Phoenix: Rules Of The Harem

Phoenix: Rules Of The Harem
Bab 11: Mengalir Seperti Air



Wei Yun Rui berjalan dengan begitu panik ketika menyadari bahwa istrinya, Shao Ling Mei tidak terlihat di sudut bagian kediaman mana pun. Sejak tadi pagi, Yun Rui tidak mendapati Ling Mei berlarian mengelilingi kediaman dan bermain-main seperti biasanya. Itu membuatnya khawatir akan keselamatan istrinya yang ceroboh dan polos itu. Menggigit kuku jarinya dengan raut wajah yang khawatir, Yun Rui mendapati Yu Shen yang sibuk membersihkan Paviliun Yin dengan begitu santai seperti tidak ada sesuatu yang terjadi.


"Yu Shen!"


"Saya, Pendamping Utama Wei. Apa anda memerlukan sesuatu?" dengan masih membawa lipatan selimut di tangannya, Yu Shen membungkuk hormat pada pria yang menjadi suami resmi dari tuannya, Putri Keempat Shao Ling Mei.


"Apa kamu tidak melihat Yang Mulia? Aku telah mencarinya ke mana-mana, sayangnya aku tak menemukan Yang Mulia di mana pun."


"Ah! Maaf sebelumnya, Pendamping Utama Wei. Apa Yang Mulia tidak memberitahu anda tentang kepergiannya bersama dengan Pengawal Pribadi Liao ke pusat kota?"


Yun Rui kembali bertanya dengan nada yang pelan. "Yang Mulia, pergi ke pusat kota?"


"Itu benar. Yang Mulia mengatakan pada saya bahwa beliau akan pergi ke pasar yang berada di pusat kota untuk membeli beberapa barang bersama dengan Pengawal Pribadi Liao."


Wei Yun Rui tersenyum miris dengan tatapan yang sedih. Satu tangannya dia bawa di depan dadanya, meremasnya pelan ketika rasa sesak dan nyeri mulai menghampirinya. "Begitukah? Aku mengerti, aku akan menunggunya pulang di paviliunku."


Melihat hal itu, Yu Shen hanya terdiam tanpa kata. Dia menatap pemdamping resmi tuannya yang berbalik dan berjalan menjauh darinya itu dengan mata yang sendu. Sebagai seorang pria, Yu Shen cukup mengerti bahwa hal ini dapat menyakiti hati Yun Rui. Tapi, Ling Mei juga memiliki alasannya sendiri untuk menjadi begitu dingin dan tak berperasaan. Dengan suara yang begitu lirih hingga nyaris berbisik, Yu Shen berkata, "Yang Mulia, tidakkah anda terlalu kejam padanya?"


.


.


Di waktu yang sama, tepat di pasar yang berada di pusat kota Xiaoyang, Shao Ling Mei dan Liao Wu Jin berkeliling untuk membeli beberapa barang. Untuk melakukan penyamaran, Ling Mei berpikir untuk membeli beberapa pakaian pria dan aksesoris yang cocok untuknya.


"Yang Mulia, apa ada sesuatu yang anda inginkan selain ini semua?"


Ling Mei mengerjapkan matanya beberapa kali setelah mendengar pertanyaan dari Wu Jin, sepertinya tanpa sadar dia menatap lekat sebuah hiasan jumbai berwarna merah kehitaman dengan beberapa hiasan berwarna perak yang bersinar dan sebuah liontin giok hitam di tengahnya. Itu sedikit mengingatkannya dengan Yun Rui ketika melihatnya.


"Tidak, ini sudah cukup. Kita bisa kembali sekarang." Ling Mei mendengus pelan, dia berbalik dan menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha untuk tak memikirkan hal tidak penting seperti itu.


"Yang Mulia, saya ... saya juga merindukan anda."


"Saya telah memberikan hati saya pada Yang Mulia."


"Yang Mulia, mereka tidak akan! Saya akan melindungi kamu dari mereka, kamu akan baik-baik saja!"


"Yun Rui akan selalu berada di sisi Yang Mulia."


"Wei Yun Rui menerima dekrit pernikahan ini, berterima kasih pada Yang Mulia Permaisuri Agung untuk dekrit kekaisaran yang telah diberikan."


