
Di dalam kamarnya, di Istana Matahari, Shao Mu Lan menatap heran ke arah pelayannya. Dengan tetap pada posisinya, berdiri angkuh dengan kedua tangannya yang merentang anggun, Mu Lan membiarkan para pelayannya yang lain menata pakaiannya dan menghias rambutnya. "Ibu Permaisuri memanggil semua orang ke Aula Utama?"
"Shì. Permaisuri Agung telah memanggil semua putri kekaisaran, Guru Kekaisaran, para pejabat dan menteri, kemudian para tamu kekaisaran dari Kerajaan Wei untuk berada di Aula Utama pagi ini, Yang Mulia."
Shao Mu Lan mengerutkan alisnya ketika mendengar jawaban dari pelayannya. Ini terlalu banyak, hal yang sangat jarang terjadi bagi Permaisuri Agung untuk memanggil begitu banyak orang dalam pertemuan pagi. Melihat dari banyaknya peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini, mungkinkah.....
Mu Lan menghela napas dengan wajah yang masih dingin, sepertinya itu bukan sesuatu yang bagus untuknya. "Aku mengerti, pergilah!"
Pelayan itu hanya mengangguk, kemudian membungkuk hormat sebelum berjalan meninggalkan sang tuan. Mu Lan berbalik, menatap bayangan penampilannya di dalam cermin. Merasa telah cukup, Mu Lan mengangkat satu tangannya, memberi isyarat pada para pelayannya untuk pergi dari kamarnya. Mu Lan mengerti, sekali lagi ibunya tidak berpihak kepadanya. Dalam hatinya dia tertawa, hal seperti ini dia sudah biasa mendapatkannya. Mu Lan adalah putri dari Selir Agung Kekaisaran yang tidak dicintai, ayahnya itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan sang Bulan Kekaisaran, pendamping resmi dari Permaisuri Agung Shao yang dicintai.
(Sedikit informasi mengenai Kekaisaran Shao: menurut penamaan astronomi, masing-masing keluarga kekaisaran digambarkan sebagai benda-benda langit dan memiliki penamaan yang berbeda-beda dilihat dari gelar dan posisinya. Matahari untuk **p**ermaisuri agung, bulan untuk pendamping utama kekaisaran, bintang untuk para putri dan pangeran kekaisaran, dan khusus untuk putri mahkota biasanya disebut sebagai calon matahari kekaisaran atau matahari muda kekaisaran karena dia dianggap sebagai calon penerus takhta selanjutnya. Namun, panggilan Matahari Kekaisaran untuk Permaisuri Agung jarang digunakan karena Permaisuri Agung lebih sering digambarkan sebagai Sang Phoenix Yang Agung).
Imperial Main Consort* Hong Yu Wen adalah alasan utama adik keempatnya, Shao Ling Mei begitu disukai dan disayangi oleh ibunya bahkan dengan penyakit cacat mental yang dia miliki. Sang Bulan Kekaisaran, Imperial Main Consort Hong Yu Wen berada dalam pernikahan yang sah bersama dengan Permaisuri Agung Shao Fang Hua yang saat itu masih berada dalam posisi putri mahkota karena dekrit pernikahan yang diberikan oleh Nenek Kekaisaran, sang Purna Permaisuri. Namun, seperti sebuah takdir langit, baru diketahui jika Pendamping Utama Kekaisaran dan Permaisuri Agung memiliki perasaan cinta di hati mereka masing-masing.
(Imperial Main Consort: dapat juga disebut sebagai Pendamping Utama Kekaisaran, sang Bulan Kekaisaran atau sang Naga Kekaisaran merupakan suami resmi dari seorang Permaisuri Agung yang menikah secara sah dan besar-besaran, biasanya pernikahan dilakukan saat calon permaisuri selanjutnya masih berada dalam posisi putri mahkota dan belum menaiki takhta).
Bahkan setelah Permaisuri Agung naik takhta dan mengambil selir untuk haremnya atas permintaan para pejabat istana, Pendamping Utama Kekaisaran Hong Yu Wen tetaplah menjadi satu-satunya pria yang disukai oleh Permaisuri Agung Shao Fang Hua. Neneknya dari pihak ayah, Perdana Menteri Gu memasukkan ayahnya, Gu Yun He yang saat itu memasuki usia untuk pernikahan ke dalam harem istana sebagai selir. Dengan bantuan neneknya yang adalah seorang Perdana Menteri Kekaisaran, ayah Shao Mu Lan, Gu Yun He dapat naik dari posisi Selir Resmi Tinggi Tingkat Tiga menjadi Selir Agung Kekaisaran atau Imperial Noble Consort* yang berada satu tingkat di bawah Pendamping Utama Kekaisaran.
