New Adventure

New Adventure
Tekad dan keyakinan



[Sebelumya]


"Perkenalkan, Aku adalah spirit. The hermit of spirit, atau biasa dipanggil Roh pertapa." Ucap bola api biru.


...****************...


Aneh dan tak masuk akal. Sejak awal kedatangannya ke dunia ini memanglah banyak hal yang bertentangan dengan logika manusia. Termasuk makhluk yang sedang berada dihadapan mukanya dan kini tengah berbicara padanya.


Makhluk itu mengatakan bahwa dirinya merupakan Roh dan panggilannya adalah Roh pertapa. Sebelumya sosok itu sempat berkata bahwa ia akan bersamanya sebagai pendamping. Apa maksudnya itu, dan mengapa Roh sepertinya harus ikut bersamanya dan menjadi pendampingnya.


Banyak hal yang ingin ia tanyakan untuk menggali informasi lebih jauh lagi demi menjawab rasa penasarannya. Dan sepertinya, inilah saat yang tepat.


"Sepertinya kau memiliki beberapa pertanyaan, tanyakanlah." Ucap Roh pertapa.


Mungkin sosok ini memiliki banyak pengetahuan yang bisa dibagikan padanya, pikirnya. Satu persatu pertanyaan pun ia lontarkan.


"Sebelumya kau bilang kalau kau akan selalu bersamaku sebagai pendamping, apa maksudnya itu dan untuk apa? jelaskan." Tanya Sero.


Baginya sendiri itu terlalu aneh jika sosok makhluk sepertinya tiba-tiba datang dan memberitahukan padanya bahwa ia menjadi pendampingnya.


"Sepertinya aku belum menjelaskannya. Aku adalah salah satu makhluk ciptaan Viards pertama dan tugas utama sekaligus kewajiban ku ialah menjadi pendamping mu." Jelas Roh pertapa.


Penjelasannya cukup tak masuk akal. Bagaimana mungkin seorang manusia dapat menciptakan makhluk hidup lainnya. Meski begitu, pernyataan tersebut mungkin sebuah kebenaran, mengingat ini bukanlah dunia asalnya.


"Salah satu? berarti selain dirimu masih ada yang lainnya?" Tanya Sero.


"Ya, selain diriku terdapat tiga makhluk lain yang kini entah berada dimana. Kami diciptakan beliau pada waktu dan dengan tugas yang berbeda-beda. Semenjak kepergian beliau, kami memutuskan untuk berpisah seraya menjalankan tugas yang telah diberikan." Jelas Roh pertapa.


Secerca harapan mulai timbul ketika pembicaraan ini mulai bersangkut paut dengan Viards pertama. Seharusnya, Roh pertapa sendiri mengenali sosok Viards pertama atau setidaknya mengetahui beberapa informasi mengenai dirinya, mengetahui ia adalah salah satu ciptaannya. Pertanyaan selanjutnya kembali ia lontarkan.


"Beritahu aku informasi mengenai Viards pertama." Tanya Sero dengan ekspresi wajah serius.


"Sayangnya sudah sejak lama ingatanku mengenai beliau menghilang." Jawab Roh pertapa.


Secerca harapan itu langsung meredup. Sero merasa kecewa dengan jawaban yang telah diberikan Roh pertapa. Bagaimana bisa informasi mengenai seorang legenda didunia itu bisa sulit didapatkan.


"Kenapa bisa seperti itu?" Tanya Sero.


"Entahlah, sisa ingatan yang masih ada padaku hanyalah saat-saat ketika aku diciptakan dan saat-saat ketika beliau akan pergi. Sedangkan ingatan masa-masa yang ku lalui bersama beliau, hilang sepenuhnya." Ucap Roh pertapa.


"Apakah mungkin jika Viards pertama sendiri yang menghapus ingatannya? tapi mengapa." Batin Sero.


Mengingat kembali seorang rekan Viards kedua dahulu bernama Sidura yang telah berkeliling dunia untuk mencari sejarah Viards pertama namun mendapat hasil yang nihil, ditambah dengan Roh pertapa yang merupakan makhluk ciptaan Viards pertama sendiri justru tidak mengetahui apa-apa mengenai penciptanya, membuat sosok Viards pertama kini menjadi tanda tanya besar.


Tak ada petunjuk apapun saat ini yang dapat ia raih. Tantangan terasa begitu sulit tanpa dibekali pengetahuan. Ia kembali melontarkan pertanyaan yang berbeda.


"Begitu ya, lalu apa sebenarnya tujuan dari pemanggilan Viards?" Tanya Sero.


"Mengapa kau bertanya padaku, bukankah seharusnya kau sudah menanyakan hal itu pada pemanggilmu?" Tanya Roh pertapa.


