New Adventure

New Adventure
Sphinx



Semak-semak itu begitu lebat dan tinggi. Meski Sero telah berjalan cukup dalam, ujung dari semak itu masih belum terlihat. Lalu beberapa saat kemudian, akhirnya Sero berhasil keluar dari semak-semak itu. Kemudian ia menemukan sebuah reruntuhan disana.


...****************...


Tampak reruntuhan tersebut seperti sebuah kuil dengan sebuah pedang batu besar yang menancap pada kuil itu. Terlihat kalau kuil tersebut telah berumur ratusan tahun, hal itu bisa dilihat dari lumut yang tumbuh pada beberapa bagian kuil. Terdapat empat buah tiang yang berdiri kokoh mengelilingi kuil tersebut, tampak dengan jelas bahwa pada salah satu tiang disana terdapat tulisan-tulisan yang tak dikenal.



Setelah melihat reruntuhan tersebut, Sero kembali memasuki semak-semak tadi untuk memanggil ketiga rekannya lalu menunjukkan apa yang telah ditemukannya.


Terlihat, mereka bertiga masih sibuk mencari tanaman obat yang Sero butuhkan. Sero pun langsung memanggil mereka bertiga untuk menemuinya.


"Tohru, Abara, Ranta! bisa kalian kemari sebentar!?" Ucap Sero memanggil ketiga rekannya.


Mendengar namanya dipanggil, dengan segera mereka datang dan menghampiri Sero. Sero melihat tanaman obat yang mereka bawa sudah cukup banyak, jadi ia pikir persediaan tanaman obat yang mereka miliki saat ini sudah cukup untuk mengobati warga desa yang sakit.


"Ada apa Tuan?" Tanya Tohru.


"Ikuti aku." Jawab Sero sambil memasuki semak-semak.


Melihat Sero memasuki semak-semak yang lebat, membuat mereka bertanya-tanya apa yang dilakukan Sero dan apa yang ada dibalik semak tersebut. Tanpa bertanya pada Sero, mereka mengikutinya dari belakang memasuki semak-semak tersebut. Beberapa saat setelah mereka memasuki semak-semak, Ranta mulai mengeluh.


"Kenapa semak-semak ini sangat dalam!?" Keluh Ranta.


Akhinya, setelah berada diluar semak-semak, Sero bertanya pada mereka bertiga mengenai reruntuhan yang ia tunjukkan.


"Apa kalian tahu reruntuhan ini?" Tanya Sero.


"Entahlah, ini pertama kalinya kami melihat reruntuhan ini." Jawab Tohru.


Bahkan penduduk desa yang telah tinggal cukup lama didaerah sana pun tak mengetahui tentang reruntuhan tersebut. Hal itu membuat Sero penasaran dengan apa yang ada dibaliknya, ditambah sebelumya Sero mendapat bisikan yang membuatnya bisa menemukan reruntuhan tersebut. Jadi kemungkinan besar, terdapat sesuatu didalamnya.


"Bagaimana kalau kita periksa?" Tanya Sero.


"Ayo." Jawab Ranta.


Tampak yang lainnya selain Ranta merasa tidak keberatan untuk memeriksanya, mereka pun langsung berjalan mendekati reruntuhan dihadapannya.


Saat yang lainnya berjalan mendekati reruntuhan utama yang terlihat seperti kuil, Tohru justru mendekati salah satu tiang dan mengamati tulisan yang tertera pada tiang batu tersebut.


"Menurutmu tulisan apa itu Tohru?" Tanya Sero.


"Ini adalah tulisan dari bahasa kuno yaitu bahasa Arum. Bahasa Arum sudah ada sejak tiga ribu tahun yang lalu. Untungnya aku sudah mempelajarinya" Jelas Tohru.


"Jadi apa artinya?" Tanya Sero.


"Artinya, Salah satu dari yang terkutuk oleh dewa dikarenakan kesombongannya. Dendam dan kebenciannya pada dewa telah terpendam dan siap untuk dilampiaskan. Dia adalah salah satu dari kesepuluh Ayasha" Jawab Tohru.


"Lalu apa arti dari semua kalimat itu?" Tanya Sero.


"Sayangnya aku tidak tahu." Jawab Tohru.