(Imperial Noble Consort: dapat juga disebut sebagai Selir Agung Kekaisaran atau Tuan Kekaisaran, berada satu tingkat di bawah Pendamping Utama Kekaisaran. Dalam posisinya, gelar Imperial Noble Consort hanya dapat dimiliki oleh dua selir saja di dalam harem. Cara termudah untuk mendapatkan gelar tersebut dengan mendapatkan kasih sayang permaisuri ataupun selir tersebut telah memberikan keturunan untuk permaisuri).
Mu Lan berbalik sekali lagi, dia tersenyum tipis dengan mata yang dingin. Berjalan dengan anggun keluar dari istananya dengan banyak pelayan di belakangnya. Rasa penasaran membumbung tinggi seperti awan di langit, Mu Lan ingin melihat apa yang akan dilakukan ibunya kali ini. Tidak masalah jika Permaisuri Agung tak memihaknya, itu bukanlah hal yang sulit. Dia bukanlah ayahnya yang selalu mengharapkan kasih sayang dan cinta permaisuri yang dingin. Mu Lan telah membangun kekuatannya sendiri karena kali ini Mu Lan benar-benar menginginkannya, takhta itu. Dan untuk mendapatkannya, dia akan melakukan apapun termasuk menyingkirkan sang penerus yang sesungguhnya.
.................
Keramaian terlihat dari luar area Aula Utama, para pejabat istana terlihat berdiri di depan halaman aula dengan ekspresi keheranan. Mereka berdiskusi satu sama lain dengan raut penuh tanya, dalam semua hal yang terjadi, apa yang membuat Permaisuri Agung memberikan perintah langka seperti ini?
"Dari dua kemungkinan baik dan buruk. Perdana Menteri Gu, apa anda telah mengetahui alasan Permaisuri Agung mengumpulkan kita semua?" di antara para kerumunan menteri yang hadir, Menteri Personalia Jin Dai Yu, bertanya kepada Gu Shi Xian yang seorang perdana menteri kekaisaran sekaligus ibu dari salah satu selir agung kekaisaran saat ini.
Melihat ekspresi diam Perdana Menteri Gu, Menteri Ritus Xiao Li Jing mengangguk membenarkan dan menimpali ucapan Menteri Personalia Jin. "Benar! Itu sangat aneh ketika Yang Mulia Permaisuri Agung memanggil dan mengumpulkan semua orang dengan para putri dan tamu kekaisaran sekaligus. Ini seperti bukan untuk pertemuan pagi biasa."
Perdana Menteri Gu tersenyum tipis, melihat ke depan dengan tatapan yang tajam seperti pedang. Wanita tua itu terlihat tetap berwibawa dan penuh kuasa dari tahun ke tahun, "Hmph! Cukup diam dan lihat. Berdiri dan menunggu di tempat ini, sepertinya saya merasa penasaran di pikiran saya tentang rencana rahasia Permaisuri Agung."
Para menteri yang lain hanya mengangguk dan saling berbisik. Permaisuri Agung Shao memanglah seorang yang penuh rahasia dan berbahaya, bermain-main dengannya bukanlah hal yang hal yang baik. Dia seperti dapat menghancurkanmu kapan saja dengan pedang tersembunyinya. Begitu dingin hingga dapat membuatmu menggigil ketakutan ketika berhadapan dengannya.
Berbeda dengan para menteri yang berkerumun dan berbisik, di bagian kanan halaman luar Aula Utama telah berkumpul para putri dan dua pangeran dari Kerajaan Wei. Bungsu pangeran Wei tidak terlihat karena usia yang terlalu muda untuk mengikuti pertemuan. Beberapa putri Kekaisaran Shao juga mulai berdatangan dengan rombongan pelayan mereka masing-masing, Shao Ming Fei telah hadir terlebih dulu di antara para kakak dan adiknya. Begitu pula dengan Shao Ling Mei yang juga telah hadir bersamaan dengan kedatangan Shao Mu Lan, keduanya kini berdiri berdampingan dengan raut wajah yang berbeda.
"Salam kepada Putri Mahkota Kekaisaran, semoga anda selalu bahagia." Ling Mei menunduk hormat, senyum riang terlihat di wajah sehalus gioknya.
