
"Mas bangun bentar lagi sholat Jum'at kan? Cepetan siap-siap keburu terlambat nanti," Sehabis jalan-jalan tadi Fiky tidak tahu harus melakukan apa, jadinya ia tidur saja.
"Iya, " jawabnya sambil mengusap matanya yang masih terasa berat untuk dibuka. Selang berapa detik ia mengulat sambil menguap kemudian dia duduk sambil mengumpulkan kesadaran yang sempat hilang sementara.
Segera diambilnya handuk yang menggantung. Dia kemudian menuju kamar mandi . Tak butuh waktu lama, tidak sampai lima menit ia sudah selesai mandi. Setelah itu ia memakai pakaian yang sudah disetrika istrinya.
Suara Adzan mulai terdengar saat ia pergi ke masjid. Daripada terlambat ia berjalan dengan cepat, untungnya rumah istrinya tidak terlalu jauh dari masjid. Sebelum suara adzan ia sampai dengan di masjid, sebelum masuk ia menghembuskan nafas panjang tanda ia lega.
Kepalanya masih terasa berat sekali. Terlihat ia beberapa kali menguap saat khutbah Jum'at sedang disampaikan.Penglihatannya kabur , tapi ia berusaha agar kesadarannya tidak hilang. Entah kenapa, disaat seperti inilah keinginan untuk tidur menjadi berkali-kali lipat dari biasanya.
Fiky melirik kesamping kanan dan kirinya, terlihat ada beberapa orang yang menundukkan kepalanya dengan mata terpejam. Dilihat-lihat, memang terlihat nikmat sekali. Ingin rasanya ikutan, tapi Fiky malu, secara dia orang baru. Tahan tidak tahan, Fiky berusaha sebisa mungkin tidak ikut memejamkan matanya.
Fiky berusaha mencari sesuatu yang bisa membuat matanya terfokus. Setelah melirik ke sana kemari akhirnya ditemukannya juga. Dia melihat seorang pemuda yang memakai kaos bergambar Piramida dan mata satu , tidak lupa disana ada ada gambar menyerupai kambing juga. Kalau tidak salah, itu adalah simbol Illuminati, sebuah aliran yang mengagungkan setan.
Walaupun cuma gambar tapi menarik juga. Tapi mungkin ada alasan untuk orang itu memakai kaos seperti itu. Dan apapun alasannya Fiky tidak peduli. Lagipula ia sama sekali tidak mengenal orang itu.
Akhirnya setelah melewati puluhan purnama selesai juga khutbah yang disampaikan. Ia dengan segera langsung berdiri saat imam sudah berdiri ditempatnya. Akhirnya setelah ini ia berniat melanjutkan tidurnya di rumah.
Usai berdoa, Fiky segera keluar dari masjid. Namun sesampainya ditempat ia menaruh sandal ia terlihat kebingungan. Masalahnya sandal yang ia pakai sudah tak ada lagi ditempatnya. Sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal ia terus memperhatikan sekitarnya. Tapi hal itu percuma saja, tak terlihat olehnya sandal yang ia carinya itu.
"Ada apa kok kelihatan kayak orang lagi bingung? Sandal mu hilang?" tanya seorang pria setengah baya yang berada di depannya.
"Iya pak. Dari tadi kucari enggak ketemu," Jawab Fiky dengan muka kebingungan.
"Sandalmu kayak mana rupanya?" tanya pria itu lagi.
"Warna biru tua. Masih baru dia," Fiky menjelaskan.
"Bener kau taruh disini?"
"Iya pak."
"Dah di cari ditempat lain?"
"Udah pak," jawab Fiky asal. Dia juga tidak yakin sandalnya ada ditempat lain. Ya kan enggak mungkin pindah sendiri ketempat lain, sandal aja tidak punya kaki. Mana mungkin dia bakal ada ditempat.
"Kalau gitu tunggu aja disini, kali aja ada orang salah memakai sandal," orang itu setelah berkata langsung pergi meninggalkannya sendirian.
Setelah orang itu pergi, Fiky langsung mencari ditempat lain walaupun tidak yakin. Dan benar saja, yang dicari tidak ada ditempat lain. Fiky jadi bingung, haruskah ia menunggu seseorang datang untuk menukar sandal? Atau haruskah ia bertelanjang kaki pulang ke rumah?
