
Tiga puluh menit telah berlalu. Sebelum itu Sero mendirikan sebuah perapian ditepi sungai sana untuk menghangatkan orang yang ia temukan itu. Agar ia tidak terkena demam karena kedinginan, Sero melepas seluruh pakaiannya lalu menutupi tubuhnya dengan sebuah kain.
Tak ada pilihan lain bagi dirinya selain menunggu sampai orang itu siuman. Ketika sedang melepas pakaiannya, Sero menemukan dua bilah pisau yang yang terselip di antara pakaiannya. Jika dilihat pisau itu bukanlah pisau biasa dan bisa ditebak bahwa pisau tersebut digunakan untuk bertarung.
Apakah ia akan menjadi kawan atau justru lawan. Seharusnya orang tersebut tak memiliki alasan untuk menyerang Sero yang telah menyelamatkannya, namun hal itu akan terjawab ketika dirinya mulai sadar.
Sero menunggunya dengan duduk didekat perapian yang ia buat. Ketika tengah menjaga api agar tidak padam, orang itu tampak mulai menggerakkan bagian tubuhnya menandakan ia akan segera sadar. Ia pun bangkit dari ketidaksadarannya lalu perlahan duduk menyilang.
"Bagaimana keadaan mu?" Tanya Sero.
"Apa yang terjadi?" Ucap orang tak dikenal yang tampak kebingungan.
"Aku melihatmu hanyut disungai, jadi aku menyelamatkanmu." Ucap Sero.
Seusai mendengar ucapan Sero----orang itu tampak merenung menundukkan kepalanya dengan raut wajah yang kecewa seolah sedang mengingat sesuatu. Ia terdiam untuk sesaat dengan tangannya yang mengepal dengan kuat, kemudian ia menghembuskan nafas dengan berat lalu berkata.
"Terima kasih banyak." Ucap orang itu.
"Jadi, kamu ini siapa, apa yang terjadi padamu?" Tanya Sero.
Melihat dari pakaiannya saja jelas ia bukan orang biasa. Mulai dari wajahnya hingga kakinya dipenuhi luka-luka, mungkin saja orang ini sedang dalam bahaya.
"Namaku adalah Senju, aku bisa berakhir seperti ini----karena sebelumnya aku terlibat pertarungan dengan empat orang yang mengejarku. Aku tidak tahu apa tujuan mereka, namun ketika aku sedang berlari melewati sebuah air terjun, tiba-tiba sebuah ledakan muncul dihadapan ku dan aku terjatuh dari sana." Jelas Senju.
"Kalau begitu mungkin saja orang yang mengejarmu saat ini sedang mencari mu. Apa yang akan kau lakukan sekarang?" Tanya Sero.
"Aku tidak tahu." Jawab Senju dengan agak kesal dan kecewa.
Suasana seketika menjadi hening. Suara percikan api dan suara gemuruh angin yang hanya terdengar. Tak ada yang bisa Sero sampaikan, ia hanya menunggu respon lain dari Senju atau menunggu sampai pakaian Senju kering.
"Izinkan aku ikut dengan mu!" Ucap Senju tiba-tiba.
Sero tak bisa langsung menjawab pertanyaannya itu. Jika ia mengizinkannya ikut, maka Sero akan sama-sama ikut dalam bahaya. Tetapi ia juga tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Senju hanya bisa diam dan menunggu jawaban Sero dengan penuh harapan.
"Apa jawabanmu?" Tanya Roh pertapa.
"Aku rasa aku akan membawanya." Jawab Sero.
"Bahaya yang mengejarnya pasti akan sama-sama mengejarmu." Ucap Roh pertapa.
"Meski begitu tak apa, aku tak bisa meninggalkannya begitu saja. Jika bahaya itu datang, aku pasti akan melawannya." Jelas Sero.
"Semua keputusan ada padamu." Ucap Roh pertapa lalu menghilang.
Sero sama sekali tidak mengenali orang dihadapannya yang mengaku bernama Senju. Bisa jadi ini adalah jebakan yang akan membuat keadaan semakin buruk. Namun jika ternyata bukan, ia akan merasa bersalah. Tidak pilihan lain selain membawanya untuk ikut, jika ini ternyata adalah jebakan maka ia pasti bisa melakukan sesuatu. Setidaknya ia bisa berbuat baik.
