New Adventure

New Adventure
Roh pertapa



[Sebelumya]


Akhirnya setelah menemukan apa yang ia cari, Sero mulai berlari dan bergegas keluar dari dalam sana dikarenakan ruangan yang hampir runtuh. Setelah ia keluar, secara otomatis pintu pun ikut tertutup rapat sendirinya.


"Akhirnya kita selamat." Ucap Tohru merasa lega.


...****************...


Sphinx benar-benar berniat membunuh mereka secara perlahan. Namun ternyata ia gagal, Sero justru mendapat bantuan tak terduga dari sosok yang mengaku sebagai sekutunya. Sehingga ia mendapat kekuatan hebat yang sebenarnya merupakan kekuatannya sendiri yang berasal dari masa depan.


Berkat itulah mereka berhasil keluar dalam keadaan hidup, namun tubuh mereka dipenuhi oleh luka. Abara dan Ranta mendapat luka yang jauh lebih parah dibandingkan Sero dengan Tohru. Saat ini, mereka hanya berhasil keluar dari ruangan Sphinx berada, namun nyatanya mereka masih terjebak ditempat sebelumya yang dikelilingi oleh bangunan dari bebatuan.



"Bagaimana ini." Ucap Tohru yang merasa cemas dan khawatir dengan kondisi Abara dan Ranta yang masih tak sadarkan diri akibat luka parah yang mereka terima.


Tohru tak dapat menyembuhkan atau bahkan mengobati luka mereka karena kini energi sihirnya telah habis.


"Turunkan dia." Ucap Sero menyuruh Tohru untuk menurunkan Ranta yang masih tak sadarkan diri.


Tohru pun mematuhi perkataan Sero dan membaringkan Ranta diatas lantai. Begitu pula Sero, ia juga membaringkan Abara tepat disamping Ranta dengan posisi terlentang. Tohru sendiri tak mengetahui apa yang akan dilakukan Sero terhadap dua temannya itu, dan ia beranggapan bahwa hanya dirinya yang dapat menggunakan sihir penyembuh atau sihir pemulih. Tohru tampak agak pincang karena kelelahan dan tak mampu berdiri tegak. Ia hanya diam dan memperhatikan Sero yang akan melakukan sesuatu.


Sero duduk dengan posisi kedua kakinya dilipat kebelakang, lalu ia mengulurkan kedua tangannya ke arah Abara dan Ranta dengan masing-masing telapak tangannya menghadap pada tubuh mereka. Tohru keheranan dengan apa yang dilakukan Sero, Sero seolah mencoba menggunakan sihir penyembuhan pada mereka berdua, padahal Tohru mengira bahwa kelas Sero adalah seorang Warrior sama seperti Ranta atau Abara yang seharusnya jenis kelas tersebut tidak bisa memakai sihir.


Namun ternyata, perkiraannya salah. Tak disangka justru Sero mampu menggunakan sihir penyembuhan terhadap kedua temannya itu. Tampak semacam cahaya hijau agak keemasan muncul ditelapak tangannya lalu kemudian sebuah gelombang dengan warna yang sama bermunculan dari telapak tangannya itu. Gelombang tersebut melaju dari telapak tangannya menuju kepala masing-masing keduanya. Dalam beberapa detik, luka-luka disekujur tubuh mereka mulai pulih. Begitu juga dengan perut Ranta yang berlubang, secara perlahan lubang tersebut mulai tertutup dan darah yang mengalir keluar mulai terhenti.


Tohru yang menyaksikan tampak terdiam kaku dan terkagum-kagum, sebab kecepatan pemulihan dari sihir penyembuh Sero sungguh tak masuk akal. Hanya dengan seperkian detik saja, luka serius yang dialami Ranta dapat pulih total. Hal ini membuat diri Tohru bertanya-tanya, bagaimana seorang dari kelas warrior dapat melakukan sihir penyembuhan sehebat itu, apakah mungkin seseorang dapat memiliki atau memilih lebih dari satu kelas? apakah mungkin itu hanyalah skill atau kemampuan khusus yang dimilikinya? itulah pertanyaan yang terlintas dipikirannya.


Akhirnya hanya kurang dari dua menit, seluruh luka-luka ditubuh Abara dan Ranta telah sembuh sepenuhnya. Sero pun menghentikan sihirnya, lalu ia diam menunggu mereka berdua sadar. Disaat itu, Tohru yang merasa penasaran mencoba melontarkan pertanyaan yang mengganjal dipikirannya kepada Sero terkait sihir penyembuhan yang baru saja ia gunakan.


