Phoenix: Rules Of The Harem

Phoenix: Rules Of The Harem
Bab 9: Bahkan Jika Kamu Tidak Menginginkanku



Ketika malam penuh bintang telah berlalu dan berganti dengan cahaya matahari yang lembut, Yun Rui terbangun dari tidurnya. Pakaiannya masih sama, hanfu pernikahan berwarna merah dengan sulaman phoenix emas di seluruh sudutnya. Dia menolehkan kepalanya ke samping kanannya, ternyata istrinya, Shao Ling Mei telah meninggalkan kamar mereka terlebih dahulu. Yun Rui tersenyum dengan miris, bahkan sekalipun Ling Mei memperlakukannya dengan ramah dan baik, Yun Rui tahu bahwa sekarang tidak ada dirinya dalam hati istrinya. Pagi hari pertama setelah pernikahan, sesuai tradisi yang berlaku, menantu pria diwajibkan untuk memberi salam resmi dan memberi secangkir teh pada tetua yang dihormati.


Karena ayah kandung Shao Ling Mei adalah seorang Pendamping Utama Kekaisaran, untuk memberi salam resmi harus kembali ke Istana Kekaisaran dan memberi hormat secara langsung padanya. Dengan ada atau tidaknya istri untuk mendampingi pasangannya saat melakukan salam resmi adalah hal yang sangat penting. Itu akan memberi muka pada pasangan mereka dan menunjukkan betapa tinggi status mereka di masa depan. Pendamping utama yang didampingi oleh istri mereka ketika melakukan salam resmi menunjukkan bahwa mereka adalah seorang tuan besar yang dihormati dan pemimpin harem yang kuat. Sebaliknya, jika seorang pendamping utama melakukan salam resmi sendirian tanpa didampingi oleh istri mereka itu menunjukkan bahwa dia tidak dicintai juga akan dilihat sebagai tuan besar yang rendah dan lemah.


"Shu Lian!"


Mendengar panggilan itu Shu Lian masuk ke dalam kamar pengantin tuannya. "Saya, Yang Mulia."


"Apa kamu tahu di mana Putri Keempat?" Yun Rui bertanya dengan nada yang lembut, namun garis wajahnya terlihat redup.


Melihat rasa tidak senang dari tuannya, Shu Lian mencoba menjelaskannya dengan baik. "Putri Keempat telah bangun menjelang pagi dan mengatakan pada saya bahwa Yang Mulia akan kembali ke dalam kamarnya sendiri untuk membaca buku cerita bersama Pengawal Pribadi Liao."


Yun Rui mengerutkan alisnya tanda ketidaksukaan, sedikit rasa cemburu dan iri menyelimuti hati dan pikirannya. Dalam hati dia mengatakan: 'Bukankah dia lebih dari mampu untuk mengurus Yang Mulia Ling Mei? Mengapa harus pria itu yang menemani istrinya?'


Kemudian raut wajahnya berubah menjadi kesedihan, itu benar! Dia tidak dicintai oleh putri keempat. Yun Rui telah menikah secara resmi dengannya dan bukanlah hal yang pantas untuk seorang istri mengambil waktu di hari pernikahannya bersama suami resminya untuk bersama pria lain. Jika orang lain mengetahui hal ini, itu akan menjadi masalah yang besar untuk reputasi kediaman putri keempat di masa depan. Yun Rui telah ditinggalkan di hari pertama pernikahan, dia merasa hatinya tidak baik-baik saja. Tetapi, dia tidak bisa membiarkan reputasi istrinya yang seorang putri sah kekaisaran semakin buruk hanya karena masalah seperti ini.


"Shu Lian, masalah ini ke depannya jangan sampai ada yang mengetahuinya! Sekarang bantu aku bersiap, aku harus menemui Ayah Kekaisaran Hong dan memberi salam resmi padanya."


"Tapi, Pendamping Utama Wei, bagaimana jika Yang Mulia Putri Keempat tidak datang untuk menemani anda pergi ke Istana Kekaisaran?"


Lalu setelah semua yang terjadi pagi ini, maukah wanita itu pergi menemaninya untuk memberikan salam resmi kepada Pendamping Utama Kekaisaran? Yun Rui terdiam sebentar, kemudian dia tersenyum lembut.


"Tidak. Aku akan menunggunya. Dia akan datang! Dia pasti akan datang, Shu Lian."


.


.