"Baiklah, tapi sebelum itu, apa kamu memiliki keluarga? aku mungkin bisa mengantarmu kesana dan mereka mungkin bisa melakukan sesuatu untukmu." Ucap Sero.
Mendengar perkataan Sero, Senju seketika kembali murung. Tangannya kembali mengepal dan dari raut wajahnya ia seolah berusaha menahan dan menutupi emosinya. Kedua tangannya menyilang, menarik erat kain yang menutupi punggungnya.
"Mereka…"
Senju tampak begitu begitu merasa berat untuk menceritakan keluarganya.
"Tak apa, kalau kamu merasa keberatan menceritakannya." Ucap Sero memotong perkataan Senju.
"Kamu pasti lapar, ini makanlah." Ucap Sero sambil memberikan sebuah piring kayu berisikan roti tawar dan ikan yang ia tangkap sebelumnya disungai.
"Terima kasih." Ucap Senju seraya menerima makanan yang Sero berikan.
Perut telah terisi, pakaian telah kering, Sero meneruskan perjalanannya menuju kerajaan Valhedi. Kuda yang dibawa Sero digunakan untuk mengangkut barang-barang yang mereka bawa. Ia tak menaiki kuda itu sebab ia merasa tak adil apabila hanya Senju seorang saja yang berjalan kaki, hingga ia memilih untuk menuntun kudanya dan ikut berjalan kaki. Mereka berjalan lurus melalui jalan setapak dipinggir sungai yang mengalir tenang. Dilihat dari langit yang semakin terang, menandakan hari sudah mulai siang.
"Maaf sebelumnya, boleh aku tahu siapa namamu?" Ucap Senju dari belakang.
"Ahh, maaf aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Sero, salam kenal." Ucap Sero seraya menoleh kebelakang.
"Aku lupa berterima kasih padamu sebelumnya, jadi terima kasih telah mengizinkan ku untuk ikut bersama mu Tuan Sero." Ucap Senju.
"Tidak usah memanggilku Tuan!,panggil saja Sero." Ucap Sero.
"Maaf kalau begitu, itu sudah menjadi kebiasaan ku apabila aku memanggil nama seseorang yang lebih tua dari ku." Ucap Senju.
Hampir sepanjang perjalanan mereka terus mengobrol terutama Sero yang sangat sering bertanya. Dalam obrolan mereka, mereka banyak membahas hal-hal seperti monster ataupun tentang sebuah senjata dan sihir. Dari obrolan yang mereka lakukan ini sangatlah menguntungkan bagi Sero, Sero dapat menambah pengetahuan dasar tentang dunia ini.
Setelah berselang beberapa waktu, akhirnya mereka sampai di ujung hutan dan dari sana tampaklah sebuah kerajaan yang disebut Valhedi.
Sebuah kerajaan yang tampak sangat besar dan begitu luas. Langit yang tak berawan membuat pemandangan menuju kerajaan Valhedi tampak begitu jelas. Dinding benteng batu bata yang menjulang sangat tinggi, besar dan sangat kokoh benar-benar membuatnya takjub. Sangking besarnya benteng itu, Sero mengira itu adalah benteng pertahanan yang sangat mutlak dan sangat mustahil untuk bisa ditembus oleh siapapun. Sepertinya Sero lupa bahwa didunia ini terdapat kekuatan sihir yang masih belum ia kenali.
Dari sana tampak pula sebuah jalan setapak utama untuk menuju gerbang kerajaan Valhedi. Mereka berjalan menuju jalan utama itu agar mudah untuk memasuki gerbang. Sepatunya basah karena melewati sungai dangkal yang berada disebelahnya, tentu saja karena cuaca semakin panas, sepatu mereka pasti akan cepat mengering.
Ada beberapa orang yang lalu lalang dijalan itu. Beberapa diantara mereka tampak membawa banyak sekali muatan didalam sebuah kereta yang ditarik oleh dua kuda dan aja juga beberapa pejalan kaki yang hanya membawa persenjataan. Mungkin saja mereka adalah pedagang dan para petualang yang tengah dalam tugas.
