
"Tuan Muda! Anda harus memakai mantel anda, cuaca sangat dingin dan anda bisa sakit setelah ini. Ah! Lebih dari itu, apa anda tahu gosip terhangat di wilayah kekaisaran?" Tang Mo Xi, pelayan utama dari tuan muda kediaman Shi, Shi Yu Han berlari menghampiri majikannya sembari membawa mantel jubah berwarna putih keunguan yang berasal dari bulu rubah dan memakaikannya pada Yu Han dengan cekatan.
Yu Han yang mendengarnya hanya dapat menggelengkan kepalanya, pelayannya itu memang sangat suka bergosip. "Mo Xi, berhentilah menggosip! Kamu ini selalu saja sangat suka membicarakan masalah orang lain."
Mendengar teguran halus itu, Mo Xi hanya menunjukkan cengiran manisnya. Bagaimana bisa dia melewatkan berita panas yang ada di kekaisaran? Apalagi jika itu berkaitan dengan para anggota keluarga kekaisaran yang merupakan pemimpin sah dari Dinasti Shao ini?
"Tapi, Tuan Muda, ini tentang anggota keluarga kekaisaran! Bukankah itu adalah hal yang sangat diperhatikan oleh semua orang? Kabarnya keajaiban telah datang pada Putri Keempat Shao Ling Mei, banyak yang mengatakan bahwa perlahan keterbelakangan mental yang dimiliki Putri Keempat berangsur pulih dan mengalami perkembangan yang baik. Tuan Muda Pertama, rumor ini telah menyebar luas di seluruh penjuru kekaisaran."
Yu Han mengerutkan alisnya, kemudian dia bergumam dengan lirih. "Putri Keempat Shao Ling Mei?"
"Terlepas dari semua itu, rumor berkata bahwa Yang Mulia Putri Keempat memiliki wajah yang sangat cantik! Tuan Muda, apa anda tidak ingin mengetahui seperti apa wajahnya? Aiya! Jika itu saya, saya mungkin akan merasa penasaran akan hal ini!"
"Itu ... aku tidak tahu. Sebelumnya kami tidak pernah bertemu sama sekali, dan lagi aku juga tidak mengetahui seperti apa dirinya maupun wajahnya. Tapi, kudengar dia telah menikah secara resmi dengan Pangeran Kedua Kerajaan Wei karena dekrit dari Permaisuri Agung."
"Tuan Muda, melihat perkembangan baik dari kondisi Putri Keempat, saya menjadi penasaran apakah beliau akan kembali masuk ke dalam pertarungan perebutan takhta bersama dengan para putri lainnya? Putri Keempat adalah satu-satunya putri sah kekaisaran, jadi jika beliau melakukannya, saya rasa itu adalah hal yang wajar."
Yu Han mendengus kecil melihat pelayannya yang begitu bersemangat, "Apa kamu akan terus penasaran dengan hal-hal seperti itu? Aku menjadi bertanya-tanya, mengapa kamu menjadi pelayanku? Bukankah akan lebih bagus jika kamu mendaftar sebagai pejabat pemerintahan saja?"
"Tuan Muda, apa anda bercanda? Saya adalah laki-laki, lagi pula saya tidak memiliki kemampuan sebaik itu untuk menjadi pejabat pemerintahan." Mo Xi berucap dengan wajah cemberut, tuannya itu memang selalu saja menggodanya.
Melihat hal itu, Yu Han terkekeh pelan. "Kalau kamu sudah tahu lebih baik berhentilah memikirkan semua itu. Aku tidak membayarmu untuk memikirkan masalah kekaisaran, jadi cepat selesaikan pekerjaanmu agar kamu bisa istirahat lebih awal hari ini, Mo Xi!"
"Sudah saya duga, Tuan Muda memang yang terbaik! Terima kasih karena telah membiarkan saya beristirahat lebih awal hari ini, Tuan Muda!"
