
"Oh ya Tuan, boleh saya tahu siapa nama anda?" Tanya Oris.
...****************...
Untuk sesaat Sero terdiam memikirkan pertanyaan dari kakek Oris. Apakah akan baik-baik saja jika namanya diketahui oleh orang luar. Ia khawatir jika suatu saat nanti terjadi hal buruk.
"Kalau begitu panggil aku Cortesius." Jawab Sero.
"Baiklah, Tuan Cortesius." Ucap Oris
Entah kenapa dirinya merasa bahwa ia tidak boleh memberitahukan nama aslinya, hingga Sero memberitahukannya sebuah nama samaran. Hal ini dilakukan demi keselamatan.
Para penduduk desa terlihat bergotong-royong mengemasi semua barang-barang mereka yang sempat dikumpulkan perampok. Dan anak-anak yang masih menangis ketakutan, dipeluk oleh kerabat mereka masing-masing, terlihat senyum bahagia diwajah mereka. Suasana yang cukup melegakan hati Sero.
Tak terasa rupanya pertarungan yang telah Sero lalui sebelumnya memakan waktu yang cukup lama. Dari awalnya yang masih siang hari kini sudah Sore menjelang malam. Disaat itu kakek Oris menawarkan sesuatu pada Sero...
"Karena hari ini sudah hampir malam, bagaimana jika anda menginap didesa ini?" Saran Oris.
"Baiklah, terima terima kasih." Jawab Sero.
Tanpa berpikir panjang Sero langsung menerima tawarannya. Jika diingat dengan tujuan Sero yang masih jauh saat ini, maka sangat disayangkan bila ia menolaknya.
Tibalah Sero dirumah ketua desa yaitu rumah kakek Oris sendiri. Kakek Oris berkata bahwa dirinya tinggal disana bersama istri dan cucunya. Ketika berada diruang tamu, Sero dipersilahkan duduk oleh kakek Oris dengan dijamu teh hangat. lalu perbincangan pun berlangsung.
"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak atas pertolongan anda, Tuan Cortesius." Ucap Oris.
"Anda sangat hebat dapat mengalahkan para perampok itu sendirian" Ucap Oris.
"Tak apa Tuan Oris, saya senang bisa membantu." Ucap Sero.
"Berkat anda, kini kami tidak akan lagi kelaparan." Jelas Oris.
"Jadi, dulu desa ini sudah pernah memgalami perampokan?" Tanya Sero.
"Ya, terakhir kali kejadiannya sekitar dua bulan yang lalu. Saat itu keadaan kami benar-benar sulit, makanan dan air sangat sulit didapat, bahkan sampai timbul kematian akibat kelaparan." Jelas Oris.
"Sudah berapa kali kalian mengalami perampokan?" Tanya Sero.
"Sudah lima kali. Yang paling buruk adalah perampokan yang pertama, sekitar dua tahun yang lalu. Kala itu kami dirampok oleh perampok yang kejam, mereka dijuluki pembajak daratan, bukan hanya makanan dan barang berharga kami yang mereka ambil, bahkan mereka sempat menyiksa dan membunuh saudara-saudara kami. beberapa korbannya adalah kedua orang tua dari cucu saya. Sejak saat itu kami mengalami musibah kelaparan, dan beberapa orang mulai meninggal karena kelaparan. Itu adalah peristiwa terburuk dan paling mengerikan yang pernah kami alami." Jelas Oris.
"Saya turut berduka. Tapi, mengapa sejak setelah terjadi perampokan kalian tidak melapor pada kerajaan? seharusnya kerajaan bisa membantu." Ucap Sero.
"Kami sudah melapor pada kerajaan saat itu, namun tidak ada respon dari kerajaan. Bahkan setiap terjadi perampokan kami selalu mengirimkan surat bantuan, dan jika masih tidak ada balasan kami selalu mengirim ulang surat bantuan tersebut. Namun tetap tidak ada respon sama sekali. Kerajaan seolah tidak peduli dengan nasib kami." Jelas Oris.
"Jadi untuk saat ini, bagaimana kondisi ekonomi desa ini?" Tanya Sero.
"Saat ini kondisi ekonomi kami seperti keuangan sangat buruk. Bagi kami uang saat ini tidak begitu penting, ketika musim panen tiba kami lebih memilih untuk mengonsumsi hasilnya sendiri dari pada menjualnya, ditambah lokasi pasar yang jauh dari desa. Bahkan kami tidak mampu membeli obat untuk orang yang sakit didesa ini. Selain itu terkadang kami masih merasa kelaparan." jelas Oris.
Mendengar desa ini sedang mengalami masalah, hati Sero merasa tergerak untuk membantu dan sontak Sero langsung menawarkan bantuan.
"Boleh saya melihat orang yang sakit itu? mungkin saya bisa membantu." Ucap Sero.
"Oh ya, tentu saja Tuan Cortesius." Ucap Oris dengan terkejut.
Mereka pun langsung beranjak keluar untuk menemui orang yang sedang tersebut. Seperti biasa Sero akan mengandalkan pengetahuannya untuk mengobati orang sakit tersebut. Tak mungkin hatinya tega untuk menginggalkan atau membiarkan orang yang sedang kesulitan. Hingga sampailah mereka disebuah bangunan tempat orang sakit beristirahat.