"Bagaiman...."


Pertanyaan itu terpotong oleh Ranta yang tiba-tiba bangun dalam keadaan panik serta keringat yang membasahi dahinya. Ia terlihat ketakutan sambil meraba-raba perutnya sendiri.


"Tenang, sekarang kau baik-baik saja." Ucap Sero seraya memegang salah satu pundaknya yang terasa tegang untuk menenangkan Ranta yang tampak gelisah dengan luka diperut yang sebelumnya telah ia terima.


Ranta terlihat masih syok akan hal itu, karena ia mendapat pukulan kuat dari Sphinx yang membuat perutnya sendiri berlubang serta organ yang ada didalamnya hancur. Hal utama yang membuat syok pastilah rasa sakit yang ia rasakan saat itu. Namun syukurnya, Ranta tampak mulai tenang.


"Tohru, perlihatkan lukamu." Ucap Sero menawarkan bantuan.


"Ah tidak perlu, aku baik-baik saja." Ucap Tohru menolak tawaran Sero.


"Baiklah, kalau begitu." Ucap Sero.


Kini semua orang telah pulih, namun entah mengapa hanya Abara seorang saja yang masih belum sadarkan diri. Sero tak mengkhawatirkannya, karena kondisi tubuhnya saat ini sudah baik-baik saja. Hanya perlu menunggu waktu sampai ia siuman.


"Semuanya, ayo kita cari jalan keluar." Ucap Sero.


"Baik, biar aku yang membawanya." Ucap Ranta seraya merangkul Abara.


Mereka semua kembali berdiri lalu berjalan lurus kearah tempat sebelumnya mereka terbangun. Dari posisi Sero dan rekan-rekannya berada, disana tak terlihat sama sekali sebuah pintu, gerbang, atau bahkan jalan keluar untuk mereka kembali. Walau begitu, mereka tetap harus mencari jalan keluar karena warga desa pasti sedang menunggu kepulangan mereka.


Tanpa disangka, suara misterius yang sebelumya, kembali terdengar.


"Sepertinya kau berhasil." Ucap suara misterius.


Sero terkejut dengan suara tersebut yang tiba-tiba terdengar kembali. Ia kebingungan dengan apa yang harus lakukan untuk merespon suara tersebut, mengetahui hanya dirinya yang dapat mendengar suara misterius tersebut.


"Aku berbicara melalui pikiranmu." Ucap suara misterius.


Suara misterius berbicara melalui pikiran Sero, hal ini mungkin berarti bahwa Sero dapat berbicara atau meminta bantuan lagi padanya melalui suara batin.


"Bisa kau beritahu, dimana jalan keluar dari tempat ini?" Batin Sero.


"Aku akan memunculkannya sebentar lagi." Ucap suara misterius.


Sero merasa cukup senang mendengar suara misterius itu dapat mengeluarkan mereka tak lama lagi.


"Jadi, ada keperluan apa sampai kau berbicara dengan ku lagi?" Batin Sero.


"Aku hanya ingin memberitahumu, bahwa mulai saat ini sampai selanjutnya aku akan selalu berada bersama mu." Ucap suara misterius.


"Itu adalah tugasku sebagai pendamping." Jawab suara misterius.


Tak lama kemudian, terjadi sebuah guncangan cukup kuat disana dan membuat mereka hilang keseimbangan dan sesekali mereka terjatuh.


"Ada apa ini!?" Ucap Ranta khawatir sembari memegang erat Abara agar tidak terlepas.


"Apa yang terjadi!?" Tanya batin Sero pada suara misterius.


"Gerbang keluar akan segera muncul, kita lanjutkan lagi perbincangan ini nanti." Ucap suara misterius.


Suara misterius itu mulai menghilang disertai guncangan yang semakin kuat. Bangunan disekitar mulai runtuh dan berjatuhan. Kemudian, sebuah gerbang besar yang memancarkan cahaya yang cerah muncul dari dari bawah tanah ke permukaan.


"Cepat!" Seru Sero menyuruh yang lainnya untuk bergegas.


