
Hari-hari menyebalkan. Tidur bersama para kriminal, berebut bantal empuk dan menahan dinginnya ruangan. Dalam hati terus mengumpat merasakan masalah yang menimpa. Sungguh gila, bisakah dia bebas hari ini? Lalu memukuli polisi sialan itu. Saat memikirkan raut wajah Kevin rasanya Val ingin menonjok sesuatu.
Tuduhan yang tidak berkelas sama sekali, itulah yang selalu dia ucapkan dalam hati. Namun, bagaimana jika Alex mengungkap kelicikannya pada malam itu? Pecah, kepala Val rasanya ingin meledak. Dia termangu menatap awan dari sela-sela ventilasi udara. Mengutuk diri sendiri atas kecerobohannya. Baru kali ini seorang Val bisa ketahuan oleh pihak berwajib. Dia juga menyesal kenapa bisa merekrut orang bodoh seperti Alex.
Dua petugas memanggil Val karena mereka akan membawanya menuju persidangan. Dia pasrah, tapi masih berharap akan ada keajaiban. Ingin meminta bantuan kepada koleganya, tapi tidak ada akses untuk menyampaikannya. Kevin berdiri di samping pintu menunggu kehadiran Val.
"Oh, ayolah Jaksa Val, tunjukkan raut wajah santai mu seperti kemarin—kenapa kau terlihat tegang? Pertunjukan akan segera dimulai,"
"Jika tanganku tidak diborgol, aku akan menghancurkan wajahmu." bisik Val.
Kevin menanggapinya dengan santai. "Ayo, bawa dia."
"Tunggu, Pak Kevin." Seorang pria tua dengan pangkat Ajun Komisaris Dua menghampirinya.
"Ada yang perlu diluruskan sebelum Anda membawanya ke pengadilan," lanjutnya.
Surat penangguhan penahanan bagi Val terpampang dihadapan Kevin. Bagaikan disambar petir disiang hari, dia tidak percaya dengan apa yang mereka suguhkan. Kedua orang ini menunjukkan bukti pembelaan atas tidak terlibatnya Jaksa Val dengan kasus yang diajukan ke pengadilan. Hei, ini terasa aneh.
"Ini kesalahanpahaman yang terjadi antara kita dan Jaksa Val. Beliau tidak melakukan tindak kriminal atas tuduhan yang Anda tujukan, Pak." lugas Anton (Ajun Komisaris Dua).
"Kenalkan, saya Floryn. Pengacara dari Kantor Hukum Sempiternal, dan jelas tujuan saya kesini ingin membebaskan Jaksa Val atas kasusnya." Floryn menjabat tangan Kevin.
Kevin cukup bingung dengan pembelaan yang dilakukan para pendukung Val. Bukankah sebagian pihak telah mengetahui bahwa Jaksa Val terlibat dalam kasus pemalsuan identitas mayat?
"Tapi Pak, bagaimana dengan Alex? Bapak mengetahuinya sendiri bahwa dia menjadi saksi atas tindakan Jaksa Val? Dia telah melakukan pemalsuan identitas jasad seseorang," komplain Kevin.
Floryn meletakkan beberapa foto-foto Alex tengah berpesta narkoba di sebuah apartemen. Kevin terkejut melihatnya. Pengacara itu juga memberikan barang bukti lain seperti alat hisap dan beberapa bungkus ganja.
"Orang yang menjadi saksi Jaksa Val adalah seorang pecandu narkoba. Dia pengonsumsi obat-obatan berjenis psikotropika, semua yang dia ucapkan tak lain hanyalah halusinasinya semata."
"Tapi-,"
"Biarkan saksi pembela masuk," sela Anton. Disusul masuknya rekan Val yang ikut andil dalam penggalian makam Carrolyna.
"Dia Hedy, salah satu tim Jaksa Val yang ikut dalam penggalian makam malam itu. Pak Hedy, tolong ceritakan apa yang kalian lakukan malam itu?" imbuh Floryn.
