
Di dalam Paviliun Yin, terlihat Ling Mei dan Wu Jin tengah mendiskusikan sesuatu dengan raut wajah mereka yang serius. Sebelumnya, untuk mencegah kedatangan Yun Rui secara tiba-tiba, Ling Mei telah meminta Yu Shen dan beberapa pelayan lain untuk menjaga pintu utama dan halaman sekitar Paviliun Yin.
"Seperti yang telah anda ketahui, Yang Mulia. Putri Mahkota mendapatkan dukungan kekuatan militer dari Jenderal Tinggi Kekaisaran Wu, kemudian beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan informasi bahwa Putri Mahkota menarik Menteri Militer Shu untuk berada di pihaknya."
"Hmm .... aku mengerti. Di pihak kita hanya ada dukungan militer dari Jenderal Agung Kekaisaran Hong yang adalah nenekku, itu belum cukup meskipun aku menggabungkannya dengan tentara Yuyin dan para penjaga bayangan. Jika kakak pertama mendapatkan dukungan setengah dari seluruh jenderal paling berpengaruh di kekaisaran, ini bukan hal yang bagus."
Ling Mei mengerutkan alisnya, merasa tidak puas dengan semua laporan ini. Jika dia ingin mendapatkan dukungan militer yang kuat, maka dia harus menarik Jenderal Besar Kekaisaran Shi dan Jenderal Kekaisaran Ling untuk berada di pihaknya. Ada sembilan tingkatan jenderal di Kekaisaran Shao, lima di antaranya disebut sebagai jenderal terkuat dengan kekuatan militer dan politik yang mendominasi. Lima jenderal tersebut di antaranya: Jenderal Agung Kekaisaran Hong, Jenderal Besar Kekaisaran Shi, Jenderal Tinggi Kekaisaran Wu, Jenderal Berbakat Kekaisaran Shao, dan Jenderal Kekaisaran Ling.
Di antara lima jenderal tersebut, Shao Mu Lan telah mendapatkan dua dukungan militer dari Jenderal Tinggi Kekaisaran Wu, dan Jenderal Berbakat Kekaisaran Shao yang adalah adiknya sendiri Shao Ming Fei, ditambah dia telah mendapatkan dukungan dari Menteri Militer Shu yang berasal dari jajaran pejabat kementerian kekaisaran. Itu akan setara jika Ling Mei mendapat dukungan dari dua jenderal kuat yang tersisa, karena sebelumnya dia telah mendapatkan dukungan secara diam-diam dari neneknya di pihak ayah yang adalah Jenderal Agung Kekaisaran Hong sekaligus jenderal terkuat di Kekaisaran Shao saat ini.
Ling Mei mengetuk-ngetukkan pena kuasnya ke meja kayu yang ada di depannya dengan lambat. "Jika aku ingin mendapatkan dukungan dari Jenderal Besar Kekaisaran Shi...."
"Maka, kamu harus siap untuk mengambil selir, cucuku." mendengar suara itu, seketika Ling Mei terkesiap. Wu Jin dan Ling Mei dengan cepat mendongakkan kepala mereka ke depan dan mendapati seorang wanita paruh baya berdiri angkuh dengan tongkat kayu khusus di tangan kirinya.
"Jenderal Agung Kekaisaran Hong?"
Sebagai Jenderal Agung Kekaisaran, Hong Chang Yi memiliki ilmu bela diri yang kuat dan hampir tak terkalahkan. Rumor mengatakan bahwa Hong Chang Yi bahkan dapat membunuh setengah dari pasukan musuh dengan tangan kosong saat berperang, hal itu membuatnya mendapatkan julukan sebagai Monster Perang Kekaisaran dan membuatnya cukup ditakuti juga dihormati. Bahkan Ling Mei yang memiliki ilmu bela diri tingkat tinggi pun tak dapat merasakan aura kedatangan dari Chang Yi.
PLAK
"Sudah berkali-kali kukatakan padamu untuk berhenti memanggilku Jenderal Agung dan panggil saja aku nenek! Dasar anak nakal!"
Ling Mei meringis merasakan nyeri pada pantatnya akibat pukulan yang tidak main-main dari tongkat kayu yang dibawa oleh neneknya. "Baiklah, maafkan saya nenek. Dan berhenti memukul saya dengan tongkat itu, saya rasa ini cukup menyakitkan."
