New Adventure

New Adventure
Noda merah



Sepuluh Menit pun berlalu. Sesosok pria tua berperawakan tinggi berjenggot panjang berpakaian mewah dan memakai mahkota tiba-tiba muncul dari balik singgasana yang tidak lain adalah raja itu sendiri. Semua orang di ruangan segera bertekuk lutut, termasuk Sero yang secara spontan mengikuti.


Tidak ada seorang pun yang menghiraukan kemunculannya yang aneh dan tiba-tiba itu. Dengan wajah datar ia berjalan pelan seiringan dengan tongkat emas yang dipegangnya kemudian menduduki singgasana.


"Apa yang kalian butuhkan wahai rakyatku?" Ucap Sang Raja.


Sero merasa ada yang janggal saat itu, namun ia tidak bisa membuang waktu untuk berpikir karena sang raja telah ada dihadapannya dan menunggu jawaban.


"Wahai yang mulia, saya adalah perwakilan dari sebuah desa terpelosok yang ada di barat." Ucap Sero tanpa menatap raja.


"Lanjutkan." Ucap Raja.


"Saya disini untuk menyampaikan keluh kesah serta penderitaan kami dan memohon belas kasih paduka atas apa yang menimpa kami." Jelas Sero.


Masih dengan wajah datarnya sang raja menatap dan mengamati Sero seolah tidak nyaman akan kehadirannya. Ruangan tahta yang luas dan megah terasa sepi sebab setiap kata yang diucapkan Sero menggema ke seluruh ruangan, sehingga setiap bunyi sekecil apa pun pasti akan terdengar.


Semuanya ia ungkapkan pada sang raja mulai dari krisis ekonomi, kelaparan, hingga perlakuan diskriminasi yang dilakukan oleh beberapa prajurit kerajaan.


"Sekian, mohon kemurahan hati dan kebijaksanaan paduka." Ucap Sero mengakhiri penjelasan.


"Aku minta maaf atas ketidaknyamanan yang kalian alami, aku berjanji masalah kalian akan segera diselesaikan dan kalian akan hidup damai." Ucap Sang Raja masih dengan raut wajah datar.


Sebetulnya disini Sero merasa agak kesal dengan respon Raja yang terkesan tak terlalu peduli dan ingin segera menyelesaikan masalah. Namun dia adalah Raja, resiko pasti akan timbul jika ia salah bicara atau bertindak.


"Apa ada hal lain lagi yang ingin disampaikan?" Tanya Raja.


"Tidak terima kasih paduka, hamba mohon penyelesaian masalahnya." Ucap Sero.


"Kalau begitu, bubar!" Ucap Raja.


...****************...


Mereka berdua keluar dari kastil lalu berjalan menelusuri kota untuk mencari penginapan terdekat. Banyak hal yang perlu Sero selidiki disana sebelum ia kembali ke desa dan membawa kabar gembira. Hingga ditengah perjalanan Sero secara tak sengaja tertabrak dengan keras oleh seseorang dari belakang hingga membuat keduanya terjatuh. Barang-barang yang dibawa Sero jatuh berserakan di lantai hingga menjadi pusat perhatian banyak orang.


"Maaf." Ucap orang yang menabraknya lalu kembali pergi berlari tanpa membantu Sero mengumpulkan barang-barang nya.


Semua barang-barang itu ia kumpulkan kembali dengan dibantu Senju yang bersamanya sampai-sampai menghalangi pengguna jalan setempat yang lewa. Satu persatu mereka taruh barang itu kedalam tas, kemudian mengikatnya dengan kencang.


Baru saja mereka berdiri, Sero secara tidak sengaja kembali tertabrak lebih keras hingga terpental oleh pria berbadan besar dari belakangnya dan membuat barang yang dibawanya lagi-lagi berserakan. Tanpa meminta maaf pria berbadan besar itu langsung pergi begitu saja.


"DASAR!!" Teriak Sero sangat kesal.


...****************...


