
"Sudah kuputuskan, aku akan membuat penduduk desa ini sejahtera dan akan kusembuhkan semua orang yang sakit." Batin sekaligus tekad Sero.
...****************...
Sampailah mereka didepan sebuah rumah. Rumah tersebut tampak tak berpenghuni, namun masih terawat dan bersih. Mereka memasuki rumah tersebut, dan ketika didalam kakek Oris berkata...
"Ini adalah rumah yang pernah tabib desa dulu tinggali. Saat ini tak ada seorang pun yang menghuni rumah ini. Jadi anda dapat beristirahat disini. Kami juga sudah menyiapkan makanan untuk anda santap diruang makan." Ucap Oris.
"Apa masih ada yang kurang?" Tanya Oris.
"Saya rasa ini sudah cukup, terima kasih banyak." Ucap Sero.
"Kalau begitu saya pamit, jika ada perlu sesuatu anda bisa menghubungi saya. Semoga anda nyaman dirumah ini." Ucap Oris sambil meninggalkan rumah.
Tampak dari dalam, rumah tersebut terlihat cukup sederhana dengan fasilitas yang terbilang cukup lengkap. Karena merasa lelah dan lapar, Sero pun segera menuju ruang makan untuk menyantap makanan yang telah disediakan, dan setelah itu ia berencana untuk mandi dan langsung tidur.
...********Keesokan harinya********...
Hari telah berganti dan matahari mulai terbit. Seluruh energi Sero telah terisi kembali setelah mendapat tidur yang sangat nyenyak, karena sebelumya Sero tidur diatas pohon. Sero langsung beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk mengusir kantuk.
Dua jam kemudian setelah Sero membersihkan dirinya, datanglah seseorang dari luar yang ternyata adalah kakek Oris. Sero membukakan pintu agar kakek Oris bisa masuk. Lalu mereka pun mulai berbincang.
"Bagaimana dengan istirahat anda?" Tanya Oris.
"Sangat baik, tubuhku sekarang terasa segar." Ucap Sero.
Mereka berbincang sekitar beberapa menit, dan akhirnya kakek Oris mengungkit kembali perkataan Sero waktu kemarin malam.
"Jadi, apa anda bisa mengobati warga kami yang sakit?" Tanya Oris.
Tanpa ragu Sero menjawab...
"Ya, aku bisa." Jawab Sero.
"Syukurlah, kalau begitu." Ucap Oris.
Mendengar jawaban jelas dari Sero membuat Oris merasa lega dan senang. Oris sangat berharap dan percaya pada Sero bahwa Sero dapat menyembuhkan warganya yang sakit. Tak lama kemudian mereka beranjak keluar dari dalam rumah.
...********Diluar********...
Setelah berada diluar, Sero bersama kakek Oris berjalan kembali menuju tempat orang sakit untuk memastikan kembali sakit yang mereka alami agar Sero tidak salah dalam memilih obat.
Diperjalanan menuju kesana, terlihat sekumpulan anak-anak yang berlarian mendatangi Sero. Sero terheran-heran dengan kedatangan anak-anak itu, lantas Sero pun berhenti sejenak. Sekumpulan anak-anak itu berhenti dihadapan Sero dan salah satu gadis kecil paling depan terlihat sedang membawa sesuatu.
"Tuan Cortesius, tolong terima ini." Ucap gadis dengan gugup sembari memberikan sesuatu.
Dengan kedua tangan kecilnya, gadis tersebut memberikan sebuah benda yang terlihat seperti gelang. Tak hanya gadis tersebut, tampak anak-anak yang lain dibelakangnya juga ikut gugup. Sero bertekuk lutut lalu menerima benda yang diberikan gadis kecil tersebut.
"Ini?" Tanya Sero.
"Itu adalah gelang buatan kami sendiri, hadiah untuk Tuan Cortesius, tolong diterima." Ucap gadis dengan gugup.
Itu adalah sebuah gelang yang terbuat dari berbagai cangkang kerang dengan beberapa bulu burung berwarna merah dan biru yang membuat gelang tersebut terlihat cantik. Tanpa lama-lama Sero langsung memakai gelang tersebut pada tangan kirinya.
"Apa anda menyukainya?" Tanya gadis dengan gugup.
"Ya, aku menyukainya. Terima kasih." Ucap Sero dengan lembut.
Mendengar tanggapan baik dari Sero, anak-anak tersebut terlihat senang dan mulai tersenyum. Sama halnya dengan Kakek Oris, ia terlihat tersenyum setelah mendengar tanggapan Sero.
"Syukurlah. Sampai jumpa Tuan Cortesius." Ucap anak-anak sembari pergi.
Meskipun mendapatkan hadiah yang sederhana dari anak-anak, ternyata itu membuat hati Sero terasa hangat. Ia merasa senang mendapatkan hadiah tersebut, karena hadiah gelang yang Sero terima adalah hasil upaya dari anak-anak itu sendiri.
"Entah kenapa rasanya berbeda dari saat mendapat hadiah ulang tahun. Walaupun hadiahnya tak mewah tapi aku benar-benar senang." Batin Sero.
Kemudian Sero meneruskan perjalanannya. Sepanjang perjalanan Sero disapa dengan hangat oleh orang-orang sekitar. Senyuman terlihat diwajah setiap orang yang ia lewati, suasana seluruh isi desa begitu damai dan tentram.
