Phoenix: Rules Of The Harem

Phoenix: Rules Of The Harem
Bab 23: Takhta Phoenix Yang Berdarah



Di dalam Aula Utama, lebih tepatnya di dalam Balai Agung Kekaisaran, tempat di mana pertemuan dan pengadilan pagi yang membahas urusan negara diadakan bersama para menteri dan pejabat kekaisaran, tatapan Permaisuri Agung Shao Fang Hua terpaku pada area singgasana kebesaran dengan ukiran phoenix emas di setiap sudutnya. Kursi Phoenix yang selalu ditempati oleh para Permaisuri Agung dari generasi ke generasi, kursi berdarah yang telah membunuh banyak orang demi untuk memilikinya. Hari telah menunjukkan tengah malam, tapi Shao Fang Hua justru berjalan sendirian ke dalam Aula Utama dan menatap kursi singgasana yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri itu dengan tatapan yang kosong dan sedih.


"Hua'er, lihatlah ini! Saat kamu dewasa nanti, kursi ini kamu yang akan menempatinya." Permaisuri Agung terdahulu, Shao Lu Yan duduk di kursi Phoenix dengan Fang Hua kecil di pangkuannya.


Fang Hua kecil mendongakkan kepalanya, menatap Permaisuri Agung Shao Lu Yan penuh tanya dengan mata besarnya. "Huh? Bukankah kursi ini milik ibu permaisuri?"


"Tentu saja tidak! Semua orang dapat memiliki kursi ini, tapi apa kamu tahu? Hanya orang-orang yang baik yang boleh duduk di atasnya, karena itu saat kamu duduk di sini...." Permaisuri Agung Shao Lu Yan bangkit dari duduknya, kemudian mendudukkan Fang Hua kecil di kursi itu dengan hati-hati. "Kamu harus menjadi seseorang yang bijaksana dan dapat memimpin rakyat dengan baik, kamu mengerti nak?"


Fang Hua kecil mengangguk dengan penuh semangat. "En, mengerti! Lalu, jika saya yang duduk di sana, ibu permaisuri akan berada di mana?"


Shao Lu Yan tersenyum, sebuah senyuman lembut yang tulus dan penuh dengan kehangatan. "Aku? Hmm ... aku akan menikmati waktu bersama ayahmu di rumah yang sederhana seperti yang kami impikan sejak dulu."


Itu adalah takhta Phoenix yang berdarah, kursi yang juga hampir menghilangkan nyawa ibunya, Permaisuri Agung Shao Lu Yan untuk selamanya. Masih jelas di dalam ingatannya saat itu, ketika sebuah pemberontakan terjadi di umurnya yang masih tujuh tahun kala itu. Perang saudara yang hampir menewaskan ibunya yang saat itu adalah Permaisuri Agung karena mencoba melindungi dirinya dan juga ayahnya dari serangan musuh. Fang Hua tak pernah melupakannya, kejadian di mana Istana Kekaisaran diserang habis-habisan oleh saudara ibunya yang ingin merebut kekuasaan Permaisuri Agung Shao Lu Yan, juga ibunya yang bersusah payah menghalangi saudaranya yang saat itu berusaha untuk menyerang dirinya dan juga ayahnya dengan tubuh yang penuh darah. Tanpa sadar napas Fang Hua tercekat, ingatan hari itu tiba-tiba kembali berputar di pikirannya.


"Yang Mulia! Ada pemberontakan! Ada pemberontakan! Istana diserang!" seorang pengawal berteriak dengan keras, dia berlari dengan tergesa-gesa menuju ke arah Permaisuri Agung Shao Lu Yan yang saat itu tengah berada di Balai Agung Kekaisaran.


Masih berada di singgasana Phoenix, Shao Lu Yan tersenyum kecil dengan tatapan lurus ke depan. "Aku mengerti. Apa harem, para putri, pangeran, pelayan, dan kasim sudah diamankan seperti yang aku minta?"


"B-benar, Yang Mulia. Semuanya sudah dalam perjalanan untuk persembunyian." pengawal itu membungkuk hormat dan menjawab, napasnya masih terdengar sedikit terengah.