Setelah mengambil beberapa waktu untuk bersiap, Yun Rui menunggu kedatangan Ling Mei di dalam paviliunnya dengan tenang. Karena telah masuk ke dalam kediaman putri keempat dan resmi menjadi tuan besar kediaman, Wei Yun Rui yang telah resmi menjadi Prince Consort* sekaligus Pendamping Utama dari Putri Keempat Shao Ling Mei mendapatkan hak atas urusan internal kediaman dan harem, pengelolaan anggaran rumah tangga, dan paviliun miliknya sendiri. Putri keempat bahkan memberikan Paviliun Zuanshi, paviliun terindah yang ada di kediamannya untuk ditempati oleh Yun Rui, paviliun itu memiliki luas terbesar kedua setelah Paviliun Yin. Sedangkan Ling Mei sendiri akan menempati Paviliun Yin, paviliun utama sekaligus paviliun terluas yang ada di kediamannya sebagai tempat tinggal utamanya.


(Prince Consort: dapat juga disebut sebagai pangeran pendamping adalah gelar untuk pria yang telah menikah secara resmi dengan putri kekaisaran ataupun kerajaan. Dia memiliki kedudukan sebagai tuan besar kediaman dan berhak mengatur segala urusan rumah tangga dan harem yang ada di dalam kediaman putri tersebut).


"Yang Mulia, ini tak bisa ditunda lagi. Mohon bersiap untuk berangkat ke Istana Kekaisaran sekarang, anda tidak boleh terlambat untuk melakukan salam resmi kepada Pendamping Utama Kekaisaran Hong."


Shu Lian berkata dengan hati-hati, dia tahu tuannya ingin menunggu lebih lama lagi. Namun, waktu yang mereka miliki sangat terbatas. Butuh waktu sekitar hampir setengah jam untuk sampai di Istana Kekaisaran dari Kediaman Putri Keempat dengan menaiki kereta kuda.


"Tunggu .... mari tunggu sebentar lagi! Aku tak bisa pergi sendiri di hari pertama, bagaimana pun ini adalah salam resmiku sebagai menantu kekaisaran dan pendamping utama Putri Keempat."


Yun Rui mengatakan dengan tenang, namun dapat terlihat bahwa sorot matanya meredup. Shu Lian menatap tuannya khawatir, terlambat saat akan melakukan salam resmi dapat menimbulkan rumor yang buruk, Yun Rui mungkin akan dinilai tidak disiplin dan suami yang tidak patuh pada mertua.


"Tapi jika anda terlambat, itu mungkin bisa menimbulkan—"


"Pendamping Utama Wei, Yang Mulia Putri Keempat datang menemui anda." suara dari Yu Shen, pelayan utama Ling Mei terdengar di depan pintu paviliunnya. Yun Rui tersenyum senang, dalam diam dia menghela napas lega, dia tahu Ling Mei tidak akan membiarkan harga diri dan reputasinya jatuh begitu saja.


..........................


Kereta kuda yang dinaiki oleh Yun Rui dan Ling Mei telah sampai di depan gerbang Istana Kekaisaran. Ling Mei memilih keluar terlebih dahulu kemudian mengulurkan tangan kanannya ke arah Yun Rui yang juga akan keluar dari kereta kuda membuat pria muda yang menawan bagai iblis itu membulatkan matanya terkejut. Itu terlihat manis, dengan wajah yang memerah tipis Yun Rui meraih tangan Ling Mei dan menggenggamnya dengan senang hati. Terlihat seperti pasangan yang harmonis dan hangat, namun semua orang tahu bahwa itu hanyalah perpaduan dari putri cacat mental kekaisaran dan seorang pangeran iblis dari Wei.


Keduanya berjalan dengan diikuti oleh Yu Shen, Shu Lian, dan Wu Jin yang berada tepat di belakang mereka. Dengan sifatnya yang kekanakan, Ling Mei merengek kecil dan menarik-narik tangan Yun Rui untuk segera mengikuti langkahnya. Beberapa pelayan kekaisaran yang melihatnya kemudian membicarakannya, tidak menyangka bahwa putri sampah yang cacat mental sepertinya telah mendapatkan suami yang begitu menawan dengan latar belakang yang tidak kecil. Melihat hal itu, Yun Rui menatap tajam para pelayan tersebut. Dia tidak menyukai ketika orang-orang menindas dan berbicara buruk tentang istrinya.


