New Adventure

New Adventure
Peninggalan Viards kedua



"Baiklah, sekarang aku paham apa yang harus aku lakukan."


...****************...


Sero sudah mendapat hampir semua informasi yang ia butuhkan. Mengenai dunia ini dan mengenai Viards sudah ia ketahui.


Sero menyadari sesuatu dari cerita tersebut dan dapat disimpulkan dari buku Viards tulisan Sidura, bahwa tidak ada cara untuk mengetahui kekuatan jenis apa yang dimiliki Viards, kekuatan tersebut harus dicari tahu sendiri oleh Viards.


Sero teringat sesuatu…


"Oh ya, aku lupa belum meminjam arsip itu pada Tuan Aumus."


Sero hendak berdiri dari kursinya…


"Mau kemana?" Tanya Marlin.


"Aku lupa aku punya urusan penting saat ini. Aku duluan ya." Jawab Sero.


"Ya, sampai jumpa." Ucap Marlin.


Sero keluar dari perpustakaan kemudian menuju Camp latihan prajurit untuk menemui Tuan Aumus.


Diperjalanan Sero sempat melihat sekumpulan orang berpakaian tipis dan kotor yang diikat rantai. Kebanyakan dari mereka ialah perempuan dan anak-anak. Mereka diperlakukan dengan kasar oleh oleh orang-orang bertubuh besar disekitar mereka, mereka dibentak dan dicaci maki.


Salah seorang bertubuh besar dan botak memecut punggung seorang lelaki yang dirantai dihadapannya,


PRAKKkk….


Terlihat ia kesakitan dan berusaha menahan suaranya.


Mereka dipaksa untuk segera masuk kedalam kereta.


"Apa mereka narapidana? kenapa mereka diperlakukan dengan kasar seperti itu."


Setelah semua orang itu masuk kedalam kereta, kereta pun dengan segera pergi dari sana.


"Apa Jangan-jangan mereka adalah budak."


Jika memang mereka adalah budak, maka nasib mereka sungguh sangat malang.


Tibalah Sero di Camp latihan prajurit kerajaan.


Terdengar suara bising teriakan dari para prajurit, mereka begitu bersemangat dengan latihannya.


Terlihat Tuan Aumus sedang mengawasi latihan para prajurit.


Sero menghampiri Tuan Aumus.


"Permisi Tuan Aumus." Ucap Sero.


"Ada apa nak." Ucap Aumus.


"Apa boleh aku meminjam arsip dan peti yang waktu itu?" Tanya Sero.


"Oh ya, aku lupa membawakannya padamu. Ikutlah dengan ku mengambilnya." Ucap Aumus.


Sero mengikuti Tuan Aumus ke suatu ruangan untuk mengambil arsip.


Dijalan Sero bertanya…


"Tuan Aumus, diperjalanan menuju kemari aku sempat melihat banyak orang berpakaian rusak, tipis, dan kotor diikat rantai, mereka siapa?" Tanya Sero.


"Mereka adalah budak." Jawab Aumus.


"Ternyata benar."


"mengapa mereka bisa menjadi budak?" Tanya Sero.


Aumus menjelaskan kalau ada beberapa faktor penyebab menjadi seorang budak.


Pertama, tidak mampu membayar hutang.


Kedua, kalah perang, pihak yang menang bisa membuat pihak yang kalah dijadikan sebagai budak.


Ketiga. Perampokan, korban dari perampokan bisa diculik lalu dijadikan sebagai budak.


Keempat. Keturunan, seseorang akan langsung menjadi budak jika terlahir dari orang tua yang juga budak.


Sistem perbudakan ini sudah ada sejak awal terjadinya peperangan antar ras. Seluruh pihak kerajaan dan seluruh penduduk akan dijadikan budak jika mereka kalah dalam perang. Sistem ini terus berlangsung hingga kini.


Sero memasang wajah prihatin.


Tibalah mereka disuatu ruangan.


"Ini adalah ruang pribadiku, aku biasa beristirahat disini." Ucap Aumus.


Sebuah ruangan sederhana dengan fasilitas meja kerja, rak buku, ranjang, dan beberapa pajangan.


Tuan Aumus mengambil arsip dan peti dimeja kerjanya kemudian memberikannya pada Sero.


"Ini." Ucap Aumus sambil memberikan arsip dan peti.


Sero mengambilnya kemudian melihat keseluruhan tulisannya, sudah tidak diragukan lagi bahwa ini memang tulisan bahasa inggris.


"Terjemahkanlah." Ucap Aumus.


...****************...


Teruntuk Viards selanjutnya.