Ternyata pria berbadan besar itu adalah seorang bandit bersama seorang rekannya tengah mengejar seseorang yang juga telah menabrak Sero sebelumnya. Mereka berlarian secepat mungkin melewati kerumunan yang padat berusaha menghindar dan berusaha menangkap bahkan sempat memicu kegaduhan.


"Hey kau berhenti!" Teriak Bandit.


Ditengah pengejaran itu, seseorang yang dikejar meraih sebuah tiang kedai lalu menariknya hingga membuat kedai itu runtuh menghalangi jalan dan menghambat laju bandit yang mengejarnya. Sesaat mereka berhenti untuk mencari jalan lain, namun karena tak menemukannya mereka terpaksa menyingkirkan bahkan menghancurkan segala yang menghalangi jalan.


Sosok yang mereka kejar kian semakin menjauh. Namun tanpa diduga kawanan lain dari bandit tiba-tiba muncul dihadapannya lalu menghadang jalan. Orang itu berbelok menghindarinya kemudian memasuki sebuah gang sempit lalu memutar kembali ke arah tempat ia menabrak Sero sebelumnya.


Ternyata bandit beserta kawanannya itu tak hanya asal mengejar, tetapi mereka telah melancarkan rencananya untuk menangkap targetnya. Terbukti dari munculnya bandit tadi di hadapannya dan membuat orang yang dikejar terpojok tak bisa kemana-mana. Tanpa disadari ternyata jalanan disana kosong dan suram, yang ternyata adalah pemukiman kumuh rumah bagi para gelandangan.


Akhirnya ia pun tertangkap tanpa perlawanan lalu diseret kedalam sebuah gang yang gelap juga sempit. Beberapa saat kemudian Sero secara kebetulan melintas melewati gang tersebut lalu melihat orang yang tertangkap ternyata merupakan seorang wanita dan sedang dilecehkan. Anehnya orang-orang sekitar diluar gang justru tak menyadari keberadaan mereka didalam gang itu, atau ternyata sebenarnya mereka telah menyadari namun tak peduli atau tak menghiraukan nya, terkecuali Sero yang merasa tergerak menyaksikan kejadian tersebut.


Sero menghampiri orang-orang itu untuk menghentikan perbuatan mereka yang tidak terpuji. Baru beberapa langkah saja ia tiba-tiba dihempaskan bandit didekatnya tanpa sebab yang jelas hingga menabrak Senju.


"Pergi kau sana atau kau akan mati!" Tegas bandit itu dengan emosi.


Keduanya sama-sama emosi dengan sebab yang berbeda hingga terjadilah adu jotos untuk melampiaskan kemarahannya masing-masing. Mereka berdua berkelahi di gang sempit itu disaksikan Senju juga bandit yang masih tengah melecehkan wanita tadi.


Pukulan demi pukulan ia daratkan pada muka bandit itu dan pukulan demi pukulan bandit ia hindari dengan gesit tak mengenai tubuhnya sedikitpun. Sero kini bisa disebut cukup ahli dalam bela diri berkat pelatihan keras yang dilaluinya oleh panglima Aumus. Satu telah tumbang, dan tersisa dua yang lainnya. Mereka menyerang bersamaan sehingga menghasilkan kegaduhan dengan kebisingan yang mereka buat sampai-sampai menarik perhatian orang-orang diluar gang, mereka hanya melihat dalam sekilas terkecuali Senju yang menyaksikan pertarungan itu dengan berkeringat.


Tak butuh waktu satu menit, Sero berhasil mengalahkan kedua lawannya yang berpostur tubuh lebih besar dari dirinya. Senju menaruh harapan padanya karena Sero yang kuat dan mungkin dapat ia andalkan. Semua bandit tadi tergeletak tak berdaya dan penuh memar, sedangkan wanita tadi tampak menangis tersedu-sedu lalu Sero menghampirinya untuk menenangkannya.


"Sekarang sudah aman, kamu tak apa-apa?" Ucap Sero disamping wanita itu.


"Aku tidak apa-apa, terima kasih banyak." Balas wanita tadi.


