
Alangkah terkejutnya mereka, ternyata yang mereka lihat adalah sosok yang telah digambarkan pada buku sekaligus sosok yang mereka takuti yaitu Sphinx.
...**************...
Mereka terkejut setengah mati, dikarenakan tubuh Sphinx yang tampak lima kali lipat lebih besar dari tubuh mereka. Dari bawah tangga, Sphinx melirik keatas menatap pada mereka berempat, lalu ia mengaung dengan sangat keras sampai membuat seluruh isi ruangan bergetar. Puing-puing dari atas mulai berjatuhan mengenai pundak mereka dan membuat mereka merinding ketakutan.
Dengan perlahan Sphinx mulai berjalan mendekati mereka dengan aura membunuh. Tubuh mereka gemetar seolah berhadapan dengan maut yang siap merenggut nyawa mereka. Disaat ketegangan yang hebat itu, Sero…
*Plakkk…
Sero menepuk tangannya dengan sangat keras dan membuat fokus serta pandangan ketiga rekannya terlalihkan padanya.
"Jangan takut! kita hanya perlu keluar dengan selamat! ingat warga desa sedang menunggu kita!" Seru Sero pada ketiga rekannya yang termakan rasa takut.
Meskipun Sero telah menyemangati mereka, tampak mereka masih belum bisa melawan rasa takut yang mereka rasakan. Mereka tak bisa kembali karena pintu keluar telah tertutup rapat dan tidak dapat dibuka lagi, sehingga tak ada pilihan lain selain bertarung berhadapan langsung dengan Sphinx.
Sero merasa menyesal karena telah mempercayai suara bisikan yang didengarnya dan ia mulai merasa bersalah karena telah membuat mereka semua dalam bahaya.
Sphinx kembali mengaung dengan keras dari bawah tangga membuat tatapan mereka kembali teralihkan pada Sphinx. Ketika Sphinx sedang mangaung, Sero melihat sesuatu yang menggantung di dahinya. Ia memperhatikan benda tersebut dengan sangat teliti dari atas sana, hingga ia menyadari bahwa…
"Itu dia!" Ucap Sero mengejutkan ketiga rekannya.
"Apa!?" Tanya Abara dengan ekspresi wajah cemas.
"Kalian lihat sesuatu yang menggantung berwarna merah didahi monster itu?" Tanya Sero sembari menunjuk dengan telunjuknya pada dahi Sphinx yang sedang berjalan mendekat dari bawah tangga dengan perlahan.
"Jika diperhatikan, benda berwarna merah itu terlihat seperti kristal yang menempel pada pintu saat kita diluar tadi." Jelas Sero.
Mereka bertiga tampak mulai menyadarinya dan mulai merasa sedikit tenang.
"Kemungkinan besar, benda itu adalah kunci pintu keluar." Jelas Sero.
"HAHahahah....Hebat kau bisa menyadarinya." Ucap Sphinx dengan nada yang besar.
Mereka semua langsung terkejut mengetahui Sphinx dapat berbicara dan langsung memalingkan wajah kearah Sphinx.
"Dia bisa bicara!?" Ucap Ranta dengan nada ketakutan.
"Ambil saja jika kalian bisa!" Tegas Sphinx lalu berlari mendekat untuk menyerang.
Ketika Sphinx berlari, Sphinx mengibaskan sayapnya yang besar dan lebar sehingga ia terdorong dengan cepat menuju tempat Tohru berada.
"AWAS!!" Teriak Sero sembari berlari untuk menyelamatkan Tohru.
Sero berlari secepat mungkin yang ia bisa, dikarenakan Sphinx yang telah sangat dekat ia pun melompat lalu meluruskan kedua lengannya ke arah Tohru yang sedang berdiri. Alhasil Tohru pun terdorong cukup jauh dan mereka berdua selamat dari Sphinx yang hampir menabraknya.
Tabrakan Sphinx itu meleset dan mengenai sebuah batu besar yang berada dibelakang mereka. Batu tersebut seketika hancur lebur karena hantaman keras dari kepala Sphinx. Beruntung Tohru dapat terselamatkan dari serangan itu, jika ia sampai terkena hantamannya maka ajal sudah membawanya.