Sero sangat penasaran dengan arti dari setiap kalimat yang diucapkan Tohru, karena menurutnya kalimat tersebut mengandung informasi yang cukup penting. Tapi Sero merasa lebih penasaran dengan kata "Dia" pada kalimat tersebut, siapa "dia" yang dimaksud itu. Tanpa berlama-lama mereka kembali berjalan mendekati reruntuhan utama karena Abara dan Ranta terlihat sedang menunggu mereka berdua.


Jika dilihat dari luar, reruntuhan utama yang terlihat seperti kuil itu tampak begitu kecil dan terdapat sebuah pintu masuk disampingnya. Meskipun sedang siang dan cuaca begitu cerah, entah mengapa ruangan yang ada didalam kuil tersebut tampak begitu gelap. Walau begitu, karena rasa penasaran mereka berencana untuk memasukinya.


Sero yang berada paling depan, memasuki kuil tersebut lebih dulu tanpa rasa curiga, lalu diikuti dengan ketiga rekannya dari belakang yang masuk satu persatu. Setelah berada didalam kuil, mereka semua terheran heran sebab ruangan itu benar-benar gelap, sedangkan diluar sana cuaca terlihat begitu terang dan entah mengapa tak ada sedikit cahaya pun yang masuk. Cahaya dari luar seakan-akan terhalangi oleh sebuah tembok tebal sehingga cahaya sekecil apapun tak bisa melewatinya.


Dikarenakan didalam kuil tidak ada apa-apa mereka memutuskan untuk pergi dari sana dan kembali ke desa. Namun saat mereka hendak melangkah keluar dari kuil, secara misterius pintu keluar tiba-tiba menghilang dalam sekejap mata dihadapan mereka.



"Apa!?" Ucap Abara terkejut.


Mereka semua terkejut dan mulai panik karena kegelapan gulita yang mereka rasakan mulai membuat mereka merasa sesak.


"Tenang!" Ucap Tohru berusaha menenangkan yang lainnya.


Tak lama setelah itu salah satu dari mereka mulai terjatuh lalu pingsan.


*Bruukk


"Suara apa itu!?" Ucap Sero.


Secara spontan Sero langsung berusaha mencari asal suara tersebut. Setelah beberapa langkah kedepan, kakinya tak sengaja menginjak sesuatu. Karena tak bisa melihat, ia mencoba meraba apa yang diinjaknya. Setelah ia sentuh, ia merasakan bahwa yang sentunya ternyata adalah tangan seseorang. Sero tak mengetahui siapa orang yang tergeletak itu namun ia tetap berusaha membangunkannya.


*Bruukk


Lalu terdengar kembali suara seseorang terjatuh. Karena khawatir Sero mencoba memanggil ketiga rekannya.


"Abara! Tohru! Ranta! kalian baik-baik saja!?" Tanya Sero dengan khawatir.


Namun tak ada satu pun respon dari mereka bertiga. Tak lama kemudian tubuh Sero seakan kehilangan keseimbangan dan secara perlahan ia mulai terjatuh lalu pingsan tak sadarkan diri.


...****************...


Beberapa jam kemudian. Seakan memasuki dimensi lain, mereka semua tiba-tiba berada disuatu tempat misterius. Tak ada satu pun makhluk hidup disana, suasana begitu sepi dan senyap.



Setelah pingsan entah dikarenakan apa, Sero mulai sadar dan mencoba untuk bangun. Sero memegang kepalanya dikarenakan pusing yang dirasakannya setelah pingsan. Sero mulai membuka kedua matanya, ia tampak tak terkejut walau mengetahui dirinya telah berada ditempat yang misterius. Ketiga rekannya dibelakang terlihat masih tak sadarkan diri, dengan segera Sero membangunkan mereka satu persatu.


"Hei, bangun!" Ucap Sero membangunkan Abara.


Dengan perlahan Abara membukakan matanya dan mulai tersadar. Sama seperti Sero ia tak terkejut sama sekali dan justru terlihat masih tenang.


"Cepat bangunkan yang lainnya." Ucap Sero.


Tanpa berkata apapun, Abara langsung melaksanakan apa yang diperintahkan Sero. Setelah semua orang bangun dan tersadar, mereka semua langsung berdiri lalu berdiskusi.


"Jadi dimana kita sekarang?" Tanya Abara.


"Entahlah." Jawab Tohru.


Tampak tak satupun dari mereka yang tahu dimana kah mereka saat ini. Mereka semua kebingungan dan merasa cemas serta tak tahu apa yang harus mereka lakukan. Disaat itu, tiba-tiba muncul kembali sebuah suara bisikan ditelinga Sero.


"Jalan kedepan."


