New Adventure

New Adventure
Kekuatan baru



"Kalau begitu siapkan barang-barang kalian, kita akan berangkah sekarang." Ucap Sero pada ketiga relawan.


"Baik." Ucap ketiga relawan.


...****************...


Dimulailah perjalanan mereka menuju kedalaman hutan untuk mencari tanaman obat yang dibutuhkan. Sebelum berangkat, ketiga relawan itu membekali diri mereka masing-masing dengan persenjataan yang memumpuni sebagai persiapan jika terjadi pertarungan. Ketika dalam perjalanan, Abara bertanya…


"Tanaman obat seperti apa yang akan kita ambil Tuan Cortesius?" Tanya Abara.


Abara adalah mantan petualang dari kelas warrior dengan pangkat platina. Abara memiliki postur tubuh layaknya seorang petarung. Tubuhnya tinggi dan berotot dengan rambutnya yang panjang. Alasan ia berhenti menjadi petualang adalah karena ia harus mengurus sekaligus menjadi tulang punggung keluarganya dikarenakan ayahnya telah tiada.


Sero telah mengambil beberapa tanaman obat sebelum ia sampai didesa, jadi ia menunjukkan semua tanaman obat yang ada didalam tasnya kepada mereka bertiga.


"Ambillah semua tanaman yang terlihat seperti ini." Ucap Sero sambil menunjukkan tanaman obat yang ada didalam tasnya.


Dilihat dari ekspresi mereka, bisa diketahui bahwa mereka sebelumya tidak mengetahui bahwa itu adalah tanaman obat. Tanaman obat yang ditunjukkan Sero adalah tanaman herbal seperti lidah buaya, kumis kucing, sirih, dan binahong.


"Berapa banyak?" Tanya Abara.


"Ambillah sebanyaknya. Namun jika kalian menemukan tanaman obat yang lain, maka ambil saja." Ucap Sero.


Selama dalam perjalanan, ketiga relawan itu tak banyak berbicara. Pandangan mereka hanya tertuju kedepan, mengikuti Sero dari belakang. Hingga beberapa menit kemudian mereka sampai dihutan yang terletak cukup jauh dari desa.



Hutan itu terlihat begitu lebat dan subur. Setiap udara yang dihirup disana terasa segar dan bersih. Dikarenakan masih pagi, udara disana terasa sejuk. Tak lama kemudian para relawan mulai berpencar untuk mencari tanaman obat yang dibutuhkan Sero.


Ternyata hampir semua tanaman obat yang Sero butuhkan tersedia cukup melimpah didalam hutan tersebut. Ketika Sero hendak mengambil tanaman obat didekatnya, terlintas sebuah pemikiran.


"Karena ini bukan bumi, seharusnya terdapat tanaman obat lain yang asing bagiku. Bagaimana aku akan menggunakannya?


Ya sudah akan kutanyakan saja pada yang lain nanti." Batin Sero.


Mereka semua terlihat begitu fokus mencari tanaman obat. Terutama ranta yang terlihat kebingungan dan ragu membedakan mana tanaman obat dan mana tanaman biasa. Sebaliknya dengan Tohru, ia begitu paham dan dapat membedakan mana tanaman obat.


Ranta adalah mantan petualang dari kelas Warrior, sama seperti Abara. Hanya saja pangkatnya lebih rendah yaitu perunggu. Ranta memiliki postur tubuh yang sedikit pendek dan kecil dari Abara. Sedangkan Tohru adalah mantan petualang dari kelas Pendeta dengan pangkat platina dan memiliki postur tubuh seperti Ranta.


Ketika mereka sedang sibuk mencari tanaman obat, tiba-tiba muncullah lima Orc yang datang entah dari mana.


"MUSUHH!" Teriak Abara.


Mengetahui monster mendatangi mereka, dengan sigap mereka langsung mengeluarkan senjata dan memasang kuda-kuda.


"ROOAARRRRR"


Dengan terburu-buru kelima Orc langsung berlari mendekati mereka. Beberapa dari mereka membawa sebuah dahan pohon yang cukup besar sebagai senjata. Kemudian salah satu Orc melemparkan dahan pohon yang ia pegang ke arah Sero.


"AWASS!" Teriak Tohru.


Dengan cepat Sero berlindung dibalik pohon besar didepannya, sehingga ia bisa selamat dari kemungkinan terburuk.


Ketika Orc sudah dekat Orc langsung menyerang mereka dengan membabi buta, mereka terlihat benar-benar ganas dan menyeramkan. Yang mengejutkan ternyata Sero didatangi dan langsung berhadapan dengan dua Orc sekaligus, sedangkan yang lain hanya berhadapan dengan satu Orc saja. Sero pun sangat terkejut dan hampir panik. Tanpa ragu mereka menyerang Sero baik itu dengan pukulan atau dengan dahan pohon.


Brrukkk


Setiap pukulan yang berikan Orc itu begitu keras sampai bisa menghancurkan sepertiga dari batang pohon yang dipukulnya. Sero kesulitan untuk menyerang balik, setiap ia ingin menebas, selalu saja datang serangan dari Orc. Semua serangan yang diberikan Orc itu sangat berbahaya dan cukup mematikan. jika ia terkena satu pukulannya saja, sudah pasti cedera yang diterimanya akan fatal.


Disamping itu, Sero mengkhawatirkan Tohru. karena kelasnya adalah pendeta jadi kemungkinan ia tidak bisa melawan balik. Namun, ditengah situasinya saat ini, ia harus mementingkan keselamatannya sendiri.


