Phoenix: Rules Of The Harem

Phoenix: Rules Of The Harem
Bab 14: Di Bawah Sinar Bulan



Setelah menghabiskan sepuluh hari di Istana Zhuzi yang berujung dengan pemulihan tubuh, Ling Mei telah berada di dalam kediamannya di ibu kota Xiaoyang yang nyaman dan terlihat sibuk dengan beberapa gulungan perkamen yang menumpuk di mejanya. Wanita itu begitu serius mengerjakan pekerjaannya yang tertunda karena insiden berdarah beberapa waktu yang lalu. Ling Mei merasa cukup senang karena tak perlu berpura-pura cacat mental di kediamannya sendiri dan menyembunyikan fakta bahwa dirinya normal dari Yun Rui hanya karena dia juga tinggal di kediaman ini. Sekarang hal yang harus Ling Mei lakukan adalah menyebarkan rumor bahwa keterbelakangan mental yang dia alami telah mengalami perkembangan dan secara perlahan mulai pulih seperti sebelumnya.


Itu akan membuat rakyat berpikir secara alami bahwa putri keempat yang adalah sampah kekaisaran akan kembali menunjukkan cahayanya sebagai pewaris takhta kekaisaran yang sesungguhnya. Lebih dari itu, ada hal yang bagus terkait dengan penyerangan yang terjadi. Kecurigaan Shao Mu Lan atas alasan betapa sulitnya dia dibunuh kini dapat Ling Mei alihkan dengan baik, kakak pertamanya itu mungkin akan berpikir bahwa orang yang membantunya untuk tetap hidup di tengah perebutan takhta kekaisaran adalah neneknya, Jenderal Agung Kekaisaran Hong Chang Yi. Lagi pula Ling Mei tak dapat menggunakan Wu Jin terus-menerus sebagai alasan selamatnya dia dari seluruh percobaan pembunuhan yang ditujukan padanya.


Bahkan dengan kemampuan Wu Jin, dia tetap tidak cukup kuat untuk menahan banyak serangan dan racun yang secara tiba-tiba menyerangnya. Karena itu, hari saat penyerangan itu terjadi Ling Mei, Wu Jin, dan beberapa pasukan bayangan lainnya yang ikut dalam perjalanan ke kota Ningle membawa liotin giok khusus yang memang hanya dimiliki oleh pasukan elit milik keluarga Jenderal Hong. Lalu dengan sengaja meninggalkan seluruh bukti-bukti tersebut agar ditemukan oleh pasukan khusus Mu Lan yang sedang mencari para pembunuh bayaran sewaan mereka yang tak kunjung kembali setelah menjalankan tugas. Dengan cara itu, pihak Mu Lan akan berpikir bahwa Jenderal Agung Kekaisaran Hong dengan sengaja menempatkan beberapa pasukan elitnya secara tersembunyi untuk menjaga satu-satunya cucu perempuan yang dia miliki.


Itu akan mengalihkan Mu Lan dalam beberapa waktu ke depan, sementara Ling Mei masih harus meningkatkan jumlah anggota tentara Yuyin miliknya. Karena kali ini Ling Mei akan menarik Jenderal Besar Shi ke pihaknya, maka dia harus membuat beberapa persiapan kecil untuk meyakinkan wanita itu.


"Hmm ... kakak pertama, kali ini aku tak akan memberikan kesempatan untuk menang padamu. Lalu, lihat bagaimana adik bodohmu ini akan menggulingkan posisimu sama seperti yang kamu lakukan padaku delapan tahun yang lalu."


Segera setelahnya, seperti tak membiarkan Ling Mei memiliki waktu sendiri, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar dari luar ruangan kerjanya. "Istriku, ini Yun Rui. Bolehkah aku masuk?"


"Masuklah!"


Mendengar jawaban persetujuan itu, senyum senang terulas di wajah Yun Rui yang menawan. Kemudian, ketika pintu terbuka, pendamping utama kediaman putri keempat itu masuk ke dalam ruang kerja Ling Mei dengan beberapa pelayan di belakangnya.


"Yang Mulia, aku merasa khawatir ketika Yu Shen mengatakan bahwa kamu belum makan siang, jadi aku membawakan makan siang untukmu."


Tatapan Ling Mei perlahan mulai melembut walaupun tidak ada senyum yang terulas di wajahnya, itu sudah membuat Yun Rui cukup mengerti bahwa Ling Mei tak lagi memperlakukannya dengan begitu dingin.


