
"jangan ayah, jangan lakukan ini. Aku ini sekarang anakmu," sambil memohon Centini berusaha menghentikan tindakan ayah tirinya.
"Sekali aja. Karena sekarang kamu sudah menjadi anakku makanya kamu harus patuh," Tatapannya tajam seakan sedang mengancam.
"Tapi ayah......"
Seakan tidak mendengar apa-apa, sang ayah mulai berbuat senonoh , dia semakin mendekat dan kemudian mulai memaksa membuka baju anaknya itu . Seketika , terdengar teriakan yang menyuruhnya untuk berhenti.
***
Centini terbangun dari tidurnya. Ia duduk merenung memikirkan dirinya yang kini sudah tak suci lagi. Andai saja ayah kandungnya masih ada, tapi semuanya sudah takdir.
Sebenarnya yang dipikirkan oleh Centini itu bagaimana nanti suaminya. Ia takut suaminya kelak tidak akan mau menerimanya kelak. Bagaimanapun wanita yang sudah tidak suci lagi menurutnya tidak pantas untuk bersanding dengan siapapun.
Salma segera masuk ke dalam kamar abangnya yang disitu ada Centini. Walaupun sebenarnya masih ada rasa kesal karena posisinya sebagai karakter utama hampir tenggelam, tapi sebagai kawan ia merasa harus menenangkan Centini yang terlihat trauma. Bagaimanapun dia juga dulu sering menolongnya.
"Mau dipijat enggak Tin kakimu itu?" setelah berada didekatnya Salma berkata begitu.
"Enggak perlu. Maafin aku ya, dah ngerepotin kamu."
"Santai aja, namanya juga kawan. Udah seharusnya sih. Kamu kok bisa dapet ayah tiri kayak gitu sih?"
"Semoga saja dia mendapat balasan yang setimpal dengan perbuatannya itu. Oh ya tadi aku cerita sama kakakku terus dia bilang ada temannya mencari pembantu. Kalau kau mau nanti biar kakakku yang mengurus."
"Makasih ya Sal, kamu baik sekali denganku. Aku enggak tahu bagaimana harus berterimakasih kepadamu."
"Santai aja , yang namanya teman kan memang harus saling tolong menolong."
***
"Udah kumpul semua ditempat biasa kan? Tunggu aku nyusul ke sana," Dari telepon, abangnya Salma berkata kawannya tadi. Sebenarnya masih ada rasa capek yang menderanya . Tapi kalau dipikir-pikir lebih cepat juga lebih baik. Sekalian membicarakan rencana yang ada di otaknya untuk membalaskan perbuatan ayah tiri bejat, ia juga ingin menanyakan soal pekerjaan.
Ditempatnya yang lama ia sudah keluar karena memutuskan untuk menetap ditempat dimana ia dibesarkan. Sebenarnya itu adalah keputusan yang mendadak kalau dipikir. Tapi mau bagaimana juga, semuanya sudah terjadi. Alasan utama ia pindah adalah ingin melepaskan kesedihan yang begitu dalam karena hubungannya dengan seorang wanita yang dicintainya terpaksa berhenti ditengah jalan.
Beberapa temannya yang biasa menemaninya disana terlihat kaget saat mendengar ia keluar dari pekerjaan yang biasa ia lakukan. Bahkan ada yang bilang dia bodoh karena alasannya adalah karena wanita. Kalau sudah jatuh cinta dengan satu wanita rasanya sangat berat jika harus menerima wanita lain, jika terus disana juga bukan hal yang baik. Itulah pertimbangan terbesarnya.
Sebenarnya waktu itu juga ia sempat memberi kabar bahagia kepada adiknya sebelum putus hubungan. Tapi nyatanya segala yang dibayangkan tak sesuai realita. Sedih, kecewa, marah, rasanya seperti ingin menghilang saja.
Tapi ia sadar , bagaimanapun rasa sakitnya masih ada hari esok yang harus dijalani. Ia harap lain kali ia bisa memiliki satu gadis yang bisa menemaninya sepanjang hidup. Walaupun tidak tahu kapan, setidaknya jika ia terus hidup ia akan menemukannya suatu saat nanti .