Melihat hal itu Yu Han hanya dapat menghela napas pelan sembari tersenyum, pelayannya yang satu itu memang cukup unik dan selalu ceria.
.
.
Butiran-butiran salju mulai berjatuhan di seluruh istana kerajaan, musim dingin telah datang di Kerajaan Wei Timur. Para pelayan, kasim, hingga pengawal kerajaan terlihat sibuk berjalan ke sana kemari sembari membawa beberapa barang. Berbeda dengan mereka yang terlihat sibuk, di dalam paviliun yang ditinggali oleh Pangeran Keempat Kerajaan Wei justru terlihat sepi. Di dalam kamarnya, Wei Tian Zhi duduk sembari menatap beberapa lembar kertas yang berisi lukisannya. Lukisan-lukisan tersebut berisi gambar Ling Mei yang dilukis oleh Tian Zhi tanpa sepengetahuan wanita itu. Jari-jari lentiknya bergerak secara perlahan menyusuri garis wajah Shao Ling Mei yang dia lukis dengan sangat teliti. Tidak ada yang tahu bahwa Tian Zhi diam-diam mencintai Putri Keempat Kekaisaran Shao yang kini telah menikah secara resmi dengan kakak keduanya.
Tian Zhi memejamkan kedua matanya dengan alis yang berkerut sedih, sebelum kemudian dia menghela napas berat. Sudah beberapa bulan setelah pernikahan keduanya, tapi Tian Zhi tak dapat melupakan Putri Keempat Shao Ling Mei yang dia cintai sejak Tian Zhi pertama kali melihatnya. Ini gila! Tak seharusnya dia menginginkan wanita yang telah menikah, apalagi jika wanita itu adalah istri kakaknya. Bahkan sekalipun pengambilan selir boleh dilakukan oleh para wanita, Tian Zhi tidak semestinya menginginkan pasangan kakaknya. Karena Tian Zhi telah memutuskan untuk mencintai Ling Mei, pangeran muda itu tidak akan bersedia untuk menikah dengan wanita lain selain sang bintang keempat kekaisaran.
Kabar tentang kondisi Ling Mei yang pulih telah tersebar hingga ke Kerajaan Wei, mustahil untuk Tian Zhi tidak mengetahuinya. Entah Shao Ling Mei memiliki kecacatan pada mentalnya atau tidak, Wei Tian Zhi akan tetap mencintainya dengan sepenuh hatinya. "Yang Mulia, maafkan saya karena telah mencintai anda. Bahkan jika ibu permaisuri meminta saya untuk menikah dengan orang lain selain anda, saya tidak akan pernah mau melakukannya."
"Yang Mulia Permaisuri telah tiba!" seruan keras itu membuat Tian Zhi terkesiap, dengan cepat dan tergesa-gesa Tian Zhi merapikan semua lukisannya yang menggambarkan potret Ling Mei dan menyembunyikannya di dalam kotak kayu pribadi miliknya.
Dengan raut wajah yang terlihat sedikit gugup Tian Zhi berdiri dan menunduk memberi salam pada ibunya, Permaisuri Wei Su Yin. "Memberi salam kepada Yang Mulia Permaisuri, semoga Yang Mulia panjang umur seribu tahun."
"Duduklah, Zhi'er!"
Segera setelah mereka duduk di tempat masing-masing, suasana menjadi hening seketika. Belum ada satupun percakapan yang keluar dari mulut mereka setelah salam hormat diucapkan. Permaisuri Kerajaan Wei itu bahkan terlihat menikmati teh yang dituangkan oleh Tian Zhi untuknya dalam diam.
Permaisuri Wei menghela napas pelan, kemudian dia memanggil Tian Zhi dengan nada yang hangat. "Zhi'er!"
"Saya, Yang Mulia."
"Apa kamu tidak ingin menikah?"
Tian Zhi terbelalak kaget mendengar pertanyaan yang diberikan oleh Permaisuri Wei. "I-itu ... maafkan saya Yang Mulia, saya memiliki seseorang di hati saya saat ini."
