Phoenix: Rules Of The Harem

Phoenix: Rules Of The Harem
Bab 18: Menghindar Dengan Licik Seperti Rubah



Hari ini Ling Mei mendapat panggilan dari Permaisuri Agung untuk pergi ke istana, bukan hal yang aneh lagi jika Permaisuri Agung seringkali memanggil Ling Mei yang cacat mental ke istana sekedar hanya untuk menemani atau mengunjungi wanita paling berpengaruh di Kekaisaran Shao itu. Setelah rumor yang dia hembuskan telah tersebar luas, Ling Mei yakin bahwa Istana Kekaisaran pasti sudah mendengar rumor tersebut. Karena kabar yang beredar adalah tentang keadaan Ling Mei yang mulai pulih, namun belum benar-benar menjadi normal seperti sebelumnya, Ling Mei tidak perlu berpura-pura menjadi kekanakan yang bodoh. Dia hanya perlu berakting seolah dia menjadi orang normal yang naif dan polos.


"Putri Keempat, apa kamu yakin dengan rencana ini?" Permaisuri Agung meletakkan cangkir tehnya dengan perlahan, pandangannya beralih ke arah Ling Mei yang sedang menyesap teh miliknya sembari tersenyum tipis.


"Tentu saja, Yang Mulia. Berhenti berpura-pura cacat mental membuat saya harus berhadapan dengan kakak pertama, meski begitu saya telah bersembunyi untuk waktu yang lama. Selama bertahun-tahun orang-orang menjadi tidak memperhatikan saya dan tidak memiliki kewaspadaan terhadap saya, itu sudah cukup untuk saya membangun kekuatan. Karena kakak pertama memutuskan untuk mempercepat pergerakannya, saya pikir adalah hal yang bagus jika saya juga bergerak lebih cepat."


Shao Fang Hua mengangguk paham. "Jika kamu menginginkannya, aku mengerti. Tetaplah berhati-hati, Putri Mahkota adalah orang yang berbahaya! Ah, kudengar kamu akan mengambil selir untuk pertama kalinya dan itu berasal dari pihak Jenderal Besar Kekaisaran Shi."


"Itu benar, Yang Mulia. Saya telah berhasil membuat Jenderal Besar Shi berpihak pada saya, tapi sebagai gantinya Jenderal Besar Shi meminta saya mengambil putranya, Shi Yu Han sebagai selir, Yang Mulia." tidak ada nada kekanakan yang terdengar, Ling Mei benar-benar menjadi seseorang yang berbeda ketika sedang melakukan percakapan pribadi dengan Permaisuri Agung Shao.


"Hmm ... memang pertukaran yang bagus. Jenderal Besar Shi tahu bahwa Putri Mahkota tengah menargetkan putra kesayangannya untuk dibawa sebagai selir, yang dalam artian tersembunyi Putri Mahkota ingin membawa satu-satunya putra sah kediaman Shi sebagai sanderanya agar Jenderal Besar Shi bersedia untuk berpihak padanya."


Ling Mei menghela napas meski wajahnya terlihat tenang seperti tak memiliki masalah apa pun. "Dalam hal itu saya berharap Yang Mulia dan Permaisuri Wei tidak akan merasa keberatan terkait dengan masalah selir dan harem."


"Lakukan jika menurutmu itu benar, putriku. Kurasa kita tak dapat berbicara lebih lama lagi, ada beberapa inspektur rahasia yang kupekerjakan ingin melapor padaku, jadi aku harus bersiap setelah ini." Fang Hua menepuk lengan putrinya beberapa kali dengan perlahan, penguasa Kekaisaran Shao itu tersenyum kecil.


Mereka berdua berdiri dengan Ling Mei yang menunduk hormat pada Permaisuri Agung. "Putri ini mengerti. Maaf karena telah menganggu waktu berharga anda, Yang Mulia. Kalau begitu saya pamit undur diri, Ling Mei berterima kasih kepada Permaisuri Agung untuk waktu yang telah diberikan."


.


.