Ling Mei mengangguk, tatapannya kembali beralih pada perkamen yang ada di depannya. "Kamu persiapkan saja, aku akan memakannya setelah ini."


Namun, Ling Mei menaikkan satu alisnya heran ketika dia merasakan jika Yun Rui masih terdiam tak bergerak dari tempatnya berdiri. Ling Mei kembali mendongakkan kepalanya, dia menatap suami resminya itu dengan raut kebingungan yang tak terlalu kentara. "Apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan lagi?"


Yun Rui memandang Ling Mei dengan gelisah sebelum mengalihkan pandangannya ke samping. Terlihat rona samar muncul di kedua pipi sehalus giok milik Yun Rui, dia merasa terlalu malu untuk menatap istrinya lebih lama lagi.


"Uh! Itu ... ma-maukah kamu makan siang di sini bersamaku?" Yun Rui meremas kedua tangannya dengan gelisah, raut wajahnya terlihat ragu-ragu dan berharap di saat yang sama.


Ling Mei mendengus pelan, merasa lucu ketika melihat Yun Rui yang cemas hanya untuk hal kecil seperti ini. Pria muda itu kini terlihat cukup imut di matanya.


Apa?!


Ling Mei mengerjapkan kedua matanya beberapa kali, sepertinya ada yang salah dengan pikirannya akhir-akhir ini! Bagaimana bisa dia berpikir tentang hal seperti itu, ini tidak benar! Merasa tersadar, Ling Mei kemudian menggulung kembali perkamen yang ada di tangannya dan meletakkannya di sisi kiri meja bersama dengan tumpukan-tumpukan perkamen lainnya yang telah dia baca.


"En. Lakukanlah sesuai keinginanmu."


Yun Rui menatap Ling Mei dengan mata yang berbinar senang, dia meminta para pelayan itu untuk membantunya meletakkan beberapa nampan yang berisi makanan lengkap itu dan menatanya di meja kosong yang berada tak jauh dari tempat Ling Mei mengerjakan pekerjaannya. Segera setelah semua selesai dipersiapkan, Ling Mei bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke arah Yun Rui yang telah menunggunya. Begitupun dengan para pelayan yang ikut bersama Yun Rui, mereka telah pergi meninggalkan ruangan dan menyisakan sepasang suami istri itu berdua di dalam sana. Mereka berdua memakan makanan mereka dengan tenang, tak ada satupun dari mereka yang berbicara, tapi sesekali terlihat bahwa Yun Rui mencuri-curi pandang ke arah Ling Mei.


Ling Mei hanya bisa mendengus dalam hati, dia membiarkan Yun Rui yang menatapnya diam-diam dengan wajah yang tetap datar seperti biasa dan berpura-pura tidak mengetahuinya. Suami resminya itu memang berbeda, namun dia tak membencinya. Tak bisa Ling Mei pungkiri bahwa Wei Yun Rui memiliki sifat yang hampir sama dengan ayahnya Hong Yu Wen.


............................


Setelah momen makan siang yang cukup menyenangkan itu, waktu telah berganti menjadi malam. Karena Yun Rui adalah seorang pendamping resmi dan juga Ling Mei tidak memiliki selir yang lain, sudah menjadi kewajiban Yun Rui untuk menemani dan menghabiskan malam bersama dengan Ling Mei. Ketika pintu kamar Ling Mei tertutup dengan Yun Rui yang telah masuk ke dalamnya, pria itu menatap sang bintang keempat kekaisaran itu dengan tatapan yang terlihat gugup. Putri Keempat Shao Ling Mei ternyata bukanlah wanita cacat mental seperti yang dia perlihatkan sebelumnya. Karena itu, setelah Yun Rui melihat sisi yang sebenarnya dari istrinya, pangeran kedua Kerajaan Wei itu menjadi merasa canggung untuk tidur satu ranjang bersama dengan Ling Mei di malam harinya.


"Maaf, aku tak bisa melakukan hal itu bersama denganmu untuk saat ini. Aku harap kamu bisa memahaminya." ucap Ling Mei sembari menatap kolam dangkal berbentuk persegi yang dihiasi bunga teratai biru dengan beberapa lilin mengapung yang berada tepat di depan tempat tidurnya di dalam kamar utamanya yang terletak di Paviliun Yin dan dihiasi banyak ornamen berwarna biru kehitaman.


