New Adventure

New Adventure
Menyelamatkan desa



"Perjalanan yang harus ditempuh masih jauh. Besok aku akan melanjutkan kembali perjalanan."


...****************...


Matahari mulai terbit dan burung-burung mulai berkicau.


Pcittt....citt....


Suara kicauan burung itu membangunkan Sero yang masih tertidur lelap.


"Hoamm."(Sero menguap)


Udara pagi hari dihutan terasa lebih dingin dari biasanya, untung saja berkat jubah hitam yang Sero kenakan selama tidur, Sero dapat bertahan dari dinginnya udara dimalam hari.


Sero beranjak turun dari atas pohon untuk sarapan. Sero hanya memakan buah yang ia petik kemarin dan roti tawar.


"Hahhh, aku ingin segera makan enak. Apa mungkin aku harus mencoba berburu." batin Sero.


Ia menyantap makanannya dengan lahap agar rasa laparnya hilang.


Perut sudah terisi, saatnya ia melanjutkan perjalanan. Tak ada pemandangan menarik disekitar, hanya pepohonan rimbun dimana mana. Kondisi masih aman tak ada monster yang terlihat.


Diperjalanan Sero menyadari bahwa persediaan airnya saat kini sudah mulai menipis. Kemudian Sero mencoba mencari sumber air disekitarnya.


Tak lama kemudian, didepan Sero menemukan sebuah sungai mengalir dengan air yang jernih. Ia menghampiri sungai tersebut lalu mengisi ulang persediaan airnya.


Beberapa jam kemudian, hari mulai menjelang siang.


Setelah cukup lama berjalan kaki, Sero tiba diujung hutan. Tepat dari tempatnya berdiri Sero melihat ada sebuah desa kecil dibawah. Sero berencana mengunjungi desa tersebut untuk mendapatkan informasi.



Setelah berjalan turun mukai terlihat penduduk desa sedang berkumpul diluar entah untuk apa.


"Hmm..." (Mata Sero melirik kesana)


Setelah diamati kembali dengan teliti, ternyata penduduk desa disana sedang dirampok oleh beberapa orang bersenjata yang menunggangi kuda.


Penduduk dipaksa berkumpul lalu dipaksa untuk berlutut ditanah kemudian mereka diikat.


"Ini gawat, aku harus segera menyelamatkan mereka, tapi bagaimana caranya." batin Sero.


Sero bersembunyi dibalik pohon kemudian berpikir bagaimana cara menyelamatkan penduduk desa dan cara mengatasi para perampok.


"Aku pernah melihat adegan di TV ada seseorang yang menjatuhkan penjahat dengan sekali pukulan, tapi bagaimana caranya?" batin Sero.


Sero mulai ingat…


"Oh jadi seperti itu caranya." batin Sero.


Sero mengintip lalu menghitung berapa banyak jumlah perampok dan berada dimana saja posisi mereka.


Diketahui terdapat delapan orang perampok. Empat orang diantaranya berkeliling desa sembari mengambil barang-barang dan makanan yang ada didalam setiap rumah, lalu sisanya mengawasi para penduduk desa.


Sero kembali memikirkan rencana sambil memegang dagunya.


Ternyata disamping pohon yang ia sandari terdapat tanaman merica.


Sero mendapat ide.


Sero mengambil merica tersebut kemudian menumbuknya dengan menggunakan batu hingga halus. Setelah halus Sero menyobekkan kain putih yang dibawanya lalu membungkusnya.


Sero berharap rencananya kali ini akan berhasil. Tak boleh ada kesalahan, hanya ada satu kali kesempatan.


Sero berlari menyelinap dari hutan dan akan masuk kedalam desa dari samping jauh dari kerumunan itu. Terlihat penduduk yang ditahan oleh perampok itu ketakutan dan beberapa anak kecil mulai menangis. Salah seorang pak tua disana berusaha membujuk para perampok, namun perampok itu justru malah mengatai dan berlaku tidak sopan padanya. Karena merasa tak terima salah seorang pemuda disana mencoba melawan perampok meski tangannya terikat, namun sayang pemuda itu berakhir dipukuli oleh lima orang perampok hingga babak belur.