Pria bernama Hedy sedikit melirik Val yang sedari tadi melototi nya. "Ya, saya salah satu tim dari Jaksa Val atas penggalian makam Carrolyna. Namun, saya meminta izin pulang karena istri saya melahirkan. Dan setelahnya saya tidak tahu apa yang terjadi,"
"Jaksa Val saat itu dalam tugas rahasianya untuk membongkar kasus kematian Carrolyna. Pihak keluarga korban lah yang memintanya untuk melakukan penyelidikan ini secara rahasia. Jika Anda kurang yakin dengan apa yang saya sampaikan, saya masih memiliki bukti pembelaan lain." jelas Floryn dan diakhiri dengan senyuman.
Mulutnya seperti di lakban, Kevin tidak tahu harus memprotes seperti apa lagi. Semua bukti pembelaan yang Floryn tunjukkan membuatnya membeku ditempat. Persetan dengan semua itu, kebohongan publik yang mereka ucapkan telah menipu banyak pihak. Penjelasan yang diberikan pun bertolak belakang dengan kelakuan Val. Entah koneksi atau backing-an dari jaksa itu mungkin sangat kuat, sehingga membuat Kevin kalah dalam tugasnya.
Tuduhannya terhadap Val adalah benar, tetapi publik menutupinya dengan mengatasnamakan pekerjaan rahasia yang dia lakukan. Kevin bukan orang tumpul, dia jauh lebih tahu gerak-gerik seseorang setelah melakukan kejahatan. Gelagat Val yang mencurigakan memang seharusnya diselidiki lebih jauh, dia yakin jaksa itu telah melakukan tindakan ilegal. Namun, bagaimana lagi orang yang menjadi kartu As-nya ternyata seorang bandar narkoba. Mungkinkah dia membela Alex dalam posisi seperti itu? Huh, itu gila. Sudah tidak ada yang percaya dengan pria halusinogen.
Kevin mengerti sesuatu, kemungkinan ada konspirasi besar dibalik semua ini. Ajun Komisaris dan Pengacara Floryn bukan orang yang bersih. Dia bersama Val adalah sekelompok penipu, Kevin lebih mempercayai Alex sebagai seorang penjahat daripada tunduk kepada manusia-manusia palsu ini. Sudah cukup dipermalukan, sekarang mereka pasti meragukan kredibilitasnya sebagai anggota intelijen. Niat ingin membongkar siapa Jaksa Val, justru dirinya yang terjerat tali. Untuk kali ini Kevin tidak beruntung.
Penampilan kacau Val dapat dialihkan dengan memanfaatkan kondisi jalanan berlumpur karena musim hujan. Karena kondisi pemakaman terletak didekat lereng perbukitan, jadi tanah di sekeliling jalan jatuh ke aspal. Sehingga alibinya tentang mobil mogok, lalu turun untuk memperbaikinya mampu menipu seseorang. Percikkan air yang menggenang di pinggir jalan menjadi alibi cerdas sebagai pengalihan fakta yang sesungguhnya.
"Siapa yang memperdulikan ku mengenai kasus ini?" Val berpikir keras, dia terkejut saat seorang pengacara membelanya.
Jika pengacara itu suruhan orang tuanya, Val rasa bukan. Mereka telah lama berpisah dan memiliki kehidupannya masing-masing. Bahkan tidak peduli di mana dan apa yang sekarang dia lakukan. Selama ini Val rasa tidak pernah memiliki kolega seorang pengacara. Mungkinkah orang lain yang mengirim wanita itu untuk membelanya? Ah entahlah, yang terpenting sekarang dia bebas.