Hingga sampailah Sero dan kakek Oris ditempat yang mereka tuju.
Ketika didalam, tanpa berlama-lama Sero langsung mendatangi setiap orang yang sakit untuk memastikan kembali sakit yang mereka alami. Ketika ia sampai dihadapan salah satu orang sakit yang terbaring, ia melihat kondisi orang tersebut menjadi lebih parah dari sebelumya. Begitu pula dengan orang disebelahnya, kondisi mereka semakin melemah. Terlihat orang yang bersama mereka semakin khawatir. Sedangkan untuk kondisi yang lain masih sama seperti sebelumya. Melihat kedua orang tersebut membuat Sero harus segera membuat obat untuk menyembuhkan mereka.
Tak lama kemudian Sero secara tak sengaja menoleh ke arah pemuda yang kemarin sempat dikeroyok, ia pun teringat dengan sesuatu.
"Tuan Oris boleh saya meminta lempengan kayu dan kain tak terpakai?" Tanya Sero.
Salah seorang disana ternyata mendengar pertanyaan Sero dan ia menjawab…
"Saya punya! tolong tunggu sebentar." Ucap orang tersebut.
Orang tersebut kemudian pergi keluar, lalu tak lama kemudian ia kembali dengan membawa barang yang telah disebutkan.
"Ini." Ucap orang tersebut sambil memberikan barang.
Kakek Oris tampak kebingungan, untuk apa Sero meminta barang tersebut, kemudian ia bertanya…
"Untuk apa semua itu Tuan Cortesius?" Tanya Oris.
"Aku akan menggunakan ini untuk membantu penyembuhan patah tulang yang diderita orang itu." Ucap Sero sambil melihat kearah pemuda yang kemarin telah dikeroyok perampok.
Lalu Sero mendatangi pemuda tersebut bersama kakek Oris. Lantas ketika sampai, pemuda itu terkejut lalu berkata.
"Apa kabar Tuan Cortesius, saya Rida senang bisa bertemu." Ucap Sero.
"Baik, bagaimana kondisimu?" Tanya Sero.
"Luka-luka ditubuhku mulai membaik, hanya saja kakiku masih terasa sakit dan mati rasa." Jawab Rida.
"Kalau begitu, biarkan kakimu seperti itu dan jangan kau gerakkan." Ucap Sero.
Kemudian Sero mematahkan lempengan kayu yang dipegangnya menjadi dua bagian, lalu meletakkannya pada kaki pemuda tersebut yang patah. Kakinya terlihat lebam dan berwarna biru.
"Apa yang anda lakukan?" Tanya Rida.
"Aku akan memasang kayu ini pada kakimu, agar kau tidak terlalu banyak menggerakkannya." Jawab Sero.
Sero melilit kakinya beserta lempengan kayu menggunakan kain yang ia pinta. Ketika Sero melilit kakinya, sesekali pemuda tersebut merintih kesakitan karena lukanya secara tak sengaja tertekan. Lempengan kayu itu berguna sebagai penyangga atau bidai agar ia tak banyak menggerakkan kakinya dan akhirnya Sero selesai melilit kakinya.
"Terima kasih banyak atas bantuan dan pertolongan anda, saya benar-benar sangat berterima kasih, Tuan Cortesius." Ucap Rida dengan tulus.
"Sudahlah tak apa, aku hanya menjalankan kewajibanku." Ucap Sero.
Mereka pun saling berbincang untuk beberapa saat. Terkadang Sero melontarkan beberapa candaannya kepada pemuda tersebut, dan itu membuat beberapa orang disekitar yang mendengarnya tertawa termasuk kakek Oris. Selain untuk menjalin hubungan, hal ini ia lakukan agar bisa akrab dan mendapat kepercayaan dari penduduk desa.
Setelah beberapa saat berbincang, Sero ingat bahwa dirinya harus pergi mencari tanaman obat. Oleh karena itu, Sero meminta sesuatu pada kakek Oris.
"Tuan Oris, boleh saya minta sesuatu?" Tanya Sero.
"Ya, tentu saja, apa yang anda minta?" Tanya Oris.
"Aku membutuhkan setidaknya tiga orang relawan untuk membantuku mencari tanaman obat." Ucap Sero.
Tak lama kemudian, setelah mendengar permintaan Sero, tiga orang penduduk didekat Sero langsung mengajukan diri. Mereka bilang, mereka siap membantu Sero mencari tanaman obat. Kakek Oris berkata ketiga orang tersebut bernama Ranta, Tohru, dan Abara. Mereka adalah mantan petualang dikerajaan Torki, jadi mereka dapat diandalkan. Hal itu membuat Sero cukup lega karena apabila ketika dihutan nanti mereka bertemu dengan monster, maka Sero tidak akan terlalu kerepotan, sebab mereka bertiga pasti memiliki pengalaman yang cukup dalam menghadapi pertarungan.
"Apa masih ada yang anda perlukan?" Tanya Oris.
"Aku rasa sudah cukup." Jelas Sero.
"Kalau begitu siapkan barang-barang kalian, kita akan berangkah sekarang." Ucap Sero pada ketiga relawan.
"Baik." Ucap ketiga relawan.
Kemana mereka akan pergi?
BERSAMBUNG.....