Tuan Besar Kediaman Putri Keempat itu berjalan mendekat ke arah para pelayan tersebut lalu dia berkata, "Sepertinya sangat menyenangkan dapat membicarakan hal buruk tentang Putri Keempat. Saya pikir kalian terlalu berani untuk melakukan hal seperti ini, haruskah aku melaporkannya pada Pendamping Utama Kekaisaran Hong?"


"P-Pangeran Wei! Yang Mulia Putri Keempat! Mohon ampuni ketidaksopanan kami!" mereka berlutut dan berbicara dengan panik, tidak menyangka Pangeran Wei memiliki karakter yang hampir sama dengan Pendamping Utama Kekaisaran Hong Yu Wen.


Ling Mei telah melihatnya, mata birunya berkilat penasaran. Ketika Yun Rui memutuskan untuk membelanya, dia bertanya-tanya. Mengapa pria yang menjadi suami resminya itu begitu repot untuk sekedar membela putri sampah sepertinya? Ling Mei mendengus dalam hati, pria di sampingnya ini benar-benar menarik.


Seorang kasim wanita menghampiri kerumunan dengan wajah yang angkuh, tentu saja! Dia adalah kasim kesayangan Putri Mahkota Shao Mu Lan. Hanya menindas putri sampah seperti ini bukanlah hal yang sulit baginya.


Wei Yun Rui menatap wanita itu dengan penuh kemarahan, sikapnya begitu lancang pada anggota keluarga kekaisaran. "Kamu!"


Dengan cepat Ling Mei menahan lengan Yun Rui dan mengelusnya lembut, melihat suaminya yang akan marah dia berpikir akan menahannya sebentar. Bukan hal yang bagus jika membuat keributan saat akan melakukan salam resmi, Yun Rui mungkin akan dirumorkan sebagai tuan besar dengan sikap yang buruk.


"T-tidak apa! Biarkan saja! Rui'er jangan terlalu marah, aku takut!" mendengar itu Yun Rui terdiam, kedua matanya terbelalak lebar. Ling Mei memanggilnya dengan begitu manis, membuat semburat merah muda memenuhi kedua pipi dan telinganya.


"Y-Yang Mulia?"


"Tidak apa-apa! Nah, sekarang ayo pergi! Ayah pasti sudah menunggu kita di Istana Naga." Ling Mei berucap dengan senyum bodohnya, dia menggenggam tangan Yun Rui kemudian menariknya dengan lembut.


Melihat Ling Mei dan Yun Rui yang akan pergi, para pelayan itu dengan buru-buru membungkuk dan berkata dengan penuh kelegaan, "Yang rendah ini berterima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia Putri Keempat dan Pangeran Wei!"


.


.


Meninggalkan kejadian yang tidak menyenangkan itu, di sepanjang jalan menuju Istana Naga, Yun Rui terus-menerus menatap ke arah tangannya yang digenggam oleh Ling Mei. Yun Rui tak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya, itu terasa seperti banyak bunga musim semi yang bermekaran di dalam hatinya. Menyadari bahwa dia masih menggenggam sesuatu, Ling Mei menolehkan kepalanya ke bawah, ternyata telapak tangannya masih bertaut dengan milik Yun Rui. Dengan segera Ling Mei melepasnya membuat suatu perasaan kecewa timbul di hati Yun Rui, menutupi hal itu Ling Mei memilih berpura-pura berjalan seperti anak kecil yang antusias.


Ketika mereka telah sampai di Istana Naga, mereka melihat Pendamping Utama Kekaisaran Hong duduk dengan anggun di kursinya. Bahkan jika dia tidak muda lagi, Hong Yu Wen memiliki aura visual yang tetap terpancar begitu kuat di dalam dirinya. Yu Wen menatap hangat putri dan menantunya itu, dia merasa senang. Mereka berdua terlihat seperti lukisan yang indah; terasa tidak nyata, namun benar adanya.


"Memberi salam kepada Pendamping Utama Kekaisaran, semoga anda selalu dipenuhi kebahagiaan." sepasang suami dan istri menunduk memberi hormat.


Pendamping Utama Kekaisaran Hong tersenyum dalam duduknya. "Baik! Baik! Kalian sungguh anak yang berbakti! Tak ada lukisan ataupun sepasang burung yang lebih indah dari ini. Wanita dengan kecantikan dan pria yang menawan seperti ini, aku berharap kalian hidup dengan penuh kebahagiaan."


"Ayah! Ayah! Apa anda baik-baik saja? Saya pikir saya merindukan saat saya bermain di Istana Naga bersama anda." Yu Wen tertawa ketika mendengar ucapan putrinya, anak itu! Bahkan setelah menikah sekalipun dia masih menempel padanya.


