New Adventure

New Adventure
Mazo



Sudah tiga jam berlalu Sero belajar menulis dan membaca dalam bahasa Iruta, Sero mulai hapal beberapa kata.


Hari mulai menjadi gelap.


Tn. Mazo :"Sero, sekarang hampir malam, bukankan kau harus menemui Zuyo?"


Sero :"Oh iya aku lupa."


Tn. Mazo :"Kalau begitu kita lanjutkan ini nanti."


Sero :"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu."


Tn. Mazo :"Tunggu dulu Sero!"


Sero :"Ada apa Tuan Mazo?"


Tn. Mazo :"Ingat, pembicaraan ini dan fakta kalau kau adalah Viards, jangan sampai orang lain tahu."


Sero :"Kenapa?"


Tn. Mazo :"Jika sampai orang lain tahu, maka akan terjadi masalah besar. Jika ada yang ingin ditanyakan, tanyakan saja padaku."


Sero :"Baiklah, aku pergi dulu."


Tn. Mazo :"Ya, sampai ketemu lagi."


Sero telah berjanji untuk menemui Zuyo. Sero keluar dari sana ia mulai berjalan menuju tempat awal dia turun dari kereta.


Sero sempat melewati beberapa pedagang dan kerumunan orang, Sero sekarang bisa mengerti semua percakapan orang orang.


"ahh, aku lega Sekarang, karena berkat tuan mazo aku bisa paham bahasa orang orang sini. Namun aku masih kaget, ini benar benar seperti dunia dongeng, bisa bisanya ada beruang yang bisa bicara. Astaga aku lupa bertanya pada Tuan Mazo mengenai hal yang dia lakukan padaku tadi."


Akhirnya Sero sampai ditujuan, dia masuk kedalam, ruangan dalam terlihat seperti tempat makan biasa, namun semua bangunan dan furniturnya terbuat dari kayu,


dan ada lantai duanya.Terlihat kalau Zuyo, Xia, dan mira sedang menunggu Sero sambil duduk didepan meja.


"Itu dia mereka."


Sero menghampiri mereka bertiga.


Zuyo :"Hey Sero!, cepat sekali kau datang. Pergi kemana saja kau tadi selama tidak bersama kami?"


Sero :"Aku hanya mengobrol bersama Tuan Mazo."


Zuyo :"Oh, ayo duduk dulu."


Sero :"Terima kasih."


Sero duduk disamping Zuyo.


Mira :"Hai Sero."


Xia ;"Hai."


Sero :"Hai."


Mira :"Jadi, apa yang kau bicarakan bersama Tuan Mazo?"


Sero :"Yah, kami hanya mengobrol dengan topik ringan dan kami saling berbagi cerita."


Mira :"Hanya itu saja?"


Sero :"Ya.


Mira :"Hmm, jarang jarang dia mau mengobrol, apa lagi dengan orang yang baru dia temui. Padahal dia selalu sibuk, jadi dia tidak mau membuang buang waktu untuk urusan yang tidak begitu penting."


Sero :"Tuan Mazo bilang, untuk saat ini dia sedang tidak sibuk jadi kami mengobrol. "


Mira :"Oh, begitu ya."


"Aku rasa ini saatnya menanyakan siapa Tuan Mazo sebenarnya."


Sero :"Bisa kalian ceritakan padaku, siapa Tuan Mazo sebenarnya?"


Mira :"Oh iya, kau kan tidak tahu siapa dia."


Xia :"Kalau begitu siapa yang mau menceritakannya?"


Zuyo :"Mira, kau saja."


Mazo, Tiga abad sebelumya.


Mazo adalah Seorang Elf muda yang masih berumur 30 tahun. Elf adalah ras setengah manusia dengan telinga panjang dan rambut pirang, elf adalah termasuk salah satu ras yang memiliki umur yang sangat panjang. Elf biasanya tinggal dihutan dan walau umur mereka sudah 500 tahun mereka akan terlihat seperti remaja biasa yang berumur 25 tahun, jika umur mereka 1000 tahun atau lebih, barulah mereka akan terlihat seperti nenek-nenek atau kakek-kakek pada umumnya.


Berbeda dengan elf yang lainnya Mazo memilih kelas Wicth sedangkan yang lain archer. Kebanyakan elf memilih kelas Archer karena elf mempunyai penglihatan yang sangat tajam layaknya seekor elang dan jarak pandang mereka yang cukup jauh. Tentu merupakan pilihan yang sangat tepat bila mereka memilih kelas Archer, karena kelas archer lebih difokuskan dalam keahlian memanah. Alhasil para elf sangat berbakat dalam memanah, mereka bisa memanah sasaran yang sangat jauh dengan akurat. Memang sangat disayangkan jika kemampuan seperti ini diabaikan.


Mazo lebih tertarik dengan kemampuan bertarung sebagai Wicth atau penyihir, karena menurutnya memanah itu sudah biasa.


Keesokan harinya Mazo pergi ke Academy ventura atau biasa disebut akademi petualang, Akademi ini mengajarkan orang orang yang ingin menjadi petualang, seperti cara bertahan hidup dan bertarung. Masing masing dari para calon petualang harus memilih kelas mereka sesuai dengan keterampilan atau kemauan mereka. Para pengajar disana adalah para petualang kelas Veteran yang sudah memiliki banyak pengalaman, baik itu dalam segi bertarung, pengetahuan, atau ketetampilan.


