
[Sebelumya]
Setelah tenang, Sero mengecek kondisi tubuhnya dan kembali melihat ke sekelilingnya untuk memastikan keadaan yang sesungguhnya. Rasa lemas ditubuhnya kini sudah hilang sepenuhnya. Dan setelah Sero melihat ke sekelilingnya, ia sadar bahwa ia memang sedang berada ditengah hutan. Kebingungan melanda pikirannya dan berbagai macam pertanyaan mulai bermunculan didalam kepalanya.
Setelah terdiam cukup lama, Sero berdiri lalu berjalan mencari jalan keluar dari hutan tersebut.
...****************...
Udara dihutan terasa benar-benar dingin. Untungnya, Sero terbangun agak telat dari biasanya, sehingga ia masih bisa merasakan sedikit hangatnya sinar matahari yang menyinarinya.
Hutan itu memiliki rumput yang begitu lebat ditambah dengan pepohonan yang menjulang tinggi ke langit, membuat tempat tersebut terasa asing baginya. Bukan berarti Sero tak kenal dengan yang namanya hutan, tetapi ia sadar bahwa tempat kediamannya memanglah berada didesa yang memiliki beberapa perkebunan dan juga pegunungan. Namun, ia tidak pernah mengetahui atau bahkan melihat kalau ada hutan selebat itu didekat kediamannya.
Selama dalam perjalanan Sero memikirkan bagaimana dirinya bisa tiba-tiba berada dihutan tersebut. Ia begitu kebingungan, karena tak ada penjelasan yang memang masuk akal.
"Apakah ini hanya ulah iseng teman-teman ku?" Batin Sero.
Itulah jawaban yang cukup masuk akal untuk ia terima. Namun lagi-lagi jawaban tersebut harus terbantahkan, dikarenakan Sero sendiri telah berjalan menyusuri hutan tersebut cukup jauh yang memperkuat kenyataan bahwa itu bukanlah suatu keisengan.
Berbagai medan seperti menanjak dan menurun sudah banyak ia lalui, namun tak juga ia temukan sebuah jalan keluar dari hutan tersebut. Dikarenakan sejak pagi tadi ia belum memakan apapun, kini perutnya mulai kelaparan.
"Ya ampun kenapa jauh sekali, aku sudah lapar..." Keluh batin Sero.
Akhirnya setelah sekian lama menempuh perjalanan, bagai sebuah sebuah anugrah dari tuhan, Sero menemukan sebuah pohon apel yang berbuah lebat. Dengan perasaan senang Sero mendatangi pohon yang berbuah lebat itu untuk memakan buahnya.
Satu demi satu ia petik langsung buah tersebut tanpa memanjatnya. Buah yang baru dipetik dari pohonnya langsung itu, terasa begitu manis dan segar. Daging buah mengenyangkan perutnya dan air dari dalam buah menghilangkan dahaganya.
Ia beristirahat dibawah pohon apel itu selama beberapa waktu, hingga ia tak sadar bahwa hari sudah mulai siang. Ia pun kembali melanjutkan perjalanannya menuju ujung hutan. Cuaca terasa semakin terang dan panas, menandakan pagi telah berganti.
Tak lama kemudian, ia memasuki sebuah tempat dari bagian hutan yang pepohonannya lebih lebat lagi, daun-daun disana bagaikan sebuah payung yang menghalangi masuknya cahaya matahari sehingga dari dalam sana terasa cukup sejuk. Ia terus berjalan masuk kedalam sana. Sampai akhirnya ketika ia berada semakin dalam, ia menemukan jalan yang tampak sangat terang nan silau. Yang ternyata itulah jalan kaluar yang sedang Sero tuju.
Ia pun berjalan ke arah jalan itu dengan pelan dan santai seolah menikmati detik-detik ia keluar dari hutan tersebut.
Tak disangka, ternyata dari sebelah kanan tempat ia berdiri terdapat segerombolan anjing liar yang sedang istirahat. Anjing-anjing itu berada cukup dekat dengannya. Dengan tenang dan tanpa suara ia berjalan lurus ke depan agar tak membangunkan anjing-anjing itu.
Semakin dekat ia dengan jalan keluar itu, semakin silau pula penglihatannya. Akhirnya, ketika ia berada diluar sana, ia dikejutkan dengan pemandangan padang rumput luas sejauh mata memandang yang memukau dan langsung tertatap olehnya.
