Phoenix: Rules Of The Harem

Phoenix: Rules Of The Harem
Bab 8: Pernikahan Pertama, Sepasang Suami Istri Yang Menawan



Di malam yang indah dengan bulan purnama dan para bintang yang bersinar terang, di dalam Istana Phoenix, Pendamping Utama Kekaisaran Hong Yu Wen berjalan dengan anggun menuju kamar sang Permaisuri Agung. Sesampainya di sana, Yu Wen tersenyum lembut. Dilihatnya sang istri sekaligus wanita paling berkuasa dan terhormat di Kekaisaran Shao duduk bersandar di tengah peraduannya.


"Yang Mulia...."


Fang Hua menoleh ke arah Yu Wen, dia tersenyum tipis. "Main Consort Hong, ternyata kamu sudah datang."


"Benar, Yang Mulia. Ada yang bisa saya lakukan untuk anda malam ini?" Yu Wen berjalan mendekat, dengan sopan dia menunduk memberi penghormatan sebelum berakhir duduk di samping Fang Hua.


Fang Hua menyentuh pipi Yu Wen dan mengelusnya dengan lembut. "Seperti biasa, aku membutuhkanmu. Selalu...."


Yu Wen menatap wajah tegas Fang Hua yang menawan dan tersenyum kecil, tak lama kemudian dia mengalihkan pandangannya. Ekspresinya terlihat sedikit tidak baik, Yu Wen terlihat gelisah.


"Ada apa? Mengapa wajahmu terlihat tidak sebaik biasanya? Apa yang sedang kamu pikirkan?"


Yu Wen tidak menjawab, dalam pikirannya dia merasa tidak yakin akan sesuatu. Besok putri kecilnya yang manis akan menikah dan Yu Wen merasa takut untuk itu, dengan kondisi putri bunga kecilnya saat ini, dia sangat meragukan hal itu. "Yang Mulia, mengenai pernikahan Mei'er, apa itu tidak masalah?"


Secara tiba-tiba Fang Hua membalik posisi mereka dan membaringkan Yu Wen di atas ranjangnya kemudian dia menindihnya. "Ah! Yang Mulia! Anda membuat saya terkejut!"


"Suamiku, apa yang kamu ragukan dalam hal itu? Ling Mei telah berada dalam usia yang cukup untuk pernikahan dan adalah hal yang wajar jika aku memberikan dekrit itu untuknya, kamu jangan terlalu khawatir."


Satu per satu pakaian mulai terlepas dari tubuh Yu Wen. Menatapnya dengan lekat, Fang Hua mendekatkan wajahnya dan menggesek pipi Yu Wen dengan hidungnya hingga turun ke lehernya. Dengan lembut Fang Hua mengecup leher itu dan menggigitnya, memberikan tanda berwarna merah yang mungkin tidak akan hilang dalam beberapa hari ke depan. Yu Wen hanya dapat memejamkan matanya dan mengalungkan kedua tangannya ke leher sang Phoenix Kekaisaran, perlahan suara-suara lirih keluar dari mulutnya.


"Sejak aku masih seorang Putri Mahkota, bukankah sudah kukatakan padamu untuk jangan terlalu formal padaku, Wen'er?"


"Uhm, Yang Mulia! Anda adalah Permaisuri Agung, saya tidak dapat melakukannya, itu bukanlah hal yang sopan."


"Kalau begitu, bicaralah dengan santai saat kita sedang berdua. Sekarang panggil namaku! Panggil namaku, Wen'er!" Fang Hua berkata dengan penuh dominasi.


Yu Wen mengerutkan alisnya, merasakan rasa yang luar biasa ketika titik terdalamnya disentuh dengan baik. Dia hampir tidak bisa mengatakannya. "Ahh.... Mmhh... Fang Hua! Fang Hua!"


Fang Hua tersenyum penuh kepuasan dengan mata yang berkilat tajam. "Bagus, aku menyukainya."