"Hahahah....dasar bodoh." Ucap para perampok.


Mereka memukuli pemuda tersebut sambil tertawa, layaknya seperti sebuah hiburan.


Sero berhasil masuk kedalam desa tanpa sepengetahuan siapa pun, disana Sero membuntuti salah seorang perampok yang akan memasuki sebuah rumah. Ketika didalam rumah, dengan cepat Sero memukul bagian belakang kepala dan leher perampok dengan telapak tangannya.


Plakk...


Pukulan Sero mengenai titik vital tubuhnya lalu seketika perampok itu langsung terjatuh dan pingsan.


Bruk…(Perampok terjatuh)


Sero langsung membuang senjata perampok lalu mengikat tubuhnya menggunakan tali yang ada disana agar ia tidak kabur.


Satu perampok sudah teratasi. Sero keluar lalu mencari perampok yang lainnya.


Tak jauh dari tempat ia melumpuhkan perampok tadi, Sero mendengar suara seseorang.


"Bagaimana rasanya? enak bukan?"


Curiga dengan suara tersebut, Sero mencari dimana asal suara itu, disetiap rumah dan disetiap celah sempit dengan waspada.


Tak lama kemudian akhirnya Sero menemukan sumber suara tersebut. Suara tersebut berasal dari dalam sebuah gudang kecil. Sero mengintip kedalam dan ternyata didalam terdapat seorang gadis yang sedang dilecehkan oleh perampok.


Terlihat perampok mengancamnya dengan sebuah pisau yang ditodongkan keleher gadis itu. Gadis tersebut hanya bisa menangis karena terjebak dalam dilema.


Melihat kejadian tersebut spontan Sero langsung melumpuhkan perampok itu dengan teknik yang sama seperti yang ia lakukan pada perampok tadi.


Plakk...


"Ahhh..."


Brukk.....


Perampok langsung terbaring tak sadarkan diri, disamping itu Sero berusaha menenangkan si gadis yang masih menangis ketakutan dan depresi.


"Tenanglah, sekarang sudah aman." Ucap Sero sambil memegang pipinya.


Tubuhnya gemetar, air matanya terus mengalir, sungguh gadis yang malang diusianya yang masih sangat muda, ia sudah mendapat perlakukan seperti itu.


"Sudahlah, tenangkan dirimu kini sudah aman." Ucap Sero.


Secara perlahan gadis itu mulai tenang dan berhenti menangis.


"Baiklah, sekarang gadis ini harus kubawa kemana?" Batin Sero.


Tak mungkin Sero akan terus membawanya, karena ini sangat berbahaya. Sero pun mengikat dulu perampok yang tadi, lalu membawa gadis itu ke salah satu rumah.


"Bersembunyilah disini, sampai keadaan sudah aman." Ucap Sero.


Gadis itu hanya mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


Sisa perampok yang sedang memunguti barang tinggal dua orang.


Dengan cepat dan hati-hati Sero berlari mencari sisa perampok. Didepan depan sebuah rumah, Sero mendengar lagi suara seseorang.


"Emm..., enak sekali." Ucap seseorang didalam rumah.


"Astaga kali ini suara apa lagi." Batin Sero.


Sero berpikir kalau ada seseorang yang sedang dilecehkan lagi, jadi dengan bergegas Sero masuk kedalam.


Setelah masuk kedalam rumah tersebut, ternyata…


"Keparat!, kau." Batin Sero


Seorang perampok bertubuh gendut disana ternyata sedang makan.


"Akan kuhabiskan semuanya." Ucap perampok.


Ketika hendak menyuapkan makanannya, dari belakang Sero berkata…


"Kau membuatku panik saja." Ucap Sero tepat dibelakang perampok.


"Hahh." Perampok menoleh kebelakang.


Baakkk....


Sero langsung melumpuhkannya.


perampok langsung pingsan dan mukanya masuk kedalam mangkuk makanannya. Sero langsung mengikatnya diatas kursi tempat ia duduk.


