
"Nak, apa kau mengerti kata kataku." Ucap orang berambut putih.
"Hah." Ucap Sero yang masih kebingungan.
"Apa kau baik baik saja?" Ucap orang berambut putih.
"Aku baik baik saja tuan." Ucap Sero.
Sero sangat terkejut, secara tiba-tiba ia bisa mengerti perkataannya.
"Syukurlah kalau begitu." Ucap Sero.
Penyihir, kembali duduk.
Sebuah kemustahilan yang benar-benar terjadi. Bahasa yang harusnya dipelajari selama bertahun-tahun, kini bisa Sero pahami dalam beberapa menit, setelah orang memegang kepalanya.
"Apa ini ulah dari orang itu." Batin Sero.
Apa sebenarnya yang telah dilakukan orang itu sehingga Sero dapat mengerti setiap ucapannya. Benar-benar seperti sebuah sihir dari dunia dongeng.
"Nak, dari mana asal mu?" Ucap penyihir.
"Aku rasa jika aku menyebutkan nama negaraku, mereka tidak akan tahu. jadi mungkin aku sebut saja letaknya." Batin Sero.
"Aku berasal dari pulau barat." Ucap Sero.
"oh, cukup jauh dari sini ya." Ucap penyihir.
"Apa yang kamu lakukan disini." Ucap penyihir.
"Bagaimana aku menjelaskannya. kurasa lebih baik aku mengarang sesuatu saja." Batin Sero.
"Aku hanya berniat berjalan jalan untuk menghibur diri dengan bepergian jauh. namun naas, saat aku dihutan aku diserang segerombolan anjing liar. Kemudian aku diselamatkan oleh mereka." Ucap Sero.
Mata penyihir mulai melirik.
"Ini gawat, sepertinya sekarang dia mencurigaiku." Batin Sero.
Sero cukup peka dengan raut wajah dan nada bicara seseorang, sehingga dia bisa tahu apa yang dirasakan atau isi hati orang tersebut.
"Begitu ya, aku melihat lukamu apa masih terasa sakit?" Ucap penyihir.
"Ya, ini masih sakit dan agak gatal" Ucap Sero sambil menunjukkan lukanya.
"Itu harus segera di obati. Zuyo, Mira, Xia, bisa tolong belikan sesuatu." Ucap penyihir.
"Baiklah." Ucap mereka.
"oh, jadi itu nama mereka." Batin Sero.
"Tolong belikan Lendir price frog, kristal latonium, daun shito, dan satu botol air suci." Ucap penyihir sambil memberikan sejumlah uang.
Mereka pun pergi keluar untuk meninggalkan Sero sendirian bersama penyihir.
"Baiklah, sekarang mungkin aku akan diintrogasi." Batin Sero.
"Baiklah, Sekarang apa kau tahu siapa aku?" Ucap penyihir.
"Nah kan." Batin Sero.
"Aku tidak tahu tuan." Ucap Sero.
"Kau serius?" Ucap penyihir.
"ya tuan" Ucap Sero.
Sero semakin merasa gelisah dan khawatir. Dengan hati-hati dan penuh pemikiran Sero menjawab semua pertanyaan yang diberikan pernyihir tersebut. Setiap jawaban yang keluar dari mulutnya, dapat menentukan bagaimana nasib Sero nanti.
"Begitu ya, siapa nama mu?" Ucap penyihir.
"Namaku Sero, Sero Hotaru." Ucap Sero.
"Baiklah Sero, sepertinya dari penjelasanmu tadi ada beberapa yang tidak sesuai dengan kenyataan, atau bohong, Sekarang cerikan semuanya dengan jujur." Ucap penyihir dengan tegas.
"Sudah kuduga dia tahu aku berbohong, tapi bagaimana bisa." Batin Sero.
Sero berpikir jika langsung berkata jujur, bukanlah keputusan yang bagus. Sebab, alasan ia bisa sampai disana benar-benar tidak masuk akal dan sulit untuk dipercaya. Jadi Sero menyebutkan hal-hal kecil kenyataannya.
"Sebenarnya anjing itu menyerang karena aku yang mengganggu mereka." Ucap Sero.
"Aku bilang cerikan semuanya, Siapa kau sebenarnya dan dari mana asalmu." Ucap penyihir.