Val sangat puas melihat wajah kecut Kevin saat dia dinyatakan bebas. Orang rendahan seperti Kevin tidak akan bisa menjatuhkannya dengan mudah, kalian lupa siapa Jaksa Val? Satu hal lagi yang membuatnya terkejut, dikabarkan jasad Carrolyna berada di liang lahat nya. Terdengar misterius, sedangkan mayat yang dibelinya justru menghilang. Begitulah yang dia dengar dari rekannya. Dan informasi itu dia peroleh dari pihak keluarga Carrolyna yang mengecek isi liang lahat sang anak. Semenjak mendengar kasus pencurian mayat dan kasus Jaksa Val, mereka ingin memastikan serta meluruskan masalah tersebut agar tidak kemana-mana. Demi kebaikan bersama.
"Jasad itu kembali dengan sendirinya—meskipun terdengar menakutkan, tapi jasad itu menyelamatkan ku dari fakta yang diketahui oleh Kevin sialan."
°°°
Jasmine melompat gembira ketika Deline memberinya kejutan berupa boneka Teddy seukuran tubuhnya. Hari ini pembelajaran perdananya bersama guru baru. Terlihat bersemangat dan antusias terpancar dari wajah imutnya. Segala perlengkapan sekolah telah Jasmine siapkan jauh sebelum jadwal pembelajaran dimulai. Anak itu selalu excited menunggu kedatangan sang kakak guru (hehe itu sebutan untuk Deline).
"Tidak masalah, Pak Kim. Dan maaf," balas Deline sambil terkekeh.
Pintu apartemen Yardan diketuk kasar oleh seorang pria berpakaian casual. Dia berteriak memanggil namanya. Sang pemilik rumah keluar untuk melihat siapa orang tidak ber-attitude di depan sana.
"Oh, jadi ini drama mu? Apa tanganmu benar-benar patah?" Dia adalah Darwin si pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Pria itu memukul lengan Yardan yang dibebat.
Yardan merintih kesakitan. "Maafkan saya Pak, tapi sungguh saya tidak beralasan."
"Lakukan sesukamu! Dan ini gaji mu selama satu Minggu, jangan kembali lagi ke perusahaan ku."
Mata Yardan membulat sempurna ketika sang atasan memecatnya. Dia memohon dengan menarik lengan baju Darwin. Namun, laki-laki itu justru mendapat perlakuan kasar darinya. Tamat sudah riwayat Yardan, setelah ini kemana lagi dia harus mencari pekerjaan. Dia bahkan tidak tahu sampai kapan tangannya akan sembuh. Bagaimana membayar Deline? Lalu kebutuhan sehari-harinya? Obat untuk Jasmine setiap minggunya? Oh, dada Yardan rasanya sesak, dia berjalan lemah menuju kursi.
Yardan mengusap wajahnya secara kasar. Kenapa manusia jaman sekarang begitu kejam, mereka bahkan tidak mau mendengarkan kejujuran orang lain. Apakah Darwin tidak percaya dengan kondisi tangannya yang retak, bukankah terpampang jelas didepan matanya? Yardan mendesah berat, dia sekarang bingung memikirkan hari-hari kedepannya.
"Iya benar. Volume kubus 1 dikurangi volume kubus 2, dan jawabannya 1.016 cm kubik. Jasmine pintar, kamu cepat tanggap."
"Terimakasih Kakak guru cantik," Jasmine malu-malu.
"Mari kita lanjutkan ke soal berikutnya,"
Aroma wangi menusuk indra penciuman Deline, bola matanya berputar mencari sumber aroma tersebut. Dia sempat terdiam karena wangi ini tidak asing baginya, tapi entah dimana. Dari rambut atau badan Jasmine tidak tercium wangi-wangian ini, dia semakin penasaran karena cukup mengganggunya.
"Pak Kim, apa Anda memakai perfume atau pewangi ruangan? Saya mencium wangi bunga," tanya Deline ketika Yardan lewat di sisinya.
