
Disaat itu...
Tiba-tiba Sphinx dan rekan Sero yang lainnya termasuk Abara yang sedang tergigit tiba-tiba berhenti bergerak. Semua warna yang ada perlahan mulai memudar. Kemana pun Sero memandang, warna yang ada hanyalah hitam dan putih. Sero kebingungan dengan apa yang sedang terjadi. Waktu seakan telah berhenti berputar dan hanya Sero yang dikecualikan.
...****************...
"Apa!?" Ucap Sero kebingungan.
Semua pergerakan yang ada tiba-tiba terhenti. Bahkan debu, hingga darah yang mengalir dari bahu Abara tampak melayang diatas udara tak menyentuh tanah. Semua orang disekitar Sero bahkan Sphinx tampak berhenti bergerak seolah berubah menjadi patung.
Sero nampak tak terkejut dan masih bisa tenang ketika peristiwa itu terjadi. Ia pun mulai berdiri dengan perlahan, lalu melihat ke sekitarnya. Sero mencoba memanggil Tohru yang berada disampingnya. Raut wajahnya tampak putus asa dengan tangannya yang mengulur kedepan seolah mencoba menggapai Abara yang menggantung digigitan Sphinx. Namun Tohru sama sekali tak merespon meski Sero telah berkali-kali memanggil namanya.
Tak lama kemudian, terdengar kembali suara misterius seorang wanita.
"Aku telah lama menunggu kedatangan mu,...Sero."
Suara tersebut terdengar cukup keras dan menggema keseluruh isi ruangan, lalu dengan spontan Sero mengangkat pedangnya dan berwaspada.
"Siapa kau! tunjukkan dirimu!" Tegas Sero pada suara tersebut.
Matanya melirik kesegala arah mencari asal sumber suara misterius tersebut. Rasa amarah beserta gelisah memenuhi dirinya, karena tuntunan suara tersebut telah membuat Sero beserta rekannya dalam bahaya.
"Saat ini kau tidak dapat melihat wujudku. Namun sesungguhnya diriku adalah sekutumu." Jelas suara misterius tersebut.
"Sekutuku!?" Ucap Sero heran.
Sero ragu akan pernyataan suara misterius tersebut. Jika benar ia adalah sekutu Sero, maka untuk apa ia menuntunnya menuju sebuah jurang.
"Keberadaanku dimaksudkan untuk memandu serta membantumu dari sebuah kesulitan yang kau hadapi." Jelas suara misterius.
Sero tak mempercayai ucapannya, dikarenakan suara misterius tersebut telah membuat Sero beserta rekannya dalam bahaya.
"Lalu untuk apa kau menuntun kami kesini!?" Tanya Sero.
"Jelas. Aku hanya ingin mengetahui sejauh mana kekuatan yang sudah kau dapat dari sejak kau berada di dunia ini." Jelas suara misterius.
"Sejak aku berada didunia ini? berarti kau sudah tahu bahwa aku Viards?" Ucap Sero terkejut.
"Ya, itulah sebab dan alasan keberadaanku. Saat ini kita tidak punya cukup banyak waktu, waktu yang terhenti ini akan segera berakhir." Ucap suara misterius.
"Tunggu sebentar! saat ini rekan-rekanku sedang dalam bahaya. Kau bilang kau akan membantuku jadi apa yang akan kau lakukan?" Tanya Sero.
"Aku akan menghubungkan tubuhmu dengan salah satu gerbang semesta, sehingga untuk sesaat kau akan mendapatkan kekuatan yang telah kau dapatkan dimasa depan. Namun terdapat konsekuensinya." Ucap suara misterius.
"Apa konsekuensinya?" Tanya Sero.
"Sang gerbang akan mengambil sesuatu yang berharga dari dirimu." Jawab suara misterius.
"Seperti apa?" Tanya Sero.
"Entahlah, keinginan sang gerbang selalu tak dapat diprediksi. Kau hanya hanya harus siap kehilangan sesuatu yang berharga itu." Jawab suara misterius.
Mendengar jawaban tersebut membuat Sero sangat khawatir dengan apa yang akan hilang darinya. Ia takut jika sampai keluarganya sendiri yang menjadi korban. Namun Sero berpikir bahwa pemikiran tersebut mungkin bisa terbantah dikarenakan dunia mereka yang berbeda. Oleh karena itu, saat ini Sero hanya berpikir bahwa ia harus menyelamatkan rekan-rekannya yang dalam bahaya.
Tanpa banyak berpikir lagi ia pun menerima bantuan dari suara misterius tersebut berserta menerima konsekuensinya.
"Aku terima." Jawab Sero.
"Kau yakin?" Tanya suara misterius.
"Ya, aku sangat yakin." Jawab Sero.
"Baiklah jika kau siap." Ucap suara misterius.
Untuk beberapa saat suara misterius menghilang. Sero pun menunggu sampai suara misterius itu terdengar kembali. Lalu suara misterius itu berkata...