"Saat kau sampai kesini, kau sama sekali tidak mengerti bahasa dan perkataan kami bukan?" Tanya penyihir.
"Iya." Jawab Sero.
"Padahal itu adalah bahasa Iruta, bahasa yang dikenal dan digunakan diseluruh dunia ini. dan kau tidak mengetahuinya." Ucap penyihir.
"Sekarang kau tidak bisa mengelak, ceritakan semuanya dengan jujur, atau kau akan menerima akibatnya." Ucap penyihir.
Sero di introgasi layaknya seorang penjahat yang baru tertangkap. Sero mulai merasa tertekan akibat ancamannya. Tak ada lagi yang bisa Sero perbuat selain harus berkata jujur. jika ia sampai diusir dari sana, Sero tak tahu apa yang harus ia lakukan nantinya.
"Sebenarnya tuan, dari kemarin pagi aku tiba tiba berada dihutan, padahal pada malam harinya aku sedang berada dirumah." Ucap Sero.
"hmm, teruskan." Ucap penyihir sambil memegang dagu.
Sero menjelaskan semua hal yang telah terjadi padanya kepada penyihir dengan rinci dan jelas, dengan harapan tinggi bahwa penyihir dapat mempercayainya.
"Memang terdengar tidak masuk akal, tapi itulah kenyataannya." Ucap Sero.
Penyihir terkejut setelah mendengar semua penjelasan dari Sero.
"Sulit dipercaya!, tapi itu semua benar!." Ucap penyihir.
"Kenapa kau langsung percaya?" Tanya Sero.
"Karena aku punya kemampuan untuk melihat Kebohongan, dan kau tidak berbohong." Jawab penyihir.
Tak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka. Tandanya mereka sudah kembali.
"Kita lanjutkan pembicaraan ini nanti." Ucap penyihir.
Mereka masuk kedalam lalu memberikan barang pesanan kepada penyihir.
"Perlihatkan lukamu (Sero)." Ucap penyihir.
Sero menunjukkan luka ditangannya lalu penyihir itu meletakkan tangannya di atas luka Sero. Secara perlahan tangannya mulai mengeluarkan cahaya hijau, lalu luka Sero secara perlahan mulai pulih.
Sero tercengang melihat sesuatu yang luarbiasa terjadi didepan matanya. Benar-benar sangat ajaib, tanpa bantuan sebuah alat atau benda lain, lukanya bisa sembul seperti semula hanya dengan sebuah tangan kosong. Setelah luka Sero sembuh total, pernyihir berhata...
"Zuyo, Setelah kami mengobrol tadi, sepertinya dia akan menetap dulu disini, bisakah dia ikut bersama kalian?" Tanya penyihir.
"Boleh saja." Ucap Zuyo.
"Oh ya, apa kalian sudah berkenalan sebelumnya?" Tanya Sero.
"Belum." Jawab Zuyo.
"Kalau begitu ayo perkenalkan dulu diri kalian." Ucap penyihir.
"Perkenalkan aku Zuyo dari ras manusia, dan kelasku Warrior." Ucap Zuyo.
"Aku Xia dari ras elf dan kelasku Archer." Ucap Xia.
"Aku mira dari ras manusia, dan kelasku Wicth." Ucap Mira.
"Aku Sero Hotaru dari ras manusia, panggil saja aku Sero." Ucap Sero.
"Oh ya, aku lupa belum memperkenalkan diri, perkenalkan aku Mazo dari ras elf, dan seperti yang kau lihat kelasku Wicth." Ucap Mazo.
Sero tidak mengerti mengapa mereka harus menyebutkan asal ras ketika berkenalan. Bagi Sero itu terdengar cukup aneh. Namun karena ini bukan tempat tinggalnya, jadi ia bisa mengerti bahwa terdapat perbedaan budaya atau etika ketika berkenalan.
"Sero, tadi kau bilang kau mau ikut bersama kami, jadi apa kau punya kemampuan bertarung?" Tanya Zuyo.
"Lah, yang bilang aku akan ikut bersama kalian kan tuan mazo bukan aku." Batin Sero.
"Tidak, aku tidak punya." Jawab Sero.
"Kalau begitu apa pekerjaan mu?" Tanya Zuyo.
