New Adventure

New Adventure
Perilaku tak pantas



Matahari mulai terbit dan memancarkan sinarnya yang terang. Burung-burung berkicau dan membangunkan Sero bagai lantunan musik merdu yang terdengar ditelinganya. Perlahan matanya terbuka, lalu ia bangun dari kasurnya kemudian bersandar pada dinding dibelakangnya.


Tak lama kemudian, seorang gadis datang dan membukakan pintu kamar tempat Sero beristirahat, dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat Sero telah terbangun sampai-sampai nampan yang dibawanya jatuh hingga mengenai lantai. Sero pun menatap heran gadis tersebut tanpa bertanya siapa dirinya, padahal ia sendiri merasa pernah bertemu dengannya. Segera, gadis itu pun bergegas berbalik arah dan meninggalkan nampan yang dijatuhkannya itu.


Nampaknya, gadis itu pergi untuk memberitahukan keadaan Sero yang telah tersadar. Dan benar saja, saat gadis itu kembali, ia membawa beberapa orang yang diantaranya ialah Kakek Oris, Ranta, dan Tohru. Mereka pun langsung menghampiri Sero dan berdiri disebelahnya.


"Syukurlah anda baik-baik saja." Ucap Kakek Oris yang merasa lega.


"Aku benar-benar terkejut setelah melihat wajah aslimu, ternyata kau seumuran atau mungkin lebih muda dari kami. Aku merasa menyesal memanggilmu tuan." Ucap Ranta seraya memegang belakang kepalanya.


"Yah, sejak awal mengapa aku dipanggil tuan, aku juga cukup terkejut karena sebelumya aku tak pernah dipanggil seperti itu." Balas Sero dengan sedikit tertawa kecil.


"Waktu itu ketika anda mengenakan jubah hitam anda, suara anda terdengar berat juga besar ditambah postur tubuh anda yang tinggi membuatmu menjadi seperti pria dewasa." Ucap Kakek Oris sambil tersenyum.


Sero kembali tertawa kecil setelah mendengar alasan utama ia bisa dipanggil "Tuan" oleh orang-orang. Ia tak sadar kalau penampilannya itu sedikit terlalu berlebihan, terutama dengan menutup area wajahnya.


"Jadi mulai sekarang kami harus memanggilmu apa?" Tanya Tohru.


"Mulai saat ini panggil saja aku Sero. Nama yang aku beritahukan dulu, hanyalah nama samaran untuk berjaga-jaga." Jelas Sero.


"Jadi bagaimana dengan para perampok itu?" Tanya Sero.


"Para perampok itu telah dibawa menuju kerajaan oleh Abara bersama beberapa warga desa yang menemaninya, sekitar dua minggu yang lalu." Jelas Kakek Oris.


"Tunggu sebentar, dua minggu lalu!?" Ucap Sero dengan heran.


Sero terkejut ketika tuan Oris mengatakan bahwa para perampok itu telah dibawa ke kerajaan sekitar dua minggu yang lalu. Mengingat terakhir kali ia sadar, ia masih berada dihutan didekat kuil dan berakhir pingsan. Tapi, apakah ia memang benar-benar tak sadarkan diri selama itu. Untuk meyakinkan dirinya kembali, ia pun mencoba menanyakannya langsung.


"Jadi, sudah berapa lama aku pingsan?" Tanya Sero.


"Kau pingsan selama dua minggu penuh, kau benar-benar membuat kami khawatir." Jawab Ranta.


"Ya, pada saat kamu dibawa kemari oleh Abara, Abara langsung berangkat pergi saat itu juga untuk menyerahkan para perampok itu pada pihak kerajaan. Namun entah mengapa hingga saat ini ia masih belum kembali. Kami khawatir jika ia sampai menghilang seperti yang terjadi pada beberapa warga kami dahulu." Tambah Kakek Oris.


Entah mengapa rasanya desa itu selalu ditimpa berbagai masalah. Dan yang lebih penting, apakah Sero mampu untuk membantu segala permasalahan yang menimpa desa itu. Tidak mungkin jika ia sampai meninggalkan desa itu dengan segala masalah yang sedang mereka alami.


"Bagaimana kondisi tubuhmu?" Tanya gadis sebelumya dengan terbata-bata dan agak malu.


"Sepertinya mulai mendingan." Jawab Sero.


Dengan waktu selama itu, seharusnya luka pada tubuhnya termasuk tulang rusuknya yang telah patah, kini mulai membaik.


"Gadis inilah yang selama ini telah merawatmu, namanya adalah Mizure. Dia adalah cucuku satu-satunya." Ucap kakek Oris.


Sero baru menyadari bahwa gadis itu ternyata adalah gadis yang telah ia tolong sebelumya ketika peristiwa perampokan berlangsung. Gadis itu hampir saja diperkosa oleh salah perampok kala itu. Aksinya terlanjur dipergoki oleh Sero dan akhirnya gadis itu selamat.


