
"Dugaan kalian salah jika menyamakan kasus kematian ketiganya."
Val dan Tino berbalik badan dan menatap dokter dibelakangnya. Mereka bertiga tengah berunding untuk memecahkan kasus tersebut. Kemarin malam satreskrim itu telah menunjukkan hasil penelusuran Dariel. Dan itu sangat mengejutkan Val. Apa yang diselidikinya mengarah pada kasus lain. Ini tentang korban pembunuhan tanpa adanya campur tangan dari pesugihan atau tumbal.
Berkas yang tersimpan didalam flashdisk milik Dariel berisi hasil visum dari Dokter Ryo dan juga foto korek api lidi (bukti pembunuhan). Hasil visum menunjukkan perbedaan korban berdasarkan fakta yang keluar. Dia bukan Carrolyna, melainkan seorang gadis dibawah umur yang meninggal akibat pukulan dari seseorang, kemudian jasadnya dibakar untuk menutupi sidik jari si pelaku.
Dia bernama Luna—gadis yang sempat dinyatakan hilang oleh pihak kepolisian karena selama berbulan-bulan tidak ditemukan jasad atau tanda-tanda keberadaannya. Publik percaya bahwa gadis itu bernama Carrolyna, karena jasad mereka sama-sama gosong dan memiliki ciri tubuh yang sama. Val baru sadar jika kasus tersebut memiliki banyak perbedaan. Tubuh Carrolyna menghitam, bukan karena bekas dibakar. Berbeda dengan Luna, kulitnya melepuh karena luka bakar.
Val tidak tahu bagaimana bentuk tubuh Luna karena hanya Dariel dan dokter itu saja yang mengetahuinya. Kasus yang dia tangani justru jasad Carrolyna asli, jadi selama ini keduanya menyelidiki dua kasus yang dianggap sama. Namun, kenyataannya mereka meninggal karena motif dan pelaku yang berbeda. Sementara Val dan Tino sepakat bahwa kematian Jasmine dan Luna karena ulah pelaku yang sama. Mereka bisa beranggapan seperti itu karena sama-sama memiliki aroma almond.
Namun, bagi Gavin itu salah. Aroma mereka jelas sangat berbeda. Disinilah letak kesalahpahaman terjadi. Baiklah, dokter forensik itu akan menjelaskan supaya terdengar jelas. Berikut adalah rangkuman kasus dari ketiganya;
1. Hasil visum kasus Luna (Dariel Ver.)
•Luna Zoe.
•Ditemukan luka pukulan di kepala korban.
•Kondisi tubuh melepuh karena luka bakar.
•Membusuk.
•Memiliki aroma almond.
•Korban dianggap sebagai Carrolyna karena hampir memiliki ciri tubuh yang sama.
•Di nyatakan hilang.
•Mayatnya telah menjadi tulang-belulang. Berada dibawah jasad Carrolyna asli.
2. Rangkuman kasus Jasmine
•Membusuk.
•Meninggal karena terjatuh dari lantai 10.
•Memiliki aroma almond dan vanilla.
•Tumbal.
•Sekelompok pria misterius yang selalu meneror.
•Bunga Phlox.
•Pelaku mengenal ayah korban.
3. Kasus Carrolyna asli (Val Ver.)
•Tidak membusuk.
•Beraroma Citrus—Coconut dan Spice.
•Tubuh menghitam bukan karena luka bakar.
•Tidak ditemukan luka sama sekali (berdasarkan pengamatan Gavin).
•Belum diketahui penyebab kematiannya .
Sementara waktu mereka ingin mengesampingkan masalah Carrolyna. Jelas kasus tersebut menjadi tanda tanya besar untuk dipecahkan. Untuk masalah Jasmine—dia adalah tumbal dan pelaku sementara mengarah pada pemilik Hiraet Phloxier, sedangkan Luna—pelaku masih berusaha diburu oleh mereka.
"Wajar jika banyak yang terkecoh. Perbedaan aroma diantara mereka cukup tersirat sehingga mampu menipu banyak orang." ujar Gavin.
"Kau sangat hebat. Begitu teliti dan mampu membedakan bau-bauan se-detail ini." puji Tino.
Dokter itu tersenyum bangga. Dia merangkul Tino dan mengangkat sebelah alisnya dengan menatap Val.
"Cih, alay." cibir Val.
"Oh, iya, satu lagi. Kalian bisa dengan mudah menemukan pelaku diantara mereka yang memakai parfum Clematis." imbuh Gavin.
"Aku menduga sebuah kemungkinan," sahut Val. "Kematian Luna memang disengaja karena dia mengenal si pelaku pesugihan. Dengan tujuan ingin menjatuhkan orang tersebut."