Melihat sebuah kesempatan, Abara spontan langsung menyerang menggunakan pedang besar yang digenggamnya. Terlihat jelas, Sphinx mengetahui Abara yang akan menyerangnya, namun Sphinx hanya diam seolah membiarkan serangan Abara mengenainya. Dengan sekuat tenaga Abara menebaskan pedang besarnya pada tubuh Sphinx, namun tak disangka ternyata kulit Sphinx itu sangat tebal sehingga serangannya tak meninggalkan bekas apapun seakan ia ditebas menggunakan pedang yang tumpul.
"APA!!" Kejut Abara.
Lantas Sphinx langsung melakukan serangan balik dengan menendang Abara menggunakan kaki belakangnya. Tendangan yang diberikan Sphinx ternyata mengenai dadanya dan membuatnya terhempas ke udara sampai menabrak dinding sehingga membuat darah keluar dari mulutnya.
Tohru langsung menyamperinya untuk menyembuhkan luka di dadanya. Abara berusaha menahan rasa sakit yang dirasakannya dan dengan sabar menunggu sampai Tohru selesai menyembuhkan lukanya.
Sero menyadari bahwa Sphinx sebenarnya bukanlah monster tak berakal dan ganas yang selalu menyerang membabi buta seperti Orc. Dia hanya kejam dan tak lagi memiliki sifat manusia. Hal itu bisa dilihat dari apa yang dia lakukan saat ini yaitu menunggu sampai luka Abara pulih, agar ia bisa menikmati jalannya pertarungan.
Dengan cepat luka Abara mulai sembuh dan kondisinya telah kembali pulih. Sero berjalan mundur mendekati mereka bertiga lalu berkata…
"Baiklah, kita serang dia secara bersamaan." Perintah Sero.
Sero sendiri tak mengerti mengapa dirinya bisa bersikap seperti seorang pemimpin, padahal dirinya tak memiliki pengalaman sedikit pun menjadi seorang pemimpin. Namun hal itu tak membuatnya ragu dalam memberi perintah atau arahan, yang terpenting saat ini adalah mereka harus selamat dari ancaman Sphinx.
"SERANG!!" Teriak Sero pada rekannya.
Serentak mereka langsung berlari maju untuk menyerang Sphinx. Terkecuali Tohru yang membantu dari belakang.
Dengan kompak mereka bertiga melancarkan serangan secara bersamaan. Sphinx menahan serangan mereka satu kakinya lalu menghempaskan mereka dengan kuat. Lagi-lagi serangan yang diberikan tak berdampak apapun. Walau begitu, tanpa berputus asa mereka kembali menyerang Sphinx dengan acak dari segala arah. Setiap serangan yang mereka lancarkan selalu ditangkis dan dihindari Sphinx dengan begitu mudahnya walau dari belakang atau dari atas sekalipun, seolah ia memiliki mata disekujur tubuhnya.
Sesekali mereka mencoba menggapai kristal merah yang menggantung di dahinya, namun Sphinx sejak awal telah mengetahui rencana mereka sehingga setiap usaha yang mereka lakukan untuk mengambil kristal merah tersebut selalu digagalkan.
Pertarungan belangsung begitu mendebarkan dan penuh ketegangan. Sebisa mungkin mereka menghindari serangan dari Sphinx karena serangan yang ia berikan sangat berbahaya. Beberapa kali mereka sempat terkena serangan langsung dari Sphinx sampai terluka cukup parah, tak terkecuali Sero yang kini beberapa tulang rusuknya telah patah akibat dari satu serangannya.
"Sphinx adalah sosok yang dikutuk oleh dewa, jadi kemungkinan kelemahannya adalah elemen suci." Ucap Tohru sembari membacakan doa kepada dewa.
Secara bersamaan, tampak sekumpulan cahaya putih kecil mulai memasuki tongkat yang ia pegang sampai tongkatnya mulai dipenuhi cahaya tersebut.
