadi dia terlihat paling tidak suka saat Deline ikut hadir.
Tentu saja Deline mendengarnya, wanita itu menghina dengan bahasa Perancis. Dia mengatakan bahwa raut wajah Deline tidak menunjukkan jika dia adalah gadis yang cerdas. Yang dibicarakan pun menunduk, dia cukup terpukul mendengar celotehan yang dilontarkan oleh wanita tak dikenalnya itu.
"Maaf Bibi Alma, tolong jaga ucapan Anda. Adikku juga paham dengan apa yang Anda katakan." sahut Danesh. Dia membela sang adik.
"Ah, sudah-sudah anakku memang orang-orang hebat. Dan sebaiknya kita bersulang dulu sebelum menikmati hidangan utama," lerai Natha.
Bersulang segelas anggur kecuali Deline, dia tidak minum minuman berbau alkohol, jadi dia menolaknya dengan halus. Sontak hal ini membuat beberapa orang menatapnya dengan tajam. Natha pun tampak kecewa dengan sikap Deline yang dianggap tidak menghargai kerabatnya.
"Gadis yang sopan dan menghargai," sindir Freddy diselingi tawa yang menghina.
Baiklah, dia harus sabar. Danesh meraih tangan sang adik dengan menggenggamnya. Berusaha menguatkan Deline. Dia tahu apa yang sekarang adiknya rasakan.
Tak lama kemudian para pelayan menyajikan menu utama berupa Beef Schnitzel dan steak daging kualitas premium. Mereka segera memulai makan malam dengan lahap, daging itu tampak menggoda. Namun, tidak dengan Deline. Entah kenapa saat dia menatap mereka makan justru merasa tidak nyaman. Seperti melihat para manusia tengah menikmati daging mentah berlumuran darah. Secara perlahan dia mendorong piringnya, Deline tidak bernafsu untuk mencoba potongan daging tersebut.
"Dia bahkan tidak menyentuh makanannya sedikitpun," cerocos Alma.
"Deline, apa yang kau lakukan? Cepat makan, dan hargai menu yang dipilihkan oleh Bibi Alma." tegur Natha.
"Cobalah sedikit," imbuh Danesh.
Mereka menatapnya sinis. Ah, entahlah kenapa orang-orang di sini terasa mengintimidasi. Deline seperti seorang pelaku kriminal yang sedang diinterogasi. Sudahlah dia merasa tidak nyaman, Deline berpamitan ke toilet untuk menenangkan diri. Tidak peduli jika mereka membicarakannya. Ini bukan acara makan malam, tetapi mengarah pada acara penghinaan dirinya. Untuk apa hadir jika pada akhirnya dialah yang menjadi sasaran empuk sebagai bahan roasting. Dia menyesal karena menyetujui ajakan sang kakak.
Deline menatap cermin, memperhatikan wajahnya. Benarkah dari tampangnya terlihat seperti gadis bodoh? Dia menundukkan kepala, mencoba menahan air mata yang ingin keluar. Cukup sakit saat seseorang menghina fisik seperti ini—Deline tahu jika dia tidak secantik perempuan lain. Pipi tirus dan lingkaran hitam dimatanya terlihat seperti seseorang pengonsumsi narkoba. Ya, semua itu karena efek dari kurangnya jam tidur. Si kutu buku yang menghabiskan waktunya untuk menyelesaikan novel yang dibaca setiap hari.
Ditengah rasa insecure yang melanda dirinya, tiba-tiba seorang wanita dengan wajah yang disembunyikan dibalik rambut panjangnya berdiri di samping Deline. Tatapannya kosong saat menatap cermin. Suasana dingin menguasai kamar mandi, terasa mencekam mungkin karena efek pencahayaan yang kurang. Deline merasa tidak nyaman ketika wanita itu bergerak mundur dan menatapnya.
"Excuse me ... Apa kau baik-baik saja?" Deline ingin mendekatinya, tetapi hal janggal membuat gadis itu mengurungkan niat.
Wanita misterius itu mengerakkan lehernya hingga berbunyi, seakan tulangnya patah. Deline berjalan mundur, tangannya berusaha meraih gagang pintu. Namun, pintu tersebut tidak bisa di buka. Dia berusaha menggedor dengan tujuan agar orang-orang di luar sana membantunya membukakan pintu. Sementara wanita itu semakin mendekat, kedua tangannya terangkat lurus ke depan berniat mencekik Deline.
"Kak Dan!!" Deline berteriak ketika si wanita menyentuh lehernya. Wajah mereka berjarak sangat dekat, dia mencium wangi bunga dari tubuhnya.
"Aroma mu ... manis." ucap wanita itu terdengar serak dan lirih, kemudian dia berteriak keras tepat di wajahnya. Deline menutup mata sambil menyumbat lubang telinga dengan kedua telunjuk. Suara teriakannya begitu melengking dan menyiksa.
Deline mendorongnya, dia berusaha membuka pintu. Namun, seseorang telah membukanya terlebih dahulu. "Del, ada apa?"