"OPEN!!" Ucap suara misterius.
Secara tiba-tiba sebuah lubang berwarna biru terbuka di udara dan tampak sesuatu yang ada pada tubuh Sero seolah tersedot dengan perlahan memasuki lubang tersebut.
"Jiwamu akan terhubung dengan benang sang gerbang yang berada didalam lubang itu. Lalu sang gerbang akan mengalirkan kekuatan kedalam tubuhmu." Ucap suara misterius.
Perlahan tapi pasti, Sero menyaksikan sendiri jiwa yang membentang keluar dari dadanya semakin dekan dengan benang sang gerbang yang juga tampak berusaha meraih jiwa Sero.
Dan akhirnya setelah menunggu beberapa saat, jiwa Sero beserta benang sang gerbang mulai saling melilit satu sama lain. Sero dapat merasakan sesuatu yaitu jiwanya sendiri seolah sedang saling mengikat dengan benang sang gerbang.
Tak lama kemudian jiwa Sero beserta benang sang gerbang mulai menyatu lalu terhubung satu sama lain. Seketika sesuatu seperti sebuah kobaran api berwarna biru muncul dari dalam lubang tampak menyambar tubuh Sero melalui jiwa dan benang mereka yang telah terhubung dan membuat tubuh Sero dipenuhi oleh kobaran api biru tersebut. Walau begitu, Sero tak merasakan apa-apa atau panas dari api biru tersebut.
"Kau akan merasakan rasa sakit hebat pada sekujur tubuhmu ketika kau selesai menggunakan Kekuatan tersebut. Semakin lama kau memakainya maka akan semakin sakit dan semakin lama pula rasa sakit yang akan kau rasakan." Ucap suara misterius.
Sero menganggukkan kepalanya menandakan ia siap dengan hal tersebut. Sero tak mempedulikan rasa sakit yang akan ia rasakan ketimbang nyawa rekannya yang harus ia selamatkan.
"Aku ingatkan, ketika waktu kembali berjalan kondisi hatimu akan kembali ke seperti sebelumya dan jangan terlalu termakan emosi juga ingat dengan konsekuensi yang akan kau dapatkan." Ucap suara misterius.
"Baik." Ucap Sero.
Sero berjalan menuju tempatnya semula yaitu disamping Tohru, sebelum waktu kembali berjalan. Ia pun menyesuaikan posisi tubuhnya seperti sebelumya. Lalu suara misterius itu berkata…
"Waktu akan segera kembali berjalan. Semoga anda beruntung." Ucap suara misterius.
Sebuah ruangan yang sebelumya dipenuhi warna abu-abu, kini mulai kembali mengeluarkan warnanya masing-masing. Warna-warna kembali bermunculan secara perlahan, begitu juga dengan pergerakan semua orang beserta Sphinx disana.
Dan benar saja perkataan suara misterius tadi. Ketika semua kembali normal, Sero kembali merasakan emosi yang sebelumya telah ia rasakan. Tohru kembali meneriakkan nama Abara dengan tangannya yang tampak berusaha menggapai abara disana dan abara yang tampak meronta kesakitan dikarenakan gigitan kuat dari Sphinx.
Disaat peristiwa itu terjadi, Sero memperhatikan Abara beserta rekannya, lalu timbullah emosi lain dihatinya. Berbagai emosi mulai bermunculan sedikit demi sedikit. Tapi, setiap orang memiliki batasan untuk menahan emosi mereka sebelum emosi tersebut meluap-luap.
Dan sekarang, emosinya mulai mengalir deras mencoba menembus batasannya.
Itulah yang disebut…
KEMARAHAN.
Maka terbukalah…
Kekuatan masa depan.
Tubuh Sero mulai mengeluarkan aura berwarna merah yang besar, membuat segala perhatian teralih padanya. Bukan hanya Tohru yang terkejut melihat Sero tiba-tiba berubah. Tetapi juga Sphinx yang menyadari Sero tiba-tiba berubah juga ikut terkejut.
Sphinx pun melepaskan gigitannya pada Abara dan tubuh Abara pun tergeletak di atas lantai dengan bahunya yang terluka sangat parah.
Sero menurunkan menurunkan pedangnya lalu berjalan dengan pelan menuju tempat Sphinx berada. Tampak sekumpulan cahaya kecil berwarna emas mulai berkumpul dibawah telapak tangan kiri Sero, cahaya emas tersebut langsung membentuk sebuah pola berbentuk pedang dan jadilah sebuah pedang sungguhan yang langsung tergenggam oleh tangan kiri Sero.
Sero tampak begitu kuat dengan kedua pedang yang dibawanya ditambah dengan aura merah besar ditubuhnya yang semakin menambah kesan kehebatan Sero.
Tohru yang sedang menyaksikan, terdiam seribu kata tanpa bergerak sama sekali dan hanya memperhatikan.