Ling Mei berjalan menelusuri Istana Kekaisaran dengan perasaan yang tidak nyaman, dia berniat kembali ke kediaman secepatnya setelah menghabiskan sedikit waktu untuk menemui ayahnya, Pendamping Utama Kekaisaran Hong dengan tujuan memberitahu keputusannya terkait menjadikan tuan muda pertama kediaman Shi sebagai selirnya dan menemui pria yang sudah Ling Mei anggap sebagai ayah keduanya, yaitu Selir Resmi Kekaisaran Yang untuk sekedar mengetahui kabarnya. Kali ini Ling Mei secara pribadi meminta Wu Jin untuk menjaganya secara tersembunyi, mengingat informasi yang telah dilaporkan kepadanya mengatakan bahwa kakak ketiganya, Putri Ketiga Shao Ming Fei telah menunjukkan gerak gerik yang berbeda dari sebelumnya, Ling Mei merasa alasan itu cukup untuk membuatnya waspada.


Menurut informasi yang telah diberikan, beberapa waktu terakhir Ming Fei terlihat sering mengunjungi Paviliun Liang yang adalah rumah bordil terbaik di seluruh Kekaisaran Shao. Memang bukanlah hal yang aneh jika seorang putri kekaisaran, nona muda, hingga seorang nyonya besar sebuah keluarga terpandang berada di rumah bordil tersebut. Itu adalah hal yang biasa mengingat di dalam Dinasti Shao, peraturan resmi mengizinkan wanita untuk melakukan praktek poliandri dan sejenisnya. Hanya saja untuk seorang Ming Fei yang kasar dan tempramental, dibandingkan kakak pertamanya yang juga adalah putri mahkota, Ming Fei justru tidak terlalu suka bermain pria. Wanita berumur 17 tahun itu jauh lebih menyukai pedangnya yang tajam dibandingkan harus menghabiskan waktu berjam-jam dengan beberapa pria.


Melihat hal itu, Ling Mei telah meminta Wu Jin untuk mengikuti dirinya secara diam-diam hari ini. Tidak seperti biasanya yang menjaga Ling Mei dengan terang-terangan, Wu Jin saat ini dengan khusus menyembunyikan keberadaannya di sekitar Ling Mei untuk mengawasi hal-hal yang mungkin datang secara tak terduga. Benar saja! Sesuai dugaan yang telah Ling Mei pikirkan, beberapa wanita dengan seragam khas pengawal datang menghampiri Ling Mei yang terlihat berjalan sendirian.


"Memberi salam untuk Bintang Keempat Kekaisaran. Yang Mulia, Putri Ketiga meminta kami untuk menjemput anda sekarang juga." ketika berada tepat di depan Ling Mei, mereka membungkuk hormat.


"Heih, apa maksudmu menjemputku?" Ling Mei menatap mereka dengan wajah keheranan, tidak seperti biasanya yang selalu tersenyum bodoh dan berbicara dengan nada kekanakan, Ling Mei benar-benar terlihat berbeda kali ini.


Para pengawal tersebut saling menatap satu sama lain, sebelum salah satu dari mereka yang berada paling depan menjawab. "Putri Ketiga mengundang anda dalam perjamuan tidak resmi yang beliau senggarakan."


Wu Jin mengamati dalam diam dari tempat yang tidak terlihat oleh para pengawal itu, beruntungnya dari jarak tempatnya berdiri dia masih bisa mendengar percakapan tuannya dengan pengawal wanita itu. 'Perjamuan tidak resmi? Mungkinkah...'


Ling Mei memutarkan bola matanya ke arah lain, tatapannya sedikit menajam walaupun mereka tidak dapat melihatnya. "Apa Putri Mahkota dan kakak kedua juga datang ke perjamuan itu?"


"Benar, Yang Mulia. Saat ini hanya anda yang belum hadir di dalam perjamuan tersebut, Putri Ketiga telah memilih ruangan terbaik yang ada di dalam Paviliun Liang untuk melaksanakan perjamuan. Mari! Kami akan mengantar anda ke sana, Yang Mulia."


"Paviliun Liang? Tapi, aku tak pernah mendengar nama tempat itu. Tempat seperti apa Paviliun Liang itu?"


"Anda akan mengetahuinya begitu anda melihatnya, Yang Mulia."


