New Adventure

New Adventure
Pertemuan tak terduga



Sero bersama kuda yang di tungganginya melaju menembus hembusan angin untuk menuju hutan. Dedaunan dari masing-masing pohon berjatuhan dari tangkainya dan menghujani Sero ketika hutan telah dimasukinya.


Tampak dari pandangannya berbagai macam hewan berkeliaran dan berlarian menyaksikan dirinya. Atap-atap pohon juga tampak seolah bercahaya berkat pantulan cahaya matahari.



Pemandangan penuh hijau terang itu benar-benar menyejukkan matanya setelah berminggu-minggu ia tertidur. Dibalik itu, ternyata hatinya merasa ragu dengan semua yang akan ia lakukan.


"Aku memang pernah menghadapi berbagai malasah besar maupun kecil, tapi apakah aku mampu mengatasi masalah satu ini. Aku harus aku bisa, aku hanya perlu melapor dan menunggu tindakan dari kerajaan" Batin Sero.


Sero menolak pemikiran negatif yang melintas dipikirannya dan berusaha untuk tetap optimis dengan semua hal yang terjadi maupun yang akan terjadi. Pemikiran negatif memanglah perlu untuk dihindari demi terhindar dari keraguan serta ketidakyakinan, namun disisi lain pemikiran negatif juga diperlukan demi menimbulkan kehati-hatian juga keseriusan.


[Sero POV]


Sejak awal kepergianku, aku telah menempuh perjalanan bermil-mil mulai dari desa. Tak kusangka kalau tempat yang sedang ku tuju itu berjarak sangat jauh dari desa. Banyak medan yang harus ku lalui seperti tanah yang berlumpur, bahkan ketika aku menyusuri jalan yang menanjak disuatu tebing, ternyata terdapat tanah longsor sehingga mengharuskan ku untuk kembali dan mengambil jalan memutar yang lebih jauh.


Seharusnya aku berangkat lebih awal, sebab matahari kini mulai tenggelam. Hari semakin gelap namun aku masih belum menemukan tempat yang cocok untuk beristirahat. Hingga tak lama kemudian akhirnya aku menemukan sebuah gua ditengah hutan. Gua itu tampak cukup besar, namun setelah aku telusuri ternyata gua itu tidak terlalu dalam dan sepertinya gua itu juga pernah disinggahi oleh seseorang. Aku menemukan sebuah perapian dengan kayu yang masih tertata rapi juga sisa makanan didekatnya.


Kemungkinan besar orang itu juga menginap di gua ini, itu berarti bahwa gua ini aman dari serangan monster. Didalam terasa begitu dingin juga pengap karena sangat gelap. Setelah memastikan gua itu aman, aku pun mencoba menyalakan api dengan sisa kayu yang masih tersedia didalam gua menggunakan peralatan yang ku bawa dari desa.


Beberapa kali percobaan ku lakukan dengan sabar, dan akhirnya percikan cahaya pun timbul dan api pun menyala. Setelah itu aku kembali keluar untuk menuntun kudaku memasuki gua yang telah ku siapkan api.


Bersama dengan kudaku, aku duduk dengan nyaman menyaksikan api yang berkobar. Aku bentangkan tanganku kearah api yang bercahaya terang itu dan kurasakan hangat pada pergelangan tanganku. Rasa hangat itu perlahan menyebar ke sekujur tubuhku dan melenyapkan rasa dinginnya udara malam. Hanya suara percikan api yang bisa ku dengar, selain itu tak ada lagi.


Sungguh aku tak pernah merasakan momen-momen seperti ini sebelumnya. Semua yang telah ku jalani adalah hal yang sangat baru bagiku. Tempat baru, makhluk baru, pangalaman baru, dan hal-hal lainnya yang benar-benar baru. Bahkan sebuah pertarungan yang mempertaruhkan nyawa benar-benar telah aku alami. Apakah suatu saat aku akan menjadi tokoh-tokoh kuat seperti yang ada di cerita film. Mungkin, itulah hal konyol yang sempat aku pikirkan.