Mazo memilih kelas Wicth. Tentu para pengajar disana terheran heran karena sangat jarang ada elf yang mau memilih kelas Wicth. Mazo sempat mendapat sindiran dan ejekan dari beberapa teman sekelasnya,


"Memangnya elf bisa jadi penyihir."


"Jika kau menggunakan sihir dihutan pasti tempat tinggalmu akan ikutan hancur."


"Hei mazo, kenapa kau memilih menjadi penyihir daripada menjadi pemanah, kau seharusnya menggunakan kemampuanmu itu dengan benar, dasar BODOH!".


Namun, hal itu tidak membuatnya patah semangat, dengan ejekan dan sindiran itu ia jadikan bahan bakar untuk semangatnya.


"Aku pasti akan menjadi penyihir terhebat dikota ini."


Berlatih di akademi saja tidak akan membuatnya cepat kuat, jadi saat pulang dari akademi dia berlatih dilapang ditengah hutan yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggalnya. Semua elf disana berlatih memanah namun hanya Mazo yang berlatih sihir sendiri, seperti merapal. Dihutan dia hanya berlatih sihir elemen angin, air, cahaya, petir, tanah, dan sihir penyembuh. Dia juga berlatih elemen lainnya seperti api dan ledakan namun ditempat yang lebih aman seperti di gurun. Untuk mempelajari semua elemen itu tentu bukanlah perkara yang mudah ditambah dia sering mendapat sindiran dan ledekan dari teman sekelasnya ketika dia di akademi. Bukannya mentalnya yang drop, namun semangatnya semakin membara.


Hingga setahun kemudian akademi mengadakan turnamen yang di adakan setiap tahunnya untuk latih tanding. Tentunya para peserta dihadapkan dengan lawan yang sama kelasnya dengan mereka. Didalam turnamen ini tertapat dua pertandingan yaitu pertandingan individu dengan hadiah berupa perlengkapan berpetualang yang lengkap beserta uang. Dan ada pertandingan kelompok, dengan hadiah uang dengan nominal tinggi.


Mazo mengikuti keduanya. Singkat cerita dipertandingan individu Mazo kalah di final, lalu dipertandingan kelompok Mazo menang bersama rekannya.


Merasa ada kecocokan akhirnya mereka setuju untuk membentuk kelompok atau party petualang.


Diturnamen tahun kedua dan ketiga Mazo berhasil menang dalam pertandingan individu dan kelompok. Sehingga Mazo dijuluki White Magician, karena ketenaran dan kehebatan kelompok Mazo dalam menyelesaikan misi diluar akademi mereka dijuluki LastChild.


Namun ketenaran mereka hanya bertahan selama 1,5 tahun. Saat lulus dari akademi, kemampuan mereka cukup memumpuni untuk menjadi petualang professional. Saat mereka pergi ke Guild petualang untuk mendapatkan misi, mereka dihentikan oleh seseorang memakai zirah. Dia meminta mereka untuk membasmi kadal gas raksasa di lembah Filemound dan mengambil darah kadal itu untuk dijadikan obat untuk istrinya yang sedang sakit dan menawarkan mereka hadiah uang yang besar. Mereka pun menyetujuinya, ketika mereka tiba disana ternyata mereka ditipu, lawan yang mereka hadapi bukanlah kadal raksasa namun empat ekor Wyvern/Naga raksasa terkutuk. Mereka berusaha kabur dan melawan, namun usahanya sia-sia satu persatu dari mereka terbunuh dengan cukup tragis. Saat Mazo mencoba merapal sihir, tiba tiba dari belakang Mazo dihempaskan oleh naga menggunakan ekornya. Ia terpental, kemudian ia ditelan hidup hidup oleh naga yang lainnya. Ketua party berusaha menyelamatkannya dengan cara menyerang mulutnya kemudian masuk kedalam mulutnya. Ia melihat Mazo berpegangan pada tongkatnya yang tersangkut ditenggorogan naga. Ketua party berusaha meraih tangannya, saat dapat ia langsung menarik dan mengeluarkan Mazo dari mulut Naga. Namun saat Ketua party melompat keluar, naas kakinya tergigit hingga putus.


Ketua :"AARRHHG!!!."


Mazo :"Ketua!, kau baik-baik saja!?"


Ketua :"ARHHG, Sialan!"


Mazo :"Ayo kita pergi ketempat aman."


Saat Mazo merangkul ketua, ketua menghentikannya.


Ketua :"Hentikan, ini percuma. Selamatkan saja dirimu sendiri tidak usah pedulikan aku."


Mazo :"TIDAK!, Setidaknya kita harus selamat."


Ketua memegang pundak Mazo.


Ketua :"Mazo, teruslah berjuang, jadilah kuat, jangan patah semangat, jangan putus asa dan maafkan semua kesalahanku."


Mazo :"Apa yang kau bicarakan!, ayo cepat kita harus pergi."


Ketua :"Mazo kemarilah."


Ketua memeluk Mazo.


Mazo :"Apa yang kau lakukan."


Ketua mengaitkan sebuah benda ke baju belakang Mazo kemudian merapal mantra.


Ketua :"Sampai jumpa."


Mazo :"Apa!."


WOOSHH, Mazo melesat terbang ke utara.


Mazo :"KETUA!!"


Dengan kecepatan tinggi, Mazo berhasil keluar dari lembah dan mendarat di gurun pasir.


Kemudian Mazo menangis dan putus asa. Rasa bersalah dan penyesalan memenuhi hatinya. Akhirnya Mazo pingsan karena luka parah yang ia terima.


BERSAMBUNG....