Tino dan Gavin menatapnya.
"Ah, saya paham maksud Anda. Karena susah menemukan wangi yang sama seperti bunga Phlox, akhirnya si pelaku-,"
"Si pelaku menggantinya dengan parfum tersebut. Ini alibi yang mampu mengecoh banyak pihak. Karena tidak semua orang memiliki memori kuat untuk membedakan bau-bauan." sela Val.
Gavin menjentikkan jarinya. "Iya, contohnya seperti kalian. Payah sekali membedakan wewangian."
Manusia dapat mengenali banyak aroma termasuk membedakan bau busuk dan wewangian bergantung pada memori aroma yang disimpan dan persepsi terhadap bau tersebut di bagian otak. Gavin termasuk orang yang memiliki daya ingat kuat, jadi tepat sekali jika mengajaknya berkerjasama dalam kasus ini. Wajar saja jika Val menganggap wangi mereka sama, karena bunga Phlox dan Clematis memiliki aroma yang—mendekati kata 'sama'. Sangat sulit untuk membedakannya.
"Mungkin pria bertopeng yang berusaha membunuh ku adalah orang yang sama dengan pembunuhan Luna." imbuh Tino.
"Itu benar. Sekarang yang terpenting kita telah mengantongi bukti dan penjelasan yang kuat." sahut Val.
Tiga pria hebat sedang bekerjasama memecahkan kasus rumit dan runyam. Sungguh diluar ekspektasi. Permasalahan utama adalah menguak kematian Carrolyna, tapi justru sekarang dihadapkan dengan kasus kematian Luna dan Jasmine. Mereka membagi tugas untuk menyelidiki masing-masing pelaku sementara. Val akan pergi menemui pemilik Hiraet Phloxier bernama Zoelva, sedangkan Kevin akan ditugaskan untuk menyelidiki pelaku pembunuhan terhadap Luna.
"Lalu bagaimana dengan saya?" tanya Tino.
"Kau disini saja. Lukamu belum kering—biarkan aku dan Kevin yang bertindak."
"Tapi-,"
Gavin menepuk pundaknya. "Di sini saja. Kita bisa main gaple sambil menunggu mereka."
"Apa?" Tino terkejut si dokter mengajaknya bermain judi. "Tidak bisa. Pekerjaanku masih banyak."
Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Mereka juga berusaha mengungkap siapa pelaku pembunuhan terhadap Dokter Ryo. Dan siapa pria bertopeng itu? Anggapan Tino dan Val mengatakan bahwa dia adalah orang yang sama. Tujuannya ingin membunuh satreskrim itu karena dia memiliki bukti yang berhubungan dengan kematian Luna.
°°°
Seorang laki-laki menutup pintu kamar sang istri secara kasar. Emma menangis tersedu-sedu ketika suaminya ingin menikah lagi dengan seorang gadis muda. Wanita itu merangkak keatas ranjang putranya yang tengah terbaring kaku. Suami Emma bersikap kasar dan egois terhadapnya. Dia tidak peduli dengan kondisi anaknya yang telah meninggal dunia.
Mereka baru saja bertengkar hebat mengenai kematian sang anak dan juga keinginan suaminya yang ingin menikah lagi. Dia memang menikmati kekayaan yang berlimpah, tapi tidak dengan wujud kesetiaan dari sang suami. Emma tidak pernah menyangka jika orang yang paling dia sayang begitu tega menduakan nya.
"Revan, maafkan Mama." Dia menangis.
Ditengah rasa kesedihan dan sakit yang sedang melanda hatinya, mendadak suara teriakan seorang laki-laki terdengar ketelinga Emma. Berasal dari lantai satu dan mengucapkan kata-kata kasar terhadapnya. Laki-laki itu mendobrak pintu—dadanya terlihat naik turun sedang menahan amarah. Tanpa basa-basi dia menjambak rambut mantan istrinya, kemudian mencekiknya hingga kedua bola mata Emma seperti ingin keluar dari tempatnya.
"Kau kan penyebab kematian putriku! Katakan, bangsat. Kau melakukan pesugihan sialan itu kan?"
"Ya-rdan, t-olo-ng le-,"
Mantan istri Yardan adalah pelaku pesugihan. Dia dan suaminya adalah dalang di balik semua kejadian ini. Emma mengerti hal-hal seperti itu karena sempat mendapat tawaran dari seorang paranormal yang dikenalnya di masa silam. Awalnya dia berniat mengajak Yardan untuk melakukan perjanjian dengan setan. Semenjak berpisah dari keluarga dan menjalani rumah tangga, ekonomi mereka begitu sulit. Emma kemudian mengusulkannya kepada sang suami, tapi Yardan menolaknya mentah-mentah.