...********Didalam bangunan********...
Didalam, terlihat sekitar tujuh orang sedang terbaring lemah diatas kasur lantai. Fasilitas disana sangat kurang memadai, orang-orang memakai apa yang ada untuk merawat mereka yang sakit. Mereka dirawat sedang dirawat oleh keluarga atau kerabat mereka masing-masing.
Kakek Oris menjelaskan bahwa didesanya dulu pernah ada seorang tabib yang merawat setiap warga desa yang sakit disana. Namun beliau telah meninggal dua bulan yang lalu karena dibunuh oleh perampok. Sejak kepergian beliau, mereka tak bisa berbuat banyak untuk menyembuhkan warga desa yang sakit. Mereka hanya bisa memberikan beberapa tanaman herbal yang mereka temukan dihutan. Mereka tak bisa membuat atau meracik obat seperti yang pernah dilakukan tabib dulu.
"Bagaimana Tuan Cortesius?" Tanya Oris.
"Sudah berapa lama ia sakit?" Tanya Sero.
"Sekitar seminggu yang lalu." Jawab Sero.
Hanya dengan melihat keadaan dan gejalanya, Sero dapat menyimpulkan bahwa yang dialami oleh orang tersebut adalah hanyalah demam panas biasa. Namun meski begitu, orang tersebut tetap masih memerlukan obat agar demamnya tidak semakin parah.
"Sepertinya sakit yang dialaminya hanya demam panas biasa. Besok saya akan mencoba untuk membuatkan obatnya." Ucap Sero.
"Jadi anda juga seorang tabib?" Tanya Oris.
"Bukan, hanya saja saya tahu resep obatnya." Jawab Sero.
"oh, jadi seperti itu ya." Ucap Oris.
"Baiklah selanjutnya." Ucap Sero.
Selanjutnya Sero memeriksa seorang pemuda yang sebelumnya telah dikeroyok oleh perampok. Tubuhnya dipenuhi dengan luka lebam. Sero memeriksa seluruh bagian tubuhnya mulai dari kepala, tangan, hingga kaki. Dengan memegang, mengamati dan menekan-nekan bagian tubuh yang diperiksanya. Terkadang pemuda tersebut merintih kesakitan ketika beberapa bagian tubuhnya diperiksa oleh Sero. Tak memakan waktu lama akhirnya Sero selesai memeriksa luka ditubuhnya. Pemuda tersebut tidak mengalami luka yang serius, hanya saja tulang kaki kirinya patah.
"Tuan Oris, apa ada bantal sisa disini?" Tanya Sero.
"Ya ada, tolong tunggu sebentar." Ucap Oris.
Dengan segera kakek Oris mengambilkan sebuah bantal yang diminta Sero.
"Ini dia Tuan." Ucap Oris sambil menyerahkan sebuah bantal.
Sero pun mengambilnya, kemudian meletakkan bantal tersebut dibawah kaki pemuda tersebut yang patah.
"Tetaplah kakimu seperti ini, jangan gerakan kakimu karena tulangnya sudah patah. Tapi tak perlu khawatir, kakimu masih bisa sembuh." Ucap Sero pada pemuda tersebut.
"Baiklah, terima kasih." Ucap pemuda tersebut.
Kemudian Sero memeriksa kondisi tubuh orang sakit dengan teliti. Kakek Oris hanya mengikuti Sero layaknya asisten. Tampak orang disekitar Sero seperti keluarga atau kerabat mereka yang sakit memperhatikan setiap langkah yang dilakukan Sero untuk memeriksa mereka yang sakit. Akhirnya Sero pun selesai dengan urusannya. Sero menyimpulkan bahwa diantara ketujuh orang sakit tersebut empat orang sakit biasa, dua orang keracunan, dan satu orang hanya terluka akibat dari pengeroyokan.
"Empat orang sakit biasa, dua orang keracunan, dan satu orang hanya terluka akibat dari pengeroyokan." Ucap Sero pada Oris.
"Jadi apa yang harus kita lakukan?" Tanya Oris gelisah.
"Besok saya mencoba membuat obatnya, jadi untuk saat ini biarkan saja mereka beristirahat mereka akan baik-baik saja." Ucap Sero.
"Syukurlah kalau begitu." Ucap Oris.
Malam sudah tiba.
"Karena kini sudah malam, bagaimana jika saya tunjukkan tempat untuk anda beristirahat Tuan Cortesius." Saran Oris.
"Baiklah." Ucap Sero.
Mereka pun keluar dari dalam bangunan menuju tempat Sero akan beristirahat.
...********Diluar********...
Sero mengikuti kakek Oris dari belakang sembari memikirkan sesuatu. Desa ini sedang mengalami kesulitan ditambah perampokan yang cukup sering terjadi. Sero merasa bahwa dirinya harus membantu desa dalam mengatasi masalah yang ada. Hingga ia pun memutuskan.
"Sudah kuputuskan, aku akan membuat penduduk desa ini sejahtera dan akan kusembuhkan semua orang yang sakit." Batin sekaligus tekad Sero.
Apa langkah selanjutnya yang akan dilakukan Sero?
BERSAMBUNG....