Apa kabar saudaraku, Semoga kau baik-baik saja dan semoga yang diatas selalu memberikan petunjuk kepadamu. Aku tidak akan bertele-tele dan akan langsung ke inti saja.


Aku hanya akan memberitahumu sebagian informasi, karena aku khawatir surat ini akan jatuh pada orang yang salah. Untuk informasi penting lainnya, bisa kau dapatkan dalam pertualangan yang akan kau hadapi.


Setiap Viards yang terpanggil akan menerima titah dari sang pemanggil. Terimalah titah yang baik dan tolaklah yang buruk. Sang pemanggil adalah sumber dari segala informasi yang kau butuhkan. Viards memiliki kekuatan khusus, dan kekuatan itu harus kau cari tahu sendiri, karena setiap Viards memiliki kekuatan khusus masing-masing.


Didekat surat ini terdapat sebuah peti yang disegel dengan segel jenis jiwa. Untuk membukanya kau perlu memasukkan jiwamu lalu mengalirkan kesadaranmu kedalam segelnya. Aku telah mengaturnya agar hanya Viards yang dapat membuka segelnya.


Teka-teki mudah untukmu "Gugur bukan berarti mati, Si merah selalu menunjuk pada satu arah, Hanya sekumpulan kayu tapi dapat ditinggali, memiliki suara yang berbeda."


Aku telah melakukan beberapa perubahan pada dunia ini, dan untuk mencapainya membutuhkan kerja keras yang bukan main. Ada kemungkinan bahwa tugas atau masalah yang akan kau pikul nanti jauh lebih berat dariku. Perbaikilah dunia ini dan lakukanlah apa yang harus dilakukan. Jangan ragu dalam mengambil keputusan dan ambillah yang lebih meyakinkan.


Pertualangan besar menantimu dan kelak kisahmu akan dikenal dunia.


Aku berharap padamu, lakukanlah semua yang kau bisa demi dunia ini.


Salam sejahtera.


Snyzel Kofri.


Catatan tambahan :


Ambillah barang peninggalanku sebagai hadiah dariku untukmu.


...****************...


"Sepertinya ini memang tulisan tangan Snyzel Kofri, beliau adalah Viards kedua." Ucap Aumus.


"Ya, saya pernah membaca ceritanya diperpustakaan." Ucap Sero.


"Baguslah kalau begitu, aku rasa sebaiknya kau buka dulu petinya." Ucap Aumus.


"Bagaimana caranya?" Ucap Sero.


"pegang petinya dengan telapak tanganmu, tutup matamu lalu bayangkan dan rasakan seolah-olah jiwamu serta kesadaranmu masuk melalui tanganmu kedalam segel itu. Kau akan tahu apa yang harus dilakukan ketika didalam segelnya." Ucap Aumus.


Setelah mendapat penjelasan dari Tuan Aumus, Sero langsung mempraktekannya dengan serius.


Dengan fokus yang tinggi, ia bisa merasakan seolah-olah dirinya masuk kedalam segel.


Beberapa saat kemudian Sero pingsan, itu menandakan bahwa ia berhasil masuk kedalam segel.


Saat hendak terjatuh, tubuh Sero dengan sigap ditahan Aumus.


...****************...


"Ahhh...."


Sero membuka matanya…



Ia sudah berada didalam Segel jiwa.


"Apa yang harus ku lakukan?"


Tak lama kemudian muncul sebuah cahaya kuning terang menghampirinya. Cahaya itu berhenti tepat dihadapan Sero.


"Siapa kau anak muda?" Tanya cahaya dengan lembut.


"Saya Sero Hotaru." Jawab Sero.


"Apa kau seorang Viards?" Tanya Cahaya.


"Ya, saya adalah Viards ketiga." Jawab Sero.


Cahaya itu diam sejenak. Lalu tiba-tiba dengan cepat cahaya itu masuk kedalam tubuh Sero.


...****************...


"Haaaaa." Sero menarik nafas.


Sero langsung terbangun.


"Bagaimana?" Tanya Aumus.


"Ada cahaya yang masuk kedalam tubuhku." Jawab Sero.


"Bagus, itu artinya kau mendapat izin untuk membuka segelnya." Ucap Aumus.


Sero berdiri lalu membuka petinya, ternyata isinya…


"Untuk apa ini?" Tanya Sero.


"Maaf saat ini aku tidak dapat membantumu, karena aku dalam melaksanakan perintah raja." Ucap Aumus.


"Tak apa Tuan Aumus, mungkin aku bisa memecahkannya sendiri." Ucap Sero.


Sero beserta Tuan Aumus keluar dari sana lalu menuju keluar.