Mu Lan tersenyum lembut. "Seperti biasa, adik keempat selalu terlihat ceria dan bersemangat."
Ling Mei tertawa manis, ekspresinya terlihat begitu lugu dan murni. "Ah, kakak pertama! Ayah mengatakan padaku untuk selalu tersenyum dan menjadi gadis yang ramah. Dia bilang itu akan membuat banyak orang menyukaiku."
"Oh, begitukah? Sepertinya Ayah Kekaisaran Hong telah mengajarkan hal yang baik padamu, adik keempat."
Mendapati tanggapan dari seseorang, Mu Lan dan Ling Mei dengan cepat menoleh. Pandangan keduanya tertuju pada Shao Mu Rong yang berjalan mendekat ke arah mereka berdua dengan anggun. "Memberi salam kepada Putri Mahkota Kekaisaran, semoga anda selalu dipenuhi kebahagiaan."
"Pagi ini ibu permaisuri memanggil kita semua tanpa terkecuali, situasi ini benar-benar langka dan tak terduga. Adik kedua, apakah kamu tidak ingin tahu apa yang akan ibu permaisuri umumkan pada kita?"
"Kakak pertama, tentu saja saya penasaran. Sejak pelayanku mengatakan bahwa ibu permaisuri memanggil semua orang ke dalam Aula Utama yang resmi, aku begitu bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang terjadi." Shao Mu Rong berucap dengan nada yang datar, seperti biasa putri kedua Kekaisaran Shao itu memiliki sifat yang begitu dingin. Dia terdiam sebentar, kemudian menatap Ling Mei penuh arti dan melanjutkan ucapannya. "Tapi sepertinya, apa pun itu, kupikir akan ada berita baik untuk adik keempat."
Mu Lan menaikkan sebelah alisnya, jika pemikirannya sama dengan maksud dari ucapan adik keduanya, itu berarti semua asumsinya adalah benar. Mendengar semua percakapan kedua kakak tertuanya, Ling Mei terdiam. Ini tidak benar! Ling Mei merasa dia tak dapat menghindar, ini terlalu tiba-tiba dan Permaisuri Agung akan memiliki alasan yang membuatnya tak bisa mencari celah untuk melarikan diri. Benar-benar sulit dan tidak beruntung!
Mu Lan menyeringai tipis dengan mata yang berkilat dingin. "Tentu saja, adik keempat kita memang selalu dipenuhi oleh keberuntungan. Bukan hal yang mengejutkan jika dia mendapatkan sesuatu lagi kali ini."
Ling Mei mendengus kecil, dalam hatinya penuh dengan awan hitam yang menggumpal pekat. Dia merasa tidak senang untuk saat ini, ucapan penuh sindiran ini benar-benar membuatnya kesal.
"Kakak pertama! Kakak kedua! Bisakah Ling Mei masuk terlebih dahulu? Kaki Ling Mei sakit sekali, seperti saat Ling Mei berlari dengan Wu Jin di taman kekaisaran. Aiya! Ini sangat tidak nyaman, aku tidak menyukainya!" Ling Mei merengek, raut wajahnya cemberut seperti anak kecil membuat Mu Lan dan Mu Rong mengerutkan alisnya.
"Dalam hal itu, baiklah. Saya pikir adalah hal yang bagus jika aku dan adik kedua juga masuk ke dalam sekarang. Aku cukup yakin bahwa ibu permaisuri akan datang sebentar lagi. Adik keempat, bagaimana jika kita masuk bersama? Adik ketiga juga telah masuk bersama para jenderal."
Ling Mei mengangguk dengan wajah yang antusias, putri sampah kekaisaran itu terlihat senang sekali. "Eung! Mari kita masuk!"
.
.
"Salam kepada Permaisuri Agung, semoga Yang Mulia panjang umur seribu tahun."
"Duduklah kalian semua!"
Permaisuri Agung Shao mengambil tempat di kursi kebesarannya dengan Imperial Main Consort Hong yang duduk di sampingnya. Wanita itu tersenyum kecil, menatap ke sekitarnya, Shao Fang Hua melihat bahwa semua orang begitu penasaran dengan perintahnya pagi ini.
"Aku mengerti bahwa ini cukup mengejutkan bagi kalian dengan perintah panggilan yang begitu mendadak pagi ini, tapi kupikir ada beberapa hal yang ingin kusampaikan di depan kalian semua."
