
Sebagai balasan atas undangan yang diberikan oleh Ling Mei, Shi Yu Han, tuan muda pertama dari keluarga Shi itu mengunjungi kediaman putri keempat secara pribadi. Karena dia telah bersedia untuk menikah dengan Ling Mei dan akan menjadi selirnya, Yu Han memutuskan untuk datang ke kediaman Ling Mei sesuai dengan undangan yang diberikan oleh putri kekaisaran itu dan melihat seperti apa kediaman baru yang akan dia tinggali. Belum lagi, kediaman putri keempat telah memiliki seorang tuan besar sekaligus pendamping resmi yang juga merupakan pernikahan pertama putri keempat yang dilakukan secara besar-besaran di dalam istana kekaisaran atas dasar dekrit pernikahan. Itu membuat Yu Han merasa khawatir dalam hatinya akan penolakan yang mungkin didapatkannya dari Pendamping Utama Wei Yun Rui yang adalah suami utama dari Ling Mei.
Yu Han menghela napas panjang di dalam kereta kudanya yang telah berhenti, dia menatap gerbang besar nan kokoh yang berhiaskan papan nama besar bertuliskan 'Manor Putri Keempat Kekaisaran Shao' dari balik jendela kereta kudanya dengan ragu. Ketika tuan muda pertama keluarga Shi itu turun dari kereta kudanya, para pengawal yang berjaga di depan gerbang kediaman kemudian membuka gerbang tersebut dengan cepat. Sebelumnya, Ling Mei telah memberitahu mereka bahwa kediaman ini akan memiliki seorang tamu yang tidak biasa dari keluarga bangsawan Shi. Bersama dengan Mo Xi, Yu Han disambut dengan hangat oleh seorang pria yang berpakaian khas seorang pelayan saat memasuki bagian depan kediaman.
"Salam untuk Tuan Muda Pertama keluarga Shi. Saya Cao Yu Shen, kepala pelayan kediaman Putri Keempat sekaligus pelayan pribadi Yang Mulia. Beliau memberi perintah pada saya untuk menyambut anda dan mengantar Tuan Muda ke Paviliun Yin, Yang Mulia telah menunggu anda di sana. Dalam hal itu, apakah Tuan Muda Pertama tidak keberatan?"
Yu Han tersenyum lembut, pandangannya benar-benar terlihat teduh tanpa sarat keangkuhan. "Tidak keberatan. Kalau begitu, mohon bantuannya, Kepala Pelayan Cao."
"Ah! Tolong jangan memanggil saya seperti itu, di sini semua pelayan adalah setara dan saling memanggil nama satu sama lain. Karena itu, anda adalah Tuan Muda terhormat, mohon untuk memanggil saya Yu Shen saja." Yu Shen menggeleng cepat dengan ekspresi sungkan yang kentara, panggilan kepala pelayan terlalu berat untuknya.
"Baiklah, seperti yang kamu katakan."
Yu Shen tersenyum, kemudian dengan posisi yang sopan dia berjalan terlebih dahulu dan mengantarkan Yu Han ke Paviliun Yin. Ketika mereka memasuki area Paviliun Yin, Yu Han dapat melihat suasana paviliun yang ditempati oleh Ling Mei itu begitu tenang. Yu Shen berhenti melangkah ketika dia berdiri tak jauh dari pintu ruang kerja milik tuannya, perlahan dia mengetuk pintu ruang kerja Ling Mei dan berkata dengan sedikit keras.
"Yang Mulia, ini Yu Shen. Tuan Muda Pertama Shi telah datang."
"Ya, biarkan dia masuk." suara Ling Mei terdengar membuat Yu Han yang ada di luar ruangan tersenyum dalam hati, entah sejak kapan, tapi dia merindukannya.
Izin telah dikeluarkan, Yu Shen membuka pintu tersebut dan mempersilahkan Yu Han untuk masuk ke dalam sendirian, sedangkan Mo Xi akan menunggu di luar bersamanya. "Sekarang Tuan Muda Pertama boleh masuk, saya dan pelayan anda akan menunggu di sini."
Dengan perasaan senang yang tertutup dengan hati-hati, Yu Han tersenyum lembut dan menatap Yu Shen hangat. "Terima kasih, Yu Shen."
