Phoenix: Rules Of The Harem

Phoenix: Rules Of The Harem
Bab 12: Dibalik Topeng Yang Terlepas



Di dalam sebuah kamar yang dipenuhi ornamen bernuansa gelap, seseorang sedang memejamkan matanya dengan wajah yang terlihat damai. Dia tidak tertidur, hanya berusaha menikmati aroma dupa khusus yang baru saja dipesannya beberapa waktu yang lalu. Satu tangannya dijadikan sebagai tumpuannya untuk bersandar pada bantal dengan posisi tubuh yang terbaring miring. Sayangnya kedamaian tersebut tak bertahan lama karena seorang wanita tiba-tiba mengetuk pintu kamarnya dan masuk sembari membungkuk memberi penghormatan.


"Memberi salam kepada Matahari Muda Kekaisaran. Sesuai perintah anda sebelumnya, 30 orang pembunuh bayaran tingkat atas telah siap untuk menjalankan tugas. Mereka semua menunggu perintah anda selanjutnya, Yang Mulia."


"Hooo~ ternyata waktu berlalu sangat cepat, sudah saatnya untukku bergerak lebih keras dari sebelumnya. Katakan pada mereka untuk pergi ke tempat yang telah aku beritahukan sebelumnya, kali ini sama sekali tidak boleh ada kegagalan, Su Zhi!"


"Seperti yang anda perintahkan, Yang Mulia." wanita yang dipanggil Su Zhi itu membungkuk hormat sebelum keluar dari kamar sang matahari muda kekaisaran, Putri Mahkota Shao Mu Lan.


"Bagus! Aku akan menunggu hasil akhirnya di sini dengan senang hati. Selamat menikmati kehidupan barumu di neraka, adikku." Mu Lan menyeringai dengan mata yang berkilat licik, satu-satunya penghalang besar menuju takhta kekaisaran harus hilang dan itu artinya Mu Lan harus siap untuk melenyapkan penghalang besar itu.


.


.


Satu minggu setelah insiden pengintaian yang dialami Ling Mei ketika dia berkeliling di pusat kota, Permaisuri Agung Shao tiba-tiba memberinya perintah resmi untuk berlibur bersama dengan Yun Rui di salah satu istana yang berada di pedesaan milik Permaisuri Agung yang terletak di sudut kota Ningle yang berbatasan dengan kota mati Jianhu. Itu sedikit aneh dan mencurigakan, tapi perintah Permaisuri Agung adalah mutlak yang itu artinya Ling Mei tidak memiliki hak untuk menolak.


Karena perintah itu, Wei Yun Rui sekarang terlihat cukup kerepotan mempersiapkan semua barang yang akan mereka bawa dalam perjalanan menuju kota Ningle. Dia bahkan meminta beberapa pelayan seperti Shu Lian, Yu Shen, dan pelayan pria lainnya untuk membantunya menyiapkan semuanya. Itu terlihat berlebihan, tapi Ling Mei cukup berusaha untuk memakluminya karena bagaimana pun juga ini adalah perjalanan pertama yang Yun Rui lakukan bersama dengan Ling Mei sebagai pasangannya. Berbeda dengan Yun Rui yang sibuk, Ling Mei secara diam-diam meminta lima anggota penjaga bayangan tingkat tiga untuk mengawal mereka secara pribadi dalam perjalanannya menuju ke Istana Zhuzi.


Dia sengaja tidak membawa terlalu banyak pengawal karena ingin melihat hasil dari latihan mereka secara langsung dalam perjalanan kali ini. Lagi pula, Ling Mei memiliki kekuatan bela diri yang lebih dari cukup untuk menghadapi sekelompok pembunuh bayaran bahkan jika dia harus melawannya sendirian. Melihat dari pergerakan para musuhnya dan beberapa informasi penting yang telah dia dapatkan, kemungkinan besar perjalanan kali ini bukanlah perjalanan yang sederhana. Karena itu, dalam situasi ini satu-satunya hal yang paling penting adalah keselamatan orang-orang yang ikut dengannya. Ditambah lagi mengingat rencana yang telah disarankan oleh Jenderal Besar Hong, Ling Mei tak mungkin menyembunyikan kenyataan bahwa dia tidaklah cacat mental pada Yun Rui dalam waktu yang lama.


Ling Mei berdiri menatap jendela bulat yang ada di depannya, dari kejauhan dia dapat melihat Yun Rui yang sedang berjalan bersama Shu Lian melewati paviliunnya. "Bersiaplah! Kita semua akan berangkat besok pagi, pastikan Yun Rui dan pelayannya tidak mengetahui keberadaan kalian!"