Fang Hua melihat mereka semua, ekspresi penuh tanya itu bagitu jelas di wajah mereka. Para pejabat istana saling memandang satu sama lain, mereka tidak mengerti. Hal penting apa yang ingin Permaisuri Agung sampaikan hingga semuanya terasa begitu tergesa-gesa seperti ini. Dengan seluruh rasa penasaran, mereka terburu-buru membungkuk hormat dan berkata, "Yang rendah ini mengerti. Kami akan mendengarkan perintah Permaisuri Agung."
Fang Hua kembali tersenyum, raut wajahnya menghangat dari waktu ke waktu, wanita itu terlihat senang. "Dalam seminggu lagi, putri keempatku Shao Ling Mei akan mendapatkan usia kedewasaannya, ini akan bagus jika aku membuat sebuah perjamuan besar untuknya di istana."
Ling Mei tersentak kecil, perasaan tidak nyaman mulai melingkupi hatinya. Tidak! Ini belum selesai! Permaisuri Agung tidak mungkin menjadi repot hanya untuk hal kecil seperti itu. Sedangkan Mu Lan hanya mendengus pelan, rupanya ucapan adik keduanya memang benar. Adik keempatnya Shao Ling Mei memiliki keberuntungan yang cukup berlimpah, kembali dia menatap ke arah Permaisuri Agung dengan tatapan dinginnya. Ibunya.... Wanita itu tak pernah memandangnya seperti itu. Begitu hangat dan penuh kasih sayang, Mu Lan hanyalah seorang anak dari selir yang tidak dicintai. Dia berpikir bahkan dia tak pantas hanya untuk mendapat pujian dari sang ibu, Permaisuri Agung Shao Fang Hua.
Para pejabat kembali berbisik kecil, suasana Aula Utama menjadi sedikit ramai. Permaisuri Shao mengangkat tangannya, memberi isyarat diam pada semua orang.
"Ada satu hal lagi yang belum aku sampaikan pada kalian semua."
Melihat isyarat tangan Permaisuri Shao kepadanya, kepala pelayan istana sekaligus pelayan kepercayaan Permaisuri Shao berjalan maju beberapa langkah ke depan dengan sopan, dia membungkuk hormat pada semua orang sebelum mengatakan sesuatu. "Sebelum itu, mohon untuk Putri Keempat dan Pangeran Kedua Kerajaan Wei maju ke depan."
Ling Mei melangkahkan kakinya yang terasa berat di sana, bagaikan anak kelinci yang polos, ekspresi ketakutan seperti akan dihukum berat terlihat di wajahnya yang cantik. Ling Mei berpikir dia akan dihukum oleh ibu permaisurinya karena sebuah kesalahan. Berbeda dengan Ling Mei yang terlihat seperti akan menangis, Wei Yun Rui menatap ke depan dengan wajah tenangnya.
"Wei Yun Rui menghadap kepada Yang Mulia Permaisuri Agung." Yun Rui membungkuk hormat dan berucap dengan sopan.
Ling Mei, gadis itu justru terus berjalan mendekati Fang Hua. Dia berlutut dan memegang baju Permaisuri Shao dengan erat seperti anak balita yang tidak ingin ditinggal. "Ibu! Ibu! Apa ibu permaisuri akan menghukum Ling Mei?"
Fang Hua tersenyum, lalu mencubit hidung Ling Mei main-main. "Anak yang baik! Siapa yang ingin menghukum kamu? Putriku, karena kamu sudah besar, maka ibumu ini akan memberikan hadiah untukmu."
Semua orang kemudian melihat, sekali lagi Permaisuri Shao begitu menyayangi putri keempat Shao Ling Mei yang adalah seorang putri sampah kekaisaran yang cacat mental dan bodoh. Putri ketiga Shao Ming Fei juga telah melihatnya, dalam hatinya dia merasakan iri begitu mendalam pada adik keempatnya itu. Begitu disayangi, hal apa yang dimiliki Shao Ling Mei hingga Permaisuri Shao begitu menyukainya?
"Sekarang kembali! Berdirilah di samping Pangeran Kedua Wei Yun Rui, aku ingin memberikan sesuatu yang baik untukmu."
Ling Mei mundur dengan patuh, kemudian berdiri di samping Yun Rui dengan wajah yang tak dapat diartikan. Tatapannya lurus ke depan, dia sama sekali tak menolehkan wajahnya ke arah Yun Rui. Dalam diam Yun Rui melirik ke arah Ling Mei, cinta pertamanya, seorang yang membuatnya menjadi begitu setia dan menolak semua lamaran pernikahan yang ditujukan untuknya. Begitu manis dan berdebar-debar, Yun Rui kembali menundukkan kepalanya dengan wajah yang memerah malu.