Tanpa merasa curiga, Sero melaksanakan apa yang diberitahukan suara tersebut. Sero yakin pasti suara bisikan tersebut akan menuntunnya kepada sesuatu. Sero pun meminta ketiga rekannya untuk ikut berjalan kedepan.


"Ayo kita jalan." Ucap Sero.


"Kemana?" Tanya Ranta.


"Tentu saja kedepan sana." Jawab Sero.


Tak jauh dari tempat awal mereka bangun, mereka menemukan sebuah buku yang berdiri diatas sebuah penyangga. Buku itu telah terbuka dan menunjukkan suatu halaman yang seolah menyuruh mereka untuk membacanya. Lantas mereka semua menghampiri buku tersebut dengan tujuan membaca tulisan yang tertera pada buku tersebut. Namun ternyata buku tersebut menggunakan bahasa kuno Arum, sehingga mereka semua selain Tohru tak bisa membacanya.


"Apa artinya?" Tanya Sero


"Dia adalah sosok wanita yang dibenci dan ditakuti. Atas perbuatannya dahulu, ia dikutuk dengan sangat buruk oleh dewa dengan tubuh menyerupai singa betina, sayap dipunggungnya, dan kepalanya yang masih utuh berwujud manusia menandakan bentuk penghinaan dewa kepada dirinya. kebencian dan dendam besar yang dipendamnya membuat keberadaannya menjadi ancaman bagi setiap kehidupan. Ketahuilah bahwa sifat manusianya telah tiada dan kini dia adalah pembantai yang sangat berbahaya juga mengerikan. Dia dikenal dengan nama Sphinx, dan dia akan keluar tak lama lagi." Jawab Tohru membacakan arti tulisan tersebut.


"Apa maksudnya itu!?" Tegas Ranta.


Setelah mendengar Tohru yang membacakan arti dari tulisan yang tertera pada buku tersebut, membuat mereka semua ketakutan dan sangat cemas akan sosok yang digambarkan pada buku tersebut.


Berbagai pertanyaan bermunculan dikepala Sero, semua pertanyaan yang muncul dikepalanya bukanlah pertanyaan mengenai apa yang tertera pada buku tersebut, namun pertanyaan yang merujuk pada suara bisikan yang telah membawanya kesana. Lalu tiba-tiba kembali terdengar suara bisikan seperti sebelumya.


"Teruskan langkahmu."


Sero mulai merasa ragu pada arahan dari suara bisikan yang tersebut. Namun, tak ada pilihan lain selain mengikutinya, karena ia tak tahu jalan untuk kembali.


"Ayo." Ucap Sero pada ketiga rekannya.


Mereka pun melanjutkan langkahnya dan mengikuti Sero dari belakang. Mereka tampak tidak tenang dan waspada dengan apa yang akan terjadi.


Beberapa menit kemudian setelah berjalan lurus kedepan, mereka sampai didepan sebuah pintu besar yang terbuat dari batu dengan sebuah kristal merah yang menempel diantara kedua pintu itu. Dengan sekuat tenaga mereka mencoba membuka pintu tersebut, dengan harapan menemukan jalan keluar. Ketika pintu batu itu sudah terbuka lebar, mereka segera masuk kedalamnya dan yang mereka temukan adalah perlengkapan bertarung yang berserakan dan sebuah tangga menurun.


Untuk sesaat mereka diam didalam sana untuk melihat-lihat semua benda yang bergeletakan disana. Senjata, perisai, anak panah, dan baju zirah besi bertebaran dimana-mana. Lalu pintu keluar dengan sendirinya langsung tertutup dengan kencang sampai rapat, dan menyebabkan guncangan yang cukup kuat pada lantai yang mereka pijaki. Ranta langsung berlari menuju pintu keluar tersebut dan berusaha membukanya kembali namun usahanya ternyata gagal.


"Hey sialan cepat buka!" Teriak Ranta dengan ketakutan sambil memukul-mukul pintu keluar.


Dengan rasa putus asa, Ranta kembali pada teman-tamannya dan siap menghadapi resiko yang akan terjadi. Tanpa berlama-lama mereka langsung berjalan menuju tangga menurun yang ada didepan mereka untuk melihat sesuatu yang ada dibawah sana.


Alangkah terkejutnya mereka, ternyata yang mereka lihat adalah sosok yang telah digambarkan pada buku sekaligus sosok yang mereka takuti yaitu Sphinx.



..........BERSAMBUNG..........