
Tak lama setelah kabar pernikahan Ling Mei dengan Yu Han tersebar luas, rumor-rumor baru pun mulai muncul ke permukaan. Banyak yang tidak mengira putri keempat yang selalu diam selama bertahun-tahun dengan tingkahnya yang kekanakan mengambil seorang selir yang adalah seorang tuan muda sah dari salah satu keluarga bangsawan kelas atas yang terhormat di Kekaisaran Shao. Ini cukup mengejutkan bagi rakyat kekaisaran mengingat Shao Ling Mei adalah seorang putri sampah yang bahkan tak dapat berpakaian sendiri dengan benar. Bahkan para pejabat kekaisaran tengah membicarakan hal ini dalam beberapa hari, beberapa pendukung dari Shao Mu Lan mulai merasa khawatir tentang badai berdarah yang mungkin akan mengancam posisi yang dimiliki oleh putri pertama kekaisaran itu saat ini.
Ini bukan hal yang baik mengingat latar belakang Shao Mu Lan yang hanyalah seorang putri dari selir. Sekalipun ayahnya adalah selir agung kekaisaran, itu masih tidak bisa dibandingkan dengan posisi Ling Mei yang adalah satu-satunya putri sah kekaisaran dan putri dari pendamping utama kekaisaran yang memiliki kuasa tinggi hingga saat ini. Pengaruh Pendamping Utama Kekaisaran Hong dan juga keluarga Jenderal Agung Kekaisaran Hong yang sangat kuat juga membuat latar belakang Shao Ling Mei sebagai putri kekaisaran yang diakui oleh Permaisuri Agung Shao menjadi tidak biasa. Ditambah keterlibatan perasaan romansa di antara hubungan Permaisuri Agung Shao dan Pendamping Utama Kekaisaran Hong membuat Shao Ling Mei dapat merebut kembali posisinya dengan mudah dari tangan Mu Lan.
Beberapa menteri kekaisaran terlihat gelisah untuk ini, meskipun Mu Lan adalah seorang putri mahkota, dia memiliki kekuasaan terbatas yang tidak bisa dilanggar begitu saja. Sejauh ini beberapa rencana Mu Lan telah Ling Mei gagalkan dengan beberapa trik, bahkan Putri Mahkota Kekaisaran itu harus kembali bersabar untuk mendapatkan token Huangjin yang secara tiba-tiba terjaga dengan begitu ketat. Hal itu membuat Mu Lan menjadi waspada, merasa cukup takut jika Permaisuri Agung mencurigainya sebagai seorang pemberontak dan berusaha membuat kudeta. Melihat semua hal itu, Ling Mei hanya tertawa penuh kepuasan dalam kepalanya, membiarkan Mu Lan menggeram penuh kemarahan saat semua hal yang sudah dia pertahankan dalam waktu yang lama telah kacau dan keluar dari jalur yang seharusnya.
Kembali, Ling Mei masih belum bisa merasa lega, masih cukup panjang untuk meraih kursi Phoenix yang agung, juga masih ada dendam yang harus dibalaskan. Shao Ling Mei akan melihat kehancuran Shao Mu Lan dengan santai!
.
.
TRANG!
Suara pedang yang saling bertabrakan terdengar jelas dari area pelatihan militer milik Ling Mei, terlihat sang Putri Keempat Kekaisaran Shao itu tengah bertanding pedang dengan neneknya, yaitu Jenderal Agung Kekaisaran Hong. Pertandingan tersebut disaksikan oleh Yun Rui dan Yu Han yang khawatir dengan istri mereka, sama seperti Tuan Besar Hong, Su Jin Mian yang memiliki kekhawatiran yang berlebihan terhadap cucu perempuannya itu. Beruntungnya Jin Mian tidak ikut mengunjungi kediaman sang cucu karena sang Jenderal Agung, Hong Chang Yi dengan sengaja tidak memberitahukan kunjungannya ke manor putri keempat pada suami resminya tersebut.