Ketika ia sibuk melawan dua Orc dan hampir kewalahan, tiba-tiba terdengar suara bisikan perempuan ditelinganya.


"Ayunkan pedangmu."


Bisikan itu membuat Sero bingung dan heran. Dari mana datangnya suara bisikan itu, itulah pertanyaan yang langsung terlintas dipikiran Sero.


Karena situasi Sero yang sangat terdesak, akhirnya ia mencoba untuk mengikuti suruhan bisikan itu.


"Baiklah akan kucoba" batin Sero.


Dengan cepat ia berlari menjauh dari kedua Orc itu agar ia bisa mendapatkan kesempatan untuk mengayunkan pedangnya. Dikarekan tubuh mereka yang besar, kedua Orc itu kesulitan untuk mengejar Sero, karena pepohonan yang lebat menghalangi mereka. Tampak kedua Orc dengan bersikeras mencoba mengejar Sero dengan menghancurkan pepohonan dihadapannya, sehingga beberapa pohon mulai tumbang.


Setelah posisinya cukup jauh dari kedua Orc, Sero berhenti lalu berbalik dan menatapi kedua Orc yang berusaha menghampirinya. Tanpa berlama-lama Sero langsung memasang kuda-kuda dan bersiap mengayunkan pedangnya.


Ketika pedang telah Sero angkat, Sero merasakan sesuatu mengalir keluar dari tangannya dan masuk kedalam pedang yang ia pegang. Lalu tiba-tiba muncul kilatan petir dari pedangnya, hal itu membuat Sero terkejut dan terheran-heran. Semakin lama, kilatan petir itu semakin membesar dan membuat pedang yang dipegangnya terasa semakin berat.


Orc mulai semakin mendekat. Melihat hal itu Sero langsung mengayunkan pedangnya ke arah langit, lalu keluarlah petir besar dari ayunan pedangnya. Dengan secepat kilat, petir itu menyambar kedua Orc dihadapannya dan membuat hancur segala benda disekitarnya.


"ROOAARR." Teriak Orc.


Seketika kedua Orc itu langsung tergeletak dan tewas. Puing-puing kecil dari pohon yang hancur berjatuhan dari atas langit layaknya sebuah hujan.


Serangan tadi membuat Sero merasa kagum dan terpana karena melihat efek luarbiasa didepan matanya. Beberapa saat kemudian Sero kembali sadar bahwa rekannya sedang dalam kesulitan, jadi dengan segera ia bergegas berlari untuk menemui yang lain dan membantu mereka.


Ketika ia sampai, ternyata Abara berhasil mengalahkan Orc yang ia lawan dan kini ia sedang membantu Tohru yang tak bisa berbuat banyak untuk melawan balik Orc. Disamping itu Sero melihat Ranta yang terluka akibat serangan Orc, dengan cepat Sero pun langsung datang dan membantunya.


Serangan Orc pada Ranta begitu cepat dan membabi buta. Namun Ranta terlihat mampu mengatasi setiap serangannya walau sedang terluka. Dari belakang, secara tiba-tiba Sero menebas leher Orc itu dan membuat darah menyembur deras dari lehernya. Seketika Orc mulai melemah, dan disaat itu Ranta langsung menusuk dadanya dan Orc pun tewas.


"Terima kasih, Tuan Cortesius." Ucap Ranta.


Secara bersamaan setelah Ranta membunuh Orc, Abara pun ikut selesai dengan pertarungannya. Setelah itu, mereka kembali berkumpul untuk memastikan kondisi dari setiap orang. Mengetahui bahwa Ranta terluka, dengan segera Tohru menghampirinya kemudian menyembuhkan lukanya dengan sihirnya.


"Wahai cahaya yang melindungi kami, sembuhkanlah luka yang dideritanya. Health!" Ucap Tohru sembari mengulurkan tangannya pada luka Ranta.


Sebuah lingkaran sihir keluar dari pengerlangan tangannya lalu luka yang diderita Ranta secara perlahan mulai pulih.


Baru kali ini Sero melihat seseorang yang menyebutkan mantra sebelum menggunakan sihir. Karena sebelumnya Sero biasa melihat Tuan Mazo ketika menggunakan sihir ia langsung menyebutkan nama sihir yang akan digunakannya.


"Baiklah, sekarang kita kembali mencari tanaman obat. Lakukanlah dengan cepat sebelum monster kembali datang." Ucap Sero.


"Baik, Tuan." Ucap ketiga relawan.


Setelah luka yang diterima Ranta sembuh, mereka kembali mencari tanaman obat.


Saat sedang memungut tanaman obat, Sero menemukan sebuah semak-semak yang sangat lebat dan tinggi seperti menutupi suatu jalan. Lalu kembali tersengar suara bisikan perempuan yang sebelumya ia dengar.


"Masuklah."


Karena suara bisikan tersebut telah menyelamatkan Sero dari serangan Orc sebelumya. Jadi Sero pun mempercayai bisikan tersebut dan melaksanakan suruhannya untuk memasuki semak-semak tersebut.


Semak-semak itu begitu lebat dan tinggi. Meski Sero telah berjalan cukup dalam, ujung dari semak itu masih belum terlihat. Lalu beberapa saat kemudian, akhirnya Sero berhasil keluar dari semak-semak itu. Kemudian ia menemukan sebuah reruntuhan disana.


Reruntuhan seperti apakah yang ditemukan Sero?


BERSAMBUNG.....