"Baik, Yang Mulia." kelima anggota penjaga bayangan tingkat tiga itu membungkuk hormat sebelum keluar dengan hati-hati dari paviliun milik Ling Mei.


............................


Seperti yang telah dikatakan di hari sebelumnya, pagi ini Ling Mei dan Yun Rui telah berada di dalam kereta kuda yang akan mengantarkan mereka ke kota Ningle. Rombongan putri keempat membawa dua kereta kuda. Satu untuk Yun Rui dan Ling Mei yang berada di depan; satu lagi berada di belakang untuk Wu Jin, Yu Shen, dan Shu Lian. Ling Mei tidak perlu membawa banyak pelayan karena bahkan jika Istana Zhuzi adalah istana yang berada di pedesaan, tempat itu memiliki cukup banyak pelayan yang bertugas untuk mengurus semua kebutuhan istana.


Semua terlihat baik-baik saja, tak terlihat ada keanehan yang muncul di sekitar mereka ketika kedua kereta kuda itu berjalan. Bahkan Ling Mei masih sempat menerima suapan buah anggur yang Yun Rui berikan padanya. Pria muda itu benar-benar melayaninya dengan baik bahkan di saat seperti ini. Memasuki waktu sore harinya, ketika mereka semua telah sampai di kota Ningle mereka harus melewati jalan yang dipenuhi hutan cukup lebat sebelum sampai ke pedesaan, di situlah keanehan mulai terlihat. Ling Mei diam-diam mengintip dari balik jendela yang berada di sisi samping kereta kuda, terlihat beberapa bayangan hitam melintas cepat di antara dahan-dahan pohon. Sepertinya itu adalah para pembunuh bayaran yang mengintai mereka sejak tadi.


Ling Mei menyeringai tipis sebelum kembali menutup jendela tersebut dengan tirai, sebentar lagi...


Seperti yang telah putri keempat kekaisaran itu duga, tak lama setelah dia melihat banyak bayangan hitam, kereta kuda mereka berhenti secara mendadak membuat Yun Rui dan Ling Mei hampir terjatuh ke depan dan terbentur dinding kereta kuda. Ling Mei dengan cepat merengkuh Yun Rui yang hampir terjatuh dan memegangnya dengan erat, namun tetap lembut.


"Apa ada sesuatu yang salah? Kenapa kereta kudanya berhenti?" Yun Rui bertanya dengan penuh ketidaktahuan, hanya dia dan Shu Lian yang tidak mengerti rencana Ling Mei dan kejanggalan yang ada pada perjalanan kali ini.


"YANG MULIA, KITA DISERANG!!!" tiba-tiba kusir yang berada di depan berteriak dengan keras membuat Yun Rui dan Ling Mei keluar dengan cepat dari kereta kuda.


Benar! Ini saatnya!


Seperti yang telah diperkirakan sebelumnya, para bayangan hitam yang sebelumnya mengintai mereka kini mulai keluar menampakkan diri mereka dan mengepung kedua kereta kuda milik Ling Mei. Dengan wajah yang setengahnya ditutup oleh cadar, pakaian serba hitam, dan pedang di masing-masing tangan mereka, membuat Yun Rui yakin bahwa itu bukanlah bandit biasa melainkan para pembunuh bayaran.


"Putri Keempat Shao Ling Mei, jika kamu menyerahkan dirimu secara baik-baik, kami akan membunuhmu dengan cepat dan tanpa rasa sakit!"


Salah satu dari puluhan pembunuh bayaran itu berkata dengan nada yang keras, sepertinya dia adalah ketua dari kelompok tersebut. Yun Rui yang mendengar itu merengkuh Ling Mei dan memeluknya dengan erat, berusaha melindungi pasangannya dengan tubuhnya, raut khawatir terlihat di wajahnya. Sedangkan Wu Jin, Yu Shen, dan Shu Lian telah bersiap melindungi keduanya dengan berdiri di depan tuan mereka. Ling Mei menatap mereka semua dengan tatapan yang datar, dapat dia lihat bahwa semuanya adalah perempuan, seorang Shao Mu Lan tak akan pernah mempercayakan hal seperti ini pada seorang pria. Karena bagi Mu Lan, pria hanyalah manusia lemah yang tak dapat diandalkan. Ling Mei melepas pelukan Yun Rui, segera setelahnya dia berdiri di samping suami resminya itu dengan raut wajah yang angkuh.


