My Wedding Dream

My Wedding Dream
37. Janji



"Kecelakaan ini bermula saat truk bergerak dari area By-pass menuju Pasar Panjang. Sesampainya di tempat kejadian perkara , truk tersebut berencana membelok tetapi tiba-tiba muncul sepeda motor yang dikendarai oleh anak ibu dari arah Pasar Panjang menuju Asrama Haji. Kecelakaan pun tidak terhindarkan. Akibatnya kondisinya anak ibu jadi seperti itu, sedangkan pengemudi bus itu masih kita selidiki lebih lanjut," polisi menjelaskan bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi kepada ibunya Fiky.


"Mengenai perkembangan kasus ini akan kami sampaikan lagi nanti ya Bu," kata polisi itu lagi.


"Terimakasih ya pak atas waktunya," kata Ibunya Fiky.


***


"Bagaimana keadaan adik ipar mu itu?" saat Abangnya sampai ia langsung bertanya kepada Salma.


"Dia koma, sampai sekarang belum sadar juga. Semoga saja ada keajaiban yang membuat dia bisa seperti sedia kala. Selain itu, aku kasihan sama suamiku. Dia sampai sekarang masih tetap seperti itu saja . Menyedihkan sekali wajahnya, aku benar-benar tidak tega melihat ia berlaku seperti itu. Tadi aku sempat bisa menenangkannya, tapi dia masih tidak menerima kondisi adiknya itu."


"Dia sudah makan?"


"Tadi siang sudah, cuma malam ini dia tidak mau makan. Katanya dia enggak selera makan."


"Biarin aja dulu, besok kalau masih tidak mau makan paksa saja. Masalah menerima atau tidaknya dia dengan kondisi adiknya itu cuma masalah waktu saja. Lambat laun ia nanti bakal menerimanya."


"Semoga saja ya bang. Aku jadi sedih kalau dia terus-menerus kayak gitu," dengan sedikit cemberut Salma berkata.


***


"Entah kenapa belakangan ini aku selalu bermimpi berada ditempat yang jauh sendirian. Disana cuma ada aku sendirian. Tempatnya sepi namun indah dan begitu damai. Di dalam mimpiku itu, aku melihat dari jauh ayah sedang berjalan menuju ketempat di mana aku berada. Dia kayak mau jemput aku," sambil terus melihat kondisi adiknya ia mengingat apa yang dibilang olehnya beberapa hari lalu.


"Enggak usah dipikirin . Mimpi kan cuma bunga tidur lebih baik kau fokus sama apa yang di depan mata. Lagian aku pingin banget ngelihat kau nikah," jawab Fiky waktu itu. Dia terlihat sekali sangat perhatian terhadap adiknya.


"Aku sebenarnya enggak mau mikirin, tapi kepikiran terus. Apa itu pertanda aku enggak bakal lama lagi ya hidupnya?"


"Enggak boleh ngomong gitu, dosa tau," Fiky benar-benar tidak suka dengan apa yang diucapkan oleh adiknya itu.


"Ya gimana ya, habisnya mimpinya itu terus berulang, gimana aku mau enggak mikirin?"


"Kan aku dah bilang kalau mimpi itu cuma bunga tidur. Udah deh enggak usah mikirin terus, kamu itu masih muda . Masa depanmu masih panjang, enggak baik lho mikirin mati," Fiky kemudian meninggalkan adiknya sendirian, ia tak ingin melanjutkan obrolan itu.


Sebenarnya Fiky berharap sedang bermimpi saat melihat adiknya sekarang dalam kondisi tak sadarkan diri. Andai saja ia bisa menukar dirinya dengan adiknya, pasti akan ia lakukan dengan sukarela tanpa pikir panjang.


"Aku janji, kalau kamu sadar aku akan berubah. Aku enggak akan pernah ngejekin kamu lagi , aku enggak bakal ribut lagi gara-gara soal sepele. Aku janji akan jadi lebih baik dari sebelumnya," Fiky berkata di kuping adiknya itu dengan lembut. Ia berharap suaranya akan terdengar walaupun adiknya belum juga sadarkan diri.