Fiky rasa pilihan kedua itu bukan hal yang bagus untuknya. Salma pasti akan mengomelinya. Tapi kalau harus menunggu seseorang ia juga tidak tahu sampai kapan harus menunggu. Kepalanya mendadak pusing. Rasanya ingin menghilang saja dari dunia ini.
Entah mendapatkan ide darimana tiba-tiba ia berpikir untuk memakai saja salah satu sandal yang ada disana. Sebenarnya ia merasa tidak enak juga, tapi cuma itu menurutnya pilihan terbaik. Walaupun ia harus diomeli karena membawa pulang sandal orang lain ia tak peduli. Lagipula ia punya alasan untuk ini jika ia ditanya ini dan ini oleh Salma.
Orang itu langsung pergi begitu saja. Ah, dalam hati Fiky ingin sekali berkata kasar. Andai bukan dimasjid, tapi ya sudahlah yang penting sandalnya sudah ketemu. Langsung dipakainya sandal miliknya itu, tanpa aba-aba lagi ia segera pulang menemui istrinya.
***
"Minggu besok kayaknya bakal makan daging sapi. Tadi aku sempat mendengar hewan kurban kali ini lumayan banyak," sambil melepaskan pecinya ia berkata istrinya. Walaupun ia hampir tidak dapat menahan rasa kantuknya, pengumuman yang disampaikan panitia kurban masih terdengar. Mereka menyampaikannya sebelum sholat Jum'at tepat sebelum adzan dimulai, karena rumahnya yang tidak terlalu jauh Fiky masih menangkap suara yang disampaikan oleh panitia yang bertugas tadi . Sambil memberitahukan,, ia sekalian meminta bantuan kepada warga untuk membersihkan tempat yang akan digunakan untuk memotong hewan kurban.
"Lebarannya jadi hari Minggu ya? Ku kira besok. Soalnya ada juga yang ngomong lebarannya besok," Salma yang sedang duduk ditepian kasur menjawab.
"Mungkin ada golongan tertentu yang merayakan besok. Tapi ya itu urusan mereka. Kalau aku ikut pemerintah aja. Mau besok atau lusa aku tetep ngikut mayoritas."
"Aku ya gitu juga."
"Tau enggak tadi sandalku hampir hilang di masjid. Untung aja ketemu. Coba kalau enggak, mungkin aku pulang nyeker."
"Tapi ketemu kan?"
"Alhamdulillah masih rezeki. Kalau enggak ketemu sambil jalan pulang aku nyiapin diri buat diomelin sama kau."
"Aku lho orangnya baik. Masa iya ngomel ke suami sendiri. Suami kan harusnya disayang bukan diomelin," suaranya terdengar seperti tidak terima dengan ucapan yang dilontarkan Fiky.
"Iya deh iya. Istriku ini memang yang paling lembut sedunia," laki-laki mau bagaimanapun memang harus memahami pasangannya.
"Besok kalau kita dapat daging mau dibuat apa? Aku kok pingin banget ya sate," lanjut Fiky.
"Daging enggak didepan aja dah sibuk mau mengolah jadi apa . Macam enggak pernah makan daging aja ."
"Aku ikut istriku aja lah. Aku masih ngantuk . Aku pingin tidur lagi ," Fiky entah mengapa rasanya malas berbicara dengan istrinya.
"Ya udah kalau mau tidur. Nanti kalau dah kerja lagi kau enggak bisa tidur. Selagi bisa, puaskan ya sayang," Salma berudaha memahami apa yang ada dipikirannya Fiky.
"Makasih ya istriku . Muach," nadanya Fiky terdengar manja saat mengucapkan hal ini.
"Aku mau keluar dulu. Pingin ngobrol sama kakakku soalnya dia bentar lagi pulang."
"Cepat kali dia pulang. Enggak nunggu nyampe nganter manten?" ucapannya Fiky sedikit mengandung kekecewaan.
"Kerjaan suaminya enggak bisa ditinggal soalnya."
"Kalau gitu aku ikutlah. Aku kan pingin akrab juga sama kakak ipar."
"Enggak jadi tidur?"