Mereka sampai didepan gerbang baja yang sangat besar juga tinggi. Disana mereka diberhentikan oleh seorang petugas berpakaian zirah besi lengkap.
"Dari mana asalmu dan tolong tunjukan persyaratannya." Ucap petugas.
Sero langsung kebingungan dengan persyaratan yang dimaksud oleh petugas itu. Ia tak mengetahui apapun tentang persyaratannya. Namun saat itu ia teringat sesuatu ketika sebelum ia meninggalkan desa. Kakek Oris sebelumnya memberikan sebuah benda yang terbuat dari kayu kecil dan panjang dengan plat besi yang tertempel ditengahnya bertuliskan "Pedagang keliling". Tanpa pikir panjang Sero langsung menyerahkan benda tersebut.
"Kami dari desa yang ada dibarat." Ucap Sero seraya memberikan benda kayu kecil itu.
Petugas menerima benda yang diberikan Sero dan memeriksanya. Lalu setelah itu, benda yang sebelumnya Sero serahkan kini dikembalikan lagi padanya.
"Baiklah silahkan masuk." Ucap petugas seraya menyerahkan kembali benda itu pada Sero lalu kembali ke tempat semula ia berada.
Sero sempat panik kalau ternyata ia tak punya persyaratan memasuki kerajaan maka ia akan pulang kembali ke desa dengan rasa bodoh. Benda yang diberikan kakek Oris ternyata adalah salah satu persyaratannya, dan ia selamat berkat benda itu. Mereka berdua pun berjalan memasuki kerajaan tersebut. Suasana begitu ramai dan damai hampir seperti di Kerajaan Holes. Penduduk disana pun memiliki beragam ras seperti di kerajaan Holes.
"Senju, mengapa tudungmu kau pakai? apa kau tidak kepanasan?" Tanya Sero seraya menoleh kebelakang karena penasaran dihari siang bolong nan panas justru Senju tampak memakai tudung yang menutupi sekitar wajahnya.
"Karena aku telah terbiasa tinggal didalam hutan yang sepi, jadi aku sangat gugup dan malu jik'a bertemu dengan orang banyak." Ucap Senju dengan agak tertawa.
"ohh begitu ya, santai saja lagi pula pasti tidak akan yang mempedulikan kita." Ucap Sero.
Jalan menuju kastil kerajaan terasa cukup jauh, namun begitu mereka masih tetap berjalan kesana. Disepanjang jalan yang mereka lewati, terdengar banyak gelak tawa yang ceria dari anak-anak yang berlarian kesana kemari. Banyak para orang dewasa disekeliling mereka yang bekerja dengan penuh semangat bersama rekan sebayanya. Hampir setiap cabang-cabang dipasar dikerumuni oleh banyak orang terutama wanita. Tak ada seorangpun yang menderita atau seorang budak pun disana yang rantai atau dipaksa bekerja, benar-benar pemandangan yang cukup menyenyukkan hati.
Sampailah mereka dipintu kerajaan. Sebelum berada disana, Sero mengikatkan kudanya pada sebuah tiang dibawah tangga menuju kastil dan menyimpan semua barang termasuk senjatanya. Sero meminta Senju untuk diam dan menunggu disana, namun Senju bersi keras sangat ingin ikut memasuki kastil kerajaan dan melihat sang raja.
Sero ditanya oleh prajurit yang berjaga mengenai apa keperluannya memasuki kastil. Setelah menjelaskan semuanya pada petugas itu, Sero akhirnya diizinkan untuk masuk dengan syarat ditemani oleh dua prajurit kerajaan. Dari sana ia dituntun oleh salah satu dari dua prajurit yang bersamanya menuju ruang tahta. Sampai diizinkan bertemu langsung dengan sang raja, sang raja pastilah memiliki kepribadian yang sangat baik dan peduli pada rakyatnya. Akhirnya mereka pun sampai diruang tahta dan sebuah singgasana yang sangat terhormat berdiri disana.
...********BERSAMBUNG********...
🔵Baca juga Novel kedua saya👇
📘Lavender
*Maaf Up-nya gk konsisten dan lama🙏