
"Woy, ketemuan yok. Mumpung aku dah pulang. Dah lama juga aku enggak ketemu sama kalian," dari telepon Abangnya Salma berkata kepada temannya. Mungkin rasa kangen karena telah lama dipendam itu sekarang bisa terwujud mendorongnya untuk mengatakan hal yang wajar seperti itu.
"Kita ketemuan ditempat biasa. Masih ingat kan?" katanya lagi.
"Masih lah. Kapan kau pulang kesini? Kok enggak ngasih kabar?" Dari jauh terdengar suara seorang pria yang nampaknya bahagia.
"Kemarin baru sampai. Tadinya sih buat kejutan kalian. Tapi ya udahlah yang penting sekarang udah nyampai dengan selamat. Jangan lupa bawa rombongan ya. Ada sesuatu yang mau ku bicarakan."
"Bicara apa? Kenapa enggak lewat sini aja?"
"Bicara secara langsung lebih enak. Pokoknya ini penting."
"Ada apa sih? Buat penasaran aja," orang yang ditelpon oleh abangnya Salma jadi makin penasaran. Rasa itu semakin dan semakin meningkat.
"Pokoknya kumpul dulu. Nanti juga tau. Ya udah ya, aku mau siap-siap dulu ," Telpon langsung dimatikan. Nampaknya Abangnya Salma merencanakan sesuatu. Tapi rencana apa itu belum ada yang tahu.
***
Sebenarnya ia kurang suka karena kehadirannya membuat abangnya jadi aneh. Padahal itu bukan urusannya , kenapa ia dengan rela mau ikut campur? Tapi mungkin memang pantas sebenarnya . Salma sebenarnya mengerti perasaan mereka, tapi ia takut terjadi hal yang buruk terhadap Abangnya yang sangat ia sayangi. Ia tahu, lelaki macam dia memang tak pernah mau tahu dengan resiko yang dihadapi. Selagi dia anggap itu adalah kebenaran maka ia akan maju. Rasanya seperti seorang pahlawan dalam sebuah adegan film .
Resiko terbesar yang dihadapi abangnya mungkin saat ia memutuskan untuk merantau ke Kalimantan dulu. Ia bahkan tak menyangka hal itu akan terjadi. Padahal disana ia tak memiliki seorang keluarga ataupun kenalan. Tapi ia dengan kerasnya berusaha menjalani kejamnya kehidupan. Mungkin ada resiko besar yang lain , tapi menurut Salma itulah yang paling beresiko.
Mungkin karena tak ada seorangpun yang ia kenal. Lagipula mencari pekerjaan di tanah yang asing tidak semudah yang dibayangkan. Namun rasanya ia sudah berhasil melewati itu semua. Ia merasa bangga dengan pencapaian yang menurutnya luar biasa itu. Karena ia sendiri belum tentu bisa, terutama sekali mungkin karena dia lelaki sedang ia sendiri adalah seorang wanita yang kata orang itu adalah makhluk yang lemah. Padahal ia kadang tidak ingin dibilang begitu .
***
Sambil melihat Centini yang sedang tertidur dengan pulas, Abangnya Salma terlihat kasihan padanya. Ia tak ingin merasa menyesal karena tidak bisa membantunya . Baginya hidup dengan rasa menyesal yang amat sangat itu tidak enak. Mungkin dulu ia tak bisa. Namun sekarang ia ingin meluapkan rasa sesal itu setidaknya sekali saja. Ia tak menyangka bisa mendapatkan kesempatan setelah ia pulang dari pulau yang berada di seberang lautan itu.
Kali ini, bagaimanapun cara ia akan meluapkan segalanya. Tentu saja tujuan utamanya menelpon seorang kawan lama tidak lain tidak bukan untuk melakukan hal itu. Ia sadar, tak mungkin bisa ia lakukan sendiri. Setidaknya ia mendapatkan ide yang bagus dari teman-temannya yang telah lama tak dijumpainya.
Ia sebenarnya tidak yakin mereka setuju dengan rencana dirinya itu. Tapi mungkin setelah ia menceritakan segalanya, hati mereka tergerak untuk melakukan hal serupa. Perbuatan biadab itu tak ada yang bisa mengampuni di mata manusia seperti dirinya. Sebab itulah, ia akan membuat orang yang berbuat sedemikian rendah itu menyesali perbuatannya hingga akhir hayatnya.