"HAHAHAHA!!! Kakak pertama, ternyata kamu benar-benar ingin membunuhku! Sepertinya kamu benar-benar tidak sabar lagi hingga mengirimkan pembunuh bayaran sebanyak ini!" tiba-tiba Ling Mei tertawa dengan keras, kemudian dia berkata dengan nada yang menusuk dan tatapan yang sedingin es.


Para pembunuh bayaran itu menatap Ling Mei terkejut, begitupun Yun Rui dan Shu Lian yang kini ikut terpaku melihat Ling Mei menjadi seseorang yang berbeda dari sebelumnya.


"Wu Jin!" panggil Ling Mei tanpa melepas pandangannya pada para pembunuh bayaran tersebut.


"Saya, Yang Mulia."


"Hitung mereka semua dengan baik! Pastikan tidak ada satupun yang terlewat! Dan kalian semua, keluarlah! Sudah waktunya untuk membunuh para tikus tidak berguna ini!"


Wu Jin melihat para pembunuh bayaran itu dengan tatapan yang tajam, satu per satu dia hitung dengan pasti tanpa ada yang terlewat. Sedangkan orang-orang yang dipanggil oleh Ling Mei kini keluar dari tempat persembunyian mereka dan berdiri tepat di belakang Ling Mei. Dua di antaranya ternyata adalah kusir yang menyamar dan mengendarai kereta kuda mereka, sedangkan tiga lainnya mengikuti rombongan Ling Mei menggunakan qinggong.


"Pedang anda, Yang Mulia. Kami penjaga bayangan tingkat tiga siap untuk menerima perintah." salah seorang dari kelima wanita itu berjalan mendekati Ling Mei dan memberikan sebuah pedang yang diyakini adalah milik Ling Mei sembari menundukkan kepalanya memberi hormat.


"Saya telah menghitung semuanya, Yang Mulia. Dapat dipastikan mereka tepat berjumlah 30 orang."


"En, aku mengerti." Ling Mei mengangguk, raut wajahnya masih terlihat sangat dingin hingga para pembunuh bayaran itu merasa menggigil ketakutan.


Yun Rui hanya dapat melihatnya, dia begitu terkejut hingga tak dapat mengatakan apa pun. Ling Mei telah menipunya dengan sangat baik. Kemudian Yun Rui kembali berpikir, apa semua perlakuan manis yang diberikan Ling Mei untuknya adalah sebuah kepalsuan yang nyata?


"Yang Mulia, k-kamu...."


"Kamu mungkin terkejut, tapi aku memiliki alasan untuk ini. Saya harap kamu mengerti, Yun Rui." Ling Mei memandang Yun Rui yang menatapnya dengan wajah terluka dan mata yang berkaca-kaca dengan pandangan dingin.


Inilah sifat Ling Mei yang sebenarnya, begitu dingin dan tak berperasaan. Tak peduli dengan apa pun, dia hanya fokus pada tujuannya. Kemudian tangan Ling Mei bergerak mengambil sebuah belati dari balik hanfunya. Belati dengan ukiran phoenix dan naga itu terlihat indah, namun tajam dan berkilat di mata pisaunya. Ling Mei meraih satu tangan Yun Rui dan memberikan belati itu padanya.


"Dengar! Aku tahu kamu cukup baik dalam bela diri. Karena tidak ada pedang yang tersisa, aku berharap kamu dapat melindungi dirimu sendiri dan pelayanmu itu dengan belati ini selagi aku membunuh mereka. Jangan pikirkan hal lain selain kamu fokus untuk membunuh orang yang menyerangmu, aku berjanji akan menjelaskannya padamu setelah ini."


Yun Rui memalingkan mukanya dengan alis yang berkerut sedih. "Saya mengerti, Yang Mulia."


Ling Mei kemudian kembali menghadap ke arah para pembunuh bayaran itu, mereka terlihat waspada meski merasa tak percaya ketika melihat wajah yang sesungguhnya dari balik topeng yang selama ini Ling Mei kenakan.


Ling Mei terkekeh, dia menyeringai licik dari balik wajah cantiknya. "Karena kamu sudah tahu, maka kamu harus mati, bukankah begitu peraturannya?"


Wajah Ling Mei kembali dingin, terlihat berbahaya dan penuh kegelapan. Dia kembali melanjutkan ucapannya, "Siapa pun musuh yang telah melihat diri asliku, mereka harus membayar apa yang mereka lihat dengan nyawanya. Kalian ada 30 orang, akan kupastikan tak ada satupun dari kalian yang dapat kembali hidup-hidup dari tempat ini!"


"Omong kosong! Aku akan membunuhmu! Semuanya serang dia!"