"Ketika berada di dunia ini, aku langsung berada di sebuah hutan tanpa ada seorang pun yang berada bersamaku. Itulah sebabnya aku tak tahu apa-apa." Jelas Sero.


"Tentu saja karena rencana yang aku buat sendiri, sehingga aku bisa mendapat bantuan. Dan seterusnya aku rasa kau bisa menebaknya." Jawab Sero.


"Bagaimana dengan bahasa lokal yang bisa kau gunakan?" Tanya Roh pertapa.


"Seseorang bernama Mazo telah membantuku dengan membagi ilmunya padaku." Jawab Sero.


"Mazo ya." Ucap Roh pertapa dengan nada agak panjang.


"Kau mengenalnya?" Tanya Sero.


"Dia adalah salah satu rekan Viards kedua. Tapi hanya aku yang mengenalinya sedangkan dia sendiri tidak." Ucap Roh pertapa.


"Mengapa begitu?" Tanya Sero.


"Sebab, aku tidak pernah menunjukkan wujudku pada orang lain selain Viards." Jelas Roh pertapa.


Mendengar hal itu, Sero merasa seolah Roh pertapa akan menjadi pendamping atau mungkin asisten pribadinya nanti. Hanya ia sendiri yang dapat berbicara dengannya dan hanya ia sendiri yang dapat melihatnya. Keberadaan Roh pertapa disampingnya pasti akan sangat membantu dalam masalah yang mungkin akan ia hadapi nanti.


"Jawaban dari pertanyaanmu tadi, tujuan dari pemanggilan Viards ialah untuk membantu penghuni Aldeo menghadapi bencana dan malapetaka dunia. Sekarang ini kau harus berlatih hingga menjadi kuat agar dapat mengatasi dan memenuhi tugasmu." Jelas Roh pertapa.


Mendengar pernyataan yang lebih jelas dari Roh pertapa, secara tidak langsung, beban yang dipikulkan padanya itu seperti sebuah paksaan yang harus ia selesaikan kelak. Ia ragu apakah ia mampu menyelesaikannya atau tidak. Baginya beban itu terlalu berat mengingat statusnya hanyalah seorang pelajar yang baru lulus. Menyadari bahaya yang menantinya suatu saat, ia pun melontarkan sebuah pertanyaan tak terduga.


"Menurutmu, apakah aku masih bisa kembali ke dunia asalku?" Tanya Sero dengan suara dan nada yang penuh harapan.


Roh pertapa tampak terdiam membisu setelah tiba-tiba mendengar pertanyaan itu. Sero pun tampak menatap Roh pertapa dan menunggu jawaban darinya. Sesaat kemudian ia pun menjawab…


"Aku tidak tahu." Ucap Roh pertapa.


"Begitu ya." Ucap Sero perlahan menurunkan kepalanya dengan ekspresi agak sedih.


Ia tak pernah mengharapkan dan tak pernah menginginkan semua kejadian yang membuat hidupnya dipertaruhkan seperti saat ini dan sebelumya. Ia hanya menginginkan hidup normal tanpa tantangan besar, dimana kebahagian dan kesenangan dapat dengan mudah didapatkan. Untuk apa dirinya sampai harus mengurus dan mempedulikan dunia yang bukan tempat tinggalnya.


Seharusnya semua masalah itu diurus dan diatasi oleh mereka sendiri tanpa melibatkan orang lain seperti dirinya yang berasal dari dunia yang berbeda.


Sero telah meyakini bahwa ia akan berada di dunia itu dalam jangka waktu yang sangat lama dan bahkan ia yakin jika ia tidak bisa kembali. Sero mengkhawatirkan keluarganya yang kini ia tinggalkan, saat ini pasti keluarganya terutama ibunya sedang khawatir atau bahkan panik karena dirinya yang tiba-tiba menghilang.


Tak ada pilihan lain lagi selain menjalankan tugas yang telah diberikan padanya. Setelah berpikir dan merenungkan semua itu, ia pun mengambil keputusan. Tekadnya perlahan terbangun dan rasa sedih serta ke khawatirannya mulai hilang. Mentalnya kini telah siap, dan perlahan ia mengangkat wajahnya dengan ekspresi serius lalu ia berkata…


"Akan kulakukan." Ucap Sero dengan nada cukup tegas.


Tatapannya begitu serius dengan raut wajahnya yang mencerminkan tekad dan keyakinan akan perjuangan yang akan ia hadapi. Tanpa bertanya dan tanpa diberitahu, ia telah mengetahui apa yang harus dilakukannya.


"Bagus." Balas Roh pertapa dengan nada yang juga agak tegas.


Dikarenakan waktu masih tengah malam, Roh pertapa menyuruhnya untuk beristirahat agar dikemudian hari tubuhnya bisa pulih total. Lalu ia pun membaringkan tubuhnya dan mulai tertidur.


...********BERSAMBUNG********...