"Benar-benar cucu yang baik! Beberapa tahun lalu kamu membuat nenekmu ini sangat khawatir hingga ingin berlari ke Istana Kekaisaran karena mendengar kabar tentangmu yang sakit keras dan tiba-tiba menjadi cacat mental! Sekarang saat kamu menikah, kamu bahkan tak memberiku undangan yang baik dan menyambut kedatanganku, Hmph!"
Kembali, Ling Mei dan Wu Jin hanya bisa meringis mendengar seluruh omelan yang dilayangkan oleh wanita yang dijuluki Monster Perang Kekaisaran itu. Neneknya yang masih begitu bersemangat walaupun usianya tak muda lagi terlihat menatap tajam Ling Mei dengan ekspresi merajuk yang kentara. Dalam hal ini, Wu Jin hanya bisa terdiam dan tak berani memberikan komentar apa pun, Jenderal Agung Kekaisaran Hong begitu mengerikan dengan auranya yang tajam. Bahkan Ling Mei yang memiliki aura dingin dan mematikan sekalipun tak dapat berkutik jika bersama dengan Hong Chang Yi.
"Nenek, jangan begitu marah dengan cucumu ini. Saya baru saja membeli sarang burung walet yang langka, bagaimana jika nenek mencobanya bersama saya?" dengan lembut Ling Mei merengkuh Chang Yi dan menuntunnya untuk duduk di kursi bantal yang ada di samping kanan kursi bantal milik Ling Mei.
Chang Yi mendengus, wanita paruh baya itu memalingkan mukanya agar tak menatap wajah sang cucu. "Baik! Sangat baik! Sama seperti ayahmu, kamu benar-benar tahu cara untuk membuatku berhenti marah!"
Ling Mei menyeringai licik. "Tentu saja, karena aku adalah putrinya."
Setelah meminta Yu Shen untuk membuat sup sarang burung walet, Ling Mei kembali duduk di kursi bantalnya. Segera, Ling Mei dan Wu Jin kembali membahas diskusi mereka sebelumnya diikuti dengan Chang Yi yang ikut mendengarkan pembahasan mereka. Berpikir tentang dukungan militer, Ling Mei mencoba untuk mencari cara menarik Jenderal Besar Kekaisaran Shi yang terkenal jujur dan berada di pihak netral. Jenderal Besar Shi memiliki jabatan dan posisi terkuat kedua dalam militer setelah Jenderal Agung Hong, hal itu dapat memperkuat kedudukan Ling Mei jika dia berhasil mendapatkan Jenderal Besar Shi di sisinya.
"Mei'er, untuk mendapatkan dukungan dari Jenderal Shi, kamu harus mengambil putra sah kediaman Shi untuk menjadi selirmu."
Hong Chang Yi menyesap secangkir teh yang ada di tangannya dengan anggun dan tidak tergesa-tesa. Raut wajahnya terlihat tetap santai meskipun dia telah memberikan saran yang tidak terlalu bagus untuk dilakukan. Mau bagaimana pun, beberapa hari yang lalu Ling Mei baru saja menikah secara resmi dan bukan hal yang baik jika dia mengambil selir baru di dalam harem kediamannya yang masih penuh akan aura pengantin baru. Lagi pula, putri keempat Kekaisaran Shao itu sama sekali tidak berniat untuk menambah pria di dalam harem miliknya.
"Tapi nenek, apa benar tidak ada cara yang lain? Saya telah menikah dalam beberapa hari dan bukan hal yang bagus untuk saya kembali mengambil selir. Itu akan merusak reputasi saya dan kediaman di masa depan. Orang-orang menganggap saya sebagai putri cacat mental yang tidak tahu apa itu pernikahan, akan sangat aneh jika putri yang bersikap bodoh dan kekanakkan tiba-tiba mengambil selir dari rumah seorang jenderal. Melihat hal itu, orang lain mungkin akan mencurigai saya."
Chang Yi menghela napas pelan. "Kalau begitu, cara satu-satunya adalah berhentilah berpura-pura cacat mental!"
"Apa?" Ling Mei menatap Chang Yi dengan mata yang melebar, neneknya selalu memiliki saran yang cukup mendebarkan.