Benar saja, para pembunuh bayaran itu bergerak menyerang Ling Mei dan yang lainnya dengan kekuatan penuh. Bahkan setiap satu orang dari pihak Ling Mei harus melawan tiga sampai empat orang sekaligus dalam satu serangan. Tebasan demi tebasan Ling Mei layangkan pada orang-orang yang menyerangnya, tanpa ampun wanita itu menggerakkan pedangnya dengan aura membunuh yang luar biasa. Ling Mei terlihat seperti Jenderal Agung Kekaisaran Hong saat dia masih muda, begitu kuat dan mendominasi. Dapat Ling Mei lihat bahwa yang lainnya juga tengah sibuk melawan serangan para pembunuh bayaran yang lain, bahkan Yun Rui juga menahan serangan yang dilayangkan padanya dengan tatapan yang tidak fokus.


Tunggu! Apa?!


Ini tidak benar! Ling Mei yang melihat itu dengan cepat menangkis pedang yang ada di depannya dan menusuk perut pembunuh bayaran yang ada si depannya dalam-dalam hingga menembus punggung sang pembunuh itu. Ling Mei harus menghampiri Yun Rui sebelum pembunuh bayaran sialan itu berhasil melukai Yun Rui yang terlihat kacau.


JLEB!


"Apa yang kamu lakukan?!! Bagaimana jika dia membunuhmu?!" teriak Ling Mei dengan marah ketika dia berhasil menusuk wanita pembunuh bayaran itu tepat di punggung kirinya sebelum dia benar-benar berhasil menusuk jantung Yun Rui.


"Y-Yang Mulia..." Yun Rui berucap dengan lirih ketika sadar bahwa Ling Mei telah berdiri di depannya dengan wajah yang marah.


Wei Yun Rui sejak tadi terus berpikir tentang istrinya, bagaimana ingatan-ingatan manis beberapa waktu lalu yang dia lakukan bersama Ling Mei terputar kembali di dalam pikirannya. Dia selalu berharap bahwa semua yang terjadi bukanlah kebohongan, Yun Rui bahkan mengira Ling Mei telah bersedia membuka hatinya untuknya. Yun Rui tak pernah menduga Ling Mei akan menipunya dalam waktu yang lama dan membiarkannya untuk menunggu tanpa kepastian yang berarti.


"Fokus Yun Rui! Kamu harus fokus saat bertarung dengan lawanmu! Jangan pikirkan apa pun selain ini! Apa kamu mengerti?!" tangan Ling Mei mencengkeram kedua lengan Yun Rui dengan erat dan berucap dengan nada yang menuntut.


Yun Rui menatap wajah Ling Mei dengan tatapan sendu, ekspresi patah hati terlihat jelas di wajahnya yang menawan. "Yang Mulia ... apa kamu mencintaiku?"


Mendengar pertanyaan itu seketika Ling Mei terpaku, cengkramannya pada lengan Yun Rui pun perlahan mengendur. "Aku...."


Ling Mei mengalihkan pandangannya ke belakang Yun Rui, berusaha untuk tidak menatap pria muda yang berstatus sebagai pendamping resminya. Namun, segera setelahnya kedua mata Ling Mei terbelalak lebar ketika melihat seorang pembunuh bayaran yang dia yakini adalah ketua mereka berada di belakang Yun Rui dan bersiap untuk melayangkan pedangnya ke arah Yun Rui.


"Persetan! Waktunya tidak sempat!" ucap Ling Mei dalam hati dengan perasaan yang khawatir.


Dengan cepat putri keempat kekaisaran itu memeluk Yun Rui dengan erat dan memutar posisi mereka hingga tebasan pedang pembunuh bayaran itu justru berakhir mengenai punggung Ling Mei. Yun Rui melihatnya dengan jelas, bagaimana pembunuh bayaran itu menebas punggung istrinya dengan pedang runcing itu hingga membuat luka lebar yang menganga.


"Uhuk! Sial, pedangnya beracun!" Shao Ling Mei terbatuk dengan darah yang keluar banyak dari mulutnya.


Tetesan darah dari balik punggung Ling Mei mulai keluar hingga menembus pakaiannya, diikuti oleh air mata Yun Rui yang jatuh dan mengalir deras membasahi kedua pipinya. Sayangnya hal tersebut tak bertahan lama, ketua kelompok pembunuh bayaran itu terlihat akan kembali bergerak dan menyerang Ling Mei yang terluka dari belakang.


"Yang Mulia, di belakangmu!!!" Yun Rui berseru dengan panik.


TRANG!