"Lebih baik kamu segera pergi, disini bahaya." Tegas Sero khawatir hal buruk terjadi kembali.


"Iya." Jawab wanita tadi sambil mengusap air matanya.


"Maaf aku mungkin tak bisa mengantar mu ke suatu tempat, aku sedang buru-buru jadi aku pergi dulu." Ucap Sero sambil berbalik meninggalkan tempat.


"Tunggu! boleh aku tahu siapa namamu?" Ucap wanita tadi menghentikan Sero.


"Namaku Sero, Sero Hotaru.... sampai jumpa." Ucap Sero meninggalkan tempat.


...****************...


Baru saja ia meninggalkan gang sempit nan gelap itu Sero langsung menemukan sebuah penginapan yang letaknya strategis, sepertinya kesialannya ini telah menjadi keberuntungan. Mereka masuk kedalam penginapan itu dan memesan satu kamar dengan dua ranjang. Segala biaya administrasi ditanggung oleh Sero yang sebetulnya telah kaya mendadak berkat pemberian Panglima Aumus.


Mereka berdua bersantai dikamar, melepas lelah dan penat setelah perjalanan jalan kaki. Sero meminta Senju untuk membeli sebuah senjata lalu memberinya dua koin emas.


"Senjata jenis apa?" Tanya Senju.


"Apa saja yang nyaman kau pakai." Jawab Sero sambil berbaring.


Senju agak kebingungan, namun ia segera mengerti lalu berangkat.


Disaat Senju pergi keluar, Sero kembali teringat dengan kejanggalan yang ia temukan ketika berada di ruang tahta saat menghadap raja. Pada saat itu ia merasakan beberapa hal yang cukup aneh dan mungkin seharusnya tidak terjadi. Sero melihat bercak darah yang menempel pada telapak sepatu besi yang dipakai raja. Memang tidak terlalu jelas tapi Sero sangat yakin bahwa itu adalah darah. Pada tongkat emas raja pun terdapat beberapa bekas sayatan yang terlihat sangat jelas, ditambah di ruang tahta ternyata hampir tak ada prajurit sama sekali yang menemani raja. Ini benar-benar sangat aneh bagaimana jika raja diserang.


Hal itu membuatnya penasaran dengan apa yang telah terjadi dan ragu dengan janji raja sebelumnya. Berselang waktu kemudian, Senju kembali membawa sebuah pedang pendek dan sebuah surat.


"Sero ada surat untukmu." Ucap Senju seraya memberikan surat tersebut.


Waktu itu adalah sore hari, Sero mendapat surat entah dari siapa yang dikiranya adalah surat dari desa. Surat biasa dengan segel yang terbuat dari lilin berwarna merah yang dicap ditengah untuk mencegah surat terbuka. Ketika ia akan melepas segel surat itu Senju tiba-tiba bertanya.


"Sero anda memiliki hubungan apa dengan bangsawan?" Tanya Senju.


"Bangsawan?" Sero bingung.


"Terdapat gambar singa meraung pada segel surat itu, itu pasti dari keluarga kerajaan." Jelas Senju.


Sero penasaran dengan isi surat itu, apakah mungkin ini surat dari Tuan Aumus. Sero pun membuka surat tersebut lalu membacanya, gaya tulisan dan gaya bahasa yang elok benar-benar terasa enak untuk dibaca bahkan didengar. Itu ternyata bukanlah surat dari Tuan Aumus atau bahkan Tuan Mazo, melainkan surat undangan untuk pesta perjamuan kunjungan pangeran Saphire dari kerajaan Glutonia dimalam hari.


Disitu tertulis bahwa Sero diperbolehkan untuk mengajak seorang lagi untuk ikut bersamanya. Ia tidak tahu siapa yang mengundangnya dan alasan mengapa ia diundang. Mungkin ini adalah kesempatan baginya untuk mengenal raja, dan menyelidiki kemana hilangnya Abara.


Apakah bangsawan yang mengundangnya ini mempunyai maksud buruk pada mereka?


Selanjutnya! "Jejak darah"


...********BERSAMBUNG********...