Mereka berlari menuju gerbang tersebut, di-iringi dengan berjatuhannya puing-puing bangunan yang hampir menimpa mereka. Puing bangunan yang runtuh menimpa bangunan lain disampingnya sehingga terjadilah efek domino yang mana tiap bangunan yang runtuh menimpa dan menghancurkan bangunan yang lainnya. Hal tersebut membuat mereka harus bergerak cepat agar mereka tidak tertimpa dari reruntuhan bangunan itu.a


Disepanjang jalan yang mereka lalui, mereka diharuskan untuk melompat atau memanjat karena puing bangunan yang menghalangi jalan. Mereka juga diharuskan waspada dan bersiap menghindar jika ada puing-puing yang jatuh didekat mereka.


Setelah berjuang dari rintangan tersebut, akhirnya mereka berhasil sampai didepan gerbang yang memancarkan cahaya cerah itu. Tanpa berlama-lama, mereka langsung masuk kedalam.



Sesaat, penglihatan mereka mulai memutih. Lalu kemudian, mereka terlempar keluar dari dalam kuil yang sebelumya mereka masuki.


Semua orang tampak terbaring diatas tanah dan kehilangan kesadaran. Sesaat kemudian, mereka kembali sadar kecuali Abara dan langsung bangun dari atas tanah.


"Akhirnya kita berhasil keluar." Ucap Ranta merasa lega karena selamat.


Disamping itu, aura merah yang sebelumya dikeluarkan tubub Sero, perlahan mulai mengecil sampai akhirnya hilang. Tubuh Sero mulai terasa kaku dan sulit digerakkan. Ternyata, konsekuensi dari kemampuan yang diterimanya sebelumya mulai bekerja.


Timbullah rasa sakit di dadanya, lalu secara tiba-tiba rasa sakit tersebut melesat ke sekujur tubuhnya dan meningkat pesat menjadi sangat menyakitkan. Sero langsung terjatuh ke tanah dan ia mulai berteriak karena tak kuasa menahan rasa sakitnya.


Ranta dan Tohru yang mendengar teriakan Sero, menjadi panik dan langsung datang menghampirinya.


"Anda kenapa Tuan!?" Tanya Tohru yang gelisah melihat Sero kesakitan.


Sero tak mendengar apa yang dikatakannya. Ia sendiri telah tenggelam oleh rasa sakit yang dirasakannya. Tubuhnya terasa seperti sedang dicincang dan dicabik-cabik dari dalam. Rasa sakit dikepalanya terasa seperti matanya ditusuk-tusuk oleh pisau yang tumpul dan seperti ada timah cair yang sangat panas mengalir didalam kepalanya.


Sero merasa ingin meronta namun ia tidak bisa, tubuhnya masih terasa sangat kaku sehingga ia tak bisa banyak berbuat selain melampiaskan rasa sakinya melalui teriakan dari mulutnya. Rasa sakit itu begitu menyiksa, lalu tak lama kemudian Sero memuntahkan darah dari mulutnya. Ranta dan Tohru semakin panik namun tak bisa berbuat apa-apa.


Beberapa menit kemudian setelah berjuang bertahan dari rasa sakit yang menyiksa, tubuhnya semakin melemah dan kesadarannya perlahan memudar.


Terdengar kedua orang didekatnya berkali-kali memanggil namanya. Ia tak bisa berbuat apa-apa sampai akhirnya kesadarannya semakin lenyap dan ia pun berakhir pingsan.


...****************...


[Pada malam hari, disebuah kamar]


Sero perlahan mulai membuka matanya. Rasa sakit ditubuhnya kini telah mereda dan ia kembali bisa menggerakkan tubuhnya. Sero terbangun pada malam hari disebuah kamar. Tak yang menemaninya disana, mungkin karena ini sudah sangat larut.


Sero bangun, lalu ia tersadar seseorang telah melepas bajunya dan sekarang ia dalam keadaan setengah telanjang, dengan sebuah perban yang dibalutkan pada perutnya. Tak lama setelah itu, dari hadapannya tiba-tiba muncul sesuatu menyerupai sebuah bola api yang berkobar berwarna biru.


"Akhirnya kau bangun." Ucap bola api biru.


"Suara ini." Batin Sero.


"Ya, aku adalah suara yang sebelumya kau dengar." Jelas bola api biru.


Sero kebingungan dan terheran-heran oleh sesuatu yang ada dihadapannya, dia itu apa? dan dia itu mahkluk apa?


Melihat Sero yang keheranan dengan kemunculannya itu, ia pun memperkenalkan dirinya.


"Perkenalkan, Aku adalah spirit. The hermit of spirit, atau biasa dipanggil Roh pertapa." Ucap bola api biru.


Apa tujuan kedatangan Roh pertapa?


.......******BERSAMBUNG******......