Tapi, kemudian dia menghentikan langkahnya. Ling Mei terdiam sebentar ketika beberapa ingatan menyebalkan berputar di pikirannya, dia mengepalkan kedua tangannya dengan erat dan menghela napas. "Tunggu! Aku berubah pikiran! Wu Jin, aku ingin membeli hiasan rumbai berwarna merah kehitaman yang baru saja aku lihat."


Wu Jin tersenyum. "Sesuai keinginan anda, Yang Mulia."


Setelah selesai, mereka memutuskan untuk kembali ke kediaman karena dapat Ling Mei pastikan dengan sifat Yun Rui yang seperti itu, dia akan menunggu mereka berdua dengan gelisah. Putri keempat kekaisaran itu berpura-pura menatap ke sekitar dengan wajah yang ceria sebelum melirik diam-diam ke arah Wu Jin yang ada di belakangnya yang ternyata juga sedang menatapnya, pengawal pribadi Ling Mei itu mengangguk samar. Wu Jin berjalan mendekat hingga punggung Ling Mei dan dada Wu Jin hampir bersentuhan, pria muda yang menawan itu berbisik di dekat telinga Ling Mei. "Yang Mulia, haruskah saya menyelesaikannya untuk anda?"


Keduanya tahu jika mereka sedang diikuti oleh beberapa wanita berpakaian hitam sejak mereka keluar dari kediaman. Ling Mei menatap lurus ke depan dengan tatapan datar, "Tidak perlu. Hari ini aku sedang tidak ingin berurusan dengan mereka, lebih baik untuk kita pulang ke kediaman secepatnya."


"Baik. Sesuai perintah anda, Yang Mulia."


Wu Jin memandang punggung tegap Ling Mei dari belakang dengan tatapan lembut, kedua pipi dan telinganya terlihat memerah samar. Jika bisa dikatakan Wu Jin memiliki perasaan yang dalam untuk Ling Mei, hanya saja dia telah memilih untuk menyembunyikannya. Karena itu, ketika dia mengetahui bahwa Ling Mei akan menikah secara resmi dengan Pangeran Wei Yun Rui, Wu Jin merasa cemburu dan tidak nyaman dalam hatinya.


.........................


Suara riuh kereta kuda terdengar di depan kediaman Ling Mei, Yu Shen yang mendengar itu dengan cepat berlari menghampiri gerbang kediaman dan bersiap menyambut sang tuan.


"Selamat datang, Yang Mulia." ucap Yu Shen ketika Ling Mei turun dari kereta kuda bersama dengan Wu Jin.


Beberapa pelayan dan penjaga lain yang sebenarnya adalah penjaga bayangan Ling Mei juga menyapanya dengan hangat. Ling Mei tersenyum tipis, namun pendar matanya terlihat melembut dan tak setajam ketika Ling Mei mengawasi para penguntit itu. "Apa ada sesuatu yang terjadi ketika aku tidak ada, Yu Shen?"


Yu Shen membungkuk hormat kemudian berkata, "Yu Shen menjawab pertanyaan Yang Mulia. Tidak ada hal khusus yang mengkhawatirkan, namun sejak pagi tadi Pendamping Utama Wei mencari anda. Dari yang saya lihat, beliau terlihat gelisah menunggu kepulangan anda, Yang Mulia."


"Hm ... aku mengerti. Sekarang dia ada di mana?"


"Pendamping Utama mengatakan bahwa beliau akan menunggu anda di—"


"Yang Mulia!" kedua mata Ling Mei membulat terkejut dengan tubuh yang tiba-tiba membeku begitu Yun Rui memeluknya erat dengan badan yang bergetar setelah berlari dengan tergesa-gesa ke arahnya.


"Istriku, tolong jangan pergi tanpa mengatakan apa pun lagi, aku mengkhawatirkanmu." nada cemas itu terdengar sangat tulus hingga Ling Mei bahkan tak dapat mendorong Yun Rui untuk menjauh dan melepaskan pelukannya.


Ling Mei melepas pelukan mereka dengan lembut, raut wajahnya berubah menjadi muram ketika bertatapan dengan wajah menawan milik Yun Rui. "Lalu, apa Rui'er akan marah padaku?"


"Tidak! Aku tidak! Yang Mulia adalah orang yang terhormat dan berharga, untuk marah kepada istri, Yun Rui tidak berani. Aku ... aku hanya takut sesuatu terjadi padamu."