"Dengar! Entah apa yang terjadi, tapi Shao Mu Lan memilih bergerak lebih cepat dari yang kita perkirakan dan berpikir untuk menarik semua pejabat kekaisaran di pihaknya. Bahkan jika Permaisuri Agung tak memilihnya, dengan seluruh dukungan yang telah dia dapatkan, itu akan lebih cepat untuk membuatnya menduduki kursi Phoenix."
Chang Yi terdiam sebentar sebelum kembali melanjutkan, "Sebarkan rumor ke seluruh penjuru kekaisaran bahwa sedikit demi sedikit penyakit mental yang dimiliki oleh putri keempat mulai pulih dengan kecerdasan yang mulai kembali normal seperti dulu."
"Lalu, bukankah itu artinya kita akan mengibarkan perang suksesor secara terang-terangan?" Wu Jin bertanya pada Chang Yi dengan tatapan yang serius.
"Itu benar. Melihat situasi saat ini, peluang untuk menang akan lebih besar jika kita bergerak secara terang-terangan. Kemudian setelah mereka lengah akibat strategi yang tergesa-gesa, kita dapat menyerang mereka diam-diam sebelum mengakhiri semuanya dengan melakukan penyerangan besar-besaran dan menyingkirkan kakak pertamamu dari posisi putri mahkota."
Ling Mei tersenyum dingin, kilatan tajam yang samar terlihat di kedua mata birunya.
"Ah! Sebelum itu, melihat kedatangan nenek ke sini, apa nenek kembali mengunjungi saya seorang diri?" segera, Ling Mei mengubah raut wajahnya menjadi manis dan hangat. Tatapannya yang tajam berubah menjadi penuh kelembutan yang menyenangkan.
Chang Yi mendengus penuh kekesalan. "Tidak. Aku berkunjung kemari bersama suamiku, sekarang dia pasti sedang bersama dengan cucu menantuku. Setelah seperti ini kamu baru menanyakan kunjunganku? Benar-benar cucu yang berbakti! Kemari, biarkan aku memukulmu lagi!"
Mendengar hal itu, Ling Mei berdiri dengan waspada. Dia dapat melihat Chang Yi yang telah siap memukulnya dengan tongkat kayu yang dibawanya berdiri tegap tepat di sampingnya, membuat Ling Mei menghindar secara tergesa-gesa dengan raut wajah yang panik.
"BOO-HOO!!! Maafkan saya nenek!!!"
........................
Seperti yang telah dikatakan oleh Hong Chang Yi, di Paviliun Zuanshi terlihat Wei Yun Rui dan Tuan Besar Hong, suami resmi dari Jenderal Agung Kekaisaran tengah meminum teh bersama. Mereka berbincang dengan hangat dan ringan, itu dapat dilihat dari raut wajah mereka yang terlihat senang. Kedua pria berbeda usia, namun sama-sama memiliki keanggunan dan ketampanan yang setara itu benar-benar menjadi pemandangan yang indah di tengah badai darah perebutan takhta, siapa pun yang melihatnya pasti akan berpikir seperti itu.
"Apa kamu tahu Yun Rui, ketika berumur tujuh tahun, Mei'er begitu nakal. Saat itu, dia sedang mengunjungi kediaman kami atas permintaan istriku. Lalu, ketika dia sedang sibuk bermain, aku meninggalkannya sebentar untuk mengambilkan camilan manis untuknya, tapi apa kamu tahu apa yang terjadi setelahnya?"
Yun Rui menatap Tuan Besar Hong penasaran, dia ingin mendengar lebih banyak tentang masa lalu Ling Mei yang tidak banyaj dia ketahui.
"Lalu?" Yun Rui menanyakannya dengan suara lirih yang hampir seperti berbisik.
Tuan Besar Hong, Su Jin Mian tersenyum. Wajahnya tetap berseri meskipun berada di usia tuanya, dia menatap Yun Rui dengan binar hangat. "Mei'er kecil itu dengan nekat memanjat pohon persik dan duduk di atas dahan paling tinggi yang ada di pohon itu. Ketika aku kembali dan melihatnya, aku menjadi begitu panik hingga hampir menangis, tapi istriku mengatakan bahwa itu tidak apa-apa."