Chang Yi menyeringai dengan mata yang berkilat tajam, dalam hati dia memuji keahlian bela diri dari Ling Mei, namun masih ingin tahu seberapa besar kemampuannya. "Saya telah melatih anda selama bertahun-tahun, apa hanya ini kemampuan anda, Yang Mulia?"
"Jenderal Agung Hong, apa kamu meremehkan saya?" Ling Mei mendengus, tidak boleh ada seorang pun yang meragukannya.
Chang Yi tertawa keras, "Jika anda dapat menunjukkannya, wanita tua ini tidak akan ada keluhan lagi."
Tanpa mengatakan apa pun, Ling Mei mengayunkan pedangnya ke arah sang Jenderal Agung Kekaisaran. Chang Yi menghindar dengan cepat, bahkan dengan tubuhnya yang sudah tidak muda lagi dia bergerak dengan gesit. Melihat kesempatan, Chang Yi menyerang Ling Mei bertubi-tubi membuat Bintang Keempat Kekaisaran Shao itu harus memundurkan tubuhnya dengan qinggong. Ini cukup sulit mengingat orang yang menjadi lawan Ling Mei adalah Hong Chang Yi yang telah terkenal dengan kehebatannya sebagai jenderal terkuat di Kekaisaran Shao yang mampu membunuh ribuan pasukan sendirian di medan perang.
Tanpa sadar Yun Rui dan Yu Han yang melihat pertarungan mereka menahan napas, merasa cukup tegang dengan adegan yang terlihat di depan mata mereka. Bahkan seorang Liao Wu Jin yang sering melihat keduanya berlatih pedang bersama pun tercekat melihat permainan pedang antara Jenderal Agung Kekaisaran dan Putri Keempat Kekaisaran. Pertarungan mereka tentu saja menggunakan pedang asli, bukan pedang kayu yang biasa digunakan oleh pengawal tingkat rendah ataupun pemula saat mereka sedang berlatih teknik pedang. Karena itu, mereka mungkin dapat memiliki luka selama pertandingan berlangsung. Yun Rui menggigit kuku jarinya dengan cemas begitu melihat keadaan Ling Mei yang mulai terpojok karena serangan yang dilayangkan Chang Yi.
Yu Han dengan cepat bangkit dari tempat duduknya ketika melihat Ling Mei yang terdorong ke belakang hingga beberapa meter setelah ditendang oleh Hong Chang Yi. Wajahnya terlihat panik, dia ingin berlari ke arah Ling Mei, namun sadar jika hal itu tidak mungkin dia lakukan mengingat pertandingan belum selesai.
"Memalukan! Anda bahkan tidak bisa mengalahkan seorang wanita tua! Keluarkan semua kekuatan anda, Yang Mulia! Apa hanya ini yang telah saya ajarkan pada anda?" Chang Yi menatap tajam ke arah Ling Mei, dengan sengaja dia memprovokasi sang cucu, membuat wanita muda itu memandang dingin ke arah Chang Yi.
Wajah Ling Mei terlihat tenang, namun begitu dingin hingga dapat membekukan orang yang melihatnya. Ketiga pria muda yang menjadi penonton itu tiba-tiba merasa tidak nyaman, Ling Mei terlihat lebih mengerikan dengan aura dinginnya. Ling Mei kembali maju, kali ini dia tidak menyerang dengan brutal, namun perlahan dan fokus pada titik-titik tertentu. Pertarungan berlanjut dengan cukup serius, terlihat di antara keduanya yang sama sekali tidak ingin kalah. Ini terlihat seperti saling membunuh daripada berlatih pada umumnya, tapi berlatih langsung dengan Jenderal Agung Kekaisaran jauh lebih baik daripada berlatih dengan guru biasa. Belum lagi melihat Putri Mahkota yang melakukan hal sejauh itu untuk membunuh Ling Mei, dia mungkin sudah tidak sabar lagi. Semakin lama, semakin banyak orang yang menginginkan kematian Ling Mei yang dinilai menghalangi mereka menuju kesuksesan.