Ling Mei tersenyum lebar, dia menatap Yun Rui dengan mata yang berbinar. "Rui'er! Rui'er! Ibu permaisuri pernah mengatakan padaku, jika ingin meminta maaf dan menyenangkan hati suami, aku harus memberikannya hadiah yang dapat membuatnya merasa senang. Aku memiliki sebuah hadiah untukmu, apa aku boleh pergi ke paviliunmu dan memberikan hadiahnya di sana?"


Pada awalnya Yun Rui merasa terkejut, namun tak lama kemudian dia tersenyum dengan kedua pipi dan telinga yang merona samar. Dengan ini, bolehkah Yun Rui berharap bahwa Ling Mei telah mulai membuka hatinya dan menerimanya sebagai pendamping resminya?


"Tentu. Yang Mulia tidak memerlukan izin dari Yun Rui untuk masuk ke setiap ruangan dan paviliun yang ada di dalam kediaman Yang Mulia sendiri."


"Kalau begitu, Ayo pergi Rui'er!" dengan ekspresi yang menggemaskan, Ling Mei mengulurkan tangan kanannya ke arah Yun Rui yang terpaku karena perlakuan tiba-tiba Ling Mei yang menjadi begitu manis dan hangat setelah beberapa waktu lalu dia harus menahan rasa sakit karena dihindari oleh istrinya.


"Apa kamu akan terus berdiri di situ dan tak menerima uluran tanganku? Uh! Rui'er tak mau bergandengan tangan denganku ya?" dengan mata yang membulat dan berkaca-kaca, Ling Mei berkata menggunakan nada sedih khas anak-anak.


Yun Rui menatap uluran tangan Ling Mei dengan gugup. "I-itu tidak benar, Yang Mulia. Aku akan merasa bahagia jika kamu mau bergandengan tangan denganku."


Meski merasa ragu, perlahan tangan Yun Rui bergerak menyambut uluran tangan Ling Mei. Wajah Yun Rui memerah hingga ke tengkuk, ini benar-benar membuatnya bahagia sekaligus merasa malu yang luar biasa di depan orang lain. Mereka berjalan meninggalkan beberapa orang yang ada di sana termasuk Yu Shen dan Wu Jin yang menatap keduanya dengan tatapan yang tak dapat diartikan.


"Apa kamu baik-baik saja, Wu Jin Xiong?" tanya Yu Shen sembari menatap Wu Jin yang terlihat kecewa begitu Ling Mei dan Yun Rui tak terlihat lagi di dalam pandangan mereka.


Wu Jin memalingkan mukanya, berusaha mengalihkan pandangannya. "Apa maksudmu? Tentu saja aku selalu baik, itu adalah hal yang pasti. Kamu bertanya seperti orang yang sedang mabuk Yu Shen."


Yu Shen menghela napas pelan kemudian tersenyum kecil. "Aku tahu kamu mengerti maksud dari ucapanku, Wu Jin Xiong. Bahkan jika Pendamping Utama Wei yang sekarang berada di sisinya, kamu tahu kan bahwa seluruh anggota pasukan bayangan dan tentara Yuyin selalu mendukungmu?"


"Kami semua berada di pihakmu, Wu Jin Xiong. Karena itu, bersemangatlah! Buat Yang Mulia juga melihatmu." Yu Shen menepuk pundak Wu Jin beberapa kali sebelum pergi meninggalkan Wu Jin yang masih terdiam dengan tatapan yang kosong.


Ketika telah sampai di Paviliun Zuanshi, keduanya berhenti tepat di depan jembatan kecil dengan kolam berisi bunga teratai yang indah di bawahnya. Kolam itu berada tepat di depan paviliun dengan sebuah gazebo yang terhubung dengan jembatan kecil itu dan taman di sekelilingnya. Ling Mei menatap Yun Rui sebentar sebelum dia mengambil sesuatu dari lengan hanfunya. Sebuah hiasan jumbai berwarna merah kehitaman yang diperhatikan oleh Ling Mei saat dia berada di sebuah toko aksesoris di pasar pusat kota kini digenggam oleh Ling Mei. Mengulurkan tangannya yang membawa hiasan jumbai itu, sang bintang keempat kekaisaran menatap penuh harap ke arah Yun Rui.


"Rui'er! Rui'er! Aku membelikannya untukmu, apa Rui'er menyukainya?"