Pemandangan itu langsung membuatnya takjub. Baru kali ini matanya bisa merasakan puas ketika melihat sesuatu. Burung-burung berterbangan membuat suasana semakin hidup. Angin berhembusan membuat Sero semakin merasa nyaman. Udara yang dihirupnya begitu segar dan bersih tak tercemar.
Beberapa detik setelah memandangi pemandangan itu, Sero menjadi yakin bahwa dirinya berada disuatu tempat yang jauh dari rumahnya. Tidak ada tempat seindah itu disekitar ditempat tinggalnya. Rasa resah dan cemas mulai timbul dihatinya, namun ia berusaha menolak perasaan itu agar tidak panik dengan menarik nafas panjang secara perlahan berkali-kali.
Setelah ia tenang dan fokus, Sero sadar ternyata sekarang ini dirinya sedang berdiri disebuah tebing rendah. Tinggi tebing tempat ia berdiri hanya sekitar beberapa meter dari bawah sana. Sero berjalan mendekati ujung dari tebing itu, lalu ia duduk disana sambil menggantungkan kedua kakinya untuk beristirahat sejenak seraya menikmati pemandangan itu. Melepaskan semua pikiran yang mengganggu dan unek dibenaknya.
Tenang dan damai, itulah yang saat ini Sero rasakan. Hingga beberapa menit kemudian, dari arah utara tempat angin bertiup tepatnya disebelah kanan Sero, terlihat dari jauh sekumpulan orang dengan sebuah kereta yang ditarik oleh kuda sedang menuju ke arah tempat Sero berada.
Sero berencana menunggu mereka sampai ditempatnya untuk meminta bantuan. Namun setelah ia perhatikan lebih detail lagi, ternyata terdapat kejanggalan pada sekumpulan orang tersebut. Beberapa orang pria disana tampak mengenakan baju zirah besi seperti pada abad-10 dan salah seorang disana juga tampak sedang menaiki seekor kuda.
Sero kebingungan terhadap sekumpulan orang-orang itu. Ia juga khawatir jika bahasa yang digunakan Sero dengan orang-orang itu berbeda. Hingga ia pun memutuskan untuk memikirkan sebuah rencana dimana orang-orang itu harus menolongnya. Dan akhirnya sebuah ide pun muncul.
"Aku harap ini berhasil." Ucap Sero yang siap menjalankan rencananya.
...****************...
Ketika orang-orang itu sudah berada cukup dekat, rencananya pun dimulai.
Lemparannya itu mendarat keras tepat pada kepalanya. Membuat anjing tersebut terbangun dan marah. Anjing itu langsung mengonggong dan menggeram pada Sero, sehingga membangunkan anjing yang lainnya.
Seketika, Sero langsung berlari menuju tempat duduknya tadi dengan anjing-anjing yang mengejarnya dari belakang untuk memberikan balasan. Sero sempat mendapat luka pada salah satu kakinya akibat dari cakaran salah satu anjing yang mengejarnya.
Ketika tiba disana, Sero berbalik menghadap anjing-anjing itu dengan siaga. Dengan perlahan serta dengan geramannya anjing-anjing itu mendekat. Hingga salah satu anjing melompat ke arah Sero dengan mulutnya yang terbuka lebar bertujuan untuk menggigitnya, dengan cepat Sero pun menahan gigitan yang mengarah langsung pada mukanya itu dengan tangan kirinya.
Sero berpikir tangannya tak akan terluka cukup parah karena terlindungi oleh kain sweeter yang cukup tebal.
Tepat ketika tangannya tergigit oleh mulut anjing itu. Sero menjatuhkan dirinya kebawah, dan ia mendarat tepat dihadapan sekumpulan orang-orang tadi.
Serentak kuda yang berada didekatnya terkejut. Disamping itu, Sero berusaha bertahan dari anjing-anjing yang terus menyerangnya tanpa henti. Ia bertahan dengan melindungi area wajah dan kepalanya.
Melihat kejadian itu, ketiga orang pria yang berada disana, segera menolong Sero dengan sebuah senjata yang masing-masing mereka genggam. Tanpa ragu mereka menyerang anjing-anjing itu, mereka menendang, memukul, bahkan ada salah satu dari mereka yang mencekik anjing dengan satu tangan kemudian melemparkannya kembali ke atas tebing. Tanpa membunuh dan tanpa perlu menggunakan senjata yang mereka genggam itu, mereka berhasil mengusir dan menyelamatkan Sero dari segerombolan anjing liar itu.
Ternyata perkiraan Sero salah. Tak disangka ternyata anjing yang menggigit tangannya itu, memiliki gigitan yang sangat kuat juga gigi yang tajam. Sehingga menimbulkan luka sobek ditambah darah yang terus mengalir keluar.
