
Kisah ini berawal dari seorang pemuda tampan dan cerdas, yang bernama Sero Hotaru. Sero adalah seorang remaja biasa yang tidak terlalu populer disekolahnya, namun ia memiliki teman yang cukup banyak.
Kala itu, Sero sedang menghadiri acara kelulusannya setelah belajar selama tiga tahun disekolah menengah atas, dan kini usianya telah menginjak tujuh belas tahun.
Tak ada perasaan bangga dihatinya, meskipun ia telah meraih prestasi yang bagus selama ia bersekolah. Baginya sendiri mendapat prestasi seperti masuk sepuluh besar, bukanlah sesuatu yang harus dibanggakan. Alasan utama ia ingin masuk sepuluh besar adalah agar bisa membanggakan kedua orang tuanya.
Seperti acara kelulusan pada umumnya, acara tersebut berlangsung begitu ramai dan meriah, disertai dengan beberapa hiburan seperti teater yang dibumbui adegan komedi sehingga membuat para penonton tertawa.
Sero memiliki kepribadian Ambivert, yang artinya Sero bukanlah seorang pendiam dan bukanlah seorang yang aktif. Kepribadian ini berada ditengah antara keduanya.
Sero tidak terlalu suka dengan acara yang terlalu meriah seperti acara kelulusannya tersebut, namun karena ini adalah hari terakhirnya disekolah ia berusaha untuk menikmatinya. Untungnya Sero berada bersama dengan teman-teman terdekatnya, sehingga suasana meriah yang menggangunya dapat ternetralisir dan membuatnya cukup nyaman.
...****************...
Akhirnya setelah bertahan selama beberapa waktu, acara pun mulai berakhir. Terlihat sebelum para siswa dan guru pulang dari sekolah, mereka saling bersalaman bahkan saling meminta maaf satu sama lain. Acara yang awalnya berlangsung meriah dengan gelak tawa, berakhir dengan sebuah tangisan yang dalam. Setiap orang saling menyemangati satu sama lain disaat tengah bersedih dan kata-kata mutiara dari para guru mulai terlontarkan. Peristiwa mengharukan itu terjadi selama kurang lebih satu jam, dan setelahnya para siswa pulang kembali ke rumahnya masing-masing dengan perasaan yang lega.
Sampailah Sero dirumahnya.
"Aku pulang!" Ucap Sero.
"Selamat datang Sero, bagaimana dengan acara kelulusanmu?" Tanya ibu Sero.
"Barjalan dengan lancar bu." Jawab Sero.
"Bagus, ayo makan dulu, ibu masakin makanan kesukaanmu sebagai hadiah atas kelulusanmu." Ucap ibu Sero tersenyum.
Dengan perasaan semangat dan senang, Sero menghampiri meja makan dan duduk berhadapan dengan ibunya. Rasa lapar telah menemaninya semenjak ia masih berada disekolah, tanpa berlama-lama Sero pun langsung mengambil nasi dan lauk pauk dihadapannya kemudian menyantapnya dengan lahap. Cita rasa dari masakan ibunya begitu lezat dan sedap, membuatnya tak ingin berhenti memakan setiap hidangan yang disajikan oleh ibunya. Bagi Sero sendiri, ibunya adalah koki terbaik yang pernah ada.
Setelah menghabiskan makanannya, Sero bergegas berjalan menuju kamarnya untuk mengganti pakaian.
"Akhirnya, waktu luang yang panjang telah datang." Batin Sero setelah ganti pakaian.
Kemudian Sero mengambil makanan ringan, barang-barang seperti komik dan smart phone lalu membuat dunianya sendiri untuk bermalas-malasan.
...****************...
Beberapa hari telah berlalu. Selama hari libur Sero hanya menghabiskan waktunya dengan membaca komik dan bermain game dikamar. Ia pun mulai merasa bosa. Hingga suatu ketika, terlintas dipikirannya untuk mencoba berjalan-jalan keluar rumah.
