New Adventure

New Adventure
Memulai perjalanan



"Inilah perjalanan pertamaku didunia ini."


...****************...


Sero melangkahkan kakinya menuju keluar gerbang kerajaan Holes. Entah apa yang akan dihadapinya ketika ia sedang sendirian diluar sana. Sero mengandalkan pengetahuannya selama dulu mengikuti kegiatan pramuka untuk bertahan hidup di alam liar ketika masih berada didunianya.


"Sepertinya perjalanan yang akan aku tempuh ini mungkin cukup jauh. Akan menjadi sebuah kebanggaan bagiku jika aku bisa pergi kesana lalu kembali dengan selamat."


Setibanya digerbang, Sero dihentikan oleh prajurit disana untuk diperiksa semua barang bawaannya. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi tindak seperti pencurian.


Setelah selesai, Sero melanjutkan perjalanannya menuju utara dengan berjalan santai. Cuaca hari itu masih cukup pagi, sehingga udara terasa dingin dan segar.


Beberapa waktu telah berlalu, tak ada hambatan dan tak ada ancaman Sero terus berjalan hingga ia melihat dan menuju sebuah jalan menanjak yang ternyata merupakan sebuah tebing.


Sesampainya disana, Sero menyadari bahwa letak hutan Demicaus masih sangat jauh, karena terlihat tak ada hutan dengan pepohonan lebat dihadapannya.



"Ya ampun, apakah perbekalanku akan cukup sebelum sampai kesana."


Tanpa mengeluh Sero kembali melanjutkan perjalanan dengan menuruni tebing lalu berjalan ke arah utara. Tak apa walau lambat yang penting ia bisa sampai kesana.


Untuk persenjataan, Sero membawa sebuah pedang pemberian Aumus dan pisau yang pernah ia beli ditoko untuk bertahan hidup dan melindungi diri dari serangan monster yang bisa terjadi kapan saja. Sero sudah mendapat sedikit pelatihan menggunakan pedang oleh Tuan Aumus waktu menuju markas sekte penyembah iblis yaitu Red Satanist Reunion.


Tak lama setelah Sero menuruni tebing, Sero tak menyadari bahwa disampingnya terdapat satu monster yang sedang memakan seekor kelinci.


"ROARRr.."


Monster itu melihat kearah Sero.


"Sialan..."


Diketahui bahwa monster tersebut adalah monster dari ras Orc yang terkenal karena buas dan keganasannya. Orc memiliki postur tubuh layaknya manusia. Terkadang mereka juga terlihat seperti raksasa. Warna kulit para orc umumnya hijau atau abu-abu pucat dan mereka memiliki gigi taring besar dibagian bawah. 


Orc itu marah lalu melempar makanannya kepada Sero, Sero pun panik dan segera lari menjauh dari Orc itu.


Ternyata Orc tersebut mengejar Sero dan berusaha menyerangnya dengan menggunakan sebuah dahan kayu besar.


Sero terus berlari dengan perasaan panik dan takut karena maut mengejarnya, tak ada satu tempat pun yang bisa ia pakai untuk berlindung.


"Roaarrrr..."


BUUUKKkkk...


Sero menghindar dengan berguling kesamping, sehingga pukulan Orc meleset dan mengenai sebuah batu.


Orc itu bertubuh besar dan tinggi, Sero tak yakin bisa menang melawannya.


Tanpa henti Orc terus menyerang dan Sero hanya bisa menghindar. Situasi ini akan semakin buruk jika Sero tidak segera bertindak, hingga ia memikirkan sebuah rencana untuk menangani Orc itu.


"Ini bahaya, aku tidak bisa terus-terusan menghindar, jika aku kehabisan tenaga maka tamatlah sudah riwayatku." batin Sero.


BUAAKKkk....


Ketika pukulan Orc meleset, Sero melihat urat leher Orc itu meregang.


"Itu dia...!!" batin Sero.


Sero manarik pedangnya lalu berjalan mundur menjauhi Orc, kemudian bersiaga.


"Roarrr."


Orc berlari mendekati Sero, ketika dekat Orc tanpa ragu langsung mengayunkan benda yang dibawanya kearah Sero dari samping.


