My Wedding Dream

My Wedding Dream
13. Kisah Hidup Centini



"Gimana tadi satenya? Enak kan?" malam sudah datang, dengan rasa bangga Fiky berkata begitu kepada istrinya.


"Enaklah, buatan suamiku."


"Oh ya dek, tadi aku ngobrol sama Abang ipar ku tapi aku lupa nanya namanya."


"Kok bisa gitu?"


"Namanya juga manusia. Pasti ada aja lupanya. Kayak kau, kalau aku pingin nganu bilangnya nanti . Pas dah waktunya malah lupa."


"Kemarin aku ngajak kamunya enggak mau ?" Salma tahu maksud suaminya.


"Sebenarnya aku mau sih, tapi kau keburu ngambek padahal aku niatnya cuma bercanda. Sekarang aja apa ya? Tapi aku kenyang banget makan daging. Tau sendiri kan aku tadi makan banyak banget? Jangankan untuk nganu , untuk bergerak aja rasanya susah banget. Kayaknya ini pertama kalinya aku makan daging kebanyakan."


"Serakah sih jadi orang. Tau enggak? Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Dah lah aku mau tidur," Salma segera tarik selimut dan kemudian matanya langsung terpejam .


Setelah Salma tidur, Fiky yang masih belum ingin tidur melihat istrinya dengan penuh kemesraan. Ingin sekali ia mencium bibir yang mungil itu perlahan. Tangannya secara otomatis membelai rambut isterinya yang begitu indah. Walaupun hanya saat malam pertama saja semuanya berjalan lancar, tapi Fiky tidak mempermasalahkannya. Masih ada waktu seumur hidup untuk melakukan hal itu dengannya.


***


Setelah melaksanakan sholat subuh, rasa untuk tidur lagi bagi Fiky sangat besar. Entah mengapa, tapi sepertinya efek kebanyakan makan daging. Ah, ia menyesal telah memakannya secara berlebihan. Enak saat makan, tapi setelahnya tidak enak sama sekali. Kepalanya terasa agak sakit, tenggorokannya juga. Mungkin hal itu ia rasakan karena efek terlalu banyak makanan yang mengandung lemak. Daripada ke kamar, Fiky memutuskan untuk duduk saja di kursi yang berada ruang tamu. Sedangkan Salma sedang berada sibuk mencuci baju.


Tok tok tok


Terdengar suara pintu diketuk. Fiky yang sedang duduk di kursi ruang tamu segera membukakan pintu.


"Mau cari siapa ya?" dilihatnya seorang gadis menggendong tas berukuran sedang berada di depannya.


"Salma ada?" Kata orang itu dengan canggung.


"Sebentar ya. Aku panggilkan dia," Tanpa membuang waktu ia segera memberitahukan Salma.


"Kau ngapain membawa tas gitu kayak orang mau mudik Tin?" Salma heran dengan penampilan orang yang berada di depannya. Terlebih dia bingung tamunya datang selagi itu.


"Sal, aku boleh minta tolong enggak?" begitu melihat orang yang dicarinya ia langsung berkata begitu.


"Minta tolong apa?"


"Boleh enggak aku tinggal disini sehari aja atau enggak setengah juga enggak masalah? Yang penting aku bisa istirahat sebentar," mukanya terlihat memelas. Salma sebenarnya kasihan, tapi kalau mengizinkannya sepertinya akan ada sebuah resiko yang harus ia tanggung.


"Hmmmm, aku sih enggak masalah . Tapi boleh enggak aku ngomong sama saudaraku dulu. Takutnya mereka enggak setuju kan enggak enak juga aku. Oh ya , masuk dulu . Enggak baik di depan pintu kayak gitu ," Salma berusaha menutupi rasa keberatannya. Mau bagaimanapun dia adalah sahabatnya juga.


"Bang, temenku bilang mau tinggal disini sementara. Tapi aku bingung harus menerima atau enggak. Soalnya style nya itu kayak orang kabur dari rumah. Aku jadi takut, lagian aku juga harus ngurusin suamiku," setelah meninggalkan sahabatnya itu ia langsung ke kamar abangnya kemudian berkata begitu.