"Itu bagus, aku akan menunggu para pemberontak itu di sini." Lu Yan menghela napas, dia memejamkan matanya sebentar sembari menyandarkan kepalanya yang terasa sedikit berat pada kursi kebesarannya. "Kakak, aku tak percaya kamu benar-benar melakukan hal ini."


"Ibu permaisuri!"


Mendengar suara khas itu, Lu Yan membuka matanya dengan cepat. Dia terkejut ketika melihat putri kecilnya Shao Fang Hua berlari ke arahnya dengan wajah yang basah karena air mata. Di belakang gadis kecil itu, seorang pria yang masih cukup muda berjalan mengikuti Fang Hua kecil, namun tatapan matanya terus tertuju pada Lu Yan. Pria itu adalah Pendamping Utama Kekaisaran Han Fei Yue, suami resmi dari Permaisuri Agung Shao Lu Yan dan ayah biologis dari Putri Mahkota Kekaisaran Shao Fang Hua.


"Apa yang kalian berdua lakukan di sini?! Bukankah seharusnya kalian bersama dengan yang lain untuk bersembunyi?! Pengawal! Apa yang kalian lakukan! Cepat bawa Pendamping Utama Kekaisaran dan Putri Mahkota ke tempat persembunyian!"


Lu Yan berseru dengan panik, merasa terkejut saat melihat dua orang tercintanya justru memilih mengikutinya ke Aula Utama yang tentu saja berbahaya untuk saat ini.


"Tidak! Pengawal, bawa Putri Mahkota untuk bersembunyi! Aku akan tetap di sini dan menemani Permaisuri Agung!" Han Fei Yue membantah dengan jelas, wajahnya terlihat tidak menunjukkan kelembutan yang berarti saat ini.


Para pengawal muda itu menatap dengan takut-takut, dua perintah ini benar-benar berbeda dan mereka merasa kebingungan untuk mengikuti perintah dari dua junjungannya itu. "Ta-tapi, Imperial Main Consort Han..."


Lu Yan menatap Fei Yue tajam, bagaimanapun dia tidak bisa membiarkan suaminya terluka. Ini benar-benar bukan hal yang baik! Mengapa di saat seperti ini pendamping resminya itu justru membuatnya sakit kepala! "Dengar, Main Consort Han! Pergilah bersama dengan Putri Mahkota menuju ke tempat persembunyian, ini perintah dariku sebagai Permaisuri Agung Kekaisaran!"


"Pengawal, kamu ikuti saja perintah aku!" tanpa mendengarkan perintah istrinya, Han Fei Yue kembali berucap dengan nada yang tegas sarat akan perintah membuat pengawal itu mengangguk patah-patah.


"Ba-baik, Yang Mulia. Putri Mahkota mari ikut dengan saya dan bergabung bersama dengan yang lain!"


"Tidak mau! Aku tidak mau!" Fang Hua kecil berteriak dan berlari ke arah Permaisuri Agung Shao Lu Yan kemudian memeluk kaki ibunya dengan kedua tangannya yang kecil. "Ibu permaisuri, biarkan saya bersama dengan ibu permaisuri! Saya tidak ingin pergi ke sana ... hiks!"


Lu Yan berlutut dan mensejajarkan tingginya dengan Fang Hua kecil, dia memegang kedua lengan putrinya dengan lembut. "Putriku, sekarang tempat ini sangat berbahaya. Pergilah dan ajak ayahmu untuk menjauh dari tempat ini, mengerti?"


Fang Hua menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Tidak mau! Saya ingin membantu ibu permaisuri! Biarkan saya ikut dengan ibu!"


Lu Yan memandang putrinya dengan ragu, dia tidak bisa membiarkan penerus sekaligus pewaris sahnya berada dalam bahaya seperti ini. "Tapi—"


"Wah! Wah! Apa sedang terjadi drama keluarga saat ini? Saya pikir anda akan menyambut kedatangan saya, Yang Mulia." seorang wanita dengan baju besi perang di tubuhnya datang dengan membawa banyak pasukan di belakangnya.


"Kakak, kamu seharusnya tidak melakukan ini."