HOSSHH...


Serangan Orc itu benar-benar kuat, walau tak mengenai Sero tapi Sero dapat merasakan tiupan anginnya.


Serangan selanjutnya dari sisi kanan, dan itu juga berhasil dihindari Sero.


Hingga Orc itu menyerang dari arah atas mengincar kepala Sero, serentak Sero langsung melompat kekiri.


Buuuakkk...


Pukulan Orc kali ini lebih keras dari sebelumnya sampai membuat tanahnya terasa bergetar. Sebelum Orc mengangkat senjatanya dengan cepat Sero berlari mendekati Orc lalu menebas pembuluh darah dilehernya.


Slasshh...


CCRRRR...


Hasil dari tebasan Sero membuat pembuluh darah Orc terputus sehingga menyebabkan darah menyembur keluar dari lehernya dengan deras dan sangat banyak.


Sero terkejut walau darah terus keluar dari lehernya tetapi reaksi Orc seperti tidak merasakan apa-apa, seolah tak ada sesuatu yang terjadi, padahal luka yang ia terima bisa dibilang cukup fatal.


Orc itu berbalik lalu kembali berlari ke arah Sero.


"Aku rasa aku tak perlu menyerangnya lagi, lebih baik aku menjauh saja darinya dan menunggu sampai dia kehabisan darah." Batin Sero.


"ROOaarr..."


Sero berjalan mundur sembari menghindari setiap serangan dari Orc.


Terlihat darah mengalir keluar begitu banyak dari lehernya sehingga menimbulkan jejak darah dibelakangnya.


Tak lama kemudian Orc itu mulai merasa lemas, setiap serangannya menjadi melambat dan lemah.


Bruk...(Orc terjatuh)


Walau keadaannya sudah sangat lemah dan tidak memungkinkan lagi baginya untuk menang, Orc itu tetap berusaha mendekati Sero walau harus merangkak.


Sero merasa tak tega melihat kondisi Orc itu yang akan mati dengan perlahan. Sehingga Sero tak punya pilihan lain untuk segera mempercepat kematiannya. Hatinya masih merasa ragu untuk membunuh, namun hal ini harus dilakukan agar Orc itu tidak merasa tersiksa.


Sero mengangkat pedangnya dengan kedua tangannya lalu mengarahkan pedangnya pada bagian punggung Orc tepat pada daerah dimana jantung berada.


Sero memejamkan matanya…


CLEEBBB...


"ROOAARRrrr."


Sero menusuk punggung Orc dengan sangat kuat hingga menembus tubuh Orc.


Suara Orc mulai mengecil dan tubuhnya mulai tak bergerak. Sepertinya Orc itu sudah mati.


Sero mencabut pedangnya lalu untuk sesaat ia melihati mayat Orc. Setelahnya Sero berjalan menuju sebuah sungai didekatnya untuk membersihkan pedang dari darah Orc.


Setelah pedangnya bersih, ia memasukkan pedangnya kedalam sarung pedang lalu kembali berjalan ke utara dengan mengikuti arah sungai.


Tuan Mazo pernah berkata, kalau hutan Demicaus berbeda dari hutan yang lainnya, bedanya hutan Demicaus memiliki energi suci yang kuat dan bisa dirasakan oleh setiap yang orang memasukinya.


Beberapa jam kemudian, hari mulai semakin panas, sepertinya ini sudah siang. Sero mulai merasa lelah dan lapar. Ia pun memutuskan untuk beristirahat sejenak dibawah pohon sambil menyiapkan makanan.


Untuk persediaan makanan Sero membawa roti dan daging kering.


"Hahhh...baru kali aku jauh dari alat-alat canggih seperti ponsel dan TV. Tapi yang lebih penting, kalau bisa aku ingin segera kembali ke duniaku, tapi Viards kedua berkata kalau tugas atau masalahku nanti jauh lebih berat. Kenapa harus aku yang terpilih."


"Orang tuaku pasti khawatir padaku, saat ini mungkin orang tuaku sudah melaporkan kehilanganku pada polisi."


"Di dunia ini ada banyak hal-hal baru dan aneh. Seperti ada sihir dan ras makhluk yang bermacam-macam. Ditambah disini terdapat monster."