Ling Mei memandang mereka semua dengan ekspresi yang ragu-ragu, dalam hati dia berpikir bahwa ini sudah tak dapat dicegah lagi. Jika dia tetap menolak, sepertinya para pengawal itu akan memaksanya ikut dengan cara yang lain.


"Aku telah pergi begitu lama, Yun Rui mungkin akan marah jika aku tidak segera pulang ke kediaman setelah menyelesaikan urusanku di Istana Kekaisaran."


"Maaf sebelumnya Yang mulia, kita tidak memiliki cukup banyak waktu saat ini. Para putri lainnya mungkin telah tidak sabar menunggu kedatangan anda, kami berharap setidaknya anda mau ikut dengan kami untuk menunjukkan diri anda sebentar sebelum kembali pulang ke kediaman anda."


Seperti yang telah Ling Mei perkiraan, mereka memaksanya dengan cara yang halus. Diam-diam dia mendengus, dengan aktingnya sebagai putri polos dan naif, Ling Mei tidak dapat menolak permintaan kasihan seperti itu. "Baiklah, aku akan datang. Tolong antarkan aku menemui para kakak perempuan dengan hati-hati."


"Kami mengerti. Sesuai keinginan anda, Yang Mulia."


...........................


"Selamat datang adik keempat, kami telah menunggumu dalam waktu yang cukup lama. Apa perjalananmu kemari menyenangkan?"


Ling Mei berkata dengan nada yang halus tanpa sarat kekanakan. "Ya, berkat kakak. Aku tidak mengalami masalah apa pun selama perjalanan."


"Duduklah! Aku mengadakan perjamuan mendadak karena berpikir bahwa sudah lama kita tidak berkumpul bersama. Dan lagi, anggap saja perjamuan kecil ini sebagai hadiah pernikahanmu dari kami, adik keempat." Ming Fei menatap Ling Mei dengan senyum yang dingin.


Dengan topeng ekspresi tanpa curiga, Ling Mei mendudukkan dirinya di sebelah putri ketiga. "Dalam hal ini telah membuat kakak ketiga repot, adik merasa berterima kasih."


"Bukan masalah besar. Juga, kudengar kesehatanmu mulai membaik dari waktu ke waktu, akan lebih bagus jika kita merayakannya dengan minum beberapa gelas arak, bukan begitu kakak pertama?"


Shao Mu Lan melihatnya, putri pertama Kekaisaran Shao itu tersenyum tipis. "En, itu bagus. Kamu bisa mencoba beberapa arak terbaik dari paviliun ini, adik keempat. Kamu mungkin akan menyukainya."


"Terima kasih atas tawaran kakak pertama, tapi aku harus kembali ke kediaman secepatnya karena Yun Rui telah menungguku."


Shao Mu Rong yang juga ada di sana hanya mendengar dalam diam. Menurutnya, ini adalah sebuah pertunjukan yang bagus dan dia sama sekali tak ingin terlibat di dalamnya. Bahkan raut wajahnya masih begitu dingin meskipun beberapa pria penghibur mencoba menggodanya.


"Benar-benar istri yang penuh kasih sayang! Apa kamu akan melewatkan kesempatan yang menyenangkan hanya demi seorang pria, adik keempat? Duduklah di sini untuk beberapa waktu, setidaknya itu akan membuatku dan para adik yang lain merasa senang."


Seperti yang diharapkan dari seorang Shao Mu Lan, wanita itu memiliki ketegasan yang membuat orang lain merasa terintimidasi dengan kuat. Dia mempunyai kemutlakan dalam nada suaranya yang akan keluar ketika Mu Lan sedang berusaha untuk menundukkan lawan bicaranya. Hal yang bahkan membuat seorang Shao Ming Fei yang disebut sebagai putri pembuat onar kekaisaran tunduk dan takut padanya.


"Nah! Nah! Minumlah segelas arak ini, adik keempat!" berbeda dari biasanya, kali ini Ming Fei berkata dengan tatapan senang.


