My Wedding Dream

My Wedding Dream
12. Kepulangan



Salma hanya tersenyum saja saat melihat abangnya yang langsung tidur. Sepertinya ia kelelahan setelah perjalanan jauh. Salma tidak pernah melakukan perjalanan jauh, jadi ia tak tahu rasanya tapi yang pasti ia tahu rasa lelah saat melakukan perjalanan jauh.


Apalagi abangnya melakukan perjalanan sambil menyebrangi laut yang amat sangat jauh. Ditambah lagi pasti akan sangat melelahkan berebut tempat dengan orang lain. Ia dengar berita di tv banyak sekali yang mengadakan perjalanan ke kampung halaman walaupun cuti bersama hanya beberapa hari saja.


Ia segera membawakan barang-barang yang dibawa oleh abangnya. Sebenarnya cuma setengahnya saja, sisanya sudah diangkut abangnya tadi ke kamarnya yang telah lama tak berpenghuni. Untung ia sempat membersihkan kamar itu sebelum penghuninya pulang ke rumah.


Sebenarnya ia ingin sekali bercerita tentang apa yang dialaminya belakangan ini yang tidak sempat terucap saat mereka berbicara lewat sambungan telepon. Tapi mungkin belum waktunya juga, dia butuh waktu untuk istirahat .


Saat masuk ke dalam kamar Abangnya itu, entah mengapa saat melihat wajahnya ia kembali mengingat saat abangnya menjahilinya sewaktu kecil, sebenarnya sampai Salma besar pun masih ada sajs tingkah jahil abangnya yang sangat ajaib. Walaupun ia merasa kesal, ada saatnya ia merindukan hal itu kembali .


Jahil begitu, sebenarnya ia sangat sayang kepada Salma. Pernah sekali ia memukuli cowok yang menyakitinya. Dan lagi, ia juga yang menjadi tempat Salma menangis saat ia dikhianati oleh mantan pacarnya yang katanya berniat untuk melamarnya. Untung Ia belum sempat menyentuh tubuh Salma. Jika hal itu sampai terjadi, mungkin abangnya sudah masuk penjara karena telah membunuh orang itu. Walaupun begitu, ia pasti tidak akan menyesali perbuatannya.


Sebenarnya ia juga saat mulai mengenal bahkan saat akan memutuskan untuk menerima lamarannya Fiky, ia selalu minta pendapat abangnya. Hanya saja saat ia mendapat kabar kalau abangnya tidak bisa datang di acara pernikahannya ia begitu sedih. Hanya saja ia dapat memakluminya , bagaimanapun alasan yang diberikan oleh abangnya terdengar masuk akal di telinganya.


Bercerita mengenai abangnya ia jadi penasaran dengan kelanjutan kisah asmaranya. Salma pernah mendengar abangnya telah jatuh cinta dengan seorang gadis . Katanya ia ingin segera menikahinya. Tapi saat terakhir kali menelpon akan pulang dan menetap, terdengar suara sambil menahan air mata.


Apa yang terjadi disana? Apakah akhirnya mereka berpisah? Mungkin saja iya mengingat abangnya mengatakan ia akan pulang secara mendadak . Apapun yang terjadi disana biarlah dia yang mengetahuinya. Tidak semua hal yang abangnya alami ia harus tahu karena setiap orang juga butuh yang namanya privasi.


***


Setelah puas, Fiky segera pulang karena ia pikir meninggalkan istrinya terlalu lama tidak baik juga. Ia melangkah kaki menuju rumah sendirian. Keponakannya tadi ia ajak, tapi nampaknya mereka masih asyik melihat orang memotong sapi.


"Abang ipar ku udah sampai belum Sal?" begitu sampai kamar ia langsung bertanya .


"Udah tapi langsung tidur . Maklum aja perjalanan yang ia tempuh sangat jauh. "


"Padahal aku pingin kenalan sama . Kan dari kita ketemu sampai kita nikah aku belum sempat ngomong sama abang ipar ku ."


"Dia kan katanya mau disini terus , jadi ya kesempatan untuk mengobrol masih banyak."


"Abang mu itu bakal lama enggak tidurnya?"


"Entah. Biasanya sih kalau tidur kayak orang mati, paling sore nanti baru bangun ."