"Wahai dewa yang menyayangi dan melindungi kami, sucikanlah musuh kami dengan anugrah cahaya mu yang suci."
"GOD'S BLESSING LIGHT!"
Tohru langsung menembakkan cahaya tersebut pada Sphinx. Ketika cahaya tersebut mulai dekat dengannya, cahaya tersebut langsung membesar sampai membuat seluruh isi ruangan menjadi begitu terang. Cahaya besar itu langsung jatuh dan menimpa Sphinx, membuat seluruh tubuh Sphinx tertutupi oleh cahaya tersebut.
Untuk beberapa saat, Sero beserta Abara dan Ranta menghentikan serangan mereka lakukan. Mereka berharap serangan yang dilakukan Tohru dapat bekerja meskipun tidak menimbulkan luka yang cukup parah.
Secara perlahan cahaya tersebut mulai menyusut dan menghilang. Lagi-lagi mereka dikejutkan dengan kondisi Sphinx yang tampak tak terluka sedikit pun meski telah diserang menggunakan elemen suci yang besar dan diserang bertubi-tubi.
"Tidak mungkin!" Ucap Tohru yang mulai putus asa.
Energi sihir Tohru kini telah habis, selain dikarenakan serangan yang ia lakukan barusan namun juga karena sebelumnya ia telah menggunakan sihir penyembuhan berkali-kali sejak awal ketika melawan Sphinx. Tohru mulai merasa khawatir dan cemas karena ia tidak bisa lagi menyembuhkan orang terluka.
"Dasar monster aneh! Matilah kau!" Teriak Ranta sembari maju untuk menyerang.
"Hentikan!!" Teriak Sero menghentikan Ranta.
Sebelum Ranta melakukan serangan , secara tiba-tiba perutnya telah berlubang dikarenakan serangan Sphinx. Tampak dengan jelas kaki depan Sphinx telah menembus perut Ranta sampai darah bercururan dari dalam perutnya. Ranta mulai batuk mengeluarkan darah dan perlahan ia mulai kehilangan kesadarannya. Sphinx langsung melepaskan kaki depannya dari perut Ranta sehingga Ranta langsung terkapar tak sadarkan diri.
"RANTAA!!" Teriak Abara dengan penuh emosi.
Abara mulai naik pitam. Dengan segera ia mengangkat pedangnya lalu maju sendirian dengan tatapan marah besar. Abara langsung menyerangnya dengan bertubi-tubi tanpa henti sampai Sphinx tampak tak punya kesempatan untuk menyerang balik.
Melibat hal itu, Sero langsung berbegas maju untuk menyamperi Ranta yang terluka parah. Dengan perlahan ia mengangkat tubuhnya lalu membawanya kepada Tohru.
"Tohru, cepat sembuhkan dia!" Ucap Sero sembari menaruh tubuh Ranta dengan posisi terlentang.
"Maaf, aku tidak bisa." Ucap Tohru dengan nada putus asa.
"Kenapa!" Tegas Sero.
"Energi sihirku telah habis." Ucap Tohru.
Lalu tiba-tiba terdengar Abara yang berteriak kesakitan. Mereka berdua langsung memalingkan wajah mereka kearah sumber suara, dan tampak Abara yang telah digigit bahunya oleh Sphinx.
"ABARAA!!" Teriak Sero dan Tohru.
Sphinx menggigitnya sampai tubuh Abara terangkat. Terlihat Abara meronta-ronta kesakitan dan berusaha melepaskan gigitan Sphinx dari bahunya. Darah mengalir cukup banyak dan membasahi baju yang ia kenakan.
Disaat itu...
Tiba-tiba Sphinx dan rekan Sero yang lainnya termasuk Abara yang sedang tergigit tiba-tiba berhenti bergerak. Semua warna yang ada perlahan mulai memudar. Kemana pun Sero memandang, warna yang ada hanyalah hitam dan putih. Sero kebingungan dengan apa yang sedang terjadi. Waktu seakan telah berhenti berputar dan hanya Sero yang dikecualikan.
Apa sebenarnya yang terjadi?
......BERSAMBUNG......