Datanglah salah seorang pria yang memakai baju zirah disana pada Sero. Pria berbadan besar itu menghampirinya lalu ia memegang salah pundak Sero, lalu ia berkata…
"Zein de arimaru"
Itulah kalimat yang terucap dari mulutnya. Ucapannya itu terdengar sangat jelas ditelinganya. Apa yang dia katakan sama sekali tak dimengerti oleh Sero. Sero terdiam dengan ekspresi wajahnya yang kebingungan. Tak tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dikatakan. Pria itu melihat Sero sedang memegangi salah satu lenggannya yang terluka. Segera, ia pun membawanya masuk ke dalam kereta kuda disana.
Didalam sana, Sero dipertemukan dengan seorang wanita berparas cantik dengan rambut pirang dan telinganya yang agak panjang. Menyadari lengan Sero yang terluka cukup parah, wanita itu segera mengambil beberapa peralatan yang kemudian digunakannya untuk mengobati luka Sero.
Disaat wanita itu sedang sibuknya mengobati lengan Sero, beberapa kali ia sempat melontarkan kalimat pertanyaan pada Sero, namun Sero tak memberi respon dan hanya diam dengan rasa cemas yang mengganjal dihatinya.
Tampak dari raut wajahnya sepertinya wanita itu mulai merasa kesal karena merasa diacuhkan oleh orang yang sedang diobatinya yaitu Sero. Setelah luka dilengannya telah selesai diperbani, wanita itu kembali melontarkan kalimat pertanyaan seraya menatapnya.
"Athema oldiseo"
Itulah kata-kata yang didengarnya. Sejak awal pertemuannya dengan mereka, Sero sendiri tidak mengerti dengan bahasa yang mereka pakai. Wanita itu terus berbicara dan menanyainya hingga hal itu menjadi sebuah tekanan dan membuat keringat mengalir di dahinya.
Seluruh perhatian tertuju padanya. Orang-orang disekitar mulai saling berbisik dan saling bertanya-tanya. Tak ingin situasi semakin memburuk, Sero pun mencoba berbicara dengan menggunakan bahasanya sendiri.
"Aku tidak mengerti bahasa kalian." Ucap Sero sembari menatap orang-orang disekitarnya.
Tampaknya mereka juga tak memahami kata-kata yang diucapkan Sero. Mereka semua heran hingga wanita itu kembali melontarkan pertanyaan yang berbeda.
Namun usahanya masih percuma. Sero kembali membalas pertanyaannya itu dengan jawaban yang sama. Setelah mendengarnya, semua orang disana langsung beranjak keluar dari dalam kereta, meninggalkan Sero sendirian bersama barang-barang yang mereka bawa didalam kereta.
Terdengar sepertinya mereka sedang berdiskusi membahas sesuatu diluar sana. Didalam kereta kuda itu, Sero dapat dengan jelas mendengar suara mereka, namun ia tak tahu apa yang sedang mereka diskusikan. Ia hanya duduk diam sembari memegangi salah satu lengannya yang telah diperban dengan harapan tak terjadi suatu masalah.
Beberapa saat kemudian mereka telah selesai berdiskusi. Salah seorang pria yang memakai baju zirah besi yang telah menolongnya sebelumya, masuk dan menghampiri Sero lalu ia berkata sesuatu padanya sambil memegang salah satu pundaknya.
Sero mendengarkan apa yang dikatakan oleh pria itu, namun sama seperti sebelumya, Sero tak memberi respon dan hanya diam. Setelah selesai menyampaikan perkataanya itu, ia keluar diiringi dengan masuknya beberapa orang wanita yang sebelumya memang sudah berada didalam kereta.
Beberapa saat kemudian, kereta pun akhirnya berjalan, menempuh jalan menuju selatan. Banyak pemandangan baru yang ia lihat dari dalam kereta. Dikarenakan bentuk kereta itu seperti tabung yang tak memiliki penutup disetiap ujungnya, ia dapat merasakan hembusan angin dari dalam kereta melalui tempat kurir yang sedang duduk mengendalikan kuda yang menarik kereta. Atap-atap kereta itu ditutupi oleh kain tebal yang tertahan oleh kerangka kayu kereta sehingga didalam sana terasa agak panas.
"Semoga setelah perjalanan ini berakhir, aku tidak mendapatkan masalah." Batin Sero penuh harapan.
Kemana Sero akan dibawa?
...********BERSAMBUNG********...