Samar-samar kilatan senyum yang dingin terlihat di mata Ling Mei saat dia melihat gelas arak yang ada di depannya. Gelas itu, diam-diam Ling Mei telah menukar gelas arak tersebut dengan gelas milik seorang pria penghibur yang sedang sibuk mendekati kakak ketiganya yang juga kebetulan berada tepat di sampingnya. Dia yakin bahwa sesuatu telah dimasukkan ke dalam gelas arak yang ditujukan untuknya dan Ling Mei akan dapat melihat reaksinya segera setelah pria penghibur itu meminum arak yang telah sengaja dia tukar. Putri keempat kekaisaran itu menatap lamat gelas yang berisi arak yang kini dia genggam sebelum kemudian dia teguk cairan memabukkan itu dengan cepat.


"Apa kamu menyukainya, adik keempat?" setelah diam selama beberapa waktu, Shao Mu Rong bertanya dengan sorot mata yang penuh arti.


Ling Mei mengerutkan alisnya, namun rasa curiga yang kuat dia sembunyikan di dalam hatinya. Itu aneh ketika kakak keduanya yang dingin memandangnya dengan dalam dan sarat akan makna. Sepertinya Ling Mei harus lebih berhati-hati, kakak keduanya Shao Mu Rong, dia tahu banyak hal lebih dari yang Ling Mei bayangkan. Bahkan sekalipun Mu Rong tidak tertarik dengan takhta, Ling Mei harus tetap mengawasi kakak keduanya karena mungkin akan ada kejutan besar yang menantinya di masa depan.


Ling Mei tersenyum lebar dengan pendar mata yang menunjukkan kepolosan. "Ini enak, aku tidak bisa tidak menyukainya, kakak kedua."


"Begitukah? Bagus jika kamu menyukainya, aku senang karena adik merasa puas." Mu Rong tersenyum, senyum yang sama seperti yang sering ditunjukkan oleh Permaisuri Wei pada Ling Mei.


Sepertinya Ling Mei benar-benar tidak tahu bahwa Mu Rong telah melihat apa yang telah dia lakukan, dalam diam wanita itu mengetahui bahwa Ling Mei dengan sengaja menukar gelas arak miliknya dengan gelas milik seorang pria penghibur tanpa sepengetahuan Mu Lan dan Ming Fei. Benar saja, tak lama setelahnya reaksi yang telah diperkirakan oleh Ling Mei muncul dari seorang pria penghibur yang meminum arak dari gelas yang seharusnya dipakai oleh Ling Mei. Pria muda dan cantik itu terlihat mengerutkan alisnya dengan ekspresi tidak nyaman yang kentara. Ling Mei tersenyum dingin dalam hati, ini bukan yang pertama ketika para kakak perempuannya mencoba untuk mencelakainya, sayangnya dia bukanlah orang yang benar-benar bodoh seperti topengnya.


Lalu, pria penghibur itu bergerak-gerak seperti orang yang kepanasan. Wajahnya memerah panik disertai suara-suara yang tidak seharusnya muncul mulai terdengar dari mulutnya, dia terlihat berkeringat dengan pandangan mata yang sayu. Semua orang terkejut dengan hal ini, bahkan Shao Mu Rong yang dingin itu terlihat menatap bingung ke arah sang pria penghibur. Kemudian, Ling Mei dengan liciknya berpura-pura terkejut saat melihatnya, kedua matanya membulat dengan ekspresi bingung dan terkejut yang cukup meyakinkan. Beberapa pria penghibur lain yang berada di sana berusaha menolong teman mereka, suasana terasa cukup panik dan kacau.


"Ahh! Y-Yang Mulia ... i-ini panas!" pria penghibur mencengkram bajunya dengan erat, dia berkeringat cukup banyak dengan wajah yang memerah padam, suara-suara lirih dan putus asa terdengar dari mulutnya. Dia mencoba memohon pada sang putri kekaisaran.


"A-apa yang terjadi?! Kakak, apa pria itu baik-baik saja?!" Ling Mei bertanya di tengah kekacauan yang terjadi. Seperti orang yang tidak tahu apa-apa, sang bintang keempat kekaisaran itu mencoba untuk ikut menolong pria itu, tapi tangan Shao Mu Lan menahannya dengan cepat.