"Kak Dan?" Dia memeluknya dengan erat. Tubuh Deline terasa dingin dan sedikit gemetar.
"Hei, ada apa? Kau baik-baik saja kan?" Danesh terlihat khawatir, dia membelai rambutnya.
"Kak Dan, aku ingin pulang sekarang." pintanya. Danesh mengangguk dan menurutinya.
°°°
Jauh dari tempat mewah dan peristiwa menyeramkan yang baru saja Deline alami, di sebuah pemakaman umum tampak beberapa orang sedang berjalan dengan hati-hati untuk menuju ke kuburan Carrolyna. Yap, mereka adalah Val berserta anak buahnya. Ditengah kepanikannya karena jasad Carrolyna yang hilang, dia berencana memalsukan identitas mayat dengan menggunakan jasad orang lain.
Mereka berencana membongkar dan meletakkan jasad seorang perempuan sebagai gantinya. Entah dimana mayat Carrolyna saat ini, jika Val melaporkannya sudah pasti dia akan mendapat masalah besar. Sedangkan kasus ini dia lakukan secara rahasia. Val tidak ingin pihak keluarga duka mengetahui masalah ini, jadi dia memutar otak untuk menutupi kesalahannya. Jaksa itu rela membeli jasad dari sebuah rumah sakit. Lagi-lagi Gavin lah yang menjadi moderator nya. Neskipun telah digertak oleh dokter itu, tapi bukan masalah baginya. Justru Gavin yang semakin dipojokkan.
"Cepat lakukan," perintah Val. Mereka segera menggalinya.
Sedikit demi sedikit penggalian hampir selesai, peti mati telah terlihat. Salah satu dari mereka membukanya dan memasukkan jasad orang lain ke dalam sana. Ditengah kegiatan gelap sedang berlangsung mendadak suara mendecit terdengar ditelinga masing-masing. Suara itu semakin mendekat, setetes cairan berwarna kuning dan berbau busuk menetes pada punggung tangan Val. Dia mengibaskan nya, salah satu dari mereka menyadari sesuatu yang menggantung di atas Val. Pria itu seketika terduduk lemas dan berangsur pergi, begitupun dengan yang lain.
Val mendongak, tetapi tidak ada apa pun di atas sana. Dia meneriaki anak buahnya karena pekerjaan belum selesai. Val menghembuskan nafas panjang, jadi dia yang harus menyelesaikan pekerjaan ini. Menyebalkan, dia bersumpah akan memberi mereka pelajaran setelah ini. Laki-laki itu sama sekali tidak takut dengan makhluk astral yang kemungkinan memperhatikannya sekarang. Dia melanjutkan pekerjaannya dengan cepat karena suasana di pemakaman semakin aneh.
"Mati!" pekiknya seraya melemparkan Val jauh dari makam Carrolyna. Badannya terbentur batu nisan.
Val berdiri sambil memegangi lengannya yang terluka. Dia segera lari menuju mobilnya. Sudah cukup misinya kali ini, kuburan Carrolyna dalam keadaan yang cukup baik. Dia tidak peduli jika seseorang mencurigai kuburan tersebut akibat ulahnya. Val harus segera pulang ke rumah.
Bulu kuduknya berdiri tanpa disuruh. Ketika di dalam mobil pun Val merasa sedang diikuti seseorang. Beruntung sekali mobilnya tidak bermasalah seperti di film-film, ketika seseorang dalam keadaan tertekan pasti mobil mereka macet secara mendadak. Diperjalanan dia dikejutkan dengan wanita tadi yang berdiri ditengah jalan. Val segera membanting setirnya hingga mobil tersebut mengalami drifting.
Dia membiarkan mobil oversteer dengan keadaan meluncur selama mungkin. Benda beroda empat itu berhenti ditengah jalanan sepi. Val menatap wanita di depan sana yang semakin mendekat. Dia berteriak keras karena wanita misterius itu melempar sebuah batu besar kearahnya.
"Permisi? Hei, apa ada orang?"
Val membuka mata karena mendengar seseorang mengetuk pintu mobil. Dia melihat lurus ke depan, kaca mobilnya tidak pecah. Apa yang terjadi? Bukankah wanita itu melemparkan sebuah batu besar? Dan kenapa tiba-tiba...
"Permisi? Hei bung, kau memarkirkan mobil mu ditengah jalan. Jika kau tidak keluar dengan terpaksa aku akan memecahkan kaca mobilmu."
Itu manusia. Oke, Val bersiap untuk keluar. Ya, dihadapannya saat ini tengah berdiri seorang laki-laki.
"Apa kau mabuk?" tanya laki-laki itu.
"A-apa? Tidak, aku seorang jaksa mana mungkin aku mabuk saat mengendarai."
"Tapi kenapa mobilmu seperti ini? Kau menghalangi jalan."
"Tadi—itu, tiba-tiba ada seseorang berdiri ditengah jalan dan secara refleks aku membanting setir hingga mobilku seperti ini." jawabnya. Namun, laki-laki dihadapannya terlihat kurang percaya.