Yu Shen mengangguk dengan senyum kecil dan membiarkan Yu Han memasuki ruangan sebelum dia menutup pintu itu kembali. Memasuki ruangan kerja Ling Mei, terlihat sang bintang keempat kekaisaran itu tengah sibuk menulis sesuatu di atas gulungan perkamen dengan wajah yang serius. Yu Han dapat menebak dalam hati bahwa itu adalah sebuah dokumen yang penting.
"Shi Yu Han memberi salam kepada Bintang Keempat Kekaisaran, semoga anda selalu dipenuhi kebahagiaan."
Mendengar suara itu Ling Mei menghentikan gerakan tangannya, dengan hati-hati dia meletakkan kuas tulis itu di samping perkamennya dan mendongakkan kepalanya, menatap tepat di wajah rupawan milik Yu Han. "En, duduklah."
"Maaf harus membuatmu menunggu lebih lama lagi. Segera setelah pekerjaan ini selesai, aku akan mengajakmu berkeliling kediaman ini. Sementara itu untuk sekarang, apa kamu mau minum teh bersamaku?" nada itu terdengar datar, tapi Yu Han cukup mengerti bahwa ucapan Ling Mei memiliki rasa bersalah di dalamnya.
Yu Han tersenyum simpul sembari menatap sebentar mata biru yang berkilat dingin itu, kemudian dia kembali menundukkan kepalanya dengan wajah yang merona samar. "Tentu, seperti yang anda tawarkan. Anda bersedia menuangkan teh untuk saya yang rendah ini, dalam hal itu adalah sebuah kehormatan untuk saya, Yang Mulia."
"Tidak perlu sungkan, dalam waktu dekat kamu akan menjadi selirku. Ini masih bukanlah apa-apa..." Ling Mei menghela napas, tatapannya kembali fokus pada lembaran perkamen yang ada di depannya, dia harus menyelesaikan tulisannya yang tertunda.
Rumor memanglah rumor! Melihat Shao Ling Mei saat ini, putri keempat memang benar-benar tak pernah mengalami cacat mental. Siapa yang akan mengira bahwa dia berhasil menipu banyak orang dalam waktu yang lama. Yu Han menggeleng pelan dan dengan lembut berkata, "Berterima kasih atas kebaikan hati, Yang Mulia."
"Baik, baik. Kamu bisa santai untuk ini, Tuan Muda Pertama."
.
.
Di dalam Paviliun Zuanshi, Wei Yun Rui dengan perasaan senang berpikir untuk mengunjungi Ling Mei yang berada di Paviliun Yin. Suasana hatinya begitu baik hingga Yun Rui merasa tidak sabar untuk beberapa hal, dia berniat untuk menemui Ling Mei sekedar hanya untuk melihat wajahnya atau jika memungkinkan dia ingin berbincang sebentar dengan istrinya itu. Yun Rui berjalan menuju Paviliun Yin dengan Shu Lian di belakangnya, pendar matanya terlihat bersinar seperti bintang di langit. Namun sayangnya, belum dia sampai di Paviliun Yin, langkah Yun Rui terhenti ketika melihat pemandangan yang membuat hatinya merasa tidak nyaman. Di sana, tak terlalu jauh dari tempatnya berdiri, terlihat Ling Mei yang berjalan berdampingan bersama dengan seorang pria muda. Bahkan pria muda itu terlihat memandang Ling Mei dengan wajah yang berseri dan senyum lebar yang manis.
Tatapan Yun Rui terpaku dengan alis yang mengerut bingung ke arah keduanya yang tampaknya tak melihatnya. Pendamping utama putri keempat itu terus memandang Ling Mei dan tuan muda yang tak dia kenal tersebut dengan tatapan sendu hingga mereka berdua mulai tak terlihat lagi oleh pandangannya. Sekilas keduanya tampak serasi saat bersama, seperti pasangan yang ditakdirkan oleh surga. Rasa kecewa mulai menyelimuti hatinya, Yun Rui menundukkan kepalanya dengan alis yang mengerut sedih dan kedua mata yang terpejam erat, kedua tangannya meremas hanfu hitam keemasan yang dipakainya erat-erat. Segera setelah dia merasa lebih tenang, Yun Rui menghela napas dalam-dalam. Pria muda itu berpikir untuk kembali ke dalam paviliunnya dan mengurungkan niatnya untuk menemui istrinya.
