
"Besok kita jalan-jalan yuk! Kayaknya setelah nikah udah lama banget ya enggak jalan bareng," sambil merebahkan diri Fiky mengajak Salma.
"Boleh. Tapi gimana sama dagangannya?"
"Sekali-kali enggak udah mikirin soal gituan. Uang bisa dicari tapi kan kita jarang-jarang bisa pergi. Aku kangen lho zaman kita pacaran dulu. Pingin ngulang momen romantis kita dulu."
"Emang mau jalan-jalan kemana sih?"
"Ada deh. Yang jelas nanti kamu pasti suka ."
"Ih kok aku jadi penasaran ya?"
"Tujuannya itu sih. Kalau kamu penasaran, kan aku jadi semakin semangat untuk ngajakin kamu pergi."
"Ya terserah deh. Aku ikut aja, yang penting perginya berdua sama kamu," Salma menyerah juga.
***
Abangnya Salma terduduk dipinggiran kasur. Ia beberapa malam ini entah mengapa rasanya selalu bermimpi buruk mengenai Centini. Mimpi itu, meskipun berbeda-beda tetapi tetap saja ekspresi Centini terlihat begitu menyedihkan.
Setelah menerima gaji ia ingin segera pergi menemui Centini. Apapun yang terjadi ia tak peduli. Rasanya , dunia hanya berputar untuk Centini saja menurutnya. Orang yang sedang menahan rindu , apalagi ia memiliki kecemasan yang mendalam terkadang nekad. Apalagi yang dicemaskan itu adalah orang yang dicintai. Mau apapun yang terjadi, selama hasratnya terpenuhi tidak masalah.
Ia tahu, awalnya ia merasa kasihan. Tapi entah mengapa rasa itu semakin berkembang jauh di dalam hatinya. Rasa itu berubah menjadi benih cinta yang harus dijaga .
***
"Mau kemana nih? Kok kayaknya rapi banget?" saat melihat Fiky bersama Salma terlihat memakai baju yang rapi Adiknya segera berkata.
"Ada deh. Bingung ngomong sama orang yang belum punya pasangan . Ya intinya mau jalan berdua, kereta aja gandengan masa aku enggak?" sambil bercanda Fiky berkata. Disampingnya, terlihat Salma nampaknya sudah siap untuk pergi. Fiky segera menggandeng tangan Salma.
"Ya udah sana kalau mau pergi. Mentang-mentang dah punya gandengan ngomongnya gitu banget?" sambil setengah mengomel adiknya berkata. Lagipula menurutnya, abangnya itu terlalu seperti salah artian. Lagipula apa hubungannya antara baju rapi dengan pasangan? Terkadang berbicara dengan orang yang sudah menikah itu menyebalkan.
"Makanya cepetan cari gandengan."
"Lihat aja nanti, sekali 4 ku gandeng," adiknya Fiky asal saja berkata.
"Terserah mu, lebih baik mending aku berangkat kerja aja. Daripada nanti telat langsung potong gaji kan rugi jadinya."
***
"Kita ini mau kemana sih aslinya? Tau enggak dari semalam aku terus mikirin tahu. Penasaran banget aku tuh," di jalan Salma bertanya begitu.
"Sebenarnya, kita mau ke...., ada deh."
"Ih , gitu lho," wajahnya terlihat cemberut. Fiky melihatnya dari kaca spion motor.
"Ih , jangan cemberut lah. Nanti cantiknya hilang lho," Fiky berusaha menggoda Salma.
"Biarin."
"Mau makan dulu enggak? Aku kok tiba-tiba pingin makan bakso ya?"
"Terserah mu aja. Yang penting kamu suka "
"Kalau kamu? Mau ikut enggak makan ?"
"Terserah."
"Kenapa sih cewek kalau ngambek ngomongnya terserah?"
"Entah, udah bawaan kayaknya. Kamu sebenarnya mau bawa aku kemana sih?"
"Sebenarnya aku pingin jalan-jalan aja . Nikmatin waktu berdua sama kamu. Udah lama banget lho kita enggak kayak gini. Aku tuh kangen masa-masa kita pacaran."
"Ya udah. Kita mampir ke warung bakso dulu. Habis ini kita jalan-jalan ke mall ya? Lihat-lihat aja sih."
"Aku bakal turutin. Mau kemana pokoknya beres, yang penting nanti malam aku juga ada mau sesuatu."
"Gampang itu sih."