"Itu tidak perlu, adik keempat. Dia akan baik-baik saja setelah ini, kamu tidak perlu khawatir!" Mu Lan berkata dengan ekspresi yang dingin, aura gelap terasa di sorot matanya yang menajam. Namun, selain menahan Ling Mei untuk tetap di tempatnya, putri mahkota kekaisaran itu hanya diam dengan raut wajah yang datar.


Mu Lan terlihat tidak senang, wajahnya benar-benar keruh seperti air yang terkotori oleh lumpur. Ming Fei juga menunjukkan raut wajah yang sama, jenderal berbakat kekaisaran tersebut benar-benar tidak terlihat baik. Ini tidak sesuai dengan rencana awal mereka, bahkan tanpa campur tangan Mu Rong, seharusnya Ling Mei jatuh dalam jebakan mereka berdua. Benar! Ada kesalahan! Gelas itu seharusnya dipakai oleh Ling Mei, bukan pria penghibur itu! Baik Mu Lan ataupun Ming Fei, keduanya memikirkan hal ini dalam hati. Mu Rong menghela napas pelan, mata dinginnya melirik ke arah kedua saudaranya yang kini berwajah gelap, kemudian dia mengalihkan pandangannya tepat ke arah Ling Mei.


"Adik keempat, sepertinya akan lebih baik jika kamu pulang terlebih dahulu. Maaf karena telah memperlihatkan kekacauan yang buruk padamu, sebagai gantinya aku akan meminjamkan kereta kudaku dan meminta para pengawalku untuk mengantarmu pulang ke kediamanmu."


Mendengar itu Ling Mei menatap Mu Rong dengan tatapan lugunya, namun dia terus bertanya-tanya tentang tujuan lain dari Mu Rong. Sejak mereka kecil, adalah karakter Mu Rong yang tak pernah bisa dia tebak isi hatinya. Wajah Ling Mei berkerut seperti kelinci yang panik. "Adik mengerti, kalau begitu Ling Mei berterima kasih atas kebaikan kakak kedua."


Ketika keluar dari ruangan khusus itu, Ling Mei mendengus dalam hati dengan mata yang berkilat dingin. Tampaknya, pada awalnya Mu Lan dan Ming Fei berencana untuk mempermalukan dirinya di depan umum dan membuat rumor buruk tentangnya. Bahkan jika bukan karena araknya, gelas itu telah dilumuri oleh obat yang akan membuatnya menjadi liar akan sentuhan. Karena begitu banyak orang yang tidak mengenali wajahnya sebagai putri keempat, Ling Mei menunjukkan raut wajah aslinya yang dingin dan penuh keangkuhan. Ling Mei memandang lurus ke depan dengan ekspresi tidak peduli dan datar yang membuat orang lain tak berani menyinggungnya, bahkan helaian rambut sehitam malamnya yang jatuh menutupi setengah wajah sehalus gioknya dia biarkan begitu saja.


Penampilannya yang memesona dan menawan membuat beberapa pria muda di sana terpana padanya, dalam hati bertanya-tanya nona muda dari keluarga mana yang begitu indah dan mendominasi di depan mereka itu. Ketika angin berhembus beberapa tirai kemerahan berterbangan di sekitar Ling Mei, helaian rambut berwarna keperakan berkibar di antara tubuhnya dengan suara gemericik gelang kaki yang terdengar cukup keras di telinganya. Begitu indah dan bersinar, Ling Mei berhenti dan menoleh dengan satu alis yang terangkat. Sayangnya, ketika melihatnya hanya punggung seorang pria muda dengan hanfu berwarna perak keemasan yang berkilau yang terlihat di dalam pandangannya. Memutuskan untuk tak terlalu memedulikannya, Ling Mei kembali berjalan dengan tenang.


Hampir sama dengannya, pria berambut keperakan itu berhenti dan membalikkan badannya. Menatap tepat ke arah Ling Mei yang semakin jauh dari pandangannya, sorot matanya penuh akan binar penasaran. Wajah cantik pria itu menunjukkan seulas senyum kecil yang begitu menawan. "Dia terlihat dingin, namun indah di saat yang sama. Benar-benar berbeda dari para wanita kebanyakan, dan aku pikir aku menyukainya..."