Wei Su Yin menyeringai, jawaban dari putranya membuat kedua matanya berkilat samar. "Seseorang di hatimu? Katakan! Nona muda mana yang berhasil mendapatkan hatimu?"
Tian Zhi menelan ludahnya gugup, dia tak menyangka bahwa ibunya akan menanyakan hal ini. Sesaat Tian Zhi terdiam tanpa mengatakan apa pun, dia tidak mungkin berkata bahwa Putri Keempat Kekaisaran Shao lah yang telah memiliki hatinya.
"Apa kamu akan terus terdiam seperti itu?"
Wei Su Yin menatap lekat ke arah putranya sebelum kemudian dia mengalihkan pandangannya ke sekitar kamar Tian Zhi.
"Yang Mulia, saya..." Tian Zhi menggigit bibir bawahnya dengan gelisah, merasa khawatir akan respon ibunya itu setelah dia mengatakan kebenarannya.
Su Yin tersenyum miring, "Apa itu Putri Keempat Kekaisaran Shao?"
Tian Zhi tersentak, Permaisuri Wei menebaknya tanpa kesalahan sedikitpun. Apa itu artinya Permaisuri Wei telah mengetahui semuanya sejak lama?
"Zhi'er, sorot matamu telah mengatakan semuanya sejak kita masih berada di Kekaisaran Shao. Jadi, katakan padaku! Apa itu benar?"
"Itu benar bahwa saya mencintai Putri Keempat Shao Ling Mei. Karena itu, saya tidak bisa menikah dengan wanita lain, Yang Mulia. Saya akan memastikan perasaan yang saya miliki tidak akan mengganggu pernikahan kakak kedua, saya akan menyimpannya sendiri dalam hati saya. Anda juga tidak perlu mengkhawatirkan hal ini, mohon untuk ibu permaisuri memaafkan kesalahan Tian Zhi."
Tian Zhi meremas hanfu yang dipakainya kuat-kuat, kepalanya menunduk dengan wajah yang berusaha tetap tenang meskipun dalam hatinya dia merasa takut.
Su Yin tersenyum kecil, dia memandang cangkir yang ada di tangannya dengan lekat. "Kamu tidak perlu merasa takut. Tian Zhi, apa kamu bersedia jika aku memintamu untuk menikah dengan Putri Keempat?"
"Yang Mulia, itu tidak mungkin!" Tian Zhi menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat, dia benar-benar tidak mengerti dengan pemikiran ibunya itu.
Su Yin menghela napas pelan, putra-putranya memang memiliki sifat uang baik. "Itu mungkin, aku akan membuatnya mungkin untukmu. Lagi pula tidak ada hukum kekaisaran maupun hukum kerajaan yang melarang kakak adik menikah dengan wanita yang sama."
"Maaf Yang Mulia, saya tetap tidak dapat melakukannya. Putri Keempat Shao telah menikah secara resmi dengan kakak kedua dan saya, saya tidak ingin merusak kebahagiaan kakak kedua." Tian Zhi menatap tegas ke arah Permaisuri Wei, dia tidak ingin merusak kebahagiaan sang kakak hanya demi keegoisannya dan membuat kakak keduanya, Wei Yun Rui itu membencinya.
"Dengar, Zhi'er! Aku hanya ingin membuatmu tetap aman, Ming Hao masih sangat muda untuk pernikahan, sedangkan kamu telah memasuki usia pernikahan. Bukankah kamu sudah tahu bahwa perebutan takhta kekaisaran yang sebenarnya telah dimulai? Dalam waktu dekat dapat dipastikan jika Putri Mahkota Shao Mu Lan akan mengirim utusan untuk pergi ke Kerajaan Wei dan membawa surat lamaran untukmu, aku tidak rela jika putraku menjadi selir wanita kejam sepertinya!"