Karena itu, hal seperti ini sangat diperlukan untuk keselamatan sang Bintang Keempat Kekaisaran Shao. Sayangnya, ketika kemenangan hampir di depan mata, Ling Mei dikalahkan oleh Chang Yi dengan wanita itu berada di atas tubuhnya yang terlentang di tanah dengan pedang milik sang Jenderal Agung Kekaisaran yang mengarah tepat ke lehernya. Ling Mei memutuskan untuk menyerah karena bergerak lebih banyak hanya akan membuat lehernya tergores dengan pedang tajam milik neneknya itu. Melihat beberapa luka yang telah dia dapatkan, bukan hal yang bagus jika dia memiliki luka lainnya di bagian yang mencolok.
"Baiklah! Kamu menang, Jenderal Agung Hong!"
Chang Yi mengulurkan tangannya ke arah Ling Mei, dia tersenyum dengan bangga. "Kamu cukup hebat cucuku, tapi itu belum cukup untuk mengalahkan aku."
"Ya! Seperti yang diharapkan dari seorang Jenderal Agung Kekaisaran." menerima uluran tangan itu dengan senang hati, Ling Mei menyeringai, kilatan sama terlihat di kedua matanya.
"Istriku!" secara bersamaan Yun Rui dan Yu Han memekik keras dan berlari ke arah Ling Mei yang terlihat berantakan.
"Tidak perlu khawatir, ini bukan sesuatu yang menyakitkan."
Yu Han berbicara dengan alis yang mengerut tidak senang. "Tapi, kamu terluka..."
"Dengar! Ini bukan apa-apa..." Ling Mei menghela napas ketika melihat Yun Rui dan Yu Han yang masih menatapnya dengan khawatir. "Begini saja, setelah ini kalian berdua pergilah ke Paviliun Yin, tunggu aku di sana. Naiklah ke gazebo lantai tiga, kita akan makan siang bersama di sana, kalian bisa minta Yu Shen untuk membantu menyiapkan semuanya."
"Uh, baik! Tapi, aku akan tetap mengobati lukamu." Yun Rui menatap tajam ke arah Ling Mei, dia kembali berseru saat melihat Ling Mei yang akan membuka mulutnya kembali. "Dan tidak ada protes!"
"Hǎo, hǎo. Lakukan sesuka kalian." setelah itu Ling Mei berjalan meninggalkan Chang Yi yang menatap cucunya itu dengan pendar mata hangat dan senyum geli yang tersemat di wajahnya. Wanita yang tak lagi muda itu menggeleng-gelengkan kepalanya sembari berharap pernikahan sang cucu yang akan selalu bahagia.
.......…...................
Berbeda dengan Manor Putri Keempat Kekaisaran Shao, di Kerajaan Wei, tepatnya di dalam paviliun Pangeran Keempat Kerajaan Wei terlihat cukup tenang dengan suasana yang begitu damai. Tian Zhi memetik senar Guqinnya dengan irama yang halus sembari tersenyum lembut, lagu itu mengingatkannya akan Ling Mei dan perasaan musim semi yang tumbuh di hatinya, Tian Zhi selalu berharap hal-hal baik akan datang padanya. Kembali, Tian Zhi mengingat akan lagu yang dia mainkan bersama Ling Mei saat berada di Paviliun Bulan milik sang Putri Keempat Kekaisaran. Hatinya menghangat dan darahnya berdesir hebat, Tian Zhi merasa tidak mampu untuk menahan debaran jantungnya yang terasa lebih cepat dari biasanya ketika dia mengingat sang cinta pertama.
Begitu lagu selesai dimainkan, Tian Zhi terdiam dengan mata birunya menatap kosong ke arah Guqin yang ada di depannya. Dalam hati dia terus berpikir, apakah hal yang benar dengan menyetujui kesepakatan yang ditawarkan oleh ibunya, Permaisuri Wei? Sebenarnya, hal ini cukup memberikan sakit kepala yang besar untuknya, dia merasa ragu untuk beberapa hal, tapi merasa yakin untuk suatu hal. Itu bukan hal yang baik untuk dijelaskan, karena bagaimanapun dia dan Yun Rui adalah saudara meskipun memiliki ayah yang berbeda. Tian Zhi menghela napas dalam-dalam, dia dan Ling Mei berada di posisi yang rumit.