"Tanya dulu masalahnya apa. Kalau memang perlu dibantu ya enggak masalah. Sesama manusia kan harus membantu selagi bisa," jawab abangnya bijak .


"Tapi ya jelas dia mau kabur dari rumahnya. Nanti kalau ada orang nyariin dia gimana? Mau gimanapun kan pasti kita bakal keseret juga."


"Ya udah kalau gitu," Salma segera keluar dan segera menemui sahabatnya yang sedang duduk di kursi.


"Sebelum aku mengizinkan, aku mau nanya dulu gak masalah kan?"


"Tanya apa?"


"Ini mungkin agak kasar. Tapi boleh tau alasannya kenapa kau mau tinggal disini?"


"Aku udah enggak kuat di rumah. Aku benci dengan ayah tiri ku, dia berani melecehkan aku. Ini sudah ketiga kalinya dia melakukan hal yang bejat padaku. Aku ingin sekali bilang, tapi dia selalu mengancam lagipula aku enggak punya bukti yang kuat. Aku benar-benar enggak tahan lagi," terlihat matanya memancarkan kesedihan.


"Hidupku hancur. Aku enggak tahu apa yang harus kulakukan lagi. Daripada terus menerus dilecehkan, aku nekad kesini . Sebenarnya aku ingin pergi ke luar kota. Tapi jarak ke stasiun jauh dari rumahku. Terserah kau punya pikiran yang buruk, yang jelas aku cuma butuh istirahat saja sebentar. Kakiku terasa pegal sekali . Rasanya aku sudah enggak kuat lagi untuk berjalan lebih jauh lagi." dilanjutkan ceritanya itu.


Salma kasihan mendengar ceritanya. Temannya yang malang itu terlihat putus asa. Padahal dulu rasanya tak ada dalam kamus hidupnya kata itu. Mungkin permainan takdir yang menambahkannya.


"Kalau gitu enggak masalah sih. Pakai kamarku dulu aja kau mau," abangnya nyelonong sambil berkata begitu. Nampaknya dia menguping saat teman adiknya itu menceritakan pengalaman pahitnya itu.


"Kalau masalah ada yang nyariin nanti biar aku yang menghadapi," suaranya terdengar jantan sekali.


"Siapa namamu?" tanya abangnya.


"Centini."


"Aku Rizal, salam kenal ya. Kau pasti belum makan kan?"


"Enggak udah repot. Aku cuma numpang istirahat aja kok . Maklum enggak biasa jalan jauh," Temannya itu merasa sungkan.


"Bentar ya," Abangnya segera berbalik ke dapur. Begitu kembali ia membawa daging kurban yang sudah jadi rendang.


"Makan dulu. Di habisin ya. Kamu pasti lelah sekali," di dekatkan piring yang dibawa itu. Temannya Salma segera mengambil piring itu, dihabiskan seporsi makanan di piring itu sesuai perintah.


"Kamu punya gambar ayah tirimu itu enggak? Aku penasaran dengan wajahnya," saat orang yang berada didepannya selesai makan Abangnya Salma langsung bertanya begitu.


"Ada," ia langsung menyodorkan ponselnya itu."


"Boleh minta nomornya?"


"Hmmmm,..." Wajar kalau keberatan, mukanya terlihat bingung. Mungkin takut ia bakal diserahkan kepada ayah tirinya . Ia tidak mau itu sampai terjadi. Ia tak ingin usahanya untuk kabur menjadi hal yang sia-sia.


"Enggak usah takut. Enggak akan aku serahkan kau ke kampret macam dia. Dia sama sekali enggak pantas jadi ayah. Orang kayak gitu harusnya lenyap dari dunia ini," rupanya kekhawatiran lawan bicaranya itu dirasakan olehnya.


"Janji ya enggak bilang sama dia?"


"Kalau dia tahu kau ada disini karena aku yang ngasih tahu, bunuh aku," Abangnya Salma berkata dengan sungguh-sungguh.


Dengan menyimpan rasa takut yang amat besar, tangannya gemetar menunjukkan nomor ponsel pria yang dimaksud. Dengan sigap abangnya Salma segera mencatat nomornya.