Yun Rui melihatnya dan dia merasa sangat bahagia. Yun Rui mengangguk dengan senyuman lembut yang terulas di wajah cantiknya. "Aku menyukainya ... sangat menyukainya, istriku."


Yun Rui menerima hiasan jumbai itu dan membawanya, kemudian tubuhnya bergerak memeluk Ling Mei yang berada di depannya. "Yun Rui berterima kasih pada Yang Mulia atas hadiah yang telah diberikan."


Berbeda dengan Yun Rui yang terlihat sangat senang, Ling Mei hanya tersenyum tipis dengan pendar mata yang tak dapat diartikan. Terlihat sedih, namun dingin di waktu yang bersamaan. Dia terdiam sembari membalas pelukan dari Yun Rui.


Meski begitu, dalam hatinya dia berkata dengan rasa bersalah: "Yun Rui, maafkan aku. Karena tak dapat memberikan banyak kebahagiaan untukmu seperti janji kita di masa lalu. Mungkin setelah ini kamu akan melihat seperti apa diriku yang sebenarnya."


.


.


"Tuan Muda! Tuan Muda! Pelayan ini membawakan informasi yang penting!" sambil berlari-lari, seorang pelayan pria berteriak dengan raut wajah yang senang.


"Ck! Ck! Jangan terlalu terburu-buru, Mo Xi! Katakan dengan benar, apa yang sebenarnya terjadi?" dengan nada yang halus pria muda yang sedang duduk di ruangan paviliunnya sembari membaca laporan pembukuan anggaran rumah tangga kediaman jenderal tersebut menegur pelayannya.


"Je-Jenderal Besar Shi!" ucap Mo Xi sambil terengah-engah membuat Shi Yu Han, tuan muda pertama sekaligus satu-satunya putra sah dari kediaman Jenderal Shi menatap pelayannya dengan khawatir.


"Ada apa dengan ibuku, Mo Xi?!"


"Jenderal Besar Shi telah sampai di Xiaoyang, Tuan Muda! Dari kabar yang saya dapatkan Jenderal Besar Shi sedang dalam perjalanan menuju kediaman." seketika Shi Yu Han tersenyum, dia terlihat begitu bahagia ketika kabar kepulangan ibunya terdengar di telinganya.


"K-kita harus membuat pesta penyambutan untuk ibu! Mo Xi panggil para pelayan kediaman untuk membantu menyiapkan semuanya! Aku yang akan mengatur sisanya, cepat!"


Dengan nada yang antusias Mo Xi menunduk hormat dan berkata, "Baik, Tuan Muda! Akan segera saya laksanakan!"


Dia, Shi Yu Han, putra pertama sekaligus putra sah dari Jenderal Besar Shi Li Ying dan suami resmi terdahulunya Lao Qi Xuan yang telah meninggal lima tahun yang lalu. Yu Han adalah putra emas Jenderal Shi yang memiliki karakter baik, patuh, penuh kelembutan, dan cukup penakut membuat dia dengan mudah ditindas oleh para selir ibunya yang tidak menyukainya. Apalagi dengan kuputusan mutlak dari Jenderal Shi yang memberikan Yu Han hak penuh atas urusan anggaran rumah tangga dan internal kediaman setelah kepergian Tuan Besar Kediaman Lao Qi Xuan membuat para selir Jenderal Shi cemburu dan semakin membenci Yu Han. Dia memiliki tiga orang saudara lainnya yang berasal dari para selir, dua di antaranya adalah adik perempuan sedangkan satu lainnya adalah adik laki-laki.


Shi Yu Han adalah seorang tuan muda yang kesepian, ibunya yang seorang Jenderal Besar Kekaisaran seringkali harus pergi ke medan perang dalam waktu yang lama untuk melindungi kekaisaran. Belum lagi kepergian ayahnya sejak tiga tahun yang lalu membuatnya selalu sendirian dan hanya ditemani oleh Jun Mo Xi sebagai pelayan utamanya dan beberapa pelayan yang ada di paviliunnya. Dia juga tidak terlalu dekat dengan ketiga saudaranya yang lain mengingat bahwa mereka adalah anak dari para selir yang membencinya, sedangkan dia adalah pria yang lemah dan mudah ditindas.


"Ibu, akhirnya ibu pulang. Saya sangat merindukan ibu. Karena itu, tolong menetaplah untuk waktu yang lama kali ini." gumam Yu Han dengan senyum kecil yang terulas di wajah menawannya.