"Terima kasih telah menolongku waktu itu." Ucap Mizure dengan terbata-bata.


"Terima kasih kembali." Ucap Sero dengan senyuman diwajahnya.


Disaat itu, tiba-tiba terdengar suara ketukan keras dari pintu keluar. Semua orang seketika terdiam dan terfokus pada suara itu. Mizure langsung bergegas menghampiri sumber suara yaitu pintu keluar untuk mengecek siapa yang telah mengetuknya.


Baru saja ia membukakan pintu dan tak sempat menatap si pengetuk, pintu itu langsung dihempaskan dengan kuat oleh orang yang berada diluar, hingga membuat Mizure tersungkur tak berdaya ke lantai. Orang itu lalu menerobos masuk dan berlaku seenaknya disana.


Keributan itu terdengar hingga kamar yang ditempati Sero dan membuat kakek Oris, Ranta, serta Tohru bergegas datang untuk mengeceknya. Karena penasaran, Sero pun beranjak dari ranjangnya kemudian mengambil dan mengenakan pakaiannya, lalu ia ikut kesana bersamaan dengan mereka bertiga.


Sesampainya diruang tamu, sungguh tak disangka ternyata orang yang berbuat keributan itu ialah merupakan seorang prajurit berpakaian baju zirah lengkap. Dapat terlihat jelas dari kain berwarna biru yang menggantung menjuntai dari leher mereka dengan sebuah logo kerajaan yang terpangpang disana, melambangkan merekalah seorang prajurit kerajaan. Namun mengapa mereka berlaku tak pantas pada penduduk desa yang seharusnya mereka layani dengan ramah.


"Ada apa hingga kalian datang pagi-pagi ini?" Tanya kakek Oris.


"Seperti biasa, kami hanya ingin mengambil uang pajaknya, maka kami akan pergi." Ucap salah satu prajurit.


"Tapi, bukankah ini terlalu cepat dari yang biasanya." Ucap kakek Oris.


"Cepat berikan saja uangnya, KAKEK TUA..!!" Bentak prajurit itu.


Melihat kakek Oris yang diperlakukan secara tidak sopan, Sero spontan menghampiri prajurit itu dengan emosinya yang mulai timbul.


"Hei!, dimana tata krama mu sebagai seorang prajurit!" Ucap Sero dengan tegas pada prajurit itu.


"Apa-apaan kau, apa kau tahu sedang berbicara dengan siapa?" Tanya prajurit itu dengan nada yang sombong juga tegas.


"Jika kalian menagih dan menerima pajak dari desa ini, seharusnya kalian juga berkewajiban menjaga keamanan desa ini." Tegas Sero.


Sero merasa marah dan geram, melihat prajurit seperti dirinya yang berlaku seenaknya dan sombong hanya karena memiliki pangkat dan derajat.


"Apa kau ingin cari masalah dengan kerajaan!" Balas prajurit yang juga dengan nada tegas.


Tampak prajurit itu perlahan mengeluarkan pedangnya namun dihentikan oleh kakek Oris.


"Sudah, jangan tolong jangan ribut! kami akan membayarnya jadi tolong tenanglah." Ucap kakek Oris.


"Baguslah kalau begitu." Ucap prajurit.


"Berapa?" Tanya Sero.


"Enam keping koin perak." Jawab prajurit itu.


"Apa! bukankah itu terlalu mahal. Itu adalah dua kali lipat dari harga pajak biasanya." Jelas Oris.


"Pergilah dari sini jika kau tidak mau bayar." Ucap prajurit itu.


"Tak apa, biar aku yang akan membayarnya." Ucap Sero.


Tampak dari wajah prajurit itu sepertinya ia merasa senang. Sero tak ingin berlama-lama bersama dengan prajurit itu karena tak tahan dengan prilakunya. Sebuah kantung penuh kepingan koin uang pun ia keluarkan dari dalam tas kecilnya lalu mengambil enam buah keping perak untuk dibayarkan pada prajurit itu.


"Tapi, kamu tidak perlu berbuat sejauh itu." Ucap kakek Oris berusaha menghentikan Sero.


"Tak apa, ini keputusanku sendiri." Ucap Sero.


Enam keping koin perak itu pun diserahkan pada prajurit sombong itu. Ia pun mengambilnya dengan sedikit tertawa kecil. Lalu mereka pun akhirnya pergi dengan begitu angkuhnya tanpa mengucapkan satu kata pun lagi.


"Apa prajurit itu biasa menagih pajak dengan cara seperti itu?" Tanya Sero pada kakek Oris.


"Ya." Jawab kakek Oris.


"Lalu, mengapa anda tidak melawan. Terutama kalian, mengapa kalian tidak melawan ketika kakek Oris diperlakukan secara tidak hormat." Ucap Sero kepada semua orang yang ada disana.