"Kenapa isinya hanya kunci, untuk apa kunci ini."


"Tak ada pilihan lain, aku harus segera memecahkan teka-tekinya."


Setelah berada diluar, Sero langsung berjalan menuju sebuah kedai untuk makan.


"aku harus mengisi perutku agar otak ku lebih encer."


Masuklah Sero kedalam sebuah kedai makan kecil, ia memesan makanan, sambil menunggu pesanan ia membaca kembali teka-teki Snyzel Kofri.


"Gugur bukan berarti mati, Si merah selalu menunjuk pada satu arah, Hanya sekumpulan kayu tapi dapat ditinggali, memiliki suara yang berbeda. Apa maksudnya ini?"


"Ini pesanan anda tuan." Ucap pelayan.


"Terima kasih." Ucap Sero.


Sembari menyantap makanan, ia menaruh surat kedalam kantung, lalu memikirkan apa jawaban dari teka-teki pemberian Snyzel Kofri.


"Ayolah, pecahkan teka-tekinya, apa jawabannya."


"Gugur bukan berarti mati, berarti ia gugur tapi tetap hidup, gugur apa maksudnya…"


"Hmm, gugur…"


Setelah berpikir keras, akhirnya Sero menemukan jawaban kalimat pertama.


"Sepertinya gugur yang dimaksud disini adalah pohon yang daunnya berguguran, Memang benar daun pohon itu gugur tetapi pohonnya tetap hidup."


"kedua si merah ya, selalu menunjuk pada satu arah…"


"Mungkin ini maksudnya adalah jarum merah pada kompas yang selalu menunjuk pada arah utara."


Kemungkinan besar teka-teki ini adalah petunjuk menuju suatu tempat.


"Hanya sekumpulan kayu tapi dapat ditinggali, ini sudah pasti maksudnya adalah rumah kayu."


"Memiliki suara yang berbeda…"


"Jawaban kalimat ini mungkin sebuah jawaban yang menunjuk pada suatu tempat tersembunyi."


"Kesimpulannya, kalimat pertama tidak mungkin tertuju pada satu pohon, kemungkinan yang lebih masuk akal adalah hutan. Kalimat kedua adalah arah hutan yang dimaksud. Ketiga dihutan ada sebuah rumah. keempat mungkin petunjuk tempat tersembunyi."


"Langkah pertama aku harus menuju tempatnya."


"Besok aku harus menemui Tuan Mazo."


Tak terasa hari sudah gelap, sudah waktunya untuk istirahat, Sero beranjak keluar untuk segera pulang menuju penginapan.


Beberapa toko mulai tutup dan para pedagang mulai mengemasi dagangan mereka.


Benar-benar tempat yang tenang dan damai, berbeda dengan tempat tinggalnya yang terkadang selalu bising karena suara kendaraan.


Tibalah dipenginapan, seperti biasa dilantai pertama banyak orang yang sedang makan besar dan mabuk-mabukan.


"Oh ya, belakangan ini aku tidak melihat mereka, kemana mereka pergi?"


Sero menuju kamarnya dilantai dua lalu beristirahat.


Keesokan harinya, Sero langsung menuju rumah Tuan Mazo untuk menanyakan beberapa pertanyaan.


Ketika sampai, ia mengetuk pintu lalu dipersilahkan masuk oleh Tuan Mazo.


Sero bertanya…


"Tuan Mazo, aku dengar anda dulu pernah berkelana bersama seseorang yang bernama Sykof benar?" Tanya Sero.


"Ya itu benar, dari mana kau tahu?" Ucap Mazo.


"Mira menceritakannya padaku." Ucap Sero.


"Begitu ya." Ucap Mazo.


"Aku sudah membaca buku tentang Viards diperpustakaan, menurutku ada kejanggalan dari nama Sykof." Ucap Sero.


"Sepertinya kau sudah menyadarinya." Ucap Mazo.


"Ya, Sykof adalah singkatan dari nama Viards kedua yaitu Snyzel Kofri." Ucap Sero.


Sero memberitahu semua hal termasuk sebuah surat, peti, dan teka-tekinya. Tuan Mazo pun menjelaskan semua hal yang ia ketahui kepada Sero termasuk tempat yang dulunya pernah ditinggali Snyzel Kofri.


"Kenapa anda tidak memberitahuku dari dulu" Ucap Sero.


"Maaf, waktu itu aku masih ragu padamu." Ucap Mazo.


Semua informasi sudah jelas, sekarang Sero hanya perlu bertindak. Sudah diputuskan, Sero akan pergi menuju tempat seperti yang ada diteka-teki sendirian.


"Aku rasa, aku harus pergi kesana."Ucap Sero.