"Aku mencoba untuk memarahinya, tapi melihat tingkahnya yang menggemaskan saat dia memberikanku buah persik matang dengan wajah yang berseri-seri, aku menjadi tidak bisa untuk memarahinya dan membuatnya menangis. Yun Rui, Mei'er sebenarnya adalah anak yang hangat dan penuh kasih sayang. Sayangnya, kejadian besar itu membuat Mei'er berubah menjadi orang yang berbeda. Aku harap kamu tidak pernah menyesal telah menerima dekrit itu dan menikah dengannya. Anak itu sudah cukup menderita, karena itu, tolong tetaplah berada di sisi Mei'er dan jaga dia dengan baik."
Setelah mengatakan semua itu, Su Jin Mian menghela napas panjang. Dia begitu menyayangi cucu perempuannya itu hingga rasanya dia tak ingin ada hal apa pun yang dapat membahayakan dan membuat cucunya menderita. Yun Rui terdiam dengan pandangan yang menatap ke arah cangkir teh yang ada di depannya, entah kenapa dia merasa tak dapat mengatakan apa pun.
"Saya pasti—"
"KAKEKKK!!!" teriakan Ling Mei yang keras membuat ucapan Yun Rui terhenti.
Jin Mian tersenyum lebar dengan wajah yang senang. "Aiyooo! Cucuku yang manis! Bagaimana kabarmu? Kamu terlihat bahagia, apa kamu telah puas bermain dengan nenekmu?"
Mendengar hal itu Ling Mei terdiam sebentar, matanya melirik ke arah Chang Yi yang ternyata juga meliriknya sebelum kembali menatap sang kakek dan tersenyum dengan begitu ceria.
"Tentu! Mei'er sangat suka bermain dengan nenek! Itu terasa sangat menyenangkan!"
"Begitukah? Karena Mei'er menyukainya, setelah ini jika kita bermain lagi, nenek akan mengajarkan cara menggunakan pedang padamu, bagaimana?" Chang Yi tersenyum dengan misterius, sekilas matanya terlihat berkilat samar.
"Uh! Benarkah? Apa bermain pedang itu menyenangkan nenek? Mei'er selalu merasa penasaran, tapi kakek dan ayah tak pernah mengizinkanku untuk mencobanya."
Nada antusias itu membuat Yun Rui dan Jin Mian seketika merasa panik, menggunakan pedang dengan karakter Ling Mei saat ini justru akan sangat berbahaya dan akan menimbulkan banyak luka pada wanita itu. Tentu saja, itu karena mereka berdua tidak mengetahui rahasia Ling Mei yang sebenarnya. Hong Chang Yi telah menyembunyikan rahasia ini dari suaminya selama bertahun-tahun lamanya.
"Istriku, tolong jangan mengatakan hal seperti ini padanya! Berlatih pedang akan sangat berbahaya untuk Mei'er, itu tidak akan bagus untuk tubuhnya!" Jin Mian berucap khawatir, raut tidak rela terlihat di wajahnya yang menua.
"Ini tidak akan menjadi berbahaya. Suamiku, kamu jangan terlalu khawatir, Mei'er kita sudah dewasa, dia harus melakukan latihan ini untuk menjaga dirinya sendiri dan pasangannya. Lagi pula sebelum dia menjadi seperti ini, sejak dia berumur tiga tahun Mei'er telah memegang pedang dan mencoba bertarung denganku. Hal seperti ini bukanlah apa-apa untuknya."
"Tapi, Jenderal Agung Hong, bukankah kondisi Yang Mulia saat ini sangat berbeda dengan yang dulu? Saya merasa khawatir tentang kemungkinan bahwa Yang Mulia akan kembali dengan tubuh yang penuh darah dan luka setelah melakukan latihan pedang."
"Pangeran Wei, kamu adalah suami yang baik. Hanya saja, beberapa hal tak dapat kita hentikan hanya karena rasa takut dan khawatir yang berlebihan. Saya pikir kamu pasti mengerti maksud ucapanku."
Yun Rui menghela napas dalam diam, dia memandang Ling Mei dengan penuh kasih sayang. "Ya, Jenderal Agung Hong. Saya mengerti."
Ling Mei hanya mendengarkannya dalam diam, terdangar tulus dan begitu baik. Yun Rui memiliki ketulusan yang murni dibalik sikapnya yang nakal dan terkadang ceroboh, sayangnya Ling Mei telah memutuskan untuk menutup hatinya dengan begitu rapat dan tanpa celah sekecil apa pun, bahkan untuk pria sebaik Yun Rui sekalipun.