Waktu mulai menunjukkan pukul tiga sore. Dengan memakai sweeter putih dan celana jeans hitam, Sero sudah siap untuk pergi keluar.
"Bu! aku pergi!" Ucap Sero sembari membuka pintu.
...****************...
Dengan santai Sero berjalan dijalanan desa yang sepi. Angin dingin berhembus dengan pelan, membuat Sero langsung memasukkan tangannya kedalam saku sweeter yang ia kenakan.
Pemandangan langit senja, menemaninya sepanjang perjalanan. Hampir tak ada seorang pun disepanjang jalan yang Sero lalui, kecuali kucing liar yang berlarian kesana sini. Hal itu membuat suasana desa yang awalnya selalu ceria dipenuhi anak-anak yang bermain, kini menjadi begitu tenang dan damai.
"Andai saja dari dulu berjalan-jalan seperti ini." Batin Sero
Saat sedang berjalan, Sero melihat sebuah jempatan penyebrang sungai yang baru dihadapannya padahal sebelumya jempatan itu tak pernah ada. Sero pun menghampiri jembatan baru tersebut untuk mencobanya.
Ketika ia sedang melewati jembatan tersebut, tiba-tiba terdengar suara aneh yang terdengar sangat dekat dan jelas.
"Beratto zettire koripa despa."
Sontak Sero langsung menoleh kebelakang, namun dibelakangnya tak ada siapa-siapa. Hal ini membuat kebingungan dan terheran-heran.
"Mungkin hanya perasaanku saja." Batin Sero.
Tanpa mempedulikan suara tersebut, Sero kembali melanjutkan perjalanannya.
...****************...
Setelah berjalan kaki sekitar tiga puluh menit, Sero sampai disebuah kota. Terdengar suara bising dari kendaraan dan klakson yang membuat suasana menjadi berubah.
Tanpa berlama-lama Sero pun melahap makanan pesanannya dengan perlahan untuk menikmati setiap rasa yang ada pada makanannya. Ketika ia sedang asik menyantap makanannya, tiba-tiba terdengar kembali suara aneh yang sebelumya Sero dengar.
"Siro anikza de branto nisgu."
"Beratoman!!, zukri tomito."
Sero kembali menoleh kebelakang, namun lagi-lagi asal suara tersebut tak ia temukan. Dibelakangnya tak ada siapapun kecuali seorang pegawai restoran yang sedang menyapu lantai. Terdengar kembalinya suara tersebut, membuat Sero merasa resah. Tak mungkin suara tersebut disebabkan serangga yang melintas didekat telinganya, sedangkan suara yang ia dengar seperti sebuah suara perbincangan antar seseorang.
"Sebenarnya suara apa yang kudengar tadi?" Batin Sero.
Lagi-lagi Sero tak menghiraukannya dan kembali fokus dengan makanannya. Setelah menghabiskan makanannya Sero beranjak dari tempat duduknya dan pergi keluar restoran.
Perut yang sudah kenyang membuat hati Sero senang. Sero berencana pulang dengan mengambil rute yang lebih jauh dari biasanya agar ia bisa menikmati jalan-jalan sorenya lebih lama lagi.
Terlihat, dengan perlahan matahari mulai terbenam. Sebelumya Sero tak pernah melihat pemandangan indah seperti itu karena ia jarang keluar rumah. Suara bising orang-orang dan dari kendaraan mulai menghilang. Sero pun mulai melupakan kejadian aneh yang telah menimpanya sebelumya, dan kini rasa resah dihatinya mulai hilang.
Tak terasa ternyata hari sudah gelap dan Sero dalam perjalanan pulang. Sama seperti sebelumya ia kembali melewati sebuah jembatan penyebrang sungai yang sebelumya telah ia lewati. Dan lagi-lagi untuk ketiga kalinya Sero mendengar suara aneh seperti sebelumya.
"Tespa, tespa!!"
"Tespa, onomina tu keza."
"Brundaz paliznnnnnnniinnngggg."