Zuyo menanyakan beberapa pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh Sero. Sero belum bekerja, sekilas Sero berpikir ia harus berbohong.
"Ehh, Aku dulu aku bekerja sebagai petani." Ucap Sero dengan ragu.
"Oh begitu ya, sayang sekali padahal kami butuh anggota baru untuk ikut bertarung." Ucap Zuyo.
Sero tak mengerti sebenarnya untuk apa bertarung, dan siapa atau apa yang harus diajak bertarung.
"Aku rasa ini sudah hampir siang, sebentar lagi kami harus pergi." Ucap Zuyo.
"Kalian akan pergi kemana?" Tanya Sero.
"Kami akan pergi ke pusat bar, untuk menerima misi." Jawab Zuyo.
"Sero, apa kau mau ikut?" Ucap Zuyo.
"Aku mau mengobrol dengan Sero sebentar, apa kau tidak keberatan Sero?" Tanya Mazo.
"Tidak." Jawab Sero.
Mereka beranjak dari kursi lalu berpamitan, kemudian mereka pergi. Lalu terjadilah tanya dan jawab panjang antara Sero dengan Tuan Mazo.
Setelah mereka keluar dari rumah Tuan Mazo. Pembicaraan mereka yang tertunda tadi kini mereka lanjutkan. Tuan Mazo memberikan banyak pertanyaan kepada Sero, seperti ada apa saja yang ada ditempat tinggalnya, dan hal-hal lainnya.
"Sero, sepertinya kau adalah Viards." Ucap Mazo.
"Apa maksudnya itu?. Tolong jelaskan lebih rinci." Tanya Sero dengan terkejut.
"Viards adalah Sebutan untuk orang dunia dari lain yang di summon atau dipanggil melalui sebuah ritual bernama cerc avelant. Proses pemanggilan ini membutuhkan banyak orang dan cukup rumit. Biasanya Viards memiliki kemampuan istimewa yaitu Anugerah semesta atau rahmat mulia." Ucap Mazo.
"Jadi, aku berada disini karena aku dipanggil seseorang?" Tanya Sero.
"Sepertinya, iya."Jawab Mazo.
"Daripada disebut dipanggil lebih tepatnya diculik." Batin Sero dengan jengkel.
"Siapa yang menculikku, eh, maksudku siapa yang memanggilku?" Tanya Sero.
"Aku tidak tahu, setahuku ritual ini dilakukan oleh kerajaan atau kumpulan para Wicth. jadi salah satu dari keduanya lah yang telah memanggilmu." Jawab Sero.
"Begitu ya, lalu apa itu Anugerah semesta dan rahmat mulia?" Tanya Sero.
"Anugerah Semesta adalah sebuah Anugerah yang diberikan semesta kepada Viards, anugerah ini biasanya berupa pengetahuan atau keterampilan. Sedangkan rahmat mulia adalah sebuah anugerah/rahmat yang diberikan juga oleh semesta kepada Viards yaitu berupa kelebihan fisik atau skill khusus." Jawab Mazo.
"Jadi, bagaimana menurutmu Tuan Mazo, apa aku memiliki salah satunya?" Tanya Sero.
"Entahlah, aku pikir hanya kau yang tahu." Jawab Mazo.
"Apa anda tahu bagaimana cara mengetahuinya?" Tanya Sero.
"Aku tidak tahu. Aku rasa kau harus mempelajari sejarahnya dulu di perpustakaan di kota." Jawab Mazo.
"Seperti apa tulisan yang digunakan dalam buku disini?" Tanya Sero.
Tuan Mazo mengambil buku yang ada didalam rak sebuah lemari yang berada dibelakangnya, lalu memberikannya pada Sero.
"Ya ampun, sudah kuduga tulisannya pasti berbeda. Batin Sero.
"Aku tidak mengerti tulisannya, apa anda bisa mengajarkan padaku bagaimana menulis dan membaca?" Tanya Sero.
"Yah, karena aku sedang tidak ada kerjaan saat ini, aku rasa aku bisa membantumu." Ucap Mazo.
"Terima kasih." Ucap Sero.
Dengan serius Sero belajar membaca dan menulis, karena dia penasaran dengan hal hal dibalik semua ini. Siapa yang memanggilnya, untuk apa mereka memanggilnya, apa dia bisa kembali kerumahnya.
Bersambung...