Yardan mengerutkan dahi. Dia ikut mencium aroma yang dirasakan oleh Deline, tak salah lagi wangi-wangian ini berasal dari orang-orang berpakaian serba hitam yang selalu mengawasinya. Buru-buru dia mengunci pintu dan menutup semua jendela. Deline tidak mengerti apa yang terjadi, dia kebingungan melihat tingkah Yardan.
Yardan kembali menyusul mereka dengan mengisyaratkan untuk diam. "Jangan ada yang bersuara, mereka ada di sini."
Apa maksud 'mereka ada di sini', apakah sesuatu yang berhubungan dengan dunia luar? Jika yang dimaksud Yardan adalah makhluk halus, sudah pasti Deline bisa merasakan kehadirannya. Namun, sepertinya bukan. Gadis itu ikut saja apa yang diperintahkan Yardan karena dia tidak mengerti. Ditengah takutnya Jasmine yang dipeluk oleh sang ayah, tiba-tiba kenop pintu depan digerakkan oleh seseorang dari luar. Gerakkan itu terasa kuat dan kasar, mereka yang berada diluar berusaha membuka pintu.
Teror seperti ini telah terjadi selama kurang lebih 2 bulan. Semakin lama mereka semakin berani untuk lebih mendekati keluarga Yardan. Entah manusia seperti apa atau bahkan makhluk apa yang sedang mengintai keduanya, tapi jujur mereka menakutkan. Membawa rangkaian bunga putih yang dikalungkan di leher dan tangan mereka masing-masing. Sekumpulan orang berpakaian serba hitam dengan garis ungu pada bagian lengan.
Pernah suatu hari, Yardan yang penasaran dengan sekumpulan orang itu mencoba menegurnya, tetapi mereka bertindak nekat dengan berbondong-bondong mencekiknya. Dengan penuh perjuangan Yardan bisa melepaskan diri dan lari sejauh mungkin dari orang-orang misterius itu. Entah apa yang diinginkan dari bapak satu anak ini. Namun, yang terlintas dipikiran Yardan adalah mereka mengincar Jasmine. Teka-teki itu terjawab ketika dia sempat mendengar mereka mengucap nama anaknya.
"Mereka sudah pergi," ucap Yardan.
"Pak Kim, siapa mereka?" Deline penasaran.
"Jasmine, kamu pergi ke kamar sebentar ya? Ayah ingin membicarakan hal penting dengan Bu Guru Deline," anak itu menurut.
"Aku tidak tahu mereka darimana dan utusan siapa, tapi yang jelas jangan sekali-kali keluar untuk menemui orang-orang misterius itu. Kurang lebih selama dua bulan ini mereka terus melakukan teror kepada ku dan juga Jasmine." jelas Yardan.
"Nona, jika aku tidak dirumah dan kau mencium aroma wangi seperti tadi, aku mohon jangan keluar dan kunci semua pintu serta jendela."
Deline mengangguk, dia cukup terkejut mendengar penjelasan Yardan. "Tapi Pak Kim, kenapa Anda tidak melaporkannya kepada pihak kepolisian? Ini sebuah tindak kejahatan yang perlu dilaporkan agar kalian aman,"
"Mereka bukan manusia," sahutnya.
"A-apa?"
"Entah benar atau salah, tapi aku beropini mereka menginginkan Jasmine karena putriku lahir di malam putih. Menurut mitos yang beredar, anak yang lahir di malam itu menjadi dambaan bagi makhluk astral sebagai tumbal seseorang ketika melakukan perjanjian dengan iblis."
"Malam putih? Apa itu?"
"Nona tidak perlu tahu lebih jauh. Aku hanya bisa bercerita sedikit tentang hal ini, maaf."
Baiklah, ini sebuah privasi. Deline paham, tetapi sekarang pikirannya kemana-mana mencerna semua penjelasan dari Yardan. Jika mereka memang bukan manusia, tapi kenapa dia tidak merasakan tanda-tanda kehadirannya? Entahlah, Deline tidak tahu. Yang terpenting mulai sekarang, dia harus hati-hati terhadap mereka.