Tak ada kesulitan ketika Sero mengatasi ketiga perampok itu, namun ketika Sero keluar dari sana ternyata ada seorang perampok lain yang lewat.


"Hey!, siapa kau!?" Ucap perampok.


Untung tempatnya saat ini cukup jauh dari perampok yang lain sehingga suaranya tidak terdengar.


Sero langsung menarik pedangnya untuk bersiap bertarung.


Sontak perampok langsung menjatuhkan barang bawaannya, lalu menarik pedangnya dengan mata melotot.


Sero binggung kenapa perampok itu melototi dirinya, entah untuk apa maksud dan tujuannya itu.


"Haa.."


Secara bersamaan dengan teriakannya perampok menyerang Sero dengan mengayunkan pedangnya dari atas.


Plank..


Sero menangkisnya dengan cepat.


Tak diduga ternyata serangan yang dikeluarkan Perampok itu kuat.


"Keparat kauu...!!" Teriak perampok.


Bersamaan dengan ucapannya, perampok kembali menyerang.


Plank...


Sero kembali menangkis serangannya dengan pedangnya, serangannya menjadi lebih kuat.


Sero semakin bingung kenapa perampok itu tiba-tiba berkata kasar dan memasang ekspresi marah, seolah dia memiliki dendam terhadap Sero.


Mata perampok terus melotot menatap Sero walau angin meniupi matanya.


Sero mulai kesal dan merasa terganggu dengan lototannya. Ia mengeluarkan bubuk merica yang dibawanya.


"Mati kau!!" Teriak perampok.


Perampok menyerang sembari melompat ke udara dengan mata yang masih melotot tajam kearah Sero.


Ketika perampok masih diudara Sero langsung melempari mukanya dengan bubuk merica yang ia bawa, buku merica menyebar mengenai kedua bola matanya.


"Ahhh.."


Perampok berteriak kencang sembari menutup matanya karena kepedihan.


Hal yang dia lakukan, menjadi kelemahan dan kebodohan besar bagi dirinya sendiri.


Melihat kesempatan itu, Sero bergegas mendekatinya lalu memukul lehernya dengan menggunakan gagang pedangnya.


Teriakan dari perampok itu ternyata terdengar oleh rekannya yang lain.


Hingga datanglah dua orang perampok yang sebelumnya tengah mengawasi para penduduk dengan berlari menuju sumber suara yaitu tempat Sero berada.


Mereka sampai disana…


"Razino, Aflaran, Verdan kalian ada disini!?" Ucap perampok.


Karena tak ada respon, akhirnya mereka memutuskan untuk berpencar mencari rekannya.


Ini menjadi sebuah kuuntungan bagi Sero. Dengan berpisahnya mereka Sero dapat dengan mudah untuk menjatuhkan keduanya.


Satu perampok sedang berjalan menuju rumah tempat Sero bersembunyi.


"Aflaran!, kau ada disini?" Ucap perampok.


Ketika perampok masuk kedalam ruang tengah, ia melihat rekannya terbaring dengan tubuh terikat tali.


"Apa!!" Ucap perampok.


Dari belakang Sero langsung melumpuhkannya.


Plakk...


Tanpa mengikatnya, Sero langsung bergegas. mengejar perampok yang satunya karena ia sudah pergi cukup jauh.


Setelah ditemukan ternyata dia sudah berada didepan rumah tempat gadis tadi bersembunyi.


Sebelum ia masuk kesana dengan cepat Sero langsung memukul lehernya.


Plakk...


Setelah perampok pingsan, Sero masuk kedalam rumah itu untuk memeriksa apakah keadaan si gadis baik-baik saja.


Ternyata gadis itu masih aman, ia sedang bersembunyi dibawah ranjang. Karena ia tidak kenapa-napa Sero kembali keluar.


Enam orang perampok berhasil dilumpuhkan kini tersisa dua orang. Tanpa rasa takut sero berjalan menuju dua orang perampok terakhir. Terlihat kalau dua orang perampok tersebut sedang menunggu rekannya yang tak kunjung kembali.