"Tapi Yang Mulia, apa saya benar-benar harus menikah dengan Putri Keempat?" Tian Zhi berucap dengan lirih, di satu sisi dia benar-benar tidak ingin dinikahi oleh siapa pun selain wanita yang dia cintai dan juga tidak ingin menjadi selir putri mahkota Kekaisaran Shao.
"Dia adalah lawan yang sebanding dengan Shao Mu Lan, tentu saja aku sudah mengetahui bakat dan kemampuannya yang luar biasa. Masalah Yun Rui biarkan aku yang mengurusnya, walaupun terkadang dia menjadi nakal, Rui'er adalah anak yang baik, aku yakin dia pasti akan mengerti."
Tian Zhi terdiam setelahnya, kebimbangan nampak jelas di raut wajahnya. Ini sulit, begitu tak terduga dan memusingkan. Dia berada di situasi di mana dia tak dapat membuat keputusan dengan leluasa.
Melihat keterdiaman Tian Zhi, Wei Su Yin menaikkan satu alisnya dengan tidak sabar. "Jadi, apa keputusanmu putraku?"
'Maafkan aku kakak kedua, aku harus melakukannya karena aku tak mempunyai pilihan yang lain.' Tian Zhi menghela napas panjang sebelum kemudian mengangguk dan berkata, "Ya. Saya akan melakukannya, Yang Mulia."
"Pilihan yang bagus, putraku! Aku akan pergi setelah ini, ada beberapa pekerjaan yang cukup sulit untuk aku tinggalkan."
Su Yin tersenyum lebar, telapak tangannya menepuk kepala Tian Zhi beberapa kali dengan lembut. Segera setelahnya, dia bangkit dari duduknya dan dengan anggun Su Yin melangkah keluar dari kamar Tian Zhi. Tian Zhi yang juga ikut berdiri dengan cepat menunduk hormat sebelum memandang kepergian Permaisuri Wei dengan sorot mata yang sendu.
...........................
Di dalam ruang kerjanya, Ling Mei memegang kuas tulisnya dan menulis di selembar kertas dengan hati-hati. Putri keempat kekaisaran itu sepertinya tengah menulis surat untuk diberikan pada seseorang, kali ini Wu Jin juga terlihat menemani Ling Mei dan berdiri di samping meja kerjanya. Setelah rumor yang dibuat olehnya tersebar luas, Ling Mei cukup mengerti bahwa ibunya, Permaisuri Agung Shao pasti juga telah mengetahuinya. Bukan hal yang tidak aneh jika dalam waktu dekat Ling Mei mungkin akan dipanggil oleh Permaisuri Agung ke Istana Kekaisaran dengan alasan sekedar mengunjungi beliau dan menemaninya. Ketika suratnya telah selesai dibuat, Ling Mei dengan cepat menggulungnya dan memberikannya kepada Wu Jin.
"Wu Jin, berikan surat ini pada Jenderal Besar Shi dan pastikan bahwa dia menerima surat ini secara langsung. Karena rencana kita sudah berjalan, kemungkinan besar dalam waktu dekat Permaisuri Agung akan memanggilku ke Istana Kekaisaran. Sebelum itu terjadi aku ingin kamu mengawasi kakak ketiga, sepertinya kali ini kakak ketiga akan bergerak dan melakukan sesuatu padaku."
"Baik, seperti yang anda perintahkan. Kalau begitu saya permisi, Yang Mulia." Segera setelah gulungan surat itu dia terima, Wu Jin menunduk hormat dan berjalan keluar dari ruang kerja Ling Mei dengan wajah yang datar.
Suasana ruang kerja itu kembali hening, hanya ada Ling Mei yang masih sibuk berkutat dengan beberapa dokumen-dokumen penting. Wanita itu terlihat begitu serius ketika sedang memeriksa semua dokumen itu, wajahnya yang cantik terlihat berkali-kali lipat lebih indah saat terkena cahaya matahari yang menembus dari sela-sela jendela. Beberapa waktu dilewati dalam diam, namun tak lama setelah itu suara gaduh dari luar membuat fokus Ling Mei menjadi teralihkan.
"Yang Mulia, maafkan saya. Tapi, ada hal mendesak yang ingin saya sampaikan pada anda." tiba-tiba suara Shu Lian, pelayan dari Yun Rui terdengar dari luar pintu ruangannya.
'Hal yang mendesak?' Ling Mei terdiam dengan alis yang mengerut bingung, namun tak lama setelah itu dia membuka mulutnya dan berkata, "Masuklah!"
Shu Lian membungkuk hormat dengan wajah yang terlihat sedikit khawatir. "Maaf telah menganggu waktu berharga anda, Yang Mulia. Namun, saat ini Pendamping Utama Wei tiba-tiba jatuh sakit dan melihat situasi bahwa kediaman tidak dapat menerima orang luar secara sembarangan selama beberapa waktu, saya meminta izin anda untuk memanggil tabib, Yang Mulia."
"Hmm ... baiklah. Setelah ini aku akan meminta Yu Shen untuk memanggil Tabib Xia kemari dan mengobati Yun Rui. Pergilah lebih dulu, aku akan mengunjungi Paviliun Zuanshi untuk melihat keadaannya begitu pekerjaanku selesai."
Shu Lian tersenyum senang, walaupun Ling Mei mengatakan semua itu dengan nada yang dingin, tapi dia cukup mengerti bahwa ada sedikit rasa perhatian yang dimiliki oleh putri keempat untuk tuannya, Pendamping Utama Wei Yun Rui. Dan itu sudah cukup untuk membuat Shu Lian merasa lega akan perasaan tuannya. "Shu Lian berterima kasih atas kebaikan yang diberikan oleh Yang Mulia."
Satu jam berlalu dan Ling Mei benar-benar menepati janjinya, ketika Tabib Xia telah selesai memeriksa kondisi Yun Rui, putri keempat Kekaisaran Shao itu datang dan memasuki kamar Yun Rui sembari membawa nampan yang berisi semangkuk cairan berwarna coklat gelap yang dapat dipastikan bahwa itu adalah obat milik Yun Rui. Dengan tenang dia meletakkan nampan itu di atas meja kecil yang berada tak jauh dari ranjang tempat Yun Rui terbaring. Berpikir soal obat, Ling Mei mendapatkannya saat dia berpapasan dengan Shu Lian yang juga tengah berjalan menuju kamar Yun Rui sambil membawa nampan itu. Yun Rui terbangun dan membuka matanya secara perlahan ketika sebuah suara terdengar dari samping ranjangnya.
"Ling Mei?"
"Saatnya untuk meminum obatmu, Yun Rui. Aku akan membantumu, jadi duduklah dengan perlahan." Ling Mei meraih tubuh Yun Rui yang lemas dan mendudukkannya, kemudian dia mengambil mangkuk yang berisi obat itu dengan hati-hati.
Dalam sakitnya, Yun Rui bahkan masih dapat merasakan perasaan berbunga-bunga di dalam hatinya. Pangeran kedua Kerajaan Wei itu benar-benar menyukai ketika Ling Mei memperlakukannya dengan begitu lembut dan penuh perhatian. Bahkan rasa pahit dari obat yang dia tenggak tak lagi Yun Rui rasakan, ini sangat aneh! Apakah kekuatan cinta dapat membuat seseorang yang sakit menjadi lebih baik?
Yun Rui tersenyum manis, satu tangannya meraih satu tangan Ling Mei dan menggenggamnya dengan erat. "Terima kasih. Bolehkah aku meminta satu hal padamu? Tetaplah berada di sampingku, setidaknya hanya sampai aku tertidur."
Ling Mei terdiam sebentar, tatapannya terlihat melembut dari waktu ke waktu, kemudian dia tersenyum tipis. "Seperti yang kamu inginkan, aku akan berada di sampingmu. Karena itu, tidurlah dengan nyaman."