"Putriku, Mei'er! Bagaimana bisa kamu merindukan ayahmu ini setelah kamu memiliki suami semanis ini?" pujian dari Yu Wen membuat Yun Rui tertunduk malu, terlihat bahwa telinganya memerah.


Ling Mei menggelengkan kepalanya tidak setuju dengan wajah yang cemberut. "Tidak, tidak! .... Ayah! Bahkan jika aku menikahi seorang dewa langit yang cantik sekalipun, ayah tetap yang pertama di hatiku!"


"Putriku yang manis, Mei'er. Benar-benar putri yang berbakti."


Setelah percakapan menarik itu, kini tiba waktunya untuk Yun Rui menyajikan secangkir teh hangat untuk Pendamping Utama Kekaisaran Hong.


"Yang Mulia Pangeran Wei menawarkan teh yang terbaik untuk Pendamping Utama Kekaisaran." seorang pelayan pria tua mengumumkannya dengan suara keras.


Dengan keberuntungan bahwa Ling Mei berada di sisinya dan mendukungnya saat ini, itu memberikan Yun Rui kepercayaan diri dan muka yang baik di depan ayah mertuanya dan orang-orang yang berada di dalam Istana Naga. Dia kemudian mengangkat cangkir teh dan dengan hormat memberi kowtow sesuai dengan tradisi yang berlaku dalam upacara salam resmi. "Wei Yun Rui memberi hormat dan menyapa ayah kekaisaran, semoga anda hidup selama ribuan dan ribuan tahun!"


Pendamping Utama Kekaisaran Hong menerima teh, lalu meminumnya dengan anggun sebelum kemudian dia memberikan sebuah gelang giok hijau yang dia sematkan secara pribadi di tangan Yun Rui. "Tidak ada lagi yang bisa dikatakan oleh pria tua seperti aku, hanya tolong layani Putri Keempat-ku dengan penuh ketulusan."


Yun Rui tersenyum lembut. Tatapannya turun ke bawah, namun penuh akan ketulusan dan kasih sayang. "Saya akan selalu mengingatnya dalam hati saya."


Ketika seluruh rangkaian upacara telah terselesaikan, Ling Mei berpikir akan membawa Yun Rui untuk menemui keluarganya yang akan kembali ke Kerajaan Wei sebentar lagi. Di gerbang utama area Kota Terlarang (Istana Dalam) terlihat ratusan prajurit, kuda, puluhan kereta kuda yang akan digunakan oleh rombongan Kerajaan Wei untuk kembali ke kerajaannya. Semua telah dipersiapkan dengan baik dan dapat dipastikan mereka akan berangkat dalam satu jam lagi. Yun Rui tersenyum senang saat dia melihat para adiknya tengah bersiap dibantu oleh para pelayan mereka, memandang ke arah sekitar dia menemukan ibunya, Permaisuri Wei tengah berbicara dengan Permaisuri Agung Shao dengan raut wajah yang serius.


"Oh! Kakak Kedua! Kakak Ipar!" Putri Kelima Wei, Wei Zhi Yi memanggil mereka dengan antusias.


Yun Rui dan Ling Mei menghampirinya, Putri Kelima Wei adalah orang yang ramah dan baik. Terlihat bijaksana, namun terkadang menjadi riang dan penuh kebebasan. Ling Mei hanya menatap ketika Yun Rui dan Zhi Yi berbicara tentang beberapa hal, pandangannya berkeliling ke arah sekitar dan menemukan Wei Tian Zhi yang diam-diam menatapnya dengan sedih. Apa pria muda itu juga tertarik dengannya? Sebenarnya apa yang terjadi hingga para pangeran Kerajaan Wei begitu menginginkannya? Seorang putri cacat mental dan seorang sampah kekaisaran yang bodoh ini?


Melihat hal itu, dalam diam dan penuh kehati-hatian Ling Mei memilih menjauh dari kerumunan rombongan Kerajaan Wei, dia berpikir akan menunggu Yun Rui di paviliun lamanya. Dari kejauhan terlihat Wei Tian Zhi yang menatap sendu kepergian Ling Mei, dalam hatinya pria muda itu merindukan wanita yang telah menjadi istri kakaknya. Dia hanya tak mengetahui bahwa Permaisuri Wei melihatnya dan Ling Mei dengan pandangan mata yang berkilat misterius.