Mereka melakukannya, menyatu dalam keheningan malam dengan cahaya bulan yang indah sebagai sebagai saksinya. Pendamping Utama sekaligus sang Bulan Kekaisaran itu hampir terlarut dalam godaan yang memabukkan, namun dengan cepat dia menahan Fang Hua dengan tatapan khawatir yang kentara. "Tapi, Fang Hua, apa anda yakin Mei'er dapat menjalaninya dengan baik?"


Fang Hua tersenyum miring, dia mengelus tubuh bagian atas Yu Wen dengan mata yang berkilat misterius. "Tentu saja, dalam hal itu saya sangat yakin. Mei'er kita benar-benar akan menjalani semua yang kuberikan dengan baik."


.


.


Di tempat yang berbeda, Yun Rui menatap keindahan langit malam dari jendela bulat kamarnya yang ada di Paviliun Anggrek. Tangannya bergerak mengambil sebuah kotak kayu kecil yang panjang dan membukanya dengan hati-hati. Ketika dia melihatnya, sebuah tusuk rambut emas berbentuk phoenix dengan ruby merah yang berkilau berada di dalamnya. Mengusapnya dengan perlahan, Yun Rui menemukan ingatan masa lalu yang begitu manis ketika tusuk rambut cantik itu diberikan kepadanya.


Delapan tahun yang lalu, ketika saudara kembar Shao, putri keempat dan pangeran kelima tengah merayakan hari kelahiran mereka, Wei Yun Rui datang ke Kekaisaran Shao bersama dengan kakak pertamanya Wei Qiong Lin dan jenderal besar Kerajaan Wei sebagai utusan kerajaan untuk memenuhi undangan kekaisaran. Ketika perayaan selesai dan pemberian upeti telah diberikan, Yun Rui kembali bertemu dengan Ling Mei. Dengan ketegasan yang terlihat di usia muda, Ling Mei kecil mendekat padanya. Gadis kecil itu tersenyum manis dengan tatapan mata yang hangat, dia memberi banyak rasa suka hingga Yun Rui berpikir dia dapat terbang ke surga dengan semua perasaan itu.


"Rui Gege!"


Mendengar panggilan itu Yun Rui terpaku, tapi dalam hatinya dia merasakan rasa senang luar biasa. "Yang Mulia? .... a-ah! Maksud saya, memberi salam kepada Bintang Keempat Kekaisaran Shao, semoga Yang Mulia selalu dipenuhi oleh kebahagiaan."


"Kamu terlalu formal, Rui Gege. Mengenai kedatangan saya pada anda, saya ingin memberikan sesuatu untukmu dan juga .... aku merindukanmu." Ling Mei menatap Yun Rui lembut, ada binar kebahagiaan yang terlihat di mata sang bintang kekaisaran.


Ketika rona merah dalam wajahnya menyebar dengan cepat, Yun Rui tidak dapat mengatakan apa pun. Dia merasakan panas dalam wajah dan telinganya, begitu hangat namun tak menyakitkan. Dengan pupil mata yang melebar, dia berusaha menyembunyikan debaran jantungnya yang begitu keras dan cepat. Menggigit bibir bawahnya dengan kencang, Yun Rui berpikir bahwa dia juga harus mengatakannya.


"Yang Mulia, saya .... saya juga merindukan anda." dengan segera Yun Rui mengalihkan pandangannya, dia merasakan malu yang luar biasa ketika menatap cinta pertamanya. Melihat hal itu Ling Mei tak dapat menyembunyikan lengkungan senyum di wajahnya.


"Untuk itu, terima kasih karena telah merindukanku juga. Oh! Mengenai barang yang ingin kuberikan padamu...." Ling Mei meraih tangan kanan Yun Rui dan meletakkan sebuah kotak kayu kecil yang panjang di atasnya. "Kamu bisa membukanya jika kamu merasa penasaran dengan isinya."