Namun, ketika dia tak sengaja menolehkan kepalanya ke samping, Yun Rui melihat Liao Wu Jin yang berdiri tak jauh dari tempatnya saat ini. Pria yang Yun Rui ketahui sebagai pengawal pribadi putri keempat itu terlihat terdiam dengan tatapan lurus ke depan tepat ke arah di mana Ling Mei dan seorang tuan muda itu berjalan menjauh. Tak lama setelahnya, Wu Jin juga menoleh ke arah Yun Rui berdiri membuat mereka berdua secara tidak sengaja saling menatap satu sama lain. Kecanggungan terlihat di antara mereka, tetapi kemudian Wu Jin berjalan mendekat ke arah Yun Rui dan menundukkan kepalanya singkat.
"Memberi salam kepada Pendamping Utama Wei."
Yun Rui menghela napas diam-diam, mengerti akan rasa canggung antara dia dan Wu Jin. "Tidak perlu begitu formal, Pengawal Liao. Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan padamu, apa kamu tidak keberatan untuk berjalan bersamaku sebentar?"
Wu Jin terdiam sebentar dengan wajahnya yang datar, setelah itu dia mengangguk singkat. "Ya, saya mengerti."
Mereka berjalan beriringan dalam diam tanpa adanya percakapan satu sama lain. Ketika beberapa langkah telah dilewati, Yun Rui menanyakan sesuatu yang membuat Wu Jin menghentikan langkahnya.
"Pengawal Liao, aku yakin kamu mengetahui indentitas dari pria yang berjalan bersama dengan Putri Keempat ... dalam hal itu, apa kamu bersedia memberitahukannya padaku?"
"Itu... saat ini tamu yang bersama dengan Yang Mulia adalah Tuan Muda Pertama keluarga Shi, Shi Yu Han. Yang Mulia mengundangnya secara langsung untuk datang dan berkunjung ke kediaman ini, itu sebabnya Tuan Muda Shi ada di sini."
Mendengar jawaban Wu Jin, Yun Rui mengernyitkan alisnya. Dia menatap Wu Jin dengan tatapan bertanya yang kentara. "Untuk apa Yang Mulia mengundang Tuan Muda Shi ke dalam kediaman ini?"
Wu Jin menatap ke bawah dengan tatapan muram yang samar, tidak mungkin dia tak mengetahui tentang hal ini. Tapi, tanpa perintah dari Ling Mei, Wu Jin tak dapat mengatakan apa pun.
"Dalam hal ini saya tidak dapat memberitahu apa pun tanpa seizin Yang Mulia, jika anda menginginkannya, anda bisa menanyakannya secara pribadi pada Yang Mulia. Karena itu, mohon Pendamping Utama Wei memaafkan pengawal yang rendah ini."
Wu Jin menatap Yun Rui sebentar sebelum mengalihkan pandangannya ke arah lain, tidak ingin kembali memandang pria yang menjadi suami resmi dari wanita yang dicintainya. "Maaf karena tidak dapat menemani anda lebih lama karena saya harus menemui Yang Mulia untuk melaporkan beberapa hal."
"Pergilah! Aku tidak akan menahanmu lebih lama lagi, istriku tidak boleh menunggu terlalu lama." Yun Rui mengatakannya tanpa memandang ke arah Wu Jin.
"Shì." Wu Jin menundukkan kepalanya singkat sebelum berjalan meninggalkan Yun Rui dan Shu Lian yang masih terdiam di tempat mereka.
.............................
Malam harinya, ketika Yun Rui harus melakukan tugasnya untuk melayani dan menemani Ling Mei di peraduannya, dia datang dengan keraguan di dalam hatinya. Pikirannya masih terus berputar tentang lelaki itu, seorang Tuan Muda Pertama Shi yang memiliki status terhormat di kekaisaran. Ini mungkin hanya dugaan darinya, tapi sepertinya kediaman ini akan memiliki seorang 'Tuan Kediaman' yang lain. Keduanya, Ling Mei dan Yun Rui tengah duduk di atas peraduan sang bintang keempat kekaisaran itu tanpa melihat satu sama lain. Bahkan di malam hari seperti ini, wanita itu terlihat sibuk dengan dokumen-dokumen yang ada di tangannya. Benar-benar seorang wanita karir yang sibuk!