"Kami tidak bisa melakukan itu. Itu hanya akan menambah masalah kami." Ucap kakek Oris.


"Tapi mereka hanya menguras harta kalian." Ucap Sero.


"Tak apa, setidaknya kami masih bisa mendapat tempat tinggal." Balas Kakek Oris.


"Tapi bukankah akan lebih baik jika kalian pindah ke tempat lain. Sedangkan disini kalian tidak mendapatkan hak kalian sebagai penduduk desa yang membayar pajak." Ucap Sero.


"Kami tidak punya pilihan lain. Diluar sana, kami khawatir dengan monster yang berkeliaran. Hanya inilah tempat tinggal kami yang paling aman dari serangan dan teror monster." Balas Kakek Oris dengan nada agak sedih.


Sero tak dapat mengeluarkan sepatah kata lagi dari mulutnya. Ia mulai mengerti dan memahami dengan situasi yang dialami desa itu. Hal ini semakin menguatkan niatnya untuk membantu masalah yang dihadapi desa itu.


"Dari mana asal para prajurit kerajaan itu?" Tanya Sero.


"Mereka dari kerajaan Valhedi, yang kini dipimpin oleh Raja ke sembilan yaitu Raja Dion Hart Valhedi." Jelas kakek Oris.


"Apa itu kerajaan yang dituju Abara?" Tanya Sero.


"Ya." Jawab kakek Oris.


Sero mulai khawatir pada Abara, mengingat ia tak kunjung kembali sejak dua minggu lalu. Ditambah dengan bagaimana sikap dan prilaku prajurit dari kerajaan itu.


"Mizure, kau baik-baik saja?" Ucap Sero seraya mengulurkan tangannya untuk membantu Mizure berdiri.


"Ya, terima kasih." Balas Mizure tersipu malu setelah menggenggam tangannya.


Setelah kejadian itu, mereka semua membereskan semua bekas keributan yang telah para prajurit itu perbuat. Pintu rumah yang lepas hingga lantai yang kotor adalah hasil dari perbuatan para prajurit itu. Mereka sungguh tak pantas disebut sebagai prajurit yang memegang nama sebuah kerajaan.


Tak butuh waktu lama, akhirnya semua itu dapat mereka bereskan dengan cepat. Kediaman kakek Oris beserta keluarganya kini telah kembali seperti sedia kala.


"Kakek Oris, dimana letak kerajaan Valhedi itu?" Tanya Sero.


"Kerajaan itu terletak diarah barat." Jawab kakek Oris.


"Butuh waktu berapa lama untuk sampai kesana?" Tanya Sero.


"Butuh sekitar setengah hari jalan kaki dan empat sampai lima jam menaiki kuda, untuk apa kamu menanyakan pertanyaan ini?" Tanya kakek Oris.


"Aku akan melaporkan kondisi desa ini pada pihak kerajaan secara langsung sambil mencari Abara." Jawab Sero.


"Sero, jangan libatkan dirimu lebih jauh lagi dalam urusan desa ini. Biarlah aku dan warga yang menanganinya." Ucap kakek Oris.


"Tak apa kakek Oris, setidaknya inilah perbuatan baik yang ingin kulakukan. Aku juga cukup khawatir dengan Abara yang tak kunjung kemari. Jadi biarkanlah aku membantu." Ucap Sero.


Kakek Oris tak punya pilihan selain membiarkan Sero untuk membantu desanya. Disisi lain ia juga memang membutuhkan bantuannya.


Beberapa jam telah berlalu, cuaca mulai semakin cerah dan panas menandakan hari mulai siang. Jubah hitam kembali ia kenakan. Peralatan serta perlengkapan kembali ia bawa. Sero berencana menggunakan kuda yang sebelumya dibawa oleh para perampok sebagai kendaraannya untuk menuju kerajaan Valhedi. Padahal ia sendiri tidak mengetahui bagaimana cara mengendarai kuda. Namun lagi-lagi kali ini ia mengandalkan pengetahuannya serta keberuntungannya untuk mengendarai kuda. Sebelum keberangkatannya, Sero ditemani oleh kakek Oris dan beberapa orang kenalannya sampai keluar desa.


"Sero, kami benar-benar sangat berterima kasih atas bantuanmu. Aku janji uang yang sebelumya kau pakai untuk membayar pajak desa akan segera kami kembalikan." Ucap kakek Oris.


"Tidak perlu, anggaplah itu sumbangan dariku." Ucap Sero.


"Terima kasih banyak." Ucap kakek Oris.


"Kalau begitu, aku berangkat." Pamit Sero seraya menaiki kudanya.


"Sero berhati-hatilah." Ucap Mizure.


Sero pun pergi bersama kudanya dan meninggalkan desa dengan harapan para warga desa yang menyertainya.


...........****BERSAMBUNG****...........