Tanpa ragu Sero langsung menampakan dirinya di hadapan mereka. para penduduk beserta perampok kebingungan melihat seseorang yang yang memakai jubah hitam misterius. mereka tak dapat melihat wajahnya karena wajahnya tertutupi.


"Hei keparat Siapa kau!?" Ucap perampok yang menaiki kuda sambil melirik.


"Kalian tidak perlu tahu siapa aku." ucap Sero.


"Sombong sekali kau, diam di sana aku akan merobek mulutmu." Ucap perampok yang satunya sambil berjalan mendekati Sero.


Perampok itu benar-benar meremehkan Sero dia datang tanpa membawa senjatanya. sedangkan Sero hanya diam menunggu dia sampai.


"Terima ini!" Teriak Perampok sambil memukul kearah wajah Sero.


Sero menghindari pukulannya dengan menunduk ke bawah dan membuat pukulan melewati atas kepalanya.


Seketika sebelum tangan perampok turun Sero langsung berdiri dan memukul leher perampok menggunakan telapak tangannya.


Plakk...


Perampok langsung terjatuh pingsan.


melihat Sero yang menjatuhkan seorang perampok bertubuh besar hanya dengan sekali pukul membuat para penduduk berdecak kagum.


Sementara si perampok yang menaiki kuda terheran-heran dengan kemampuannya.


"Bagaimana bisa kau melakukan itu!?"ucap perampok.


Tanpa menjawab pertanyaannya Sero berkata…


"Lepaskan para penduduk." Ucap Sero.


"Tidak semudah itu." Ucap perampok sambil turun dari kudanya.


Perampok menarik pedang lalu mengarahkan ujung pedangnya pada Sero, bermaksud untuk menangtangnya.


"Berduel-lah denganku secara bersih." Ucap perampok.


"Hah, bersih? apa perampok seperti dia bisa dipercaya? padahal aku berniat menaburkan merica ini padanya disaat momen seperti ini." Batin Sero.


Sero menarik pedangnya lalu memasang kuda-kuda seperti yang pernah diajarkan Aumus. Kedua tangannya memegang gagang pedang dan siap untuk menyerang maupun bertahan.


Perampok mengangkat pedangnya ke langit lalu berkata…


"Seni pedang surya : pedang cahaya." Ucap perampok.


Secara tiba-tiba pedangnya menguarkan cahaya yang begitu terang dan silau yang bisa membuat siapapun buta sementara.


Untungnya Sero memakaikan tudung jubahnya sehingga ia bisa terlingdung dari silauan pedang perampok.


Dengan cepat perampok berlari mendekat lalu menebas Sero dari depan. Secara tak sengaja Sero berhasil menangkis serangannya.


Ada yang aneh dari kejadian tersebut, perampok menyerang Sero dari jarak dekat, sedangkan cahayanya masih diam ditempat ia mengangkat pedangnya tadi. Hal ini membuat Sero kesulitan untuk melihat pergerakan dari perampok.


Tak hanya satu kali tebasan, tebasan lainnya terus berdatangan dari segala arah. Serangan ini membuat Sero semakin terpojok karena sulit melihat kedepan. Walau begitu arah tebasan masih bisa sedikit terlihat.


Tebasan selanjutnya datang dengan posisi horizontal. Sero langsung berguling kesamping depan sembari menghindar dan membuat posisi Sero membelakangi cahaya.


Kini Sero dapat melihat dengan jelas.


Perampok berbalik lalu kembali menyerang Sero. Ternyata cahaya yang ia keluarkan tidak berpengaruh pada dirinya sendiri.


Serangan Perampok begitu cepat dan membuat Sero tak memiliki kesempatan menyerang. Sero hanya menghindar dan menangkis setiap serangannya.


Para penduduk menundukan kepala sambil memejamkan mata. mereka tak bisa melihat perkelahian antara Sero dengan perampok dan hanya bisa mendengar suara bising akibat adu pedang.


"Keparat! cepatlah serang balik!." bentak perampok.


"Aku mengerti sekarang." Batin Sero.


Mendengar ucapannya Sero mulai menyerang balik perampok, namun setiap tebasan Sero tak berpengaruh.


"Lemah!!" Bentak perampok.