Yun Rui menatap lekat kotak kayu itu, ketika rasa penasaran mulai membuncah dalam hatinya dia memilih untuk membukanya. Sebuah tusuk rambut emas berbentuk phoenix dengan ruby merah yang indah dan berkilau diletakkan dengan rapi di dalamnya. Yun Rui mendongak dengan cepat, memandang sang putri sah kekaisaran dengan mata membulat terkejut.


"Yang Mulia, ini...."


Ling Mei meraih helaian rambut sehitam malam milik Yun Rui, menggenggamnya dengan lembut dan menciumnya. "Karena kita telah berjanji untuk pernikahan di masa depan, aku ingin memberikan benda istimewa sebagai hadiah dariku untukmu. Saat hari pernikahan kita nanti, saya berharap anda dapat memakai tusuk rambut phoenix ini di rambutmu. Itu akan membuktikan bahwa kamu adalah milikku."


Yun Rui tersenyum dengan penuh kebahagiaan. Tusuk rambut itu, dia menyukainya. Ling Mei telah mengatakan dengan sangat jelas bahwa Yun Rui adalah miliknya dan sejak saat itu Wei Yun Rui remaja benar-benar memberikan seluruh hatinya pada sang calon permaisuri agung masa depan itu.


.............................


"Yang Mulia, saya telah menyiapkan semuanya. Anda harus segera bangun dan bersiap untuk pernikahan." Shu Lian berjalan masuk ke kamar Yun Rui dengan membawa pakaian pernikahan di tangannya, pelayan pria itu terlihat cukup sibuk saat ini.


"Yang Mulia—" kedua mata Shu Lian melotot dengan mulutnya yang terbuka karena terkejut, tak lama setelah itu raut wajahnya menjadi panik.


Bukannya menemukan pemandangan sang tuan yang sebentar lagi akan menikah dengan mata yang masih setengah terbuka dan sedang duduk di peraduannya, Shu Lian justru menemukan kamar milik Yun Rui yang kosong dan sedikit berantakan. Dia cukup mengerti dengan kebiasaan Yun Rui karena satu-satunya pangeran sah Kerajaan Wei itu dikenal dengan sifatnya yang penuh semangat dan sedikit nakal. Pria menawan dengan mata semerah darah itu akan menyendiri di tempat yang cukup tersembunyi ketika merasa terlalu senang maupun terlalu sedih.


Mengerti akan hal itu, Shu Lian dengan cepat memanggil beberapa pelayan yang ada di Paviliun Anggrek, kebanyakan dari mereka merupakan pelayan yang dibawa oleh Kerajaan Wei untuk melayani tuan mereka di Kekaisaran Shao. Akan sangat buruk jika orang-orang kekaisaran mengetahui sifat unik dari Pangeran Kedua Wei meskipun Shu Lian yakin bahwa rumor tersebut pasti telah tersebar luas di Kekaisaran Shao.


"Cepat! Cepat! Cari ke semua tempat sampai kalian menemukannya! Kita harus menemukan Yang Mulia sebelum upacara pernikahan dimulai!" Shu Lian berseru dengan panik, pikirannya terus bekerja untuk mencari tempat-tempat yang mungkin saja digunakan oleh Yun Rui untuk bersembunyi.


Melihat semua pelayan yang mulai bergerak mencari Yun Rui, Shu Lian memilih berlari mencari tuannya ke taman belakang paviliun.


"Yang Mulia!"


"Yang Mulia Pangeran Kedua!"


Shu Lian mengusap wajahnya kasar, terlihat frustasi karena tak menemukan keberadaan Yun Rui. Pelayan itu kemudian berdiri di antara pohon-pohon besar yang tak jauh dari taman dan menghela napas panjang. Shu Lian mendongakkan kepalanya ke atas, mencoba memikirkan tempat yang mungkin digunakan oleh Yun Rui untuk bersembunyi. Namun tak lama setelah itu, mata Shu Lian membulat, tepat di atasnya sang tuan, Wei Yun Rui berbaring di atas dahan pohon dengan punggungnya yang bersandar di batang pohon yang besar.