Wanita itu menyeringai, menatap tajam ke arah Permaisuri Agung Shao Lu Yan. "Memangnya kenapa? Kamu dan aku sama-sama putri sah kekaisaran, lalu mengapa ibu permaisuri memberikan takhta itu padamu bukan aku?"


Putri Kekaisaran itu menggeram penuh kemarahan, tapi setelah itu dia terkekeh. "Heh! Pantas atau tidak, kamu tidak berhak untuk menilainya, adik! Takhta itu adalah milikku, kalian semua serang mereka!"


Perintah keras itu adalah tanda bahwa perang internal benar-benar dimulai. Para penjaga bayangan Permaisuri Agung dengan cepat bersiap dengan pedang mereka begitupun dengan Shao Lu Yan dan Han Fei Yue. Banyak yang mungkin tidak mengetahuinya, tapi Pendamping Utama Kekaisaran Han Fei Yue sebenarnya memiliki keterampilan bela diri yang baik, dia dan Jenderal Hong adalah teman dekat yang belajar bela diri dari guru yang sama. Meskipun kemampuannya tidak sehebat Jenderal Hong atau Permaisuri Agung, itu sudah cukup untuk membunuh para pasukan di medan perang. Meski begitu, Han Fei Yue tidak dapat bergerak dengan cukup bebas karena membawa Fang Hua kecil di pelukannya.


Fang Hua kecil melihatnya, bagaimana ibu dan ayahnya harus melawan bibinya sendiri tepat di depan kedua matanya. Matanya membulat ketika melihat seseorang di belakang ibunya telah bersiap untuk menusuk sang Permaisuri Agung yang sedang sibuk melawan odang yang ada di depannya.


"Ibu permaisuri, di belakang anda!"


Mendengar teriakan Fang Hua, Lu Yan dengan cepat menghindar sebelum kemudian dia menusuk perut seorang wanita yang diketahui salah satu pasukan dari kakaknya itu dalam-dalam. Pandangannya bergerak sedikit gelisah ketika beberapa orang mulai mengepung suami dan putrinya, sepertinya mereka mengincar kematian Fang Hua yang adalah Putri Mahkota Kekaisaran Shao saat ini. Fang Hua kecil merasakan pelukan yang lebih erat dari ayahnya, raut wajah Fei Yue juga terlihat mengerut tidak senang. Fang Hua mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya, dapat dia lihat beberapa orang mulai mendekat ke arah mereka berdua dengan pedang di tangan mereka masing-masing.


Seperti yang telah diperkirakan sebelumnya, orang-orang itu dengan cepat menyerang dia dan ayahnya, membuat Fei Yue berusaha keras menangkis semua serangan yang ditujukan untuknya dengan Fang Hua yang masih berada di dalam gendongannya. Sayangnya, satu yang terkuat di antara mereka berhasil lolos dan mencoba untuk menebas Fei Yue. Demi melindungi putrinya, Fei Yue dengan cepat berbalik dan memejamkan kedua matanya erat-erat, berpikir untuk membiarkan punggungnya terluka dengan tebasan pedang dibandingkan harus melihat kematian putrinya tepat di depan matanya. Namun, beberapa waktu berlalu, tidak ada rasa sakit sedikitpun yang Fei Yue rasakan dari punggungnya. Ketika membuka matanya dia melihat Shao Lu Yan yang berdiri menghadap ke arahnya dengan seulas senyum kecil di bibirnya yang mengeluarkan tetesan darah.


Fang Hua menatap terdiam ke arah ibunya yang telah berlumuran darah, sejenak pikirannya terasa kosong dan dia merasa tak dapat mengatakan apa pun. Sedangkan Fei Yue terbelalak lebar dengan air mata yang mulai berjatuhan membasahi kedua pipinya.


"Y-Yang Mulia! A-anda..."


Shao Lu Yan menatap dua orang tercintanya dengan pendar mata penuh kelembutan, kemudian dia berkata dengan lirih, "Aku senang melihat kalian berdua baik-baik saja."