Bersamaan dengan bentakannya, ia menebas Sero arah kanan. Tanpa Sero tangkis Sero melangkah mundur, setelah tebasannya terhindar dengan cepat Sero menebas bahu perampok.


Slashh...


"Euhh.."


Tebasan Sero tepat sasaran.


Sero sengaja menghindari dan menangkis setiap serangan perampok dengan tujuan untuk mengetahui pola serangannya, dan kini Sero sudah mengetahui pola serangan yang digunakan perampok.


Perampok kembali menyerang, ia menebas dengan posisi pedang horizontal. Sero menunduk lalu setelah tebasan tersebut melewatinya, Sero menebas kaki perampok dengan cukup kuat.


Slasshh....


Karena perampok memakai sebuah pelindung kulit dikakinya, sehingga membuat yang ditimbulkan tidak terlalu berat dan hanya membuat perampok bertekuk lutut.


Sero tak menyianyiakan kesempatan itu, ketika perampok masih bertekuk lutut tanpa ragu Sero langsung menebas punggung perampok.


"Aarrggg!" Teriak perampok.


Tebasan Sero menimbulkan luka cukup dalam dan besar.


Walau begitu perampok tetap masih ingin kembali bertarung. Perampok berdiri kemudian mengayunkan pedangnya dari atas mengincar wajah Sero.


Seketika Sero menghindar kesamping sembari menebas perutnya.


"Aarrrggg." Teriak perampok.


Luka yang didapatkan perampok sudah cukup fatal, Sero khawatir jika perampok itu akan mati. Jadi Sero mengakhiri pertarungan dengan menjatuhkan perampok.


Plackk....


Perampok seketika langsung tak sadarkan diri, dan cahaya perlahan mulai hilang.


Ketika cahaya hilang sepenuhnya, para mulai membuka matanya dan melihat orang berjubah hitam telah mengalahkan sang perampok.


Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut penduduk. Perasaan mereka bercampur antara kagum dan takut.


Sero berjalan menghampiri para penduduk yang terikat.


Ketika sampai Sero melepaskan ikatan salah satu orang lalu memintanya untuk membantu melepaskan ikatan tali yang lainnya.


Begitu ikatan tali semua orang terlepas, salah seorang pak tua menghampiri Sero lalu berkata…


"Tuan, perkenalkan nama saya Oris, saya adalah ketua didesa ini. Terima kasih atas pertolongan anda." Ucap pak tua.


"Tuan!? baru kali ini aku dipanggil Tuan." Batin Sero.


"Jika anda tidak datang, entah akan bagaimana nasib kami, kami benar-benar sangat berterima kasih." Ucap Oris.


"Oh ya, jadi kakek ini yang tadi berusaha membujuk perampok." Batin Sero.


"Sama-sama." Ucap Sero.


"Ohya, apa anda sedang dalam perjalanan?" Tanya Oris.


"Ya, saya sedang menuju hutan Demicaus." Jawab Sero.


"Wah, perjalanan yang jauh ya, Apa anda sedang terburu-buru?" Tanya Oris.


"Untuk saat ini tidak." Ucap Sero.


"Baguslah kalau begitu, jika anda berkenan bagaimana kita mengobrol sebentar didalam ruangan?" Tanya Oris.


"Baiklah." Ucap Sero.


"Oh ya sebelum itu, aku sudah melumpuhkan para perampok didalam desa, beberapa orang perampok aku simpan didalam rumah dalam keadaan terikat. Jadi tolong diurus mereka." Ucap Sero.


"Baiklah, tolong kalian urus mereka ya." Ucap Oris pada para penduduk dibelakangnya.


"Baik, tuan Oris." Ucap para penduduk.


"Kalau begitu Tuan tolong ikuti saya." Ucap Oris.


Sero mengikuti kakek Oris masuk kedalam desa bersama dengan seluruh penduduk desa dibelakangnya.


Dijalan kakek Oris bertanya…


"Oh ya Tuan, boleh saya tahu siapa nama anda?" Tanya Oris.


Apa jawaban Sero!?


BERSAMBUNG....