Setelah rasa lelah hilang dan perut sudah terisi, Sero kembali melanjutkan perjalanan.


"Oh ya, disini juga rupanya terdapat banyak tanaman yang sama seperti didunia ku."


Sambil berjalan Sero mengambil beberapa tanaman yang bisa dimakan seperti jamur yang tidak beracun, daun semanggi, ceplukan, dan tanaman lainnya.


Dijalan Sero bertemu dengan monster lagi dari ras Goblin. Sero berhadapan langsung dengan lima goblin. Tampak dari kelima goblin itu tak ada yang membawa senjata. Tubuh mereka kecil dan pendek namun pergerakan mereka cukup cepat dan agresif.


"HEEE."


Goblin mulai menyerang.


Sero sudah pernah melawan goblin, jadi ia tahu pola serangan mereka.


Salah satu goblin melompat kearah Sero.


SLasshh...


Sero langsung menebas leher goblin itu dan seketika goblin langsung mati.


Goblin memang dianggap sebagai salah satu monster yang lemah, namun tidak semua goblin itu lemah, beberapa diantara mereka ada yang memiliki akal dan memiliki fisik yang kuat. Ditambah lagi jumlah mereka begitu banyak.


Empat goblin lainnya menyerang secara bersamaan.


"Heeeehhh."


Buukkkk..


Sero menendang salah satu goblin hingga terlempar.


Cleebbb...


Satu goblin ditusuk Sero.


Bruukkk...


Salah satu goblin terjatuh karena kecerobohannya sendiri, dan langsung Sero tusuk.


Cleebbb....


"Heeee."


Slasshh....


Dua goblin lainnya termasuk yang ditendang tadi ditebas Sero dengan kuat sampai tangan mereka terpotong.


Pertarungan selesai tanpa ketegangan dan berlangsung singkat.


Sero kembali melanjutkan perjalanannya.


Diperjalanan Sero melewati sebuah sungai dan sebuah bukit. Karena perjalanan jauh tersebut hari pun sudah mulai gelap.


Sebelum gelap Sero sempat mengumpulkan kayu bakar untuk membuat api dimalam harinya.


Sero membuat api dengan metode yang tak asing yaitu hand drill.



Siapkan daun kering atau rumput kering atau sejenisnya.


Letakkan rumput kering dibawah kayu alas, tujuannya untuk menampung serbuk kayu yang terbakar.


Buatlah lubang pada kayu alas dengan luas yang sama dengan kayu poros, tujuannya agar kayu poros tidak berpindah tempat.


Buatlah jalan dari lubang hingga ke tepi kayu alas, hal ini dilakukan untuk membuat jalan agar serbuk kayu yang terbakar jatuh langsung pada daun kering yang telah disiapkan.


Mulailah memutar dengan usaha dan kesabaran untuk segera membuat munculnya serbuk kayu yang terbakar.


Setelah serbuk api muncul, segera tambahkan benda-bendar yang murah terbakar lainnya, tiuplah perlahan hingga apinya membesar.



Api tersebut Sero gunakan untuk menghangat suhu tubuhnya dan memasak beberapa tanaman yang sempat ia ambil sebelumnya seperti jamur dengan cara dibakar.


Hutan benar-benar gelap dan cukup menyeramkan.


"Andai aku ada dirumah, pasti saat ini aku sedang berbaring dikasur yang empuk dan hangat sambil bermain ponsel."


Setelah makan Sero, naik keatas pohon untuk tidur, Sero khawatir jika ia tidur dibawah maka akan ada monster yang tiba-tiba menyerangnya ketika ia tertidur.


Sebelumnya, Sero mengikat tubuhnya terlebih dahulu menggunakan kain yang sempat ia beli pada batang pohon yang tumbuh ke atas agar ia tidak terjatuh ketika tidur.


Tanpa memadamkan apinya, Sero bersandar pada batang pohon bersiap tidur.


"Perjalanan yang harus ditempuh masih jauh. Besok aku akan melanjutkan kembali perjalanan."


Apakah yang akan terjadi besok?


BERSAMBUNG.....