Di bawah langit yang sama, namun di tempat yang berbeda. Tian Zhi mendongak, memandang ke arah langit yang cerah meski cuaca sedang bersalju. Dia dan Ling Mei terpisahkan oleh wilayah yang berbeda, meski begitu langit masih sama. Tian Zhi dan Ling Mei akan selalu memandang ke arah langit yang sama, seperti rasa cintanya pada sang Bintang Keempat Kekaisaran yang akan selalu sama dan tak pernah berubah.
Tian Zhi tersenyum hingga matanya menyipit hangat, rambut seputih saljunya berkibar lembut akibat sapuan angin yang menerpa dirinya. "Yang Mulia, aku akan selalu berharap suatu saat nanti kita akan dipertemukan dalam lukisan takdir yang indah. Kamu dan aku..."
.
.
Di sisi yang lain, daratan Kekaisaran Shao, perbatasan antara ibu kota Xiaoyang dan kota besar Taiyang, seorang pria muda turun dari atas kapal yang berlabuh di pelabuhan terbesar di pinggir ibu kota Xiaoyang. Dia memiliki rambut hitam dengan mata abu-abu yang berkilau seperti perak, kulit putih susu yang halus dan bersinar. Seorang pria muda yang cantik, kecantikan alaminya membuat para nona muda di sekitarnya meliriknya dengan tatapan kagum. Pria muda itu berjalan dengan anggun, seorang pelayan pria berjalan di belakangnya sembari membawa barang-barang tuan muda itu dari atas kapal. Tuan muda itu tersenyum manis, sudah cukup lama sejak kepergiannya dari kota Xiaoyang dan dia merindukan ibunya yang mungkin saat ini sibuk dengan urusan kekaisaran.
"Mi Gu, apa kereta kudanya sudah datang? Aku pikir aku begitu merindukan ibu dan ingin segera kembali ke kediaman."
Pelayan pria bernama Mi Gu menjawab dengan sopan. "Ya, Tuan Muda. Nyonya Besar berkata telah mengirimkan kereta kuda begitu kabar kedatangan anda sampai di kediaman keluarga Mo."
Tuan muda itu tersenyum dengan wajah yang hangat. "Apa kamu lihat? Langit terlihat cerah meskipun sedang musim dingin, ini membuatku merasa bahagia, seperti akan ada hal baik yang datang pada aku."
"Itu benar! Tuan Muda Mo kami harus selalu diliputi kebahagiaan yang berlimpah." Mi Gu berkata dengan penuh semangat, Tuan Muda-nya adalah seorang bangsawan yang terhormat.
Mo Rong Yun, putra dari Guru Besar Kekaisaran Mo Xin Qian. Berumur 18 tahun dan belum menikah, pria dengan kecantikan alami yang membuat para nona muda dengan mudah terpikat padanya dan ingin menikahinya. Selama hampir dua tahun belakangan memilih untuk tinggal di kota Taiyang di kediaman keluarga dari pihak ayahnya. Berkali-kali telah menolak banyak lamaran dari para nona muda bangsawan terhormat tak membuat mereka semua berhenti untuk mencoba melamarnya. Karena itu, Rong Yun memutuskan untuk pindah sementara dari Xiaoyang menuju Taiyang untuk menghindari mereka. Selain karena kecantikannya, latar belakangnya yang adalah seorang putra tunggal dari Guru Besar Kekaisaran membuat para bangsawan berlomba-lomba untuk menjadikannya seorang menantu.
Rong Yun tersenyum lebar sembari menatap ke arah Mi Gu dengan pendar mata yang cerah. "Nah! Nah! Sepertinya kereta kuda sudah terlihat, ayo Mi Gu! Aku ingin cepat-cepat bertemu dengan ibu dan ayah!"
Mi Gu tertawa kecil, lalu berjalan menyusul Rong Yun yang berlari-lari kecil menuju ke arah kereta kuda mereka sembari berteriak. "Baik! Baik! Mohon agar Tuan Muda tetap berhati-hati!"