"Baiklah, tapi dari penampilan mu-,"
Val baru sadar. Jika penampilannya terlihat acak-acakan. Noda bekas tanah dan keringat ditubuhnya membuat seseorang menaruh rasa curiga.
"Ini—aku baru saja melakukan perjalanan—eh, tunggu kenapa aku menceritakannya kepadamu. Lupakan saja penampilan ku, yang jelas aku bukan penjahat." Val membuka pintu mobil— berniat pergi sebelum dicurigai lebih lanjut.
"Kevin Noah, anggota intelijen."
Seketika Val terdiam ketika laki-laki itu menunjukkan identitasnya. Sial, kenapa ditempat seperti ini ada seorang polisi.
"Dengan penampilan seperti ini, aku bisa membawamu ke kantor polisi. Kau terlihat mencurigakan dengan segala noda dan gerak-gerik mu."
"Kau mencurigai ku?" Val menyeringai. "Val Destavin, jaksa penuntut dari Firma Hukum Ethereal. Kau tidak lihat jalanan disini penuh dengan lumpur? Tadi mobilku mogok dan aku memperbaikinya, sehingga penampilan ku terlihat mencurigakan. Dan kau—entah kenapa seorang anggota intelijen berada di tempat sepi seperti ini."
Kevin tidak membalas. Val segera memutar mobil dan pergi dari polisi itu. Alibinya terdengar cukup menyakinkan, tetapi orang yang dihadapi bukanlah polisi sembarangan. So, tunggu saja Val, dia tidak akan mengabaikan mu begitu saja.
"Jaksa penuntut?" gumam Kevin sembari menatap kepergian laki-laki itu. "Akan ku kejar kau, Val Destavin." lanjutnya sambil tersenyum tipis.
°°°
Jarum jam menunjukkan pukul satu malam. Deline masih belum bisa tidur karena memikirkan kejadian tadi. Entah itu manusia atau bukan, tetapi badannya terasa dingin saat kulit mereka saling bersentuhan. Gadis itu memang bisa merasakan sesuatu yang berhubungan dengan hal gaib. Namun, dia tidak bisa langsung melihat dimana mereka berada. Keanehan yang terjadi saat makan malam pun semakin membuatnya penasaran. Dia beropini jika wanita di toilet tadi berhubungan dengan restoran tersebut. Semakin dirasakan, Deline semakin memikirkan hal-hal buruk.
"Kenapa belum tidur?" Suara Danesh mengejutkannya.
"Kakak sendiri kenapa belum tidur?"
Danesh duduk disebelah adiknya. "Aku merasa bersalah karena telah mengajakmu makan malam bersama mereka—Deline, maaf ya karena ku kau harus mendengar ucapan yang tidak pantas."
"Kak Dan, sudahlah. I'm fine, but what happened in the bathroom just scared me." ungkapnya.
Danesh baru teringat kejadian itu, dia lupa untuk menanyakannya. "Oh, ya, aku sempat penasaran dengan itu. Sebenarnya apa yang terjadi? Aku mendengar teriakkan dari dalam,"
"I don't know if you believe it or not, but what was clear was that a woman was choking my neck and screaming in front of my face. His body felt cold and I smelled the fragrance of flowers. I'm sure she's not human,"
"Mana mungkin di restoran itu ada hantu— jangan mempercayai hal seperti itu, Deline." Danesh mengelak nya sambil terkekeh.
"But this is real. Look at this, I have traces of someone's grip on my neck." Deline menunjukkan bekas cengkeraman tangan di lehernya.
Danesh terkejut melihat tanda merah bergaris dileher sang adik. Sekarang laki-laki itu dipaksa berpikir atas ucapan Deline.
"Segera tidurlah. Aku akan menemani mu tidur di sofa itu, kau jangan takut ya? Aku ada disini,"
Deline mengangguk. Namun, kini dia merasa membebani kakaknya. Sungguh Deline tidak berniat untuk membuat laki-laki itu memikirkan hal yang tidak-tidak. Sepertinya dia salah telah menceritakan hal itu, tetapi bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur. Lagipula dia tidak tahan untuk memendamnya sendiri.
°°°
Lampu dari layar monitor menerangi suasana kamar yang gelap. Kevin ingin mencari tahu identitas dari jaksa yang ditemuinya tadi. Dia memikirkan banyak hal setelah menganalisa penampilannya. Tubuh berkeringat, noda coklat yang menempel pada bajunya dan juga luka gores di bagian lengan pria itu membuatnya semakin curiga. Jika dia memang melakukan perjalanan dari kota, lantas kenapa pakaiannya tidak rapi.
Lengan baju yang digulung, celana hitamnya terlihat kusut dan Kevin sempat melirik sepatu yang digunakan oleh Val. Di sana terdapat bekas tanah bertekstur basah yang menempel. Sangat wajar jika Kevin menaruh rasa curiga kepadanya. Val sendiri terlalu sembrono saat bertindak. Dari cara bicaranya yang terdengar gagap pun bisa dimengerti oleh intelijen itu.
"Tunggu sebentar lagi, Val Destavin."