
Sudah satu minggu Olivya di rawat di Rumah Sakit keadaannya semakin membaik, Riska masih sering mengunjunginya dan menemani Olivya cukup lama.
Rey pun selalu meluangkan waktu untuk menjaga Olivya jika tidak ada pekerjaan di luar kota.
Berita tentang Olivya pun sampai ke telinga Nyonya Helena dan Elina, Mereka sempat ingin menemui Olivya untuk memberinya pelajaran. Namun Olivya selalu dijaga oleh pengawal Rey, karena banyak sekali pihak media dan wartawan yang ingin menemui Olivya.
Karir Elina mulai sedikit tergoncang karena dia sama sekali tidak mempunyai bakat, Actingnya pun sangat buruk. Apalagi nyonya Helena selalu meminta uang padanya dengan alasan bebelanja, Padahal nyonya Helena menghamburkan uang bersama Kevin.
Berbagai usaha telah dilakukan Elina untuk mempertahankan karirnya, Tidak dipungkiri jika Tuan Jacob sudah tidak membantu Elina lagi. Karena baginya membuat Elina menjadi artis itu sudah lebih dari cukup.
***
" Elin... mama minta uang lagi ya ? " Helena berjalan menghampiri Elina yang baru saja kembali dari tempat syuting.
" Tskk.. Buat apalagi ma ? Minggu kemarin aku udah kasih mama 20 juta. Sekarang minta lagi? " Jawabnya sembari merebahkan tubuhnya di sofa.
" Ya mama butuh uang Elin, Kamu kok perhitungan banget sama mama. " Elina pun merasa jengah dengan perilaku ibunya yang hanya meminta uang darinya.
" Mama ngertiin aku bisa ga sih ? Tabunganku udah menipis karirku juga lagi ga bagus tapi mama selalu minta uang terus ! "
" Tapi mama butuh uang Elin ! Kemarin Albert sudah mengirim surat gugatan cerai ! Mama tidak mungkin bisa kembali ke rumah itu ! " ucapnya merasa frustasi setelah menerima surat gugatan cerai, Dia pikir masih ada harapan untuk kembali ke rumah itu tetapi setelah mendapat surat itu dia merasa usahanya sia-sia.
" Itu salah mama sendiri ! Kita jadi begini juga gara-gara mama ! Perusahaan kakek bangkrut juga gara-gara mama ! Sekarang lihat sendiri kan kita kesusahan setelah di usir tua bangka itu ! " ucap Elina merasa kesal.
Plaakkkk !!!!
Sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Elina, Dia pun terkejut karna baru kali ini dia ditampar oleh ibunya.
" Wah mama sudah bisa menamparku sekarang ? " Elina menatap nanar Helena, Helena pun merasa bersalah.
" Elin... Maafkan mama, Mama tidak sengaja. " Helena mengulurkan tangannya tetapi segera di tepis Elina.
Elina pun segera mengambil tasnya dan bergegas pergi dari apartemennya meninggalkan ibunya sendirian. Helena pun menatap kepergian Elina dengan raut muka sedih dan bersalah.
Entah mengapa semenjak dirinya menerima surat gugatan cerai dari Albert, Dia merasa marah dan frustasi.
Tidak di pungkiri Helena masih mencintai Albert, Walaupun setelah menjadi istrinya dia tidak pernah mendapatkan haknya sebagai istri.
Setelah mendapat gugatan cerai dia pun melampiaskan emosinya di atas ranjang bersama Kevin. Tentu dia harus membelanjakan Kevin beberapa barang bahkan memberinya uang, Maka dari itu Helena selalu meminta uang pada putrinya demi mencukupi kebutuhannya bersama Kevin.
***
Dentuman keras musik terdengar di sebuah diskotik pusat kota. Elina berjalan menuju sebuah meja yang terlihat kosong dia pun memesan minuman keras untuk menemaninya sore itu.
" Sialann !!! Uangku semakin menipis ! Karirku mulai menurun tetapi mama selalu menghamburkan uang ! Aku harus bagaimana !!!! " oceh Elina sembari meneguk minuman keras.
Pikirannya berlari kesana kemari mengingat momen saat dirinya hanya menghamburkan uang dari ayah Olivya, Dirinya bisa berbelanja apa saja tanpa harus lelah mencari uang. Ambisinya untuk terkenal melebihi Olivya membuatnya jatuh dalam keadaan seperti ini.
Kebencian dirinya terhadap Olivya pun bertambah besar, Entah mengapa sekeras apapun usahanya untuk menyaingi Olivya tetap saja Elina tidak bisa mencapainya. Olivya selalu lebih beruntung darinya apalagi Olivya mendapatkan kekasih seperti Rey.