Tanpa melihat ke belakang, Ling Mei dengan cepat menahan pedang itu dengan satu tangannya. Tak lama setelah itu dia menangkisnya dengan kekuatan penuh dan berputar menghadap ke arah pembunuh bayaran tersebut. Ling Mei menyeringai, disekanya darah yang mengotori bibir dan dagunya dengan kasar. "Kemampuanmu bagus, tapi sayangnya aku harus tetap membunuhmu."


"Tutup mulutmu dan mari bertarung denganku, dasar putri sialan!" dengan penuh kekesalan ketua pembunuh bayaran itu menyerang Ling Mei dengan membabi buta, dia telah terbutakan oleh amarah yang meluap.


Bahkan sekalipun pembunuh itu dapat menggores lengan kanan Ling Mei, bintang keempat kekaisaran itu masih dapat berdiri tegap dengan wajah yang dingin dan tak menunjukkan raut kesakitan sama sekali.


"Melihat para bawahanku yang baik-baik saja meskipun tergores, kupikir pedang yang terlumuri racun hanya ada pada milikmu saja. Apa kamu sengaja untuk membunuhku dengan racun agar aku tak dapat diselamatkan? Dengar! Aku akan memberitahumu satu rahasia...."


Ling Mei menekan pedangnya ke depan dada ketua pembunuh itu membuat sang pembunuh bayaran menahan pedang Ling Mei agar tak menusuk jantungnya dengan sekuat tenaga. Merasa tak puas, Ling Mei dengan santainya melempar pedangnya sendiri dan terkekeh pelan.


"Bahkan jika kamu memberikan banyak racun mematikan di dalam pedangmu, aku tak dapat mati dengan mudah hanya karena sebuah racun."


Dengan tangan kosong, Ling Mei mencengkeram ujung pedang beracun milik pembunuh bayaran itu dan membalik posisinya hingga pedang tersebut kini berbalik ke arah jantung pemiliknya. Kedua tangan Ling Mei yang berlumuran darah akibat mata pedang yang runcing itu memegang kuat-kuat telapak tangan sang pembunuh bayaran yang masih memegang gagang pedangnya. Ling Mei menatap tajam tepat di mata wanita pembunuh bayaran itu setelah dia berhasil menusuk dada kirinya, putri sampah kekaisaran itu tersenyum dingin dengan tangan yang semakin mendorong masuk pedang beracun itu hingga menembus dada sang ketua pembunuh bayaran.


Kemudian Ling Mei berbisik di samping telinga pembunuh bayaran yang sekarat itu, "Bagaimana jika kamu merasakan sendiri betapa mematikannya racun yang kamu lumurkan di permukaan pedangmu itu? Sampai jumpa di neraka, kakak yang cantik!"


Bertepatan dengan Ling Mei yang selesai menghabisi ketua mereka, para penjaga bayangan juga telah selesai membunuh pembunuh bayaran yang lain. Ling Mei tersenyum tipis melihat mereka baik-baik saja walaupun mendapat sedikit goresan di beberapa tempat.


"Apa semuanya benar-benar telah mati? Aku tak ingin ada satupun dari mereka yang masih hidup!"


"Seperti yang anda perintahkan sebelumnya, Yang Mulia. Kami menghabisi mereka tanpa sisa." Wu Jin berkata dengan nada yang datar.


"Ba— Uhuk!"


Darah kembali keluar dari mulutnya, Ling Mei menghela napas. Dia hampir melupakan tentang racun yang baru saja masuk ke tubuhnya, walaupun itu akan baik-baik saja berkat pelatihan racun yang selama ini dia jalani. Namun, karena memiliki luka yang lebar membuat darahnya keluar cukup banyak, racun itu menjadi sedikit bereaksi dan menghambat pergerakannya.


"Yang Mulia, anda terkena racun!" Wu Jin berseru dengan khawatir, bahkan untuk Wu Jin yang mengetahuinya sejak lama, dia masih tetap mengkhawatirkan Ling Mei.


"Itu akan baik-baik saja. Mari kita lanjutkan perjalanannya! Bagaimana pun kita harus tiba di Istana Zhuzi sebelum tengah malam, dan kalian bertiga beristirahatlah di kereta yang dinaiki Wu Jin dan Yu Shen!"


Mereka semua membungkuk hormat dan berkata, "Sesuai perintah anda, Yang Mulia."


Ling Mei berjalan sembari membawa pedangnya yang penuh darah menuju ke arah kereta kudanya dengan wajah yang datar, meninggalkan Yun Rui yang masih menatapnya dengan wajah yang basah karena air mata.


Shu Lian menghampiri tuannya dengan tatapan yang sendu, "Mari saya antar ke kereta anda, Yang Mulia."