Yun Rui melirik istrinya itu, menatapnya dalam diam dengan ekspresi penasaran yang kentara. Kemudian dengan nada pelan dia bertanya, "Ling Mei, bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu?"
Ling Mei menoleh ke arah Yun Rui dan mengangguk dengan raut yang tidak keberatan. "En, katakan! Jika aku bisa memberikan jawaban untukmu."
"Tentang tuan muda yang bersamamu tadi siang, apa kamu mau memberitahu aku?"
"Dia adalah Tuan Muda Pertama keluarga Shi, namanya Shi Yu Han. Aku dan ibunya terlibat dalam sebuah kesepakatan yang penting."
Jawaban dari Ling Mei membuat Yun Rui merasakan kecewa dalam hatinya, banyak hal yang tidak dia ketahui tentang istrinya, bahkan sekalipun mereka terlibat dalam perasaan musim semi di masa lalu. "Lalu, jika aku tidak menanyakannya, apa kamu tidak akan mengatakannya padaku?"
Ling Mei menghela napas, dia tahu bahwa ini bukan berita yang baik untuk Yun Rui. Namun, kesepakatannya dengan Jenderal Besar Shi juga tak dapat dia kesampingkan begitu saja, jadi dengan wajah yang masih tenang Ling Mei membuka suaranya kembali. Mencoba menjelaskan dengan baik tentang maksud dari kedatangan Shi Yu Han ke dalam kediaman ini.
"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu tentang Tuan Muda Shi, mungkin setelah ini Manor* Putri Keempat akan memiliki seorang selir. Sebelum menyetujui kesepakatan yang aku tawarkan, Jenderal Besar Kekaisaran Shi mengajukan syarat padaku untuk mengambil satu-satunya putra sah yang dia miliki sebagai selir, dia meminta aku untuk menjaga putranya dari Putri Mahkota."
(Manor: dapat diartikan sebagai rumah para bangsawan).
"Seorang ... selir? Dan kamu tidak mengatakan apa pun padaku sebelum ini? Yang Mulia, apakah saya benar-benar Pendamping Resmi anda?" ketika dia mendengarnya, Yun Rui merasa hatinya terpecah seperti kaca yang rusak. Kedua matanya berkaca-kaca, dia bukan pria yang lembut dan mudah menerima seperti Tian Zhi atau Selir Agung Kekaisaran Gu.
Kini Ling Mei benar-benar menghadap ke arah Yun Rui, satu tangannya dia bawa untuk mengusap air mata yang mengalir di pipi Yun Rui.
"Maaf, aku mengerti jika kamu ingin marah padaku. Itu memang salahku yang tak membicarakan hal ini denganmu terlebih dahulu, jadi jangan menangis! Aku memberitahu hal ini bukan untuk membuatmu menangis."
"Kamu tidak pernah benar-benar menjadi putri yang cacat mental, kamu hanya berpura-pura tentang hal itu! Lalu istriku, bisakah kamu mengatakannya padaku tentang janji sepuluh tahun yang telah kita ucapkan bersama, apa kamu masih mengingatnya?"
Yun Rui sedikit berteriak di dalam nada suaranya sebelum suaranya kembali melirih dengan ekspresi sedih yang kentara, dia meraih tangan Ling Mei yang masih memegang pipinya dan menggenggamnya dengan erat.
"......Ya. Aku selalu mengingatnya, bahkan jika aku ingin melupakannya, bayanganmu seolah tak pernah membiarkan itu terjadi. Tapi, ketika aku memutuskan untuk membalas dendam, aku menutup kasih sayang dan cinta yang kumiliki lalu memenuhinya dengan kebencian dan kemarahan yang membakar."
Ketika mengatakan semua itu, sorot mata Ling Mei dipenuhi dengan kedinginan yang membekukan. Sebuah tatapan yang benar-benar tak ingin Yun Rui lihat dari istrinya di sepanjang kehidupannya. Yun Rui menatap mata Ling Mei dan berkata dengan nada patah hati yang terdengar jelas, "Lalu apa? Aku akan menjadi perisaimu, kapan pun kamu menginginkannya aku akan memberikan jiwa dan darahku untukmu. Tapi istriku, tidak bisakah kamu melihatku?"