" Aku lelah jika harus bekerja keras demi bermain di sebuah film. Aku lelah melayani para tua bangka menjijikan itu !!! " gumamnya dalam setengah kesadarannya.
Dentuman musik bertambah keras, Elina pun merasa pusing dengan efek Alkohol yang diminumnya.
Terlihat seorang pria memandangi Elina dari kejauhan, Dia pun menghampiri Elina yang sedang duduk sembari memejamkan matanya.
" Hei nona, Bolehkah aku duduk di sini bersamamu? " Sapanya membuat Elina membuka matanya dan menatap pria itu dengan pandangan samar-samar.
" Hmm... " balasnya dengan sebuah anggukan, Kepalanya terasa semakin pusing hingga dia tidak memperdulikan pria di hadapannya.
" Perkenalkan namaku Kevin nona. " ucapnya sembari duduk di samping Elina dan mengulurkan tangannya untuk menjabat Elina.
Ternyata pria itu bernama Kevin, Orang yang sama dengan selingkuhan Helena. Sayangnya Elina tidak tau jika pria yang sedang mengajaknya berkenalan adalah orang yang membuat Ibunya selalu menghamburkan uang.
" Elina " sahutnya sembari menjabat tangan pria asing itu.
" Wah kau Elina artis yang terkenal itu kan? Aku fansmu nona. Senang bertemu denganmu disini. "
" Benarkah? " Elina mulai menatap pria di sampingnya itu.
" Ya tentu saja, Ternyata kau sangat cantik. " Godanya membuat Elina tersipu malu.
" Apa nona mau ku temani? Sepertinya nona sedang ada masalah. " Kevin mulai basa-basi untuk menarik perhatian Elina.
" Ya tentu saja. " Elina pun merasa senang dan tidak merasa keberatan, Bagaimana tidak? Kevin cukup tampan dan kata-katanya mampu membuatnya merasa tenang.
Mereka berdua pun larut dengan obrolan mereka. Kevin memang pandai memikat wanita dengan mulut manisnya, Elina pun merasa tertarik dengan pria yang baru di kenalnya 1 jam yang lalu.
Kevin pun merasa senang karena niatnya untuk mendekati Elina dipermudah dengan bertemunya mereka disini.
" Terimakasih ya? Kau sudah membuat suasana hatiku menjadi lebih baik. " ucap Elina sembari tersenyum walaupun dirinya merasa sedikit pusing.
" Tentu nona, Jangan sungkan. Apa kau akan pulang? "
" Yah aku ingin tidur, Kepalaku sedikit pusing. Tetapi aku tidak ingin kembali ke apartemenku. Aku tidak ingin bertemu ibuku dulu. "
" Jika begitu sebaiknya nona tidur di hotel saja. Di sekitar sini bukannya ada hotel? Nona bisa tidur di sana sementara waktu. " ucap Kevin sembari menyeringai penuh arti.
" Kau benar, Tetapi kepalaku sedikit pusing. Aku tidak mungkin bisa menyetir. "
" Bolehkah aku mengantarmu nona? Itu jika kau tidak keberatan. "
" Tentu saja jika tidak merepotkanmu. " Elina pun tersenyum menggoda membuat Kevin tidak ingin melewatkan kesempatan ini.
" Tentu tidak nona. "
Kevin pun berjalan sembari memapah Elina, Mereka segera menaiki mobil Elina. Kevin mengemudi mobil Elina meninggalkan parkiran diskotik dan menuju Hotel terdekat.
Sesampainya disana mereka berdua segera menuju kamar pesanan mereka setelah melakukan chekin.
Setelah memasuki kamar Kevin pun berpura-pura untuk pamit pulang tetapi Elina mencegahnya. Elina menarik bahu Kevin sehingga wajah mereka berhadapan sangat dekat.
" Temani aku ya? " ucap Elina dengan nada manja, Nafasnya pun tercium bau alkohol yang menyengat.
Kevin pun tersenyum licik dan mulai mengecup bibir Elina, Bibir mereka berdua pun saling berpagut dan mulai memainkan lidah mereka. Elina pun menerima ciuman Kevin dengan senang hati. Apalagi dia dalam pengaruh alkohol, Gairahnya memuncak sehingga dia meminta Kevin untuk menemaninya.
Kevin mulai menindih tubuh Elina, Tangannya menyusup dan meremas buah dada Elina. Mereka berdua pun saling melucuti pakaian masing-masing.
Kini tubuh mereka polos tanpa kain yang menutupinya, Kevin mencumbu Elina tiada henti membuat wanita itu merasakan kenikmatan. Jari jemari Kevin pun mulai memainkan bagian bawah Elina membuat wanita itu mencengkram erat punggung Kevin. Mereka pun melewatkan malam yang panjang.