"Tidak apa. Yun Rui mengerti, Yang Mulia."


"Lebih dari itu, apa kamu mau ikut denganku?"


Yun Rui terlihat malu-malu, namun dalam hatinya dia merasa hangat. "Y-Yang Mulia ingin membawaku ke mana?"


"Walaupun Paviliun Yin tak seindah Paviliun Zuanshi, di bawah sinar bulan, aku ingin melihat kota Xiaoyang bersamamu, Rui'er." Ling Mei berucap dengan datar, tapi hal itu tetap membuat Yin Rui terbelalak kaget dengan rona merah yang menyebar di wajah hingga ke telinganya.


Berbeda dengan gazebo yang ada di Paviliun Zuanshi yang cenderung terletak sedikit rendah dan berada di atas air, gazebo yang dimiliki oleh Paviliun Yin justru terletak pada posisi yang menjulang tinggi dan sejajar dengan tinggi lantai tiga Paviliun Yin dengan pilar-pilar besar nan panjang yang menopang gazebo tersebut. Karena letaknya yang cukup tinggi, gazebo tersebut di desain dengan balkon terbuka yang menjorok ke depan, berwarna hitam di sebagian besar bangunannya, dan dinding-dinding bergaris transparan yang mengelilingi hampir di semua sisi, kecuali sisi depan dan sisi kiri gazebo yang berfungsi sebagai pintu masuk ke dalam gazebo. Pintu masuk tersebut berbentuk bulat besar dengan tirai-tirai berwarna putih transparan sebagai penutupnya.


Sebagai paviliun terbesar dan terluas yang ada di kediaman putri keempat, Paviliun Yin memiliki tiga lantai dengan balkon yang berada di lantai tiga, balkon itu memiliki jembatan penghubung khusus yang menjadi jalan satu-satunya menuju gazebo tersebut. Sedangkan Paviliun Zuanshi terdiri atas dua lantai dengan balkon yang berada di lantai dua, hampir semua paviliun yang ada di kediaman Shao Ling Mei terdiri atas dua lantai. Namun, di beberapa paviliun hanya terdapat satu lantai dengan bentuk bangunan dan halaman yang cukup luas.


Selama mengunjungi Paviliun Yin, Yun Rui tidak pernah pergi ke lantai tiga di mana semua yang berkaitan dengan hal pribadi Ling Mei tersimpan di sana. Karena itu, begitu mereka berada di dalam gazebo, Yun Rui merasa terpana. Itu indah, dengan pemandangan langit malam dan sinar bulan yang menerangi mereka. Lilin dan lampion yang digantung di setiap sudut gazebo sebagai penerangan, karpet tebal dengan meja pendek yang lebar yang di atasnya berisi Guqin dan kursi bantal di bawahnya, beberapa hiasan meja dan dinding, kuas tulis dan lukis beserta tintanya, juga lembaran-lembaran kertas dan perkamen yang belum digunakan. Sepertinya gazebo ini digunakan oleh Ling Mei untuk bekerja, melukis ataupun sekedar bermain Guqin sembari menikmati udara segar di tengah ketegangan yang terasa karena pertarungan takhta yang berdarah.


"Wah! Yang Mulia, ini indah! Aku dapat melihat keramaian kota dari atas sini dengan jelas, bulan dan bintangnya juga..." Yun Rui menoleh ke arah Ling Mei yang berdiri di sampingnya, nada suaranya melirih. Sejenak dia terpaku melihat keindahan yang terpancar dari istrinya itu.


Saat ini mereka berada di atas balkon yang terdapat di depan gazebo tersebut, dari sana dapat terlihat pemandangan keramaian kota saat malam hari dengan berbagai lampion yang indah di sepanjang jalan sebagai penerangnya.


"Kamu benar, ini indah. Lalu, apa kamu membawa Dizimu?"


"Ya, Yang Mulia. Saya membawanya."


Mendengar jawaban itu Ling Mei tersenyum tipis, sangat tipis hingga Yun Rui bahkan tidak menyadarinya. "Kalau tidak keberatan, mari bermain musik bersama denganku malam ini!"


Ajakan mendadak itu membuat Yun Rui termangu sejenak sebelum tersenyum lebar hingga kedua matanya melengkung dengan begitu manis. "Tentu. Dengan senang hati, Yang Mulia."