Kepala pelayan istana kembali bersuara, kali ini dia terlihat membawa sebuah gulungan perkamen dengan lukisan phoenix di bagian luarnya. "Sebelumnya, karena telah menyelamatkan Putri Keempat Shao Ling Mei dari sekelompok pembunuh bayaran, Permaisuri Agung memutuskan akan memberikan hadiah untuk Pangeran Kedua Wei Yun Rui."
Kepala pelayan istana itu terdiam sebentar, setelah itu dia tersenyum lebar dan berkata, "Dan untuk hadiah kedewasaan Yang Mulia Putri Keempat, kedua putri dan pangeran harap menerima dekrit kekaisaran yang telah diturunkan oleh Permaisuri Agung!"
"Kedua pangeran dan putri mohon untuk berlutut dan terimalah dekrit penikahan kekaisaran yang diberikan oleh Permaisuri Agung!" mendengar itu Ling Mei dan Yun Rui dengan cepat berlutut, begitu pula dengan orang-orang yang hadir dalam Aula Utama, mereka membungkuk hormat di hadapan Permaisuri Agung.
"Atas berkat Dewa dan atas perintah dari Permaisuri Agung Kekaisaran Shao. Wei Yun Rui, Pangeran Kedua Kerajaan Wei Timur, yang sopan dan penampilan menyenangkan, yang baik dan berbakat. Akan menikah dengan Putri Keempat Shao Ling Mei sebagai pendamping utama dan suami resmi!"
Kedua mata Ling Mei membulat, apa?! Kenapa?! Menikah?! Saya dengan orang ini? Kenapa ibu permaisuri....? Diam-diam dia mengepalkan kedua tangannya. Terdapat kemarahan dan ketidaksukaan dalam hati Ling Mei, ini tidak benar! Sedangkan semua orang terkejut, dekrit yang begitu tiba-tiba! Shao Mu Lan maupun Shao Ming Fei pun terkejut hingga tak dapat berkata apa pun. Berbeda dengan Shao Mu Rong yang hanya tersenyum miring, dia telah menebak hal ini sejak rumor itu telah sampai ke telinganya.
Yun Rui mendongak terkejut, tapi kemudian dia tersenyum lembut. Hatinya merasa bahagia untuk saat ini, orang yang dia cintai akan menikahinya. "Wei Yun Rui menerima dekrit pernikahan ini, berterima kasih pada Yang Mulia Permaisuri Agung untuk dekrit kekaisaran yang telah diberikan."
Ucapan Yun Rui membuat Ling Mei menoleh ke arah pria muda itu, menatapnya dengan tatapan dingin yang tak terlalu kentara. Rahang Ling Mei mengeras, dia telah berusaha menahan ketidaksukaannya dan menolak dekrit itu di sana. Ling Mei tak dapat menolaknya dan Permaisuri Shao tahu akan hal itu. Sekalipun Shao Ling Mei adalah putri sah kekaisaran, menolak dekrit kekaisaran sama halnya dengan melanggar perintah Permaisuri Agung dan itu akan dianggap sebagai pemberontakan terhadap kekaisaran.
Ling Mei menghela napas, kemudian memandang lantai di bawahnya dengan tatapan tajam. "Shao Ling Mei menerima dekrit kekaisaran, berterima kasih pada Permaisuri Agung untuk dekrit yang telah diberikan."
Shao Fang Hua menatap senang keduanya dan berkata, "Aku telah mengaturnya, pernikahan akan dilaksanakan satu bulan setelah perayaan kedewasaan Putri Keempat."
"Selamat!"
"Selamat untuk Putri Keempat!"
"Selamat untuk Yang Mulia Permaisuri Agung!"
"Selamat untuk Kekaisaran Shao!"
Permaisuri Shao menyeringai senang dengan pendar mata yang licik, begitu pula Permaisuri Wei. Keduanya saling berpandangan dengan senyum dan tatapan yang tak dapat diartikan. Dengan keramaian yang ada Wei Tian Zhi memalingkan mukanya, dia merasakan patah hati yang begitu menyakitkan menjalar ke seluruh tubuhnya. Kedua tangannya mencengkram bajunya dengan begitu erat hingga mungkin akan menjadi kusut setelah dilepas, setetes air mata jatuh membasahi pipi Tian Zhi, kini pangeran keempat Kerajaan Wei itu harus menahan rasa sesak dan nyeri yang mulai menyiksa dirinya.