Setetes air mata jatuh membasahi pipi Permaisuri Agung Shao Fang Hua tanpa sadar, tepat di bawah kakinya berdiri, ibunya hampir terbunuh oleh saudaranya sendiri di tengah perang saudara itu. Dia bahkan masih mengingat dengan baik bagaimana ayahnya saat itu memeluk erat tubuh ibunya yang berlumuran darah karena luka parah yang ada pada bahu, perut dan punggungnya. Jika saja Jenderal Agung Kekaisaran Hong tidak datang tepat waktu dan membantu Permaisuri Agung Shao Lu Yan, dia mungkin tak akan melihat ibunya lagi dalam waktu yang lama.


"Yang Mulia!"


"Yang Mulia Permaisuri Agung!"


Suara panggilan itu membuat Fang Hua tersadar, mengedipkan matanya beberapa kali, pandangannya kembali mendingin seperti biasa. Meski begitu, dia memilih tak berbalik dan menatap seseorang yang ada di belakangnya itu.


"Apa yang kamu temukan?"


Seorang wanita yang masih cukup muda, dia membungkuk hormat sebelum kembali berkata, "Yang Mulia, saya menemukan bukti bahwa Putri Mahkota memang mencoba untuk membunuh Putri Keempat di hari kepergian Putri Keempat menuju Istana Pedesaan Zhuzi. Di samping itu, saya melihat ada pergerakan yang mencurigakan dari pihak Putri Mahkota."


"Ya, itu memang tidak diragukan jika Putri Mahkota ingin menyingkirkan saingan terberatnya. Tapi, apa yang kamu maksud? Katakan dengan jelas!" Fang Hua menghela napas, dia merasa tidak terkejut karena dia mengenal karakter Shao Mu Lan dengan baik.


Wanita yang diketahui sebagai penjaga bayangan Permaisuri Agung itu menatap ragu ke arah sang tuan yang membelakanginya. "Tidak tahu untuk tujuan apa, saya menemukan Putri Mahkota tengah membuat pasukan pribadi di area hutan terlarang kota Wuying."


Fang Hua mengangguk, dia mengerti. "Cari tahu apa dia sedang merencanakan pemberontakan atau tidak! Jika itu Putri Mahkota, itu mungkin dapat terjadi mengingat sifat dia yang cukup kejam."


"Yang rendah ini mengerti, Yang Mulia." penjaga bayangan itu membungkuk hormat sebelum pergi dari hadapan Fang Hua dengan begitu cepat.


Shao Fang Hua memilih berbalik, dalam diam dia menatap ke arah pilar besar dengan tirai besar yang berkibar di sebelahnya. "Sampai kapan kamu akan berada di sana, Main Consort Hong?"


Pendamping Utama Kekaisaran Hong Yu Wen keluar dari balik pilar, dia menatap Permaisuri Agung Shao dengan pandangan tidak terima yang kentara.


"Anda mengatakan tentang rencana pembunuhan, tapi anda sama sekali tidak memberitahu hal itu pada saya! Yang Mulia, Putri Keempat juga adalah putri saya! Anda tidak dapat menyembunyikan hal seperti ini dari ayahnya!"


Hong Yu Wen berjalan mendekat ke arah Fang Hua dengan sedikit tertatih, dia sebenarnya merasa begitu lemas ketika mendengar semua pembicaraan yang dilakukan oleh istrinya dan seorang wanita itu. Fang Hua memeluknya, wanita yang tak lagi muda itu memeluk Yu Wen dengan hati-hati, membiarkan pria itu meremat pakaian miliknya dengan erat.


"Yang Mulia, saya ... saya tidak ingin kehilangan untuk yang kedua kalinya! Ling Mei adalah putri saya, hanya putri saya! Tidak ada yang boleh melukainya!"


"Ya, aku mengerti. Dia adalah putriku juga, dan aku tidak ingin ada pertumpahan darah di istana ini." Fang Hua mengusap punggung pendamping resminya dengan perlahan, berusaha menenangkan emosi pria yang ada di pelukannya.


Benar! Tidak boleh ada pertumpahan darah lagi seperti yang terjadi pada masa ibunya, Permaisuri Agung Shao Lu Yan memimpin. Fang Hua akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak membiarkan kursi itu terkotori kembali dengan darah para putri kekaisaran yang berusaha untuk mendapatkannya. Tidak di saat dia masih hidup dan memiliki cukup kekuatan untuk mencegahnya.