"Dengan siapa?" Tanya Mazo.


"Sendirian." Jawab Sero.


"Kau bersungguh sungguh?" Tanya Mazo.


"Ya, aku bersungguh sungguh." Jawab Sero.


"Kalau begitu ambil ini" Ucap Mazo.


Tuan Mazo memberikan dua buah benda yang berbentuk seperti terompet kecil yang terbuat dari tanduk.


"Ini adalah item sihir langka, gunakanlah jika kau berada dalam bahaya atau butuh bantuan." Ucap Mazo.


"Baiklah, terima kasih." Ucap Sero.


Tentu saja sebelum melakukan perjalanan Sero harus mempersiapkan bekal yang lengkap. Tuan Mazo berkata kalau tempat yang mungkin dimaksud dalam teka-teki itu adalah sebuah rumah kayu kecil yang pernah ditinggali Snyzel Kofri yang berada ditengah Hutan utara yang bernama hutan Demicaus.


Alasan hutan itu diberi nama Demicaus adalah karena dulunya tempat itu bukanlah sebuah hutan melainkan gurun pasir, hingga turunlah seorang dewi dari langit lalu memberikan berkat pada gurun tersebut sehingga dalam waktu cepat gurun tersebut mulai ditumbuhi pepohonan.


Sero pergi ke sebuah toko untuk membeli perlengkapan. Ia membeli tas besar, item sihir seperti mana potion dan health potion, juga beberapa obat herbal.


Ditoko tersebut Sero melihat sebuah jubah hitam bertudung.


"Aku rasa aku memerlukan jubah ini untuk melawan dingin dimalam hari."


Sero membeli jubah hitam tersebut dan membeli dua buah kain berwarna putih dan berwarna hitam, serta jarum jahit dan benang.


Dirasa semua perlengkapan yang ia perlukan sudah ia dapatkan, Sero pun pergi kembali ke penginapan untuk mengambil barang-barang yang tertinggal.


Sero berencana akan menambah jahitan kain hitam pada bagian depan tudungnya, agar kain tersebut bisa digunakan sebagai masker saat memakai tudung jubah hitam tersebut.


Setibanya dipenginapan Sero langsung menuju kamarnya lalu menjahit jubah hitamnya.


Setelah selesai menjahit jubah tersebut Sero memakainya lalu mengemas barang dan keluar dari kamarnya.


Tak disangka saat berjalan kebawah, Sero melihat Zuyo, Xia, dan Mira yang baru sampai dipenginapan, lalu Sero pun menemui mereka.


"Hei, kalian habis darimana?" Tanya Sero.


"Hei lama tak jumpa, kami habis menyelesaikan Quest mengawal seseorang menuju kerajaan Artanos." Ucap Zuyo.


"Kau mau pergi kemana dengan pakaian dan perlengkapan itu?" Tanya Xia.


"Aku mau pergi ke hutan Demicaus." Jawab Sero.


"Untuk apa?" Tanya Mira.


"Aku punya beberapa urusan yang harus kuselesaikan sendiri." Jawab Sero.


"Padahal kita baru saja bertemu tapi kau sudah mau pergi, ambilah ini kau akan memerlukannya." Ucap Zuyo.


Zuyo memberikan sebuah logam berbentuk persegi panjang dengan tulisan ditengahnya "Izin pengelana".


"Untuk apa ini?" Tanya Sero.


"Ini adalah sebuah tanda izin resmi untuk keluar masuk suatu daerah, ini biasanya dimiliki oleh para pedagang keliling, petualang, dan pengelana." Jawab Zuyo.


"Terima kasih banyak, kalian benar-benar sangat baik, suatu saat aku pasti akan membalas kebaikan kalian." Ucap Sero.


"Sama-sama, kami sangat senang bisa membantumu." Ucap Zuyo.


"Kalau begitu aku pergi dulu." Ucap Sero.


"Semoga beruntung." Ucap Zuyo.


"Semoga perjalanan lancar." Ucap Mira.


"Hati-hati ya." Ucap Xia.


"Ya, sampai jumpa." Ucap Sero.


Dengan tekad kuat dan kesungguhan Sero sudah sangat siap baik mental maupun pisik.


Tanpa pengelaman dan hanya mengandalkan pengetahuan dan harapan, Sero memulai perjalanan menuju hutan utara.


Sero memakai tudungnya lalu berkata…


"Inilah perjalanan pertamaku didunia ini"


Mampukah Sero melakukan perjalanan sendirian? hal-hal apakah yang dialami Sero selama perjalanan? apakah Sero akan selamat selama dalam perjalanan?


BERSAMBUNG.....