Sphinx yang merasa terancam dengan Sero, memutuskan untuk menyerangnya langsung. Ia berlari menuju tempat Sero berada dan siap memberikan serangan. Seketika Sero mengayunkan pedang kanannya dengan penuh tenaga dan sangat cepat dengan satu tangan ke arah yang berlawanan.
Tampak dengan sangat jelas bahwa serangan yang Sero keluarkan tak mengenai tubuh Sphinx sama sekali. Namun ternyata, saking kuatnya ayunan pedang tersebut membuat Sphinx terlempar ke ujung dinding dengan sangat keras sampai membuat dinding yang dihantamnya hancur sangat dalam. Hantaman keras itu membuat Sphinx mengeluarkan darah dari mulutnya lalu ia berkata…
"Bagaimana…"
"Bagaimana bisa kau jadi sekuat itu!!!" Bentak Sphinx penuh emosi.
Sero menyadari bahwa dirinya harus segera keluar dari tempat itu untuk menyelamatkan nyawa Abara dan Ranta yang terluka sangat parah. Tanpa berlama-lama Sero berlari dengan secepat kilat dengan kedua pedangnya untuk kembali menyerang.
Sphinx terkejut melihat pergerakan Sero yang lebih cepat darinya. Ketika Sero berada didepan matanya dan langsung memberikan serangan, Sphinx tak dapat menghindari atau bahkan menangkis serangan tersebut dikarenakan terlalu cepat.
Kulit Sphinx yang awalnya sangat tebal dan tak dapat dilukai, kini telah berlubang dan mengeluarkan darah hasil dari serangan Sero. Setelah menerima serangan tersebut, Sphinx langsung menjauh dari dekat Sero. Sphinx tampak kesakitan dikarenakan lukanya yang cukup dalam.
Tatapan Sphinx mulai melirik dan tampak mulai serius bertarung menghadapi Sero. Dan akhirnya, pertarungan serius dari kedua pihak mulai terjadi. Sero dengan kedua pedangnya mulai memberikan serangan cepat bertubi-tubi pada Sphinx. Begitu pula Sphinx yang tampak seranggannya lebih lambat dari Sero namun cukup kuat.
Sphinx sangat dirugikan dalam pertarungan kali ini. Karena pelindung tubuhnya sedikit membuat Sphinx sangat mudah dilukai oleh Sero walaupun serangan tersebut berhasil ditangkis.
Setelah menerima semua serangan yang Sero berikan, Sphinx tampak mulai melemah dan lengah. Disaat itu, dengan cepat Sero melompat lalu merampas sebuah kalung kristal merah yang berada didahinya yang merupakan kunci untuk pintu keluar.
Setelah kristal tersebut berhasil direbut. Sero menjauh dari Sphinx untuk mengeluarkan jurusnya yang terakhir dan sebagai penutup pertarungan. Sero menyilangkan kedua tangannya sambil memegang pedang. Ia menahan posisi tersebut sembari menggenggam kedua pedangnya dengan sangat kuat, lalu ia berkata…
"SLACE-AIR-NOVA"
Sero menebaskan kedua pedangnya, lalu terbentuklah cahaya putih besar menyilang yang dengan cepat melaju pada tempat Sphinx berdiri. Cahaya tersebut langsung mengenai tubuh Sphinx dengan tepat sasaran dan menghasilkan sebuah bola putih raksasa yang sangat besar dan beberapa saat kemudian bola tersebut meledak dengan ledakan yang sangat besar.
Sphinx langsung mengalami luka besar akibat ledakan tersebut. Ketika Sphinx masih tergeletak, puing-puing ruangan ternyata mulai berjatuhan dan menimpa Sphinx. Sphinx seketika terperangkap dan tak dapat bergerak bergelimangan puing-puing reruntuhan. Setelah itu terjadilah gempa besar disana seolah menandakan tempat tersebut akan runtuh.
Dengan segera, Sero menggendong Abara dan memberitahu Tohru untuk mengendong Ranta dan membawanya keluar. Saat pintu mulai terbuka, Tohru menjadi orang yang pertama melangkah keluar sebagai orang yang selamat. Sedang Sero masih berasa didalam, Ia mengingat bahwa dirinya telah mematahkan kuku panjang Sphinx jadi ia mencarinya untuk mengambilnya.
"Tuan Cortesius, ayo cepat!!" Teriak Tohru mengkhawatirkan Sero.
Akhirnya setelah menemukan apa yang ia cari, Sero mulai berlari dan bergegas keluar dari dalam sana dikarenakan ruangan yang hampir runtuh. Setelah ia keluar, secara otomatis pintu pun ikut tertutup rapat sendirinya.
"Akhirnya kita selamat." Ucap Tohru merasa lega.
Apakah mereka bisa kembali ke desa?
...........BERSAMBUNG...........