Dari hal itu, Emma merasa kecewa dengannya. Dia menganggap bahwa Yardan adalah manusia sok suci, padahal keadaan mereka benar-benar miksin dan membutuhkan banyak uang untuk melangsungkan hidup. Setelah mereka berpisah, Emma menikah lagi dengan seorang anak pengusaha. Dia berasal dari keluarga kaya, tapi setelah perusahaan sang ayah bangkrut mereka mengalami kemiskinan. Setiap hari pasutri itu bertengkar mempermasalahkan uang dan uang. Dan pada akhirnya didalam benak Emma terbersit kan untuk melakukan pesugihan.
Sang suami sempat menolak karena dianggap terlalu berisiko. Namun, setelah dipikir-pikir tidak ada salahnya untuk mencoba. Mereka dalam kondisi terpuruk dari segi ekonomi. Sama-sama gila harta dan gengsi—mampu membutakan keduanya untuk melakukan hal sesat. Syarat demi syarat telah dilakukan dengan baik. Hari demi hari kekayaan mereka semakin berlimpah. Mampu membeli rumah, apartemen, mobil dan segala kebutuhan duniawi lainnya.
"Berapa kali ku peringatkan kepadamu untuk tidak melakukan kegiatan sesat seperti ini, hm?" Yardan mencengkeram dagunya secara kasar.
"Kenapa kau tega melakukan ini kepadanya, Emma! Dimana hati nurani mu sebagai seorang ibu? Kau sungguh bajingan!" teriaknya penuh frustasi.
Kedatangan Yardan berselisih jalan dengan suami Emma. Dia menyelinap dari tembok belakang dan masuk secara lancang kedalam rumah sebesar itu. Menghajar para pelayan yang berusaha menghentikannya. Tidak peduli jika mereka mati atau tidak. Rencana ini telah Yardan pikirkan selama berhari-hari. Mencari alamat rumah Emma begitu sulit. Berkeliling kesana-kemari dan menelusuri sisa-sisa keberadaannya dari mulut ke mulut. Dan sekarang hari yang tepat untuk memberi pelajaran atas kematian putrinya.
"Maaf-,"
"Maaf kau bilang? Apa ucapan mu itu bisa mengembalikan nyawa Jasmine? Tidak, nyawa dibayar dengan nyawa. Aku tidak akan memaafkan mu begitu saja, bajingan!"
"Sekarang katakan dimana tempatmu melakukan ritual gila itu! Katakan!" Yardan berteriak didepan wajahnya.
Karena tidak mendapat jawaban dari Emma, dia memutuskan untuk mencari sendiri dan berkeliling kesana-kemari. Memasuki ruangan satu ke ruangan lain. Sebuah pintu bercat coklat tua menjadi tempat terakhir untuk dikunjungi. Ruangan bernuansa seram terpampang dihadapan Yardan. Bunga Phlox berbagai macam tersebar dilantai dan beberapa wadah berisi cairan merah. Lilin berwarna hitam menjadi penerang ruangan itu. Diatas meja terdapat potongan tubuh manusia yang mulai membusuk.
"Tidak, jangan lakukan itu."
Yardan tidak peduli dengan semua itu—menerebos masuk dan menghancurkan segalanya. Sementara itu Emma berteriak-teriak dan memohon kepadanya. Lilin hitam yang masih menyala jatuh diatas kain berwarna merah—api mulai merambat dan asap mengepul. Yardan keluar dari sana, dia berteriak keras dan mengucapkan segala kata-kata kotor—menghina Emma beserta iblis yang berkerjasama dengannya. Tidak peduli jika makhluk itu marah atau mengamuk kepadanya. Meskipun tindakan ini tidak ada gunanya, tapi yang terpenting Yardan sudah meluapkan amarahnya.
"Katakan kepada suamimu atau siapapun itu—bilang kepada mereka bahwa aku yang menghancurkan tempat pemujaan ini. Terserah ingin melaporkan atau berniat menghabisi ku, aku tidak peduli."
"Ini semua tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan tewasnya Jasmine. Apa kau paham, bangsat?"
Yardan berlalu sambil menangis keras. Teringat kematian putrinya. Sangat menyakitkan bagi seorang ayah harus kehilangan anak semata wayangnya. Yardan belum mengikhlaskan kepergian Jasmine. Setiap bayangan sang anak berputar-putar dipikiran—itu terasa sangat sakit dan berat. Emma benar-benar seorang wanita brengsek. Menjadikan anak kandungnya sebagai tumbal demi urusan duniawi nya. Kenapa harus Jasmine? Kenapa harus anak malang itu? Yardan berteriak keras sambil menatap langit. Dia terduduk lemas dihalaman rumah mantan istrinya.