"Yun Rui, aku bukan orang yang pantas untuk diharapkan. Jika kamu menginginkan cinta dariku, aku mungkin tidak bisa memberikannya padamu, begitupun dengan selir yang lain."
"Tidak! Aku selalu mempercayainya, akan ada saat di mana kamu akan mencintaiku dan aku tak ingin menyerah untuk itu. Beri aku kesempatan, biarkan aku membuatmu mencintaiku dan melihatku seperti dulu!"
"Lalu, apa yang kamu inginkan?" melihat kekeraskepalaan yang dimiliki oleh Yun Rui, Ling Mei menghela napas, dalam hal ini Ling Mei memilih menyerah. Yun Rui ingin mendapatkan hatinya, kalau begitu mari kita lihat berapa lama itu akan bertahan!
"Kamu Menikah denganku secara resmi untuk yang pertama kalinya dan sekarang kamu akan memiliki selir lain, aku adalah pria yang dapat merasakan cemburu. Melihat kamu menghabiskan waktu dengannya sebagai istri dan selir, aku mungkin tak dapat menahan diriku dari rasa tidak nyaman. Karena itu, sebelum kamu menikahinya, jadikan saya sebagai milik anda seutuhnya, Yang Mulia."
Mendengar semua itu Ling Mei terdiam sebentar, bahkan dengan wajah luarnya yang datar, Ling Mei merasakan ragu yang samar di dalam hatinya. Ini bukan hal yang mudah mengingat ini juga hal yang pertama untuknya. "Aku harap kamu tidak pernah menyesalinya, suamiku."
Yun Rui menggeleng pelan dengan senyum di wajahnya. "Tidak, tidak akan pernah."
Ling Mei menatap lekat suami utamanya itu, jari-jari tangannya bergerak menyusuri pahatan wajah rupawan yang menggoda bagai iblis dengan halus dan perlahan. Kembali, Ling Mei mulai mendekatkan wajahnya hingga hembusan napasnya dapat dirasakan dengan jelas oleh pria muda itu. Yun Rui melihatnya, ketika Ling Mei menempelkan kedua bibir mereka dan menciumnya dengan lembut dan hati-hati. Pandangannya berubah menjadi sayu sebelum kemudian dia memilih untuk memejamkan kedua matanya dan mengalungkan kedua lengannya ke leher sang bintang keempat kekaisaran. Ketika tautan mereka terlepas, bibir Ling Mei bergerak menyusuri pipi Yun Rui hingga turun ke leher sang pangeran kedua Kerajaan Wei.
Yun Rui mengerutkan alisnya saat kecupan-kecupan ringan itu berubah menjadi hisapan dan gigitan yang membuat seluruh tubuhnya meremang dan bergetar. Satu tangan Ling Mei menelusuri tubuh Yun Rui membuat pria itu semakin tak berdaya di bawah kendalinya karena kenikmatan aneh yang terus menerus dia dapatkan.
"Apa kamu menyukainya, Rui'er?" Ling Mei bertanya dengan seringai yang terlihat di wajah menawannya, pandangannya berubah menggelap dan menajam membuatnya terlihat semakin mendominasi.
Mendengar itu, Yun Rui membuka kedua mata semerah darahnya. Dengan mulut yang sedikit terbuka dan tatapan yang sayu, dia mencoba untuk mengatakan sesuatu. "Uh! A-aku ... i-ini ... Ah! Ling Mei!"
"Mmhh ... aghh! Ughh ... ah!"
Ini adalah kali pertama mereka melakukannya, bahkan jika ini adalah malam pertama yang terlambat, Yun Rui tak merasa keberatan. Sensasi ini, dia menyukainya. Ketika Ling Mei menyentuhnya dengan lembut dan memperlakukannya dengan hati-hati. Suara-suara lirih bahkan keras seperti pekikan terus terdengar dari mulut Yun Rui, dia bahkan tak dapat mengatakan apa pun dengan benar saat rasa nikmat menerpa seluruh tubuhnya. Yun Rui tersenyum licik dalam hati, diam-diam dia menatap Ling Mei dengan kilatan aneh yang samar di matanya, terlihat penuh akan cinta dan kepemilikan yang mendalam. Pangeran Kedua Wei itu akan berusaha membuat Ling Mei melihatnya, dengan begitu di masa depan Ling Mei tak akan meninggalkannya sekalipun putri kekaisaran itu memiliki selir yang lain.