[Author POV]


Sebelum dirinya melewati waktu dengan cepat, kesadarannya pergi ke dalam sebuah tempat bawah sadar yang merupakan tempat terlibatnya pikiran, perasaan, pendengaran, penglihatan, dan indra lainnya, atau orang-orang menyebutnya sebagai mimpi.


Mimpi itu membawanya ke sebuah padang rumput datar yang luas. Disana terdapat sesosok wanita berpakaian putih sedang memegangi sebuah buku berwarna merah yang berdiri jauh dihadapannya. ia tak dapat melihat wajahnya dengan jelas dikarenakan sebagian besar wajahnya tertutup oleh rambutnya yang tebal.


Sero hanya diam dan memerhatikan wanita itu tanpa melakukan sesuatu. Tiba-tiba mulutnya bergerak seolah sedang mengatakan sesuatu namun Sero tak dapat mendengarnya. Keberadaan wanita itu membuatnya penasaran juga dengan apa yang ingin dikatakannya. Diakhir, wanita tersebut memberikan senyum lembut yang manis padanya, dan seketika Sero terbangun dari tidurnya.


Api unggun telah padam, matahari mulai terbit, menyimpulkan hari baru telah datang. Mimpi singkat yang telah ia lihat menjadi sebuah tanda tanya bagi dirinya. Apakah ini sebuah tanda atau hanya mimpi biasa. Tanpa memikirkannya, ia langsung tak mempedulikannya dengan alasan itu hanya sebuah mimpi.


[Sero POV]


Hari berikutnya telah tiba. Cahaya matahari masuk dan menyinari diriku didalam gua, memberikan ku kehangatan yang menyegarkan. Aku sempat terkejut dengan tiba-tiba hilangnya kuda yang seharusnya berada disampingku. Namun setelah aku menengok keluar, aku langsung merasa lega karena ternyata kuda itu sedang mengisi perutnya diluar.


Memandangi kuda yang dengan lahapnya makan, perutku mulai langsung merasakan getaran karena lapar. Kayu bakar telah habis namun beruntungnya aku karena memperoleh makanan berupa daging kering yang siap santap dari penduduk desa. Aku pun mengeluarkan daging kering itu dalam tas kemudian memakannya. Rasanya sedikit asam kemanisan dengan tekstur yang alot namun terasa cukup lezat. Dengan pelan ku habiskan daging kering itu sembari menunggu kuda ku mengisi tenaga. Hanya perlu waktu beberapa menit saja, kami pun siap untuk meneruskan perjalanan.


Satu hari telah lewat hanya untuk menuju kerajaan Valhedi. Kakek Oris mengatakan bahwa untuk sampai kesana hanya memerlukan waktu beberapa jam dengan menaiki kuda. Apakah aku terlalu lambat dalam melaju selama perjalanan atau aku yang salah mengambil jalan sehingga aku tak kunjung sampai.


Saat ini aku sengaja memelankan laju kuda ku dikarenakan jalan yang menurun juga berbatu yang memungkinkan licin untuk dilewati. Dari atas sini aku melihat sebuah sungai dengan air yang sangat bening juga bersih mengalir menuju arah yang sama dengan tujuanku. Setelah aku menuruni jalan, aku mampir dan berhenti sejenak ditepi sungai itu untuk meminum airnya, dan tentu saja juga memberi minum kuda ku.


Ku minum air itu dengan kedua telapak tanganku. Air itu mengalir dengan mudah kedalam tenggorokan ku dan menyegarkan nya. Hingga saat itu, ketika aku sedang menikmati air sungai, tiba-tiba aku melihat sebuah tubuh seseorang yang hanyut terbawa arus sungai dihadapan ku. Lantas aku panik dan spontan aku masuk kedalam sungai untuk membawa tubuh seseorang itu ke tepi sungai. Seluruh pakaian ku basah, namun aku berhasil membawanya ke tepi sungai.


Setelah ku perhatikan, ternyata dia adalah seorang laki-laki dan umurnya sepertinya lebih muda dari ku. Pakaiannya tampak compang-camping penuh dengan sobekan dan terdapat beberapa luka ditubuhnya. Untungnya napas masih terdengar dari mulutnya dan beberapa kali ia sempat terbatuk, namun sayangnya ia masih belum sadarkan diri.


...********Bersambung********...