"Aiyo! Yang Mulia! Apa yang anda lakukan di sana?!"


"Karena terlalu senang aku tak bisa tidur semalaman dan memutuskan untuk pergi ke sini. Shu Lian, rasanya aku tak dapat percaya bahwa pernikahanku dengan Putri Keempat benar-benar terjadi."


Shu Lian menghela napas lega setelah dilanda kepanikan yang berarti, pelayan muda itu tersenyum melihat kebahagiaan tuannya. Dia bahkan dapat melihat senyuman ceria yang terulas di wajah Yun Rui yang cantik.


"Saya mengerti, Yang Mulia. Tapi, untuk sekarang anda harus turun dan bersiap untuk upacara pernikahan. Kita tidak memiliki banyak waktu yang tersisa, anda harus berada di dalam sedan pernikahan dan berangkat ke kediaman Putri Keempat tepat waktu."


Wei Yun Rui menyetujuinya, sesuai dengan yang dikatakan oleh Shu Lian, pangeran muda itu turun dari pohon tempatnya berbaring dan berjalan kembali menuju paviliun sementaranya yang telah dihias sedemikian rupa dengan ornamen-ornamen merah pernikahan khas Tiongkok Kuno.


Tak membutuhkan waktu yang lama untuk Yun Rui mempersiapkan penampilannya. Dengan hanfu khusus dan jubah pernikahan berwarna merah yang dipenuhi sulaman phoenix emas di setiap sudutnya, juga rambut sehitam malamnya yang sebagian digulung sedikit ke atas dengan rapi, dan wajah tampan menjurus cantik yang telah dirias dengan baik oleh Shu Lian. Yun Rui benar-benar terlihat sebagai pengantin pria paling indah dan bersinar di antara semua pengantin pria Kekaisaran Shao sepanjang tahun ini.


"Sudah selesai, Yang Mulia. Anda benar-benar sangat indah dan tampan, mungkin anda adalah pengantin pria paling menawan sepanjang tahun ini." Shu Lian berucap dengan semangat, tuannya benar-benar sangat bersinar hingga dia tak dapat berkata-kata.


"Terima kasih, Shu Lian." kemudian tangan Yun Rui bergerak mengambil sebuah kotak kayu kecil yang panjang dan membawanya di atas telapak tangan kanannya. "Bisakah kamu memasangkan ini untukku, Shu Lian?"


Shu Lian membukanya dan dia terkejut, sebuah tusuk rambut emas berbentuk phoenix dengan hiasan ruby merah yang sangat indah terlihat di depan matanya.


"Yang Mulia, ini...."


Wei Yun Rui tersenyum. "Putri Keempat memberikannya padaku delapan tahun yang lalu, saat itu dia berkata jika tusuk rambut itu adalah bukti bahwa aku adalah miliknya."


"Saya akan memasangkannya dengan hati-hati untuk anda."


Itu telah selesai ketika semua pernak-pernik dan aksesoris khas pernikahan telah terpasang sempurna di tubuh Yun Rui. Shu Lian membawa sebuah kerudung pengantin di tangannya, sebagai sentuhan terakhir, kerudung pengantin akan dipasangkan di kepala sang pengantin pria dan akan dibuka oleh pengantin wanita di malam pertama mereka.


"Sedan pernikahan yang dikirim Putri Keempat sudah ada di pintu depan Aula Bintang. Kita harus membantu pengantin pria memasuki kursi sedan pengantin." Tian Zhi berkata dengan lembut, dia memandang kakak keduanya yang telah siap untuk dikirim ke kediaman baru Putri Keempat.