Berbeda dengan sebelumya, suara tersebut terdengar lebih keras dan sangat nyaring. Dan tiba-tiba setelah terdengarnya suara tersebut, Sero merasakan sakit kepala dibarengi dengan rasa mual diperutnya. Sakit kepala yang dirasakannya begitu hebat sehingga Sero merintih kesakitan sembari memegang kepalanya. Sekali-kali ia sempat ingin muntah, namun beberapa detik kemudian semua gejala yang dirasakannya hilang seketika dan membuat Sero terkejut akan hal itu.
Keringat membasahi dahinya disebabkan sakit kepala yang ia rasakan sebelumya. Tubuhnya mulai terasa lemas dan kepalanya mulai terasa pusing akibat dari gejala tadi yang tiba-tiba menghilang. Dengan segera ia pun berjalan menuju rumahnya untuk beristirahat.
...****************...
Sesampainya dirumah, pusing dikepalanya telah sepenuhnya menghilang namun rasa lemas pada tubuhnya masih terasa.
"Aku pulang!" Ucap Sero sembari memasuki rumah.
Setelah melepas sepatunya, Sero mencium wangi makanan yang sangat harum yang ternyata berasal dari dapur. Sero pun berjalan kesana untuk makan.
Ketika sedang makan malam bersama ibunya, Sero terdiam memikirkan kejadian aneh yang menimpanya sebelumya. Hingga makanannya mulai dingin.
"Ada apa Sero?" Tanya ibu Sero khawatir.
"Tidak ada bu." Ucap Sero kembali melanjutkan memakan makanannya.
Setelah selesai makan, Sero beranjak dari tempat duduknya lalu dengan segera ia pergi ke kamarnya. Sero melakukan itu dikarenakan tubuhnya yang masih terasa lemas dan lelah, sehingga ia ingin secepatnya tidur. Tanpa mengganti pakaiannya yang mengenakan sweeter putih dan celana jeans hitam, Sero langsung berbaring dikasurnya dan mulai tertidur dengan pulas.
...****************...
Berjam-jam telah berlalu. Sero mulai merasakan hal aneh.
Suhu udara tiba-tiba menjadi dingin dan tempat tidurnya tiba-tiba menjadi keras. Sero merasakan hal tersebut namun karena rasa kantuk masih menguasainya, jadi ia tak mempedulikannya. Tak lama setelah itu, terdengar suara burung yang berkicau, layaknya sebuah alarm yang berusaha membangunkan Sero namun Sero tak menghiraukannya dan berusaha untuk kembali tertidur.
Sero mulai menggigil kedinginan dikarenakan suhu udara semakin menurun. Sero mulai meraba-raba sekitarnya untuk mencari selimut, akan tetapi justru yang ia rasakan disekelilingnya adalah rumput. Menyadari hal itu, Sero terkejut dan langsung terbangun.
"ASTAGA! DIMANA INI!?" Ucap Sero dengan panik.
Matanya terbuka lebar karena syok dengan apa yang ada dihadapannya. Ia melihat pepohonan dan rumput dimana-mana. Sero pun segera mengambil nafas panjang, lalu menghembuskannya agar ia bisa tenang ditengah situasinya saat ini. Sero melakukan hal tersebut selama beberapa saat sampai dirinya bisa tenang.
Setelah tenang, Sero mengecek kondisi tubuhnya dan kembali melihat ke sekelilingnya untuk memastikan keadaan yang sesungguhnya. Rasa lemas ditubuhnya kini sudah hilang sepenuhnya. Dan setelah Sero melihat ke sekelilingnya, ia sadar bahwa ia memang sedang berada ditengah hutan. Kebingungan melanda pikirannya dan berbagai macam pertanyaan mulai bermunculan didalam kepalanya.
Setelah terdiam cukup lama, Sero berdiri lalu berjalan mencari jalan keluar dari hutan tersebut.
Apakah yang akan terjadi padanya setelah ini?
.......BERSAMBUNG.......