"Lama kali. Ya udahlah kalau gitu. Tau enggak tadi ada sapi yang kabur pas mau dipotong. Nampak kali dia ketakutan, tapi ya entah sekarang dah ketangkap atau belum. Pinginnya masih disana sih penasaran sama sapi yang kabur itu. Tapi ya kalau kelamaan enggak ngelihat istriku bawaannya kangen terus ."


"Gombal."


"Sama istri sendiri sih bebas. Gombalan ku cuma untukmu seorang. Sejak kita bertemu aku tidak pernah mendekati gadis lain. Cuma kamu satu-satunya."


"Oh ya, tadi ibu pulang enggak ke rumah?"


"Iya. Kenapa memangnya?"


"Soalnya tadi kakakmu bilang berangkat bareng ibu. Terus ditinggal karena adiknya Dimas mau buang air pas kembali lagi ibumu enggak ada. Tapi dia enggak ada rasa khawatirnya sama sekali . Namanya dah tua kan takutnya kenapa-kenapa."


"Yang penting kan orangnya memang enggak kenapa-kenapa."


Saat sedang mengobrol dengan Istrinya tiba-tiba ponsel Fiky berdering. Rupanya dari sang adik. Segera diangkatnya telpon itu di dekat Salma.


"Ada apa dek?"


"Enggak ada apa-apa sih cuma pingin cerita aja. "


"Itu lho pas mau ijab ada sapi tiba-tiba masuk sambil mengamuk. Untung aja enggak korban. Cuma ya gara-gara itu jadi berantakan acaranya. Langsung pada heboh ," dengan semangat adiknya bercerita.


"Ijabnya siapa?"


"Itu lho, mantannya abangnya yang jaraknya 100 meter dari rumah . Ingat kan?"


"Aku sih kalau soal mantan dah enggak ingat. Apaan mantan? Makanan dari mana itu?" Mendengar kata mantan saat berada didekat istrinya rasanya kok jadi agak gimana gitu. Lagian ia sudah lama sekali putus dengannya, mungkin sekitar 2 tahun yang lalu. Sebenarnya saat memutuskan dia masih sayang, tapi sikapnya yang selalu mengatur untuk ini dan itu sangat membuatnya tidak nyaman.


"Gimana disana? Ada kejadian lucu apa enggak?"


"Tadi ada satu sapi kabur. Paling sekarang udah ketangkep."


"Kau sekarang rewang ya?"


"Iya ini barusan pulang."


"Oh ya udah. Oh ya aku minjam uang dulu ya buat kondangan. Nanti kalau aku dah disana bakal ku ganti."


"Katanya dah lupa sama mantan?" Adiknya sedikit menggoda.


"Ya kan udah mantan. Lagian mantan kan cuma masa lalu. Aku juga dah punya yang sah ngapain juga mengharap yang tidak pasti. Satu aja dah cukup."


"Ya udah. Mau minjam berapa?"


"100 ribu aja, kalau enggak ya berapa gitu yang penting pantes aja."


"Diganti ya."


"Iya . Kapan sih aku minjam enggak ku ganti? Emangnya kau, tiap minjam bilangnya lupa. Untung aja adik, kalau orang lain udah ku matiin kau."


"Yakin enggak mau datang ke pestanya?"


"Kau mau nyari perkara atau gimana?"


"Iya dah. Maaf," nada suaranya minta maaf seperti orang tanpa penyesalan.


"Udah ya . Ngomong sama kau kadang cuma buat emosi doang," Fiky segera mematikan teleponnya.


"Siapa tadi mas?"


"Adikku . Nyari gara-gara dia, masa aku disuruh pergi ke pestanya mantanku jelas malas lah aku ."


"Mantanmu menikah?"


"Iya. Kamu enggak marah kan kalau aku sedikit bahas mantan?"


"Enggak. Gimanapun kan kau dah jadi milikku. Mau kau ceritakan juga aku enggak bakal masalah. Karena aku tahu, hatimu cuma untukku saja," entah darimana Salma mendapatkan kalimat yang kedengarannya romantis ditelinga.


"Tenang aja. Sejak aku memutuskan untuk berpacaran denganmu aku sudah mempersiapkan diri untuk menjadi milikmu seutuhnya," jawab Fiky setelah mendengar ucapan yang keluar dari mulut istrinya tercinta itu.