"Tidak perlu menyebutku Yang Mulia, panggil saja aku Ling Mei! Ehem! Kita telah menikah secara resmi dan aku bukan Permaisuri Agung, jadi kamu tidak perlu terlalu formal padaku." Ling Mei berdeham, wajahnya sedikit memerah dengan raut malu-malu yang tak terlalu kentara.


Yun Rui terkesiap, dia menatap Ling Mei dengan kedua mata yang membulat tak percaya, namun setelah itu raut bahagia dan semburat rona merah terlihat jelas di wajah menawannya. "Seperti yang kamu inginkan, Ling Mei."


Ling Mei mendudukkan dirinya dan mulai memetik senar Guqinnya dengan tenang, diiringi Yun Rui yang juga ikut masuk ke dalam alunan nadanya dengan Dizi miliknya. Di bawah sinar bulan yang terang mereka memainkan alunan musik yang merdu, keduanya begitu indah seperti lukisan. Perpaduan antara Guqin dan Dizi yang sempurna dengan pemain yang serasi bagai naga dan phoenix, membuat siapa pun yang melihatnya akan berdebar dengan penuh rasa kagum yang membuncah. Seperti telah ditakdirkan untuk bersama, aura pemimpin sejati yang terpancar di antara keduanya terlihat begitu jelas. Angin malam yang bertiup membuat tirai-tirai putih transparan yang terpasang di semua sisi gazebo bergerak dan berterbangan membuat suasana terlihat semakin damai.


Di sana, dari kejauhan, lebih tepatnya dari atas atap sebuah paviliun yang letaknya tak jauh Paviliun Yin, Liao Wu Jin memandang mereka berdua dalam diam dengan sorot mata yang menunjukkan kesenduan samar. Tuannya itu memang tak lagi memperlakukan Wei Yun Rui dengan begitu dingin seperti sebelumnya, namun entah mengapa ada sedikit rasa tak rela di sudut hati Wu Jin. Pengawal pribadi putri keempat sekaligus ketua seluruh pasukan bayangan dari tingkat satu hingga tingkat tiga itu mendongakkan kepalanya ke atas, Wu Jin dapat melihat bulan purnama yang bersinar dengan terang tepat di atasnya. Dia telah memandang Shao Ling Mei dari sudut romansa pria dan wanita sejak waktu yang lama. Karena hal itu, ketika dekrit telah ditentukan dan pernikahan akan dilangsungkan, Wu Jin merasa kecewa dan kesal di saat yang bersamaan.


Orang yang dia cintai akan menikah dengan orang lain, bahkan sekalipun orang itu adalah cinta pertamanya. Sebagai sesama pria yang mencintai wanita yang sama, Wu Jin juga dapat merasakan kecemburuan di dalam hatinya. Pikiran Wu Jin berputar pada memori lama yang membuatnya bertemu dengan Ling Mei, saat itu dirinya masih begitu menyedihkan hingga rasanya dia bahkan akan mati hanya karena ditendang oleh seseorang, tapi Ling Mei menyelamatkannya. Mengajarkannya bagaimana cara menjadi kuat dan membuatnya tanpa sadar mencintai sang bintang keempat kekaisaran. Walaupun tidak terlihat dengan jelas, Wu Jin cukup mengerti bahwa Ling Mei menyayanginya dan karena semua hal yang tidak pernah dia bayangkan akan dia terima, Wu Jin memberikan seluruh kesetiaan yang dia miliki untuk Ling Mei.


"Kamu terlihat menyedihkan. Ikutlah denganku, maka aku akan memberikan banyak hal menyenangkan untukmu!"


"Karena tidak mempunyai nama ... Liao Wu Jin! Aku akan memanggilmu seperti itu."


"Lakukan seperti ini! Kamu harus bisa melindungi dirimu sendiri jika berniat ingin melindungiku, apa kamu mengerti, Wu Jin?"


"Aku mempercayaimu, Wu Jin. Karena itu, jangan pernah mengkhianatiku."


Mengingat semua itu, Wu Jin tersenyum kecil. Sekalipun wanita itu tidak menyadarinya, Wu Jin telah terjatuh ke dalam jurang yang dalam untuknya. 'Anda telah memberikan kehidupan yang indah untuk saya. Bahkan jika anda tidak mencintai saya, saya akan tetap selalu mencintai anda, Yang Mulia.'