Bahkan jika sudut hatinya berdenyut nyeri, Tian Zhi tak dapat melakukan apa-apa, dia hanya terus menahannya untuk dirinya sendiri. Seorang sipir kemudian memasuki pintu dan mengambil kerudung merah yang dibawa Shu Lian, lalu membantu Yun Rui untuk menutupi kepalanya. Beberapa saat kemudian, Yun Rui dikelilingi oleh kerumunan yang mengawalnya keluar dari Paviliun Anggrek. Berjalan menuju Aula Bintang yang berada satu tempat dengan Paviliun Anggrek, Yun Rui terdiam dengan perasaan yang gelisah, dia berpikir apa ini akan baik-baik saja? Kemudian dia menyadari meskipun Ling Mei tak mengingatnya atau bahkan tak lagi mencintainya, Yun Rui tetap akan memiliki perasaan yang sama untuknya.


Setelah berjalan di dalam Aula Bintang, ledakan suara petasan meletus yang terdengar keras dan meriah memenuhi pendengaran semua orang.


"Mempelai pria, dimohon untuk memasuki kursi sedan!"


Mendengar instruksi itu, Wei Yun Rui memasuki sedan pernikahan dan dibawa ke arah kediaman resmi putri keempat. Diam-diam Yun Rui menurunkan kerudungnya dan menghela napas gugup, pada saat ini, prosesi pengantin selanjutnya adalah berjalan di sepanjang jalan dan pasar di ibu kota. Karena kediaman Putri Keempat Shao Ling Mei berada di utara ibu kota Xiaoyang sementara Istana Kekaisaran berada di selatan ibu kota, kursi sedan pernikahan harus melakukan perjalanan melewati hampir seluruh kota untuk mencapai tujuannya.


Segera, ketika sedan pengantin telah tiba di depan pintu kediaman putri keempat, Wei Yun Rui mengintip diam-diam orang-orang yang berdiri di luar pintu. Dia memegang kerudung merah dan kembali memakainya untuk menutupi kepala dan tubuh bagian atasnya, kemudian menunggu seorang sipir untuk membantunya keluar dari sedan pengantin. Dibantu oleh Shu Lian, Yun Rui berjalan menuju ke arah pintu kediaman yang dipenuhi oleh beberapa pangeran dan putri kekaisaran yang telah berdiri dan menunggu kedatangannya sejak tadi. Terlihat Putri Mahkota Shao Mu Lan, Putri Kedua Shao Mu Rong, dua bungsu Pangeran Kelima Shao Qiao Feng dan Pangeran Keenam Shao Xu Cheng telah tiba. Hanya Putri Ketiga Shao Ming Fei yang tidak hadir dalam kelompok tamu penting tersebut, kabarnya putri ketiga sangat membenci adiknya hingga tak ingin datang di hari pernikahan resmi putri keempat.


Kembali setelah rangkaian upacara pernikahan telah dilakukan oleh Shao Ling Mei dan Wei Yun Rui, pada malam harinya dilakukan upacara malam pertama yang cukup mengkhawatirkan. Melihat sifat Ling Mei yang menyerupai idiot, semua orang yakin bahwa tidak akan ada malam pertama yang baik untuk pasangan pengantin baru. Bahkan ketika Shao Ling Mei telah membuka kerudung merah pengantin milik Yun Rui, lalu mereka bertukar secangkir arak dan meminumnya sesuai dengan tradisi, Ling Mei hanya memainkan pakaiannya dan mengatakan:


"Ayah berkata jika aku telah menikah, maka aku harus memberikan diriku untuk pasanganku dan pengantinku akan memberikan dirinya untukku. Tapi, aku tetap tidak mengerti dengan ucapan ayah. Rui Gege, setelah ini bisakah kita tidur saja?"


Yun Rui tersenyum dengan penuh kelembutan, dia memahami kondisi Ling Mei dan dia mengerti. "Tentu saja, sesuai keinginan anda, Yang Mulia."


Seperti yang telah diperkirakan, tidak ada malam pertama yang baik dalam pernikahan seorang putri sampah yang cacat mental. Mereka hanya tidur dengan Ling Mei yang berbalik dan memunggungi Yun Rui yang menatapnya sendu dirinya dari balik punggung belakangnya.