Phoenix: Rules Of The Harem

Phoenix: Rules Of The Harem
Bab 13: Lalu Biarkan Dia Menunggu



Ketika malam tiba, kedua kereta kuda milik Ling Mei telah sampai di Istana Pedesaan Zhuzi. Ekspresi Ling Mei tetap datar dengan aura yang dingin melingkupi dirinya walaupun racun itu telah bereaksi dalam tubuhnya. Berbeda dengan Ling Mei yang terlihat seolah hal itu adalah hal yang normal, raut gelisah dan sedih Yun Rui justru terlihat jelas di sepanjang perjalanan. Dengan wajah yang sembab karena terlalu lama menangis, Yun Rui keluar dari kereta mengikuti Ling Mei yang juga telah keluar lebih dulu darinya. Melihat jarak dari kota Xiaoyang dan Ningle yang membutuhkan waktu hampir satu hari perjalanan, Ling Mei berpikir untuk mengobati lukanya sendiri sebelum memanggil Tabib Xia untuk membantunya mendetoksifikasi racun yang masuk ke dalam tubuhnya.


"Yun Rui, karena para pelayan Istana Zhuzi bukanlah orang-orang milikku, jadi aku akan kembali berpura-pura cacat mental setelah ini. Aku harap kamu mengerti." ucap Ling Mei tanpa menoleh pada Yun Rui yang ada di belakangnya.


Yun Rui berjalan di belakang Ling Mei sembari menatap punggung Ling Mei yang penuh darah, tapi kemudian dia memilih untuk menundukkan kepalanya dan menjawab dengan nada pelan. "Aku mengerti, istriku."


Namun, baru saja Ling Mei memasuki halaman depan istana, dia dikejutkan dengan keberadaan Tabib Xia yang berdiri dengan tegap seolah-olah tengah menyambut kedatangannya. Ling Mei mengerutkan alisnya, merasa curiga dengan keberadaan Tabib Xia di Istana Zhuzi.


"Butuh bantuan, Yang Mulia?" Tabib Xia bertanya dengan seringai tipis yang terlihat di wajah tegasnya.


Ling Mei mendengus, dia menatap tajam Tabib Xia yang terlihat santai. "Apa yang kamu lakukan di sini, Tabib Xia?"


Tabib Xia terkekeh dengan wajah yang senang. "Tentu saja memenuhi perintah dari Permaisuri Agung. Oh! Dan jangan khawatir tentang para pelayan dan penjaga yang bertugas di istana ini, Permaisuri Agung telah mengganti semuanya dengan orang-orang kepercayaannya. Jadi anda bebas untuk menunjukkan diri anda yang sebenarnya di sini tanpa harus berpura-pura seperti biasanya."


"Itu berarti sejak awal ibu telah mengetahui tentang rencana penyerangan ini, tapi karena ini permintaan khusus dari kakak pertama, ibu harus menerimanya untuk menghindari kecurigaan kakak pertama terhadapku. Lalu, karena tak dapat dicegah olehnya, ibu memutuskan untuk mengirim kamu dan beberapa orang kepercayaannya yang lain untuk membantuku setelah aku sampai di sini, bukan begitu Tabib Xia?"


"Seperti biasa, anda adalah orang yang cerdas, Yang Mulia." Xia Lu Si tersenyum tipis dalam kekagumannya.


Ling Mei menghela napas, tatapannya sedikit melembut setelahnya. "Karena sudah seperti ini, bersiaplah untuk melakukan proses pengobatan Tabib Xia! Kamu mungkin akan sangat sibuk dan kerepotan setelah ini."


Tabib Xia menunduk hormat sembari tersenyum puas. "Sesuai perintah anda, Yang Mulia."


Malam harinya, ketika proses pengobatan masih berlangsung, Ling Mei mengalami demam yang cukup tinggi hingga membuat Yun Rui memilih untuk menetap di samping Ling Mei dan menjaga wanita itu semalaman.


"Apa Yang Mulia selalu mengalami demam tinggi ketika terkena racun?" Yun Rui bertanya kepada Tabib Xia yang berada tak jauh dari mereka berdua, wanita yang tak lagi muda itu terlihat sibuk meracik obat untuk Ling Mei.


"Tidak. Hanya jika Yang Mulia terkena racun mematikan dia akan menjadi seperti ini, tapi, itu tak akan melukainya lebih dalam. Selain itu, tubuhnya telah terlatih untuk menghadapi racun-racun kecil jangka panjang yang hanya bersifat melemahkan."


Yun Rui menyeka keringat di wajah Ling Mei dengan penuh kelembutan, dia tersenyum kecil memandang wajah Ling Mei yang tetap cantik bahkan saat dia sedang sakit sekalipun. Namun, tak lama setelah itu dia tersentak kecil melihat cairan bening yang menetes dari mata Ling Mei yang masih terpejam erat. Sepertinya tanpa sadar Ling Mei menangis, bahkan putri sah kekaisaran itu terlihat meracau lirih dengan raut wajah yang gelisah.


"A-Chen! A-Chen! Dui bu qi!"


(Dui bu qi: dalam bahasa China artinya "maaf").


Yun Rui mendengarnya, tubuhnya terpaku ketika mendengar Ling Mei memanggil nama itu. Dalam diam dia menatap khawatir ke arah Ling Mei yang masih meracau.


Tabib Xia yang melihat itu hanya dapat menghela napas pelan. "Biarkan saja, dia akan membaik dengan sendirinya setelah ini. Anda tidak perlu khawatir, Pangeran Wei."


.


.


"Yang Mulia! Sesuatu yang buruk terjadi di hutan kematian!" Ling Mei yang sedang bersandar di peraduannya pun membuka matanya yang sejak tadi dia pejamkan.


Dua hari terlewat sejak insiden penyerangan tersebut terjadi, luka tebasan yang dia miliki bahkan masih basah dan baru saja akan diobati kembali, sejak tadi Ling Mei menunggu Yun Rui yang sibuk mempersiapkan obat untuknya bersama dengan Tabib Xia. Pria muda itu bersikeras untuk mengobatinya meskipun Ling Mei telah mengatakan padanya bahwa itu tidak perlu. Putri keempat Kekaisaran Shao itu memandang Wu Jin yang terlihat panik dengan wajah yang tenang. "Ada apa? Katakan dengan jelas, Wu Jin."


"Sesuatu telah terjadi di hutan kematian, Yang Mulia. Lin Yin melaporkan bahwa sekelompok orang mencoba menyamar menjadi tentara Yuyin dan mengawasi pergerakan kita. Mereka terlihat sangat berbahaya dan sepertinya ingin mengetahui rahasia kita, Yang Mulia. Beruntung semuanya telah ditangkap oleh para penjaga bayangan tingkat satu dan telah dikurung di dalam penjara Jiangdi. Yang Mulia, kami semua menunggu perintah anda."


"Sial! Benar-benar tidak beruntung!" raut wajah Ling Mei menggelap, dia terlihat tidak baik dan cukup menakutkan. "Aku akan pergi. Wu Jin siapkan kuda untukku! Yu Shen kemarilah!"


"Saya, Yang Mulia." Yu Shen berjalan mendekat ke arah Ling Mei sebelum kemudian dia menunduk memberi hormat.


"Aku akan pergi ke hutan kematian, kamu akan tetap di sini untuk menjaga Pendamping Utama Wei bersama dengan beberapa penjaga bayangan yang lain. Jika dia menanyakan keberadaanku, katakan pada Pendamping Utama Wei bahwa aku memiliki hal mendesak yang harus diselesaikan saat ini juga. Pastikan tidak ada penyerangan yang terjadi selama aku tidak ada di tempat ini! Jangan sampai sesuatu terjadi padanya atau itu akan menjadi masalah untukku!"


"Pelayan ini mengerti." Yu Shen mengangguk. Itu adalah perintah yang mutlak, namun dalam hatinya dia cukup mengkhawatirkan keadaan tuannya.


Ling Mei mengusap wajahnya kasar, merasa kesal tiba-tiba ketika ketenangannya diganggu begitu saja dengan tidak tahu malunya oleh orang-orang menyusahkan itu. Beruntungnya, jarak dari kota Ningle ke kota Jianhu benar-benar dekat, yang artinya wilayah hutan kematian berada tidak jauh dari tempat mereka berada saat ini. Ketika dia sampai di markas besar nanti, jika semua informasi yang para penyusup itu berikan tidaklah penting, setelah sesi interogasi Ling Mei bersumpah akan membunuh mereka semua dengan cara yang tidak mudah!


Benar saja! Tidak memerlukan waktu yang lama, Wu Jin dan Ling Mei tengah menunggangi kuda mereka masing-masing dengan kecepatan yang tinggi. Raut wajah Ling Mei terlihat begitu dingin dan tajam membuat semua orang yang melihatnya mungkin akan menggigil ketakutan.


"Yang Mulia, apa tidak apa-apa meninggalkan istana tanpa berpamitan dengan benar kepada Pendamping Utama Wei? Saya pikir beliau mungkin tengah mencari anda untuk melanjutkan proses pengobatan yang tertunda."


Dari atas kudanya, Ling Mei menolehkan kepalanya ke samping menatap Wu Jin yang ternyata juga sedang menatap ke arahnya. Tapi, tak lama setelah itu Ling Mei kembali memalingkan wajahnya ke depan, dia menjawab dengan nada yang datar.


"Lalu? Biarkan dia menunggu. Aku tidak membutuhkan izinnya untuk pergi ke mana pun, lagi pula luka seperti ini aku telah mengalami hal yang lebih parah dari hari ini. Masih banyak waktu untuk mengobati luka ini, tapi untuk Yuyin aku tak dapat mengalihkan pandanganku dari mereka meski hanya sebentar saja. Jadi, biarkan saja, itu bukanlah apa-apa."


Tanpa menunggu balasan dari Wu Jin, Ling Mei memacu kudanya lebih cepat dan meninggalkan sang pengawal pribadi yang terlihat terdiam dengan tatapan yang sendu. 'Yang Mulia, bahkan jika saya tak terlalu menyukai Pangeran Wei sebagai pendamping resmi anda karena perasaan pribadi, tidakkah anda sudah terlalu dingin padanya?'


Begitu tiba di markas tentara Yuyin dan pasukan bayangan, Ling Mei turun dari kudanya dan berjalan dengan tenang meskipun semua orang yang ada di sana tahu bahwa raut wajah ketua mereka kini terlihat tidak baik. Aura tajam yang menekan benar-benar menguar tanpa sadar dari tubuh Ling Mei, bahkan beberapa orang bergidik ngeri ketika putri keempat Kekaisaran Shao sekaligus calon permaisuri agung masa depan itu berjalan melewati mereka.


"Bagaimana mereka bisa masuk ke dalam markas yang dijaga ketat?! Kalian dipilih karena memiliki kemampuan luar biasa dibandingkan dengan yang lainnya! Lalu mengapa mereka semua bisa masuk ke dalam markas dan mengawasi kita dengan berpura-pura sebagai tentara Yuyin?!"


Benar, ketika telah sampai di ruangan utama markas Ling Mei menunjukkan kemarahan yang cukup besar kali ini. Rencananya masih belum terlaksana, tentara Yuyin juga masih memiliki jumlah anggota yang sedikit. Ling Mei tidak ingin semuanya menjadi rusak di saat dia bahkan belum memulainya. Setelah insiden penyerangan yang terjadi, dia membiarkannya. Tapi, untuk yang kali ini tidak boleh ada satu kesalahan pun yang boleh terjadi.


"Maafkan kami, Yang Mulia. Ini dikarenakan saya yang tidak kompeten dalam mengurus markas." Meng Ying, wanita yang merupakan ketua pasukan bayangan tingkat satu membungkuk hormat dengan raut wajah yang menunjukkan rasa bersalah.


Ling Mei menghela napas, bagaimana pun ini adalah kesalahan bersama yang tak dapat ditanggung oleh satu orang. "Sudahlah, berapa banyak penyusup yang berhasil kalian tangkap?"


"Sembilan orang telah berhasil kami tangkap dan kini sedang berada di penjara Jiangdi. Kami tidak menemukan jejak lain selain mereka, Yang Mulia." Meng Ying menjawab dengan nada datar, ekspresi serius terlihat di wajahnya yang tegas.


Ling Mei mengerutkan alisnya tidak senang, ini terasa janggal. "Tunggu! Apa kalian tahu berapa lama mereka menyusup dan berpura-pura menjadi anggota tentara Yuyin?"


Salah satu dari mereka maju dan membungkuk hormat sebelum berkata, "Menjawab pertanyaan, Yang Mulia. Kami telah memperkirakan bahwa mereka telah masuk ke dalam markas sejak lima hari yang lalu, maaf karena kami terlambat menangkap mereka, Yang Mulia."


"Sial, benar-benar buruk! Mereka tidak berjumlah sembilan, tapi sepuluh! Salah seorang dari mereka pasti telah pergi dari tempat ini dan bertugas melaporkan informasi yang mereka dapatkan tentang kita kepada tuan mereka!"


Semua orang yang ada di ruangan utama terbelalak mendengar ucapan Ling Mei, mereka telah kehilangan satu jejak yang lain dan berpikir bahwa semua telah ditangkap tanpa sisa. Segera semua anggota pasukan bayangan tingkat satu berlutut di hadapan Ling Mei.


"Kami bersalah, kami telah lalai dalam menjalankan tugas. Kami siap untuk menerima hukuman dari anda, mohon untuk Yang Mulia menghukum kami sesuai dengan peraturan yang berlaku."


Ling Mei memalingkan mukanya ke samping, sekilas tatapan sendu terlihat di kedua matanya. Ling Mei memang berhati dingin dan tak segan untuk menjadi kejam, tapi dia tak pernah memperlakukan orang yang setia dan menghargainya dengan buruk. Karena itu, menghukum mereka membuat sudut hatinya berdenyut nyeri bahkan jika Ling Mei berusaha menyangkalnya sekalipun.


"Aku akan menghukum kalian setelah sesi interogasi selesai. Wu Jin, Meng Ying, dan Lin Yin akan ikut aku mengintrogasi mereka di penjara Jiangdi. Jika mereka tak memberikan informasi yang berguna, maka aku sendiri yang akan mengeksekusi mereka."


"Shì." semua orang yang ada si sana membungkuk hormat sembari tersenyum puas. Ketua mereka memang yang terbaik dan mereka merasa bangga akan hal itu.


.


.


Di dalam Istana Zhuzi, lebih tepatnya di dalam kamar Ling Mei dan Yun Rui, pria muda yang memiliki gelar Pangeran Pendamping Putri Keempat itu duduk di peraduannya dengan wajah yang muram. Lagi-lagi Ling Mei meninggalkannya tanpa mengatakan apa pun, istrinya menjadi begitu dingin dan berbeda dari sebelumnya. Belum lagi Ling Mei pergi dengan luka yang masih basah dan baru saja dijahit membuat dia merasa khawatir, Yun Rui ingin memastikan bahwa Ling Mei baik-baik saja sekarang, sayangnya dia bahkan tak mengetahui di mana keberadaan istrinya. Yun Rui menghela napas, racun Ling Mei belum dipulihkan sepenuhnya.


"Apa kamu merasa sedih karena Putri Keempat pergi tanpa mengatakan apa pun padamu?"


Suara itu membuat Yun Rui terkejut dan menolehkan kepalanya ke arah pintu kamar yang terbuka. Di sana terlihat Tabib Xia yang menyenderkan punggungnya di depan pintu sembari tersenyum miring.


"I-itu tidak benar! Yang Mulia pasti memiliki alasan tersendiri saat memutuskan hal itu, jadi saya pikir saya akan berusaha mengerti."


Xia Lu Si menatap Yun Rui dengan mata yang berkilat misterius. "Begitukah? Apa kamu tidak penasaran ke mana dia pergi saat ini?"


Yun Rui menggelengkan kepalanya dengan cepat, dia merasa tidak berhak untuk itu. Bahkan dengan Ling Mei yang masih tidak mempercayainya, pria itu tak ingin membuat istrinya membencinya. "Jika Yang Mulia tidak ingin aku mengetahuinya, itu berarti saya tidak memiliki cukup kepercayaan di hatinya. Karena itu, saya akan menunggu agar Yang Mulia dapat mempercayai saya sepenuhnya."


"Hmph! Benar-benar suami yang baik! Saya selalu bertanya-tanya, apa karena ini Permaisuri Agung memilihmu untuk menjadi pendamping resmi putri kesukaannya?"


Yun Rui mendongakkan kepalanya dengan mata yang membulat terkejut. "Apa maksud anda, Tabib Xia?"


Xia Lu Si tersenyum misterius, "Pangeran Wei, apa anda tidak tahu? Tentu saja itu karena—"


"Berhentilah memprovokasinya Tabib Xia! Apa kamu datang ke sini hanya untuk menggosip tentang pernikahanku dan Yun Rui?"


Nada penuh ketegasan itu membuat Xia Lu Si dan Wei Yun Rui tersentak, dapat mereka lihat Ling Mei yang baru saja kembali dan berjalan memasuki ruangannya dengan wajah dan pakaian yang penuh darah.


"Astaga! Apa yang terjadi pada anda, Yang Mulia?!" Yun Rui berseru dengan wajah yang panik.


"Tidak perlu panik, ini bukan darahku."


Melihat punggung Ling Mei yang juga penuh darah, Tabib Xia tersenyum miring dengan ekspresi jahil yang kentara di wajah tegasnya, dia mengerti bahwa luka Ling Mei kembali terbuka dan mengeluarkan darah yang cukup banyak.


"Yang Mulia, anda terlihat santai, apa anda lupa telah memiliki janji dengan saya untuk melanjutkan pengobatan anda? Atau haruskah saya menyeret Yang Mulia ke Istana Phoenix dan mengadukan anda pada Permaisuri Agung, kemudian membiarkan anda mendengarkan nasehat panjang dari Permaisuri Agung selama seharian penuh?"


Ling Mei mendengus, dia memandang kesal ke arah si tua yang menyebalkan Xia Lu Si. "Apa kamu mau mati?!"


"Jika anda dapat melakukannya." Xia Lu Si terkekeh, mengerjai putri keempat kekaisaran yang memiliki